16. sayang ukt

1163 Words
Berbekal rasa nekat dan kesal, aku berjalan mengikuti langkah Jo yang mengarh ke parkiran mobil dari belakang. Punggung tegap yang sekarang berbalutkan kaos maroon yang sudah pasti bermerk mahal itu kutatap lekat-lekat. Masa sih, dia nggak punya mantan? Bahkan setelah aku pikir berkali-kali, rasanya tetap mustahil. Dari segi penampilan, bro … he’s well dressed. Dari segi dompet, no doubt. Dari segi pergombalan, bahkan level gombalnya saja sudah sampai tingkat dewa, mungkin jika dia bersaing dengan Casanova, perolehan poin mereka pasti hanya berbeda sedikit. Intinya dari segi manapun, mustahil Jo nggak punya mantan. “Ayo, masuk.” Jo membukakan pintu mobil Fortuner berwarna hitam untukku Aku mengangkat sebelah alis bingung. Perasaan tadi malam dia pakai HRV putih, kok sekarang sudah ganti aja? Aku ramal, garasi rumahnya dua kali besarnya rumahku. “Masuk aja, Ya. Kita ngobrol di dalam,” ucapnya dengan lembut. Lantaran tidak mungkin aku berteriak sambil memaki Jo di tengah parkiran yang sedang ramai ini--aku terancam menjadi bahan hujatan selama 3 semester jika hal itu terjadi--aku masuk saja dengan tenang. Mataku bergerak, mengikuti langkah Jo yang memutar lalu membuka pintu kemudi. Selama beberapa detik, terjadi keheningan. Aku tidak berani menoleh pada Jo yang entah kenapa menatapku terus semenjak dia masuk ke dalam mobil. Astaga … bikin deg-degan saja. “Aku sekarang ada kelas,” ucap Jo akhirnya membuka pembicaraan. Kontak matanya padaku terputus, berganti menatap mobil yang ada di depan kami, membuatku memberanikan diri untuk menoleh. “Loh, kalau gitu ngapain ngajak gue ke sini?” tanyaku yang tanpa sadar menggunakan nada suara tinggi. Hei, dia sudah mengeluarkan biaya uang UKT kelas internasional yang luar biasa mahal sampai-sampai membuatku terbatuk-batuk karena menghitung jumlah nol-nya saja. BERANI-BERANINYA DIA BOLOS! “Kata Sandra kamu marah gara-gara aku. Daripada kamu marahnya makin parah, mending aku jelasin dulu sama kamu,” jawab Jo dengan enteng. Astaga Sandra, lihatlah! Karena Anda, anak seseorang sudah menyia-nyiakan uang UKT puluhan jutanya. “Jadi, kamu marah gara-gara apa?” tanya Jo dengan suara yang terdengar lembutttttt banget. Bahkan lembutnya kain sutra saja kalah jauh. Jika aku tidur sambil mendengarkan suara itu, dijamin aku akan tidur senyenyak mungkin. “Nggak, bukan gara-gara lo. Temen lo tuh yang cari gara-gara,” jawabku dengan muka ditekuk. Aku masih terbayang uang UKT yang terbuang sia-sia …. Jika saja aku yang membiayai Jo kuliah, sudah pasti aku akan memukul kepalanya dengan sepatu sampai benjol. “Siapa yang ngaku-ngaku jadi pacarku?” tanya Jo to the point. “Dia dm kamu di i********:? Coba sini aku lihat.” Dengan kecepatan kilat, aku langsung memasukkan ponselku ke dalam tas dan memeluknya kuat-kuat. “Nggak!” Jo menghela napasnya. “Kalau kamu nggak mau ngasih tahu aku biar aku lihat sendiri. Pinjam sebentar aja, aku cuma mau lihat siapa yang ngaku-ngaku jadi pacarku, janji!” ucapnya dengan raut serius. Astaga, mau berapa kali pun dia memohon untuk melihat isi dm-ku, aku bersumpah tidak akan memberikannya karena MEMANG TIDAK ADA YANG NGAKU JADI MANTAN ATAU PACAR DIA! Terkutuklah Sandra yang menyebar hoax hingga membuat Jo yang malang bolos kelas. “Sebentar aja, Ya ….” Aku berdecak. Lama-lama kesel juga. “Nggak ada yang ngaku-ngaku, serius! Sandra tuh yang salah paham,” ungkapku akhirnya. Jo terdiam, menatapku lurus dengan mulut yang terkatup rapat. Sorot pandangannya menatapku tajam dengan rahang tegas yang mengeras. Apa dia marah? Dengan penuh kehati-hatian, aku memegang tangan Jo yang terletak di atas tuas persneling dengan selembut mungkin. Aku menelan ludah. Saat tangan hangat Jo menyentuh telapak tanganku, perutku bergejolak aneh, seperti ada ratusan, tidak. Ribuan. Ribuan kupu-kupu yang terbang di dalamnya. “Gue serius, nggak ada yang ngaku-ngaku jadi pacar atau mantan lo. Tadi gue, Sandra, sama Dela lagi debat soal sesuatu aja. Terus Sandra salah paham dan langsung hubungin lo tanpa bilang ke gue,” jelasku dengan suara yang entah kenapa semakin lama semakin mengecil. Keheningan masih setia mengisi ruang kosong di dalam mobil ini. Aku yang tidak tahu harus berbuat apa lagi memutuskan untuk mengangkat tanganku dari punggung tangan Jo dan menunduk dalam. Setelah ini, aku bersumpah akan menghajar habis Sandra. Baru saja aku berencana untuk kabur lantaran atmosfer di dalam sini amat tidak enak, membuatku merasa sesak, sebuah tangan hangat yang besar menggenggam tangan kananku, membuat jemariku tenggelam di dalam genggamannya dan disusul dengan sapuan lembut pada rambutku yang terurai. “Memang tadi kamu bahas apa sama mereka? Kok Sandra sampai salah paham gitu.” Mampus. Masa sih aku harus jujur kalau aku kepo soal jumlah mantan yang dia punya cuma gara-gara mukbang tengah malam? “Engg … nggak penting,” jawabku dengan ragu-ragu. “Marahku baru hilang loh, Ya.” adusudbueue. Kenapa suara yang disampaikan dengan intonasi datar itu terkesan sangat menyeramkan sekali? “Tapi serius, ini nggak penting banget.” Jo menggeleng. “Nggak apa-apa cerita aja. Semua yang ada kamunya itu penting.” TUH KAN! Masa sih yang gombalannya mengalahkan mantra cinta dari dukun terhebat sekalipun itu tidak punya mantan? Nggak masuk akal banget. “Ya, kok diam aja?” Stttt, jangan berisik! Aku lagi deg-degan ini. “Ya?” Aku membuang napas. “Nggak penting, Jo ….” “Nggak apa-apa, Ya ….” Kenapa sih dia keras kepala sekali! Aku mengangkat kepala, menatap Jo dengan tatapan serius sambil mengangkat jari kelingking. “Janji nggak bakal ketawa, ya?” Jo mengerutkan keningnya, namun itu tak bertahan lama karena setelahnya dia langsung menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking ku. “Janji.” Mataku tetap menelisik ekspresi Jo yang … sangat tidak bisa dipercaya. “Gue serius, loh!” “Iya, aku juga jawabnya serius, Aya ….” “TAPI ITU MUKANYA NGGAK SERIUS!” aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak berteriak. Semoga saja suaranya tidak terdengar sampai ke luar. “Mukaku emang begini, mau digimanain, coba? Aku kayaknya harus operasi plastik biar mirip pemain film action deh supaya kelihatan serius.” “Ngaco.” “Ya makanya, cerita aja.” Baiklah, aku menyerah. Pemirsa, saksikan runtuhnya harga diri seorang Nataya Winata yang termahsyur. “Debat soal berapa banyak mantan kamu,” jawabku dengan suara pelan, bahkan lever pelannya jauh lebih pelan dari berbisik. Ajaib dan sialnya, Jo bisa mendengar perkataanku dengan baik. Dia hampir saja tertawa, tapi langsung kutatap dengan sinis hingga membuat aktivitas tertawanya urung. “Ngapain debat soal itu?” “Kepo.” “Siapa yang kepo?” Astaga …. “Aku.” Astaga, siapapun tolong ubah aku jadi karbon dioksida. Aku malu banget! “Nanti mau mukbang tengah malam sama aku lagi, nggak?” ajak Jo yang entah kenapa langsung mengubah topik pembicaraan. “Ngapain ngajak lagi, sih!” jawabku kesal. “Soalnya sekali kamu mukbang sama aku kamu langsung kepo soal mantanku. Siapa tahu kalau berkali-kali kamu bakal kepo sama Papa Mamaku, tempat tinggalku, atau kapan aku nembak kamu jadi pacarku.” “Apaan, sih! Nggak jelas banget.” Aku yakin seribu persen, wajahku sudah seperti kepiting rebus sekarang. “Tapi kamu mau nggak?” “Mau apa?” “Jadi pacarku, lah. Apalagi kalau bukan itu.” “NGGAK!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD