Abduasbeuenbhhyy. AAAAAA! Rasanya aku mau teriak sekencang mungkin dan membangunkan seluruh kompleks untuk memberikan info penting kalau aku sedang salting. Iya, SALTING!
Bahkan setelah mobil Jo menghilang dari depan kosku, detak jantungku masih saja berderu kencang seperti ABG yang baru kencan untuk pertama kali.
Aku tidak tahu berapa mantan yang Jo punya sebelumnya--mungkin aku harus tanya langsung ke Sandra--sehingga dia bisa se-jago itu dalam soal menggombal.
Aku ingat persis perkataan terakhirnya sebelum aku menutup pintu mobil. “Kalau ada yang nge-hate kamu, bilang aja sama kamu. Biar aku hate balik.”
TIDAK CUMA ITU SAHABAT!!
“Ini pakai jaket aku aja sekalian. Kamu kalau kedinginan bilang, dong. Untung aku bawa jaket, kalau nggak aku terpaksa peluk kamu.”
ADA LAGI!
“Ya, kamu itu cantik banget, loh. Apalagi kalau senyum mata kamu jadi hilang, gemes. Sering-sering senyum sama aku, dong. Lihat nih, aku setiap kali ketemu kamu senyum lebar kayak gini.”
Aksbujiyyeywl. Siapa yang tidak salting coba?
Rasanya, aku ingin menelpon Sandra sekarang juga dan bertanya berapa dan siapa saja mantan Jo selama ini. Dari level gombalnya sih, aku yakin mantannya ada lebih dari 20 orang.
Kita lihat nanti. Jo … kedok playboy-mu akan segera terbongkar.
***
“Hah? Yang serius dong lo kalau ngomong, San. Lo mau menjaga nama baik teman lo boleh juga, tapi jangan sampai bohong gitu dong. Gini-gini gue juga teman lo, tahu!”
Yup, itu aku yang sedang ngomel panjang kali lebar dengan kecepatan mengalahkan rapper sekelas Eminem pada Sandra yang terlihat shock melihat ekspresi ku setelah mendengar jawaban singkatnya.
Sandra membuang napasnya kasar, kembali meletakkan tusuk sate yang ayamnya sisa setengah. “Gue nggak bohong kok, Ya. Jo emang nggak punya mantan,” ulang Sandra.
“Nggak masuk akal!” aku menoleh pada Dela yang sedang makan nasi gorengnya dengan damai di sampingku. “Masuk akal nggak, Del?”
“Hah?” persis seperti orang bodoh, dela menatapku dan Sandra dengan mata yang mengerjap bingung seolah mengatakan “aku siapa, aku di mana, kamu siapa”? “Apaan yang nggak masuk akal? Tugas dosen yang baru dikasih? Iya sih, nggak masuk akal. Masa tugas sesusah itu deadline-nya cuma 3 hari.”
Tuh kan, nggak nyambung.
Aku menepuk jidat. “Bukan tugas, Dela ….”
“Jadi apa? Tas harganya 70 juta yang tadi gue tunjukin ke lo? Masuk akal, kok. Itu dari kulit buaya asli. Biasanya harganya lebih dari 100 juta padahal.”
“Bukan tas juga, cici crazy rich ….” Kali ini, Sandra yang menimpal dan disusul dengan erangan frustasi. “Telinga lo dimana sih? Padahal dari tadi Aya teriak heboh sampai ngeganggu para penghuni kantin.”
“Jadi apa, dong? Sori, tadi gue lagi menimbang antara tas atau sepatu, jadi nggak fokus.” Dela tertawa kuda sambil menunjukkan muka watados-nya yang neybelin abis.
“Kata Sandra, Jo nggak pernah punya pacar. Menurut lo masuk akal, nggak?" aku bertanya ulang.
“Em ….” Sandra memegang dagunya, berpikir ala-ala jenius yang hendak membuat penemuan terbaru rumus matematika yang bikin gila. “Masuk akal, sih.”
“Masuk akal dari mana?” tanyaku tak terima. “Tampang kayak gitu masa nggak pernah punya pacar, aneh lo pada!”
“Justru karena tampangnya kaya gitu makanya nggak punya pacar, Ya,” jawab Dela santai.
“Heem!” timpal Sandra yang langsung bersemangat lantaran aku kalah suara.
“Terlalu alim.”
“Heem!”
“Don't judge the book by it’s cover, dong. Masa iya dari tampangnya doang kalian kalian bisa nyimpulin dia nggak punya mantan, mana pakai embel-embel alim lagi,” cibir ku yang masih tidak mau kalah.
Mana bisa menyimpulkan sifat seseorang dari tampangnya saja? Bahkan kalau bisa, tampang tidak perlu dijadikan poin penilaian karna tidak valid. Nggak percaya? lihat tuh si tukang selingkuh a.k.a Dimas, sari tampangnya bisa dilabeli sebagai cowok baik-baik yang butal---bucin total--tapi kenyataannya? Jangan mimpi! Makan tuh butal, nyatanya dia malah selingkuh. Nggak banget.
“Loh, kok lo kayak nggak terima gitu, sih?” tanya Dela. “Ini Sandra yang teman dekatnya aja setuju sama pendapat gue.”
“Lagian lo kenapa sih nanya-nanya kayak gitu? Ada yang tiba-tiba ngaku jadi pacar atau mantannya Jo? Udah nggak usah dijabanin, gue yakin tuh cuma cewek gatel yang panas lihat instastory lo sama Jo,” jelas Sandra berapi-api.
“Bener tuh! Lagian kan lo nggak sekali dua kali ngadepin cewek kayak gitu. Nyatanya apa mereka bohong, kan?” Dela juga ikut menimpal dengan berapi-api, mungkin itu lantaran nasi goreng super pedas yang dia makan.
“Nggak tuh,” elakku. “Buktinya dulu Adelia yang gue pikir cuma cewek gatel aja bisa jadi pelakor. Sampai mau nikah lagi.”
Seketika, kedua sobatku terdiam. tidak ada yang berani bergerak, bahkan hanya untuk menelan makanan yang ada di dalam mulut mereka.
“Nggak ada yang tahu masa depan, bro! Mungkin sekarang baru berani ngaku-ngaku, siapa tahu besok udah berani ngerebut. Makanya kita tuh harus prepare for the worst,” sambungku asal ceplos mumpung sekarang tidak ada yang berani menginterupsi bacotanku.
“Tenang dulu, Ya.” Sandra menyodorkan ku sebotol air mineral. “Ini Jo udah gue suruh kesini buat jelasin semuanya,” lanjutnya sambil memperlihatkan room chat-nya bersama Jo yang berakhir beberapa detik lalu.
“APA?! Kenapa lo suruh dia kesini, sih?” teriak ku sekeras mungkin sampai rasanya, pita suaraku juga ikut keluar. Bodo amat dengan para pengunjung kantin yang merasa terganggu. Semua ini karena Sandra yang hobi membuat jantungku berpacu dengan cepat.
“Biar nggak salah paham, Ya. Daripada lo suudzon mulu, mending minta klarifikasi sama Jo langsung. Tunggu sebentar aja, dia di parkiran. Paling sepuluh menit lagi sampai.”
Astaga astaga astaga, kenapa jadi seperti ini, sih? Aku padahal cuma kepo soal berapa banyak mantan pacar Jo, kenapa malah berakhir klarifikasi seperti artis yang sedang terkena skandal begini?
Malu banget.
“Kenapa, San?” tiba-tiba saja, suara yang diselingi dengan hembusan napas yang terengah-engah itu muncul.
Ya, milik siapa lagi kalau bukan, Jo? Ck, kenapa dia datangnya cepat sekali, sih. Kan perkiraan waktunya itu 10 menit dan sekarang baru berjalan 3 menit!
Sandra menunjukku. “Itu pacar lo lagi ngambek. bawa pergi sana! Kerjaannya bikin orang naik darah melulu.”
Demi ibu kantin yang menyaksikan drama kami dari tadi! Sandra memang kurang ajar. Bisa- bisanya dia bilang “bawa pergi”. Dikira aku barang apa?!
Baru saja aku ingin melempar bekas tisuku pada Sandra, Jo sudah mencegahku dengan gerakan lembut. “Jalan-jalan sama aku, yuk? Kelasmu lagi kosong, kan? Kita pergi ke tempat dekat-dekat sini aja.”
“Ogah,” tolakku ketus.
“Kalau lo ajak baik-baik gitu mana mau anaknya. Kan dia lagi ngambek," timpal Sandra dengan lancang.
"Loh, ngambek sama aku?" tanya Jo dengan ekspresi tak percaya.
"Ya iyalah! Siapa lagi."
Jo menatapku dengan bingung. "Perasaan aku baru datang, kok udah di salahin aja?"
"Dia ngambek gara-gara ada yang ngaku jadi cewek lo, Jo. Mana pakai nuduh lo punya banyak mantan lagi. Daripada julid terus mending lo jelasin ke dia deh. Tapi jangan di sini, muak gue liatnya."
DASAR SANDRA LAKNAT!