9. calon mantu mama

1303 Words
Kira-kira, apa yang bakal kalian lakuin kalau ada di posisiku? Maksudku, saat kalian sudah memutuskan hubungan secara sepihak tapi ujung-ujungnya malah berakhir di mobil dia lagi menuju butik untuk fitting pakaian? Apa yang akan kalian lakukan untuk menyelamatkan muka dan harga diri kalian? “Udah, nggak usah malu. Kalau kamu mau aku bisa pura-pura lupa, kok.” Sial. Jo malah memperjelas semuanya Sudahlah. Mau diusahakan bagaimanapun harga diriku tidak akan terselamatkan lagi. “Situ sih bisa pura-pura lupa, tapi yang lain enggak,” gerutuku membuang semua rasa malu. Bodo amat, aku sudah kepalang malu jadi trobos aja. “Yang lain ….” Ada jeda beberapa saat untuk Jo sebelum ia tertawa terbahak-bahak saat mengerti apa yang kumaksud. “Ya … itu mah nasib kamu. Anggap aja azab, hehehe.” Yup, sudah pasti setelah ini aku akan menjadi bulan-bulanan Sandra dan Dela. Tapi bukannya menenangkanku, Jo malah puas tertawa. Sial banget memang. “Oh iya, ternyata bajunya nggak bisa didesain khusus karena waktunya mepet. Jadi kita cuma dapat setelan jadi. Tapi kamu bisa ubah modelnya dikit kok kalau nggak suka.” Jo mengalihkan pembicaraan. “Ya, nggak papa,” jawabku singkat. Eits, aku seperti ini bukan karena gagal mendapatkan gaun rancangan khusus ya, tapi karena rasa maluku masih meronta-ronta. Yakali marah karena nggak jadi dapat rancangan khusus? Bisa masuk butiknya saja aku sudah bersyukur bukan main. “Kamu marah, ya? Aku udah berusaha bujuk Tanteku, tapi memang nggak bisa. Katanya kalau mau rancangan khusus minimal harus sebulan sebelum acara,” jelas Jo sambil sesekali melirik ku. Aduh, kenapa dia jadi salah paham, sih? Kalau giini kan aku harus ngomong panjang lebar untuk menjelaskannya. “Gue nggak marah kok, santai aja.” “Terus kenapa kamu jawabnya lemes gitu? Atau mau aku carikan butik lain?” tanya Jo yang terdengar setengah panik. Kenapa dia tiba-tiba jadi panikan gini, sih? Padahal kan aku biasa-biasa saja. “Udah nggak usah. Gue nggak marah kok. Ini memang dari sananya,” jawabku dengan suara yang berusaha kubuat sehalus mungkin untuk meyakinkan Jo. “Oh, jadi kamu masih malu, ya?” tebak Jo sambil senyum-senyum tidak jelas. Tuhkan, baru saja aku bernapas lega dia sudah mulai lagi.“ "Lihat depan,” balasku cuek. “Btw, disana juga ada keluargaku.” Astagaaaaaa! Cobaan apa lagi ini, sih?! Apa kesialan tidak bosan menghampiri hidupku terus? “Jangan bercanda.” Aku berkata dengan tenang, meski sekarag jantungku sudah seperti di diskotik, jedag-jedug nggak karuan. “Serius!” Jo sempat-sempatnya mengangkat satu tangannya dengan menunjukkan pose dua jari yang terlihat alay. “Ya, meski nggak semua sih. Cuma Mama sama Papa aja.” CUMA?! Puja kerang ajaib, tolong antar aku ke Antartika sekarang juga. “BERHENTI!!!” teriakku secara tiba-tiba yang langsung membuat Jo panik dan menghentikan mobilnya. Untung saja jalanan saat ini sedang sepi. Jika tidak, sudah bisa dipastikan kami akan menjadi pusat makian para pengguna jalan. "Apa-apaan, sih?” ucap Jo yang tak sadar telah menaikkan nada bicaranya. “Aku kaget, tahu! Untung nggak ada kendaraan di belakang.” “Orang tua lo kapan balik?” tanyaku yang tak mempedulikan omelan Jo. “Balik apanya?” tanya Jo balik yang terlihat masih sensi dengan ulahku. “Balik ke rumah lah!” “Nggak balik,” jawab Jo singkat. "Eh?” aku menatapnya tak percaya. “Orang tua lo tinggal di butik?” “Ya … enggak juga sih.” “Terus?” “Mereka nggak mau balik.” “Kenapa?” “Karena belum ketemu kamu.” WTF?! Sejahat apa sih aku di kehidupan sebelumnya sampai-sampai aku bisa terlahir se-sial ini? Sinting! Demi Tuhan, jiwaku rasanya sudah melayang setengah. “Kok mereka bisa kenal aku, sih?” tanyaku dengan nada lemas karena seperti yang aku bilang tadi, nyawaku sudah melayang. “Anu … Tanteku--” “Katanya keluarga lo sibuk!” seruku yang langsung memotong penjelasan Jo. Sumpah deh, omongan cowok memang nggak ada yang bisa dipegang. Kesel banget. “Ya, memang sibuk. Serius deh, aku nggak tahu kalau mereka bakal sehboh itu pas tahu aku punya pacar,” jelas Jo. “Pacar? Dih, enggak banget!” “Loh, memang kamu bukan pacarku?” tanya Jo dengan mata yang membulat. “Pura-pura,” koreksi ku. “Ya, kan yang tahu cuma kita aja, keluargaku enggak. Makanya aku bilang pacar tadi,” jelas Jo dengan suara super lembut yang sama sekali tidak membuatku luluh dan semakin kesal saja. Cih, enggak banget baper sama Jo. “Bodo.” Tak lama kemudian, mobil Pajero Jo berhenti di parkiran butik yang kini diisi oleh 3 mobil lainnya. Dari luar sini, aku bisa melihat gaun-gaun indah yang dipajang sebagai display. “Loh, kok nggak turun?” Jo tiba-tiba saja membuka pintu mobilku, menatapku dengan tatapan heran. Astaga! Rasanya aku ingin mencakar wajah tampan itu. “Orang tua lo beneran ada di dalam sana?” tanyaku lagi. “Kamu pikir aku bohong? Kalau nggak percaya aku telepon mereka deh.” Gerakan Jo yang hendak mengambil ponselnya dari saku celana itu langsung kuhentikan dengan gerakan brutal. “Kalau gitu gue mau di sini aja deh!” putusku akhirrrnya. “Eh, nggak bisa gitu dong, Aya.” “Kenapa?” tantang ku dengan wajah sewot. “Kan mau sekalian ketemu Mama Papaku.” Astaga! Plis, kalau kalian jumpa penyedia jasa mencakar wajah, tolong hubungi aku segera. Aku ingin sekali mencakar wajah putih cowok di depanku hingga tak berbentuk. “Enteng banget kalau ngomong.” Jo hanya tersenyum jail. Tanpa permisi tangannya langsung menarik satu tangan ku, memaksaku untuk turun dari mobil dengan tarikan pelan yang entah kenapa tidak bisa aku tolak padahal jika melawan sedikit saja, sudah pasti aku menang. “Kamu udah cantik kok, Ya. Nggak perlu gugup gitu di depan mereka,” bisik Jo yang langsung membuatku bergidik geli. Sok akrab banget. “YA AMPUN ANAK MAMA!!!” teriakan heboh sesaat setelah pintu butik terbuka membuatku urung menanggapi bisikan tidak jelas dari Jo barusan. Seorang wanita paruh baya dengan gaya ala ibu-ibu sosialita berlari kecil menghampiri kami sambil tersenyum lebar dan merentangkan tangannya. Tanpa perlu berpikir dua kali, aku yakin wanita paruh baya itu adalah Mama Jo. Tunggu. Eh? Iya, dia beneran Mama Jo, kok. Tapi … kenapa dia malah memelukku dengan erat seperti ini? “Ya ampun, cantik banget anak Mama,” ucapnya sambil mengelus-elus pipiku dengan sinar mata penuh binar bahagia. Ah … ternyata sikap sok akrab itu turunan dari Mamanya. Tidak heran. “Cantik banget kan, Ma!” sontak, aku mendelik samar pada Jo yang malah memancing wanita paruh baya itu. “Iya! Kamu siapa namanya, sayang?” Mama Jo bertanya dengan lembut. Aku tersenyum canggung. Sumpah deh, sekian tahun aku pacaran dengan Dimas saja aku tidak pernah bertemu dengan mamanya secara langsung. “Em … Aya, Tante,” jawabku dengan suara kecil. “Ih, kok Tante, sih!” Mama Jo memukul bahuku dengan pelan. “Panggil Mama aja dong. Kan kamu calon mantu Mama.” Oke, aku skakmat. Jika Jo sengaja melakukan ini untuk balas dendam padaku karena sudah diputusin secara sepihak lewat chat, maka dia 100% berhasil. Sumpah demi apapun aku nggak tahu harus balas gimana! “Oh, sudah datang ternyata.” Suara berat nan tegas itu datang bersamaan dengan kehadiran seorang pria paruh baya dengan garis muka tegas, mirip dengan Jo. Tanpa sadar aku menelan ludahku. Kenapa Papa Jo keliatan serem banget, sih? Mana tidak ada senyum-senyumnya. “Nama kamu siapa?” tanyanya sambil menatapku dengan ekspresi datar. Ralat, bukan cuma ekspresinya yang datar, tapi nada suaranya juga datar. Persis seperti suara google tapi versi lebih dingin dan seram. “Aya, Om.” Pria itu mengangguk. “PACB.” “Apaan tuh, Pa?” tanya Jo dan Mamanya secara bersamaan. “Pacar Anakku Cantik Banget.” Sumpah deh, aku tidak tidak tahu mau ketawa atau nangis. Keluarga ini aneh banget, terutama Papanya! Bagaimana bisa dia ngelawak dengan nada super datar seperti itu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD