“Nggak usah lo, Sandra atau Dela aja. Jemput di per--” TUTT! “HALO AYA? AH s**t!” Jo kini semakin panik tak karuan saat sambungan telepon dari Aya terputus. Kepalanya tidak bisa berpikir jernih. Yang ada di dalam pikiran cowok itu hanyalah Aya yang sedang dalam bahaya. Dengan gerakan secepat kilat--bahkan dia tidak tahu kalau dia ternyata bisa bergerak secepat ini sebelumnya--ia menyambar jaket beserta kunci mobil, berlari menuruni anak tangga dengan pandangan yang tertuju pada ponsel, berusaha mencari kontak Sandra. “EH, Jonathan mau ke mana? Ini makanannya udah siap. Kalau mau pergi makan dulu!” teriak Mama Jo saat mendapati anaknya yang hendak membuka pintu rumah. “Jo makannya nanti aja, Ma. Buru-buru ini!” jawabnya dengan panik hingga tanpa sadar Jo mengucapkan kalimat itu dengan

