8. sat set sat set

1178 Words
“Diputusin gimana, sob?” tanya Bima dengan mulut yang sibuk mengunyah makanan sambil menatap Jo dengan ekspresi kebingungan. Jo lagi-lagi membuang napasnya dengan kasar. Pria itu terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan setengah jiwanya alias lemes banget. Dengan malas, Jo memberikan ponselnya yang terpampang isi chat-an terakhirnya dengan Aya. Seperti baru saja mendapatkan jackpot, Bima langsung merebut ponsel Jo dengan wajah penuh semangat, membuang begitu saja roti tawarnya ke piring. “Ck!” rasa kesal Jo makin bertambah saja saat melihat sahabatnya itu malah tertawa tak jelas saat membaca rentetan pesan yang baru saja dikirimkan Aya. Sial benget, pasti dia akan diledek habis-habisan “Gue turut berduka cita.” Hanya itu yang diucapkannya sambil meletakkan ponsel Jo di atas meja dan kembali melahap santapannya. “Cih. Dasar penipu! Padahal baru 3 hari lalu dia berjanji untuk menjadi pendukung hubungan kalian dan Aya,” batin Jo geram. “Siapa penggantinya, Jo?” tanya Bima akhirnya. “Mana gue tahu.” “Lah nggak lo tanya?” “Ngapain.” “Cie elah pake jual mahal segala!” goda Bima sambil menepuk pundah Jo lumayan keras. “Kalo lo masih jual mahal mustahil sih dapat Aya kata gue mah.” “Ya kan kata lo, bukan kata Tuhan,” balas Jo dengan cuek. Demi apapun, sahabatnya ini sama sekali tidak bisa diajak berkompromi. Sudah tahu suasana hati Jo sedang buruk, tetap saja dijadikan bahan ejekan. “Itu ada pesan dari Sandra. Kayaknya tentang Aya, tuh. Lo nggak mau baca?” tanya Bima sambil melirik notifikasi yang baru saja masuk dari ponsel Jo. “Nggak,” tolak Jo mentah-mentah. “Bukan urusan gue lagi.” “Kalau gitu gue aja yang baca.” Tanpa basa-basi, Bima kembali mengangkat ponsel Jo, membacanya dengan lantang. “Aya bakal kencan sama cowok dari dating app.” Ucapan itu sontak menarik perhatian Jo. Penggantinya adalah seseorang dari aplikasi dating? Sungguh tidak masuk akal. “Wes, Aya ternyata doyan main KetemuanYuk! juga.” “Lanjut.” Jo berkata dengan acuh padahal sebenarnya jauh di dalam hati dia kepo bukan main. “Namanya Dewa. Cowok kampus ini katanya. Bakal ketemu sore ini.” Dahi Jo lantas mengernyit. Dewa, cowok kampus ini. “Lo nggak bakal interogasi setiap nama Dewa di kampus ini, kan?” tuding Bima yang sialnya benar. Baru beberapa detik yang lalu Jo berpikir serupa. Benar-benar gila. “Nggak,” kilah Jo. “Nama lengkap lo siapa, Jo?” tanya Bima yang langsung membuat kernyitan dahi Jo. Tak dapat jawaban dalam beberapa detik, Bima kembali bertanya dengan nada yang memaksa, “tinggal sebut nama aja susah banget. Nama lengkap lo siapa?” Jo berdecak malas. “Jonathan Sadewa Dinata.” Bima langsung menjentikkan jarinya. “Itu nama lo ada Dewa-nya!” ucapnya dengan berapi-api. “Ya, terus?” “Siapa tahu lo yang dimaksud Dewa itu,” jelas Bima yang masih tidak kehilangan semangatnya. “Ngaco. Gue aja nggak main yang kayak begituan,” jawab Jo dengan putus asa. Mau dipaksakan bagaimanapun, dia tidak akan bersama Aya. “Tapi ini di ponsel lo ada aplikasi KetemuanYuk!,” tuduh Bima yang entah sedang mengetikkan apa di ponsel Jo. Sang empunya sama sekali tidak peduli. Jo memilih tak menjawab. Dia memang men-download aplikasi itu beberapa hari lalu saat mendapatkan rekomendasi dari akun blog yang sering dibacanya. Tapi ia hanya sebatas mengunduh aplikasinya, sama sekali tak berminat untuk memainkannya. “Semalam hape lo ada sama siapa?” tanya Bima dengan nada iseng. “Lo,” jawab Jo singkat. “Percaya nggak, kalau gue yang mainin tu aplikasi semalaman?” Sontak, Jo mengangkat kepalanya, mendapati Bima dengan senyuman lebarnya, menyodorkan ponsel Jo yang kini menampilkan ruang obrolan aplikasi KetemuanYuk! antara seorang bernama Sadewa Dinata dan Nataya Winata. *** Rasanya aku ingin membunuh diriku sendiri. Lihatlah bagaimana Jo yang mesam-mesem tidak jelas dan dengan santainya duduk di kursi dihadapanku. Rasanya aku ingin memukul kepala pria itu keras-keras. “Ngapain lo disini?” tanyaku sewot. Semoga saja Dewa belum datang. Kalau dia melihatku sekarang, bisa-bisa dia kabur karena aku mirip seperti singa kelaparan saat menatap Jo. “Hai!” dasar nggak jelas. Ditanya malah nyapa. “Aku Dewa.” Baiklah, selain nggak jelas, over PD, dan nyebelin, Jo ternyata juga gila. Bisa-bisanya dia ngaku jadi Dewa? Nggak banget. “Itu kursinya punya orang. Sebentar lagi orangnya datang, mending lo pergi sana!” usirku tanpa basa-basi. Jika saja aku sedang tidak dalam mode jaim, sudah pasti akan ku dorong keras-keras tubuh Jo sampai dia tersungkur. “Lah, ini sudah datang.” “Mana?” aku menoleh ke pintu masuk namun nihil, bahkan pintu itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda pergi. “Aku,” jawab Jo sambil menunjuk diri sendiri. “Aku yang bakal duduk di sini.” Astaga, orang ini memang ngajak berantem. “Apaan sih! Gue lagi males ribut. Jadi pergi aja, plis.” Aku mohon dengan nada frustasi. Aku tidak mau penampilanku yang sudah kusiapkan selama berjam-jam rusak karena berusaha mengusir kunyuk ini dengan kasar. Plis deh, ya. Bahkan aku belum bertemu dengan Dewa, Kenapa banyak cobaannya, sih? “Tenang dulu, dong.” Jo mengangkat tangan kanannya, membuat gestur seolah-olah ingin berkenalan denganku namun tak kusambut. “Kenalin, Jonathan Sadewa Dinata a.k.a Jo a.k.a. Dewa.” Sial. Sial. Sial. Ini beneran? Demi apapun aku harus pergi sekarang! “Eh, mau ke mana?” Jo dengan sigap menceal tanganku saat aku hendak melangkah pergi dengan tergesa-gesa. Plis deh, aku sudah malu banget sekarang. Mana bisa aku melihat wajah Jo yang kelihatan sangat gembira itu, cih. “Sini dong, duduk dulu. Aku kan bukan orang jahat,” kata Jo lembut sambil menuntun ku kembali duduk di kursi yang mau tak mau harus dituruti. “Kayaknya kita memang jodoh, deh.” “Ngaco,” balasku dengan cepat. Mana sudi aku berjodoh dengannya. Bisa-bisa aku mati muda karena saking frustasinya. “Bahkan aplikasi aja bilang kalau kita itu cocok, loh. Masa kamu masih mau nyangkal gitu sih, Ya?” sial. Kini Jo menatapku dengan ekspresi jail. Nasib sudah. Harga diriku sudah tidak terselamatkan lagi. Aku yakin, Jo akan menggunakan momen ini untuk mengejekku seumur hidup. “Aplikasinya eror,” jawabku asal, berusaha membuang muka, menatap apapun yang bisa ditatap selan wajah menyebalkan Jo. Jo terkekeh. “Kalau eror kita nggak mungkin bisa ketemuan di sini dong, Ya. Udah dong, ngaku aja.” “Diem deh, ah!” ucapku akhirnya menyerah, tidak mampu lagi menutupi merah di wajah karena malu. “Hahahahah!” sial memang. “Malu, ya?” Sudah tahu nanya. “Tenang, kok. Aku nggak bakalan nyebarin ke siapa-siapa soal ini.” Oh. “Eh, tapi aku udah terlanjur cerita ke Bima, deh.” Tuhkan. “Oh iya, sama Sandra dan Dela.” Sialan. “Nggak mau makan?” tanyanya yang sudah pasti hanya basa-basi karena dari tadi aku setia menutup mulut. “Nggak,” jawabku ogah-ogahan. Jo plis peka, deh. Aku tidak bisa lagi menahan tanganku lebih lama untuk tidak memukulnya habis-habisan “Nggak lapar?” “Nggak.” “Ya udah, kalau gitu pergi, yuk!” ajak jo yang tiba-tiba sa berdiri. “Ke mana?” “Fitting.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD