Chapter forty one : Pursuit of Dragon

2363 Words
 Dragon kini harus terjebak di dalam ruangan yang hanya memiliki satu jalan masuk, bersama dengan Raja Velodrian, Jenderal Eagle, dan Gard. Namun Dragon punya kesempatan untuk bisa melarikan diri dari sana, karena dirinya telah terpilih menjadi pemilik sejati dari sebuah kalung ajaib warisan dari Kakek Raja Velodrian, yang selama ini tersimpan di dalam ruangan itu.  Salah satu kekuatan yang dimiliki oleh kalung itu adalah, bisa mencari dan menemukan hal apapun yang diinginkan oleh pemiliknya. Maka dari itu Dragon bisa mencoba menggunakannya untuk mencari jalan keluar rahasia yang terdapat di dalam ruangan itu, karena kakek Raja Velodrian telah mempersiapkan jalan rahasia itu supaya nantinya bisa dipakai untuk mengetes kemampuan sang pemilik sejati kalung ‘Ghistory’.  Dan karena keadaan Dragon yang sedang dikepung serta didesak oleh Jenderal Eagle dan pasukannya, maka mau tidak mau Dragon harus bisa menggunakan kekuatan dari kalung Ghistory, yang kini sudah melingkar di lehernya. Raja Velodrian yang terlihat antusias juga sebenarnya sudah tidak sabar ingin melihat Dragon menggunakan kekuatan dari kalung itu.  Kemudian, Dragon mulai berusaha dengan sangat keras untuk menggunakan kekuatan dari kalung Ghistory, dia memejamkan matanya sambil menggenggam kalung itu erat-erat. Namun setelah beberapa kali mencoba, ternyata tidak ada hal apapun yang terjadi, Dragon tidak bisa mendapatkan petunjuk apapun mengenai keberadaan jalan rahasia tersebut.  Sehingga hal itu membuat Jenderal kembali berbicara kepada Dragon.  “Sudahlah, lebih baik kau menyerah saja. Ayo ikut denganku ke Penjara ... Karena disana lebih baik daripada disini.” Kata Jenderal Eagle membujuk Dragon.  Setelah mendengar bujukan tersebut, bukannya menyerah tapi Dragon malah semakin berusaha lebih keras lagi, supaya kalung Ghistory mau menunjukan kekuatannya kepada Dragon. Tapi tetap saja tidak ada hal apapun yang terjadi.  Lalu Gard berbicara kepada Dragon. “Kumohon Tuan Dragon, menyerahlah. Jangan membuat hal ini menjadi lebih rumit lagi ... Mari ikut dengan kami, lalu bicarakan hal ini dengan kepala dingin.” Ucap Gard.  Saat mendengarkan ucapan dari Gard tersebut, Dragon mulai tersadar dan berpikir di dalam benaknya. (“Kepala dingin?? Ya ... Mungkin itulah jawabannya, aku tidak boleh memikirkan tentang hal lain seperti penjara atau hukuman mati, kurasa aku harus berusaha untuk lebih tenang dan mengosongkan pikiranku.”)  Setelah itu Dragon mulai membayangkan tentang hal-hal yang bisa membuatnya lebih tenang. Dimulai dari dendamnya terhadap Night crow, pertemuannya dengan Flaur, misi berbahaya yang harus dilakukan olehnya. Kemudian dia berusaha untuk mengesampingkan terlebih dahulu hal itu, lalu pikirannya berlanjut ke momen bertemunya dia dengan Melinda, pengalamannya bertarung melawan ular raksasa gurun Zuci bersama Tatsui, keberhasilannya memenangkan Turnamen, hingga Dia mendapatkan banyak teman. Semua itu merupakan pengalaman berharga yang telah dilaluinya sehingga dia bisa menjadi orang yang lebih kuat seperti sekarang ini.  Dan hal yang paling dicemaskan oleh Dragon adalah, teman-temannya sedang menunggu kedatangan Dragon, sesuai dengan janji yang telah Dragon buat kepada mereka. Dan tentunya Dragon tidak mau jika dirinya sampai mengecewakan mereka semua, oleh karena itu Dragon tidak boleh sampai tertangkap ataupun terkurung di dalam Ruangan ini. Karena dia masih memiliki janji yang harus dia tepati kepada teman-temannya.  Maka dengan alasan tersebut, keinginan Dragon untuk bisa menemukan jalan keluar rahasia menjadi semakin besar dan terfokus, karena hanya itulah satu-satunya cara bagi Dragon supaya dia bisa bertemu dengan teman-temannya kembali, lalu setelah itu dia bisa menyelesaikan misi yang diberikan oleh Flaur kepadanya.  Saat menyadari tekad dari Dragon, Maka kalung Ghistory dengan senang hati mulai mengalirkan energinya ke dalam tubuh serta pikiran Dragon, dengan begitu kekuatan dari kalung Ghistory akhirnya bisa benar-benar menyatu dengan si Pemilik sejatinya. Tak lama setelah itu, sekumpulan gambaran mulai muncul di dalam benak Dragon dalam bentuk kilasan, secara samar-samar menunjukan hal apa saja yang harus Dragon lakukan untuk bisa menemukan jalan rahasia dari ruangan itu.  Kemudian Dragon segera membuka matanya kembali, dengan ekspresi wajah seperti orang yang baru saja mendapatkan ide. Lalu tanpa banyak bicara, dia mulai berjalan ke arah samping Dan menghampiri salah satu bola kristal terang yang menempel di dinding ruangan tersebut, lalu setelah dia berada di dekat alat penerangan itu, Dragon mulai memutarnya sebanyak tiga kali, hingga bola kristal itu tidak bisa diputar lagi.  Beberapa saat kemudian, secara mengejutkan dinding di sebelahnya mulai terbuka dengan sendirinya, dan menyediakan sebuah jalan bagi Dragon untuk dia lalui supaya bisa keluar dari ruangan itu dengan aman, tanpa harus melewati pintu utama yang diluarnya sudah berjejer banyak prajurit untuk menangkap Dragon. Raja merasa sangat terpukau ketika melihat Yang telah berhasil menggunakan kekuatan dari kalung Ghistory, sedangkan Jenderal Eagle dan Gard sepertinya merasa kecewa karena itu artinya mereka jadi kehilangan kesempatan untuk bisa menangkap Dragon. Tapi mereka harus pasrah dan membiarkan Dragon untuk mengambil kesempatan emas tersebut, karena walau bagaimanapun juga hal itu merupakan kebijakan dari sang Raja.  Lalu, sebelum Dragon masuk ke dalam jalan rahasia itu, dia sempat pamit kepada Raja dan yang lainnya. Dia juga bilang bahwa di kesempatan selanjutnya, dia pasti akan menjelaskan tentang hal yang sebenarnya kepada mereka semua. Untuk sekarang dia belum bisa, Karena dia harus pergi untuk menyelesaikan misinya terlebih dahulu.  Setelah kepergian Dragon dari ruangan itu, Jenderal Eagle mulai berbicara kepada Raja Velodrian. “Yang mulia, anda telah membiarkan seorang Pencuri pergi begitu saja dari Istana ini, dan tindakan itu tentunya tidak akan bisa diterima oleh masyarakat. Mereka akan menganggap bahwa Raja tidak tegas terhadap suatu tindak kejahatan yang telah terjadi di dalam Istana ... Maka dari itu, ijinkan aku untuk menjadikan Dragon sebagai buronan, dan mengutus para Prajurit untuk mengejarnya dimanapun dia berada. Supaya hukum di Kerajaan Nexus tidak dianggap sepele oleh masyarakat.” Ucap Jenderal Eagle.  “Hmm, Kau ini dari dulu memang sangat tegas ... Baiklah, kau boleh melakukannya. Aku tidak punya hak untuk mencampuri kewajibanmu sebagai Pelindung dari Kerajaan Nexus. Seperti yang kubilang tadi, karena ruangan ini adalah tempat sakral yang dibuat khusus oleh kakekku, maka tidak ada yang boleh menentang wasiatnya. Setelah kita semua keluar dari ruangan ini, maka kau baru boleh melaksanakan hal tersebut." Ucap Raja kepada Jenderal Eagle.  Tak lama kemudian, tiba-tiba Putri Reina datang ke dalam ruangan itu bersama dengan tiga Kesatria badai Nexus yang selalu setia menemaninya. Mereka berempat terlihat sangat mencemaskan kondisi sang Raja, terutama Putri Reina. Mereka telah mendengar kabar tentang tindakan Dragon, sehingga mereka berempat menjadi geram lalu segera pergi ke ruangan itu untuk menghentikan Dragon. Namun kini Dragon sudah pergi dari sana.  "Ayah baik-baik saja? Apa yang telah terjadi? Dimana Dragon?" Tanya Sang Putri.  Lalu Raja Velodrian dengan santainya berbicara. “Dragon? Sudahlah, Tidak usah mengkhawatirkan dia.” Ucap sang Raja untuk menenangkan Putrinya tersebut.  Namun, Jenderal Eagle juga ikut berbicara kepada Tuan Putri. “Kami baru saja selesai berurusan dengannya, dan barusan dia sudah keluar dari sini, dengan melewati jalan rahasia itu.” Kata Jenderal sambil menunjuk ke arah jalan rahasia yang sudah dimasuki oleh Dragon.  Putri yang sedang diliputi oleh rasa amarah, segera mengajak tiga Kesatria badai Nexus untuk pergi bersamanya memasuki jalan keluar rahasia tersebut, supaya mereka berempat bisa mengejar dan menangkap Dragon untuk diadili atas tindakannya.  Walaupun Raja sempat menghentikan Putrinya itu, tapi dengan keras kepala ditambah emosi yang meluap-luap, maka tidak ada yang bisa menghentikan langkah Putri bersama ketiga temannya untuk menyusul Dragon.  Dari dulu Raja memang tidak pernah bisa melawan kehendak dari Putrinya, walau bersifat ramah, tetapi jika sedang emosi maka Putri Reina akan berubah menjadi garang. Oleh karena itu saat ini tidak ada yang mampu menghentikan sang Putri untuk mengejar orang yang sudah berani berbuat macam-macam terhadap ayahnya tersebut. Putri dan ketiga temannya segera masuk secara satu-persatu ke dalam jalan rahasia, mereka akan berusaha untuk menyusul dan menangkap Dragon.  Singkat cerita, Dragon sudah berjalan cukup jauh dari ruangan tempatnya mendapatkan kalung Ghistory itu. Saat ini Dragon tampak masih sedang berjalan sambil mencopot dan membuang seluruh atribut penyamarannya. Hingga dia berhasil sampai di ujung jalan, karena sudah tidak ada lagi jalan yang dapat dia lalui di hadapannya. Maka dari itu Dragon segera berhenti lalu dia mulai menengok ke kiri, ke kanan, ke bawah, dan ke atas untuk mencari pintu, hingga kemudian dia menemukan sebuah papan yang dapat dibuka tepat di atas kepalanya. Oleh karena itu dia merasa senang dan segera membuka papan tersebut, sehingga Dragon bisa naik ke atas lalu keluar menuju ke permukaan.  Lalu akhirnya, Dragon berhasil keluar sepenuhnya dari jalan rahasia tersebut, sehingga sekarang ini dia bisa berada di suatu tempat lain yang terletak di kawasan luar Istana.  Kemudian Dragon mencoba untuk memeriksa keadaan di sekitarnya, dia melihat banyak jerami dan perkakas untuk bertani disana, sehingga Dragon langsung bisa menyimpulkan bahwa saat ini dia sedang berada di sebuah lumbung padi milik warga setempat, yang tinggal di wilayah dekat Istana Nexus. Ternyata jalan keluar rahasia yang panjang itu bisa benar-benar bisa membawanya sampai keluar Istana, namun Dragon masih tetap berada di dalam kawasan Ibukota Kerajaan Nexus, Yang artinya dia masih belum aman.  Tak lama kemudian, Dengan kalung Ghistory yang menggantung di lehernya serta raut wajah yang terlihat kebingungan, Dragon terus berjalan sambil mencari-cari benda yang dapat dia gunakan supaya Dragon bisa melarikan diri dari Ibukota Kerajaan Nexus, yang sangat luas serta dikelilingi oleh benteng besar.  Setelah beberapa lama berjalan kaki mengitari kawasan tersebut, akhirnya dia masuk ke sebuah peternakan, disana Dragon menemukan kandang yang berisi banyak sekali kuda, dan semua kuda itu terlihat berbaris dengan rapih di kedua belah sisi kandang tersebut. Awalnya Dragon hanya mengacuhkan saja barisan kuda tersebut, tapi ketika dia melihat ke belakang, alangkah terkejutnya dia karena mendapati Tuan Putri Reina yang sedang berjalan dengan raut wajah serius menatap Dragon. Selain itu, Putri juga diikuti oleh tiga Kesatria badai Nexus di belakangnya. Mereka semua rupanya telah mengikuti jejak langkah Dragon mulai dari jalan keluar rahasia hingga sampai ke tempat ini.   Seketika itu juga, Dragon merasa kaget sekaligus panik, karena dia tahu bahwa Putri Reina dan tiga Kesatria badai Nexus memiliki kemampuan yang berbahaya, maka dari itu tanpa pikir panjang Dragon segera menunggangi kuda yang berada di dalam kandang milik warga Ibukota Nexus tersebut, supaya dirinya bisa pergi menjauh dan meninggalkan orang-orang yang ingin menangkapnya itu, sedangkan Putri Reina, Rizu, Arci, dan Holdi tentu saja tidak akan tinggal diam ketika melihat hal itu, mereka Juga langsung memilih dan menunggangi masing-masing kuda yang ada disana, sembari terus memanggil-manggil nama Dragon walaupun mereka tahu bahwa Dragon tidak mungkin akan meresponnya.  Sementara itu, Dragon yang jaraknya sudah semakin jauh, terus memacu laju kudanya hingga ke jalanan Ibukota, yang dipenuhi oleh banyak orang, serta kereta-kereta kuda yang berlalu lalang di sepanjang jalan tersebut, sehingga membuat Putri Reina dan kawan-kawan yang sedang melakukan usaha pengejaran terhadap Dragon menjadi sangat kesulitan.  Maka terjadilah aksi kejar-kejaran yang sangat menegangkan di sepanjang jalanan tersebut, kuda yang ditunggangi oleh Dragon melaju dengan sangat cepat melewati barisan bangunan dan orang-orang yang sedang berjalan disana. Sehingga para penduduk Ibukota menjadi kaget sekaligus panik ketika menyaksikan peristiwa tersebut.  Sambil terus memacu laju kudanya, Dragon juga mulai menyadari bahwa saat ini statusnya sebagai tamu kehormatan sudah benar-benar berubah menjadi seorang buronan, ditambah keadaan yang sedang dialaminya saat ini merupakan keadaan yang sangat berbahaya, karena Putri Reina beserta ketiga kawannya semakin mendekat, dan terus mengikuti tepat dibelakangnya sambil memacu laju kuda mereka, oleh karena itu Dragon harus berusaha dengan keras untuk mengecoh dan memperlebar jarak dari para pengejarnya itu, jika Dragon sampai tertangkap oleh mereka, maka habislah sudah.  Para penduduk Ibukota Nexus yang berada di sepanjang jalan, merasa kaget sekaligus histeris karena mereka tiba-tiba harus menyingkir supaya tidak tertabrak oleh kuda yang sedang melaju kencang. Namun mereka juga merasa takjub, karena bisa melihat Tuan Putri yang dengan gagah berani sedang melakukan pengejaran terhadap sang Juara Turnamen Kota Togu. Sehingga aksi kejar-kejaran itu benar-benar menjadi hal yang sangat menghebohkan bagi semua orang.  Bahkan ada beberapa orang yang langsung berbicara sambil melihat kejadian itu, “Wah, mimpi apa aku semalam ya? hari ini sampai ada dua kali kejadian kejar-kejaran. Tadi kejar-kejaran antara para Prajurit dan tiga orang Pencuri. Sekarang pengejaran Tuan Putri terhadap tamu kehormatan Istana ... Benar-benar hari yang aneh.” Ucap salah satu warga yang berada di jalanan Ibukota Nexus.  Kini sudah tidak ada lagi jalan kembali bagi Dragon, dia benar-benar harus menghadapi takdirnya yang semakin berbahaya, setelah apa yang dia lakukan di dalam Istana Nexus. Dari mulai menyerang Prajurit penjaga, lalu mengancam Pejabat Kerajaan sekaligus sang Raja, ditambah lagi dia sudah mengambil benda berharga milik Kerajaan (Walaupun Raja sendiri yang memberikan benda itu kepadanya). Tapi bagi kebanyakan orang, tetap saja itu semua adalah tindakan kejahatan yang sudah pasti dapat menjadikan Dragon sebagai tahanan di Penjara Ibukota Nexus.  Apalagi saat ini yang sedang mengejarnya adalah sang Putri bersama tiga Kesatria badai Nexus, dengan amarah yang meluap-luap karena Dragon telah berani memperlakukan ayahnya secara lancang. Sang Putri terus saja berada tepat di belakang Dragon tanpa sedikitpun melepaskan pandangannya terhadap orang yang sudah dianggapnya sebagai penjahat tersebut. Sedangkan di belakang Tuan Putri ada tiga Kesatria badai Nexus yang juga masih terus setia mengikuti sang Putri untuk membantu proses pengejaran dan penangkapan Dragon.  Kita tahu bahwa para Kesatria tersebut pasti sangatlah kuat dan memiliki kemampuan yang hebat, namun mereka tidak dapat menggunakan kemampuannya itu di dalam kawasan Ibukota, diakarenakan banyaknya kerumunan warga yang berada di sepanjang jalanan, sehingga akan sangat berbahaya jika mereka sampai menggunakan kekuatan mereka disana.  Usaha pengejaran itu telah berlangsung cukup lama, hingga akhirnya laju kuda mereka sudah hampir mendekati gerbang utama dari benteng Ibukota Nexus, yang terbuka lebar dan dipenuhi oleh banyak orang, terutama para Prajurit yang sedang berjaga disana. Mereka semua yang melihat Dragon sedang dikejar oleh Putri serta para Kesatria, langsung berbaris dan bersiap untuk menghadang Dragon supaya dia tidak bisa keluar dari wilayah Ibukota Nexus dengan mudah.  Namun sepertinya hal tersebut tidak akan bisa menghentikan laju dari kuda yang dipacu oleh Dragon dengan sangat kencang, walaupun para Prajurit itu mengacungkan tombak ke depan untuk menusuk kuda yang sebentar lagi akan menabrak mereka semua. Namun Dengan sangat cepat dan yakin, Dragon terus menambah kecepatan sehingga kuda yang ditungganginya itu terus berlari dengan sekuat tenaga, lalu saat sudah sampai di barisan para Prajurit penjaga tersebut, Dragon bersama kudanya segera meloncat dengan cukup tinggi, sehingga akhirnya dia berhasil merangsek barisan prajurit dan keluar dari gerbang utama benteng Ibukota Nexus dengan selamat, untuk terus berlari menuju kebebasan.  Sedangkan ketika kuda Tuan Putri dan para Kesatria akan melewati gerbang, Barisan prajurit segera menyingkir untuk mempersilahkan Putri dan para Kesatria supaya kuda yang mereka tunggangi bisa terus melaju tanpa hambatan, sehingga mereka bisa terus mengejar Dragon yang sudah berhasil keluar dari gerbang Ibukota. Putri Reina tidak akan pernah membiarkan Dragon lolos begitu saja, dengan raut wajah yang dipenuhi tekad membara, Putri terus fokus mengejar target incarannya tersebut.  Akankah Dragon bisa lolos dari pengejaran yang dilakukan oleh Putri Reina beserta Tiga Kesatria badai Nexus? Bisakah Dragon bertemu dengan teman-temannya lalu mendapatkan semua senjatanya kembali? Terus ikuti kisahnya, hanya di Journey of the Dragon.  Berlanjut ke Chapter 42
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD