“Aya.” Hampir saja aku menendang orang yang tiba-tiba saja memegang pergelangan tanganku jika aku tidak segera mengenali suara itu. “Kok udah keluar, Ya?” tanyanya lagi sambil menyelidik dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan bingung. “Lo juga ngapain di sini?” tanyaku balik dengan sewot lantaran kobaran emosi yang masih membara. “Em ….” Jo menggaruk tengkuknya, aku bisa melihat telapak tangannya yang memerah entah karena apa, namun tidak aku pedulikan. Palingan juga kerena kepanasan. “Anu, tadi ngambil barang di mobil.” Aku mengangguk. “Ayo, kita pulang aja.” “Loh, udah selesai?” tanya Jo lagi. Aku berdecak. Apa dia tidak bisa melihat wajahku yang merah padam ini? Tanpa menjawab pertanyaan Jo, aku langsung menarik tangannya, berjalan dengan cepat menuju tempat parkira

