Aku berusaha menahan suara tawaku. Melihat Jo yang terlihat sangat amat tidak nyaman di samping dua gadis itu sungguh pemandangan yang menyenangkan untuk disaksikan dibanding dua pengantin yang sedang duduk di atas pelaminan. Meski terlihat sangat tidak nyaman, Jo sama tetap berusaha menjaga image-nya dengan duduk tegap, memamerkan otot tangannya yang sedikit tercetak dari balik jas yang ia kenakan. Beberapa kali, aku bisa melihat Jo menaikkan rambutnya yang menutupi jidat, dan bahkan beberapa saat lalu ia sempat berpura-pura menelpon. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Selain membalaskan dendamku pada kedua gadis menyebalkan itu, aku bisa sekalian menjahili Jo. Lumayan, sebuah kesempatan emas aku bisa melihatnya seperti orang yang kehilangan arah seperti itu. Aku melirik jam tan

