“Mas... tadi kita di kasih tiket liburan sama Ibu...”
“ehm? Ibu? waahh... pengertian banget Ibu, tau aja kalo Mas lagi pengen honeymoon sama kamu”
Balas Mas Rama,
“tapi Mas, ini kan jadwalnya sepuluh hari lagi, ehm kita perginya lebih awal aja gimana?”
“kenapa sayang tanggal segitukan pas banget sama masa subur kamu, atau kamu... udah gak sabar ya? ehm?”
Mas Rama malah menggodaku begitu. Sejujurnya aku tak ingin memikirkan entah itu jatuhnya jadi honeymoon atau kebetulan di tanggal itu bertepatan dengan masa suburku, yang artinya kepergianku untuk berlibur itu tujuannya adalah jadi dalam rangka di khususkan untuk membuat anak. Aku hanya ingin pergi dan membersihkan pikiranku dari semua hal yang selama ini membuatku jadi sangat sensitive. Karena aku pikir sifat sensitifku sudah membuat beberapa orang terutama Mas Rama tak nyaman.
“aku pengen cepet-cepet usir semua hal negative di kepala aku Mas”
“kalo di ibaratin karyawan kantor, kamu tuh lagi alamin yang namanya burnout, Mas udah bilang berkali-kali sama kamu buat gak maksaain kebahagiaan kita dengan standar yang orang lain miliki, orang lain yang kamu pikir kebahagiaannya udah lengkap setelah punya anak, belum tentu mereka seperti itu... semua orang punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing dalam hidup berumah tangga sayang, jadi jangan stress lagi ya”
*(Burnout merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi stres berat yang dipicu oleh pekerjaan)
Ucapnya panjang sambil memegangi tanganku, inginnya sih aku seperti itu tapi apa mau di kata, ketika melihat keluarga bahagia lengkap dengan anak dalam pangkuan mereka ‘Si Iri’ itu langsung saja menghampiri dan menguasai perasaan di hatiku.
“aku harap seabis liburan nanti, aku bisa jadi lebih baik dan gak gampang sensitive lagi deh Mas”
Balasku, Mas Rama tersenyum dengan manisnya padaku lalu menciumi punggung tanganku.
“kita pokoknya happy happy selama liburan nanti, Mas bakal usir semua hal buruk di kepala kamu”
“makasih Mas...”
“nah jadi kamu maunya kita berangkat kapan? Lusa? kebetulan jadwal Mas kosong hari itu sayang”
“okey deh”
Akhirnya aku dan Mas Rama sepakat untuk pergi Lusa.
***
Dua hari kemudian....
“hhh....”
Helaku panjang setelah akhirnya selesai sudah kumasukan semua benda-benda yang mungkin kubutuhkan selama berlibur bersama Mas Rama.
“mau liburan aja napas kamu kedengerannya kaya mau kerja kuli tau gak”
Sindir Mas Rama padaku
“ckk, Mas, aku bukan mau kuli ya, aku cuma siapin semua barang yang mungkin kita butuhin nanti waktu liburan”
Balasku
“dan itu bikin kamu cape sendiri kan? sayang, kamu itu kayanya terlalu perfectionist deh, kalo pun nanti ada yang ketinggalan kita bisa beli di jalankan? jadi santai aja gak papa... calm, bikin kesalahan sekali-kali itu gak papa, kamu tuh apa-apa persiapin baik-baiiiiik banget”
Ucapnya dan aku jadi langsung memasang wajah cemeberutku sekarang
“emangnya salah apa kalo kita persiapan baik-baik??? kamu yang terlalu santai Mas, makanya asisten kamu yang suka ribet”
Balasku, memang begitulah perbedaannya, kalau Mas Rama itu pribadi yang kadang apa-apa spontan, sejadinya, dan kalau ada masalah pasti ribut di akhir. Berbanding terbalik dengan aku yang selalu ingin merencanakan segalanya sebaik-baiknya, ribut di awal dan overthinking takut-takut ada kesalahan nanti di tengah dan akhir.
“hhh... mulai deh, yaudah terserah kamu”
Ucapnya sambil melangkah ke luar kamar
“Mas! Ambilin kopernya!! tega kamu bikin aku bawa koper sendiri?!!”
“aahh!!! udah di tinggal aja, di hotel nanti udah siap ada semua sayang”
“ish, kamu ini gak hargain banget usaha istri deh, aku udah siapin semua ini dari pagi, terus mau di tinggal? gitu?”
“yaudah yaudah... jangan marah yaaa, maapin, okey? Mas bawa ini semua, ada lagi? gak akan bawa ranjang kan?”
Tanyanya yang di akhiri dengan sindirannya padaku itu.
“ish!! tau ah!!”
kataku sambil melangkah pergi lebih dulu menuju mobil.
“sayang!! jangan tinggalin Mas!!”
Aku berpura-pura tak mendengar saja, masa bodo dengannya, aku sudah di buat tak mood pagi-pagi olehnya, padahal niatnya aku ingin bersenang-senang tapi malah jadi marah-marah begini.
Selama perjalanan aku merapatkan bibirku, tak ingin meladeni percakapannya yang berusaha untuk berbaikan denganku.
“sayang... udah dong marahannya”
“suruh siapa pagi-pagi bikin kesel”
“sayang...”
“nanti kamarnya pisah aja”
Ancamku padanya
“sayang!!! jahat banget ish”
Dan kini malah ialah yang terlihat bermuka masam, Mas Rama itu tidur di punggungi saja sudah selalu marah, apalagi kalau kuancam pisah tidur denganku. Dan melihat wajahnya yang sedang cemberut sambil menyetir itu membuatku jadi terkehkeh seketika, terlalu lucu untuk tak di tertawakan.
“Mas jangan ngambek-ngambek, jelek tau gak manyun gitu”
“biarin”
Balasnya ketus
“yakin?? kalo cemberut jelek gitu nanti aku beneran pesen dua kamar loh”
“sayaaangggg!!!!”
“ahahahahh suara kamu kenapa jadi aneh gituu”
Balasku sambil tertawa, Mas Rama benar-benar mengeluarkan jurus tingkah geli-geli manjanya padaku. entah kenapa dia yang selalu bertingkah sok manis dan aku yang jadi selalu kegelian sendiri melihat aksinya itu.
“abisnyaaa... kamu mau tega hati biarin aku tidur sendiri? hah?”
“enggalah Masku sayang, ya ampun gak kebayang kamu tidur sendiri, aaah itu bakal jadi pemandangan termalang yang pernah ada tau gak”
Balasku, Kalau di ingat kembali, aku sempat selalu jauh dari Mas Rama karena tuntutan pekerjaannya yang padat dan yang mengharuskannya untuk selalu berada di luar kota awal tahun lalu. Dan yang terjadi adalah Mas Rama jadi harus melakukan video call sepanjang malam bersamaku. Gilanya lagi Mas Rama sampai inginkan Phone-s*x, bahkan ia melakukan manstrubasi sendiri di kamar hotelnya saat itu, sambil memintaku melakukan hal aneh untuk merangsangnya keluar karena sudah tak tahan katanya. Aiguuuu mengingat hari itu buat aku selalu ingin tertawa saja jadinya.
“kenapa iba-tiba ketawa sendiri?”
“inget kamu yang minta aku buka baju sambil mendesah waktu kita LDR taun lalu, hahahahhh kalo nanti malem kita pisah kamar, kamu bakal minta aku kaya gitu lagi gak Mas?”
kataku, Mas Rama kini jadi memasang ekpresi datar dan tak sukanya karena berhasil kuingatkan dirinya pada hari itu.
“kamu gak tau aja gimana rasanya kesiksanya Mas, yang pas lagi pengen-pengennya dan pas udah keras banget, malah harus kepisah sama belaian dan sentuhan istriku tercinta ini....”
“ahahahhhh... mana pas lagi mau klimaks ada yang ketuk pintu lagi hahahahh”
Aku tertawa puas sekali mengingatnya hari itu, meskipun di sisi lain aku juga kasian sekali padanya kala LDR itu.
“ahhh.... kamu nyebelin banget sih sayang, dosa tau tertawa di atas penderitaan suami sendiri, pokoknya karena sekarang udah jadi CEO, Mas mau bawa kamu kemana-mana, biar kalo lagi pengen langsung buka dan masukin punya Mas yang gagah ini”
“iihh serem, kamu anggap aku ini apa sih... aneh-aneh aja deh kamu Mas”
“biarin hweeee”
Kalau soal urusan bermaja-maja dan ranjang Mas Rama sudah selalu paling tak bisa di bantah.
Setelah drama pagi dan aku yang sempat bad mood akhirnya bisa juga di buat sampai tertawa karena cerita lucu Mas Rama selama perjalanan. Sampailah kini aku dan Mas Rama di tempat tujuan. Tempatnya adalah sebuah destinasi wisata yang menyuguhkan pemandangan indah pantai beserta lautan yang berada tak jauh dari hotel tempat aku dan Mas Rama akan menginap malam ini.
“tempatnya bagus juga ya sayang...”
“ehmm... pemandangannya bagus banget dari kamar hotel ini”
Balasku dengan tak kualihkan pandanganku dari view yang sedang kutatapi dengan betahnya dari jendela besar kamar hotel di depanku.
“sayang...”
Mas Rama tiba-tiba saja mulai melingkarkan tangannya dari belakang tubuhku, membawaku ke dalam dekapannya.
“Mas ini kita baru aja sampe, malem juga belum”
Kataku dan sayangnya Mas Rama tak mendengar, malah kini ia sudah mencumbu leher dan area belakang telingaku.
“ah Mas jangan di gigit”
“buat tanda, kalo kamu ini punya Mas”
Padahal cincin yang tersemat di jari manisku saja sudah lebih dari cukup menandakan kalau aku ini adalah wanita yang sudah menikah bukan.
“ayo main dulu ke pantainya, main air, abis itu-“
“abis main air kamu pasti tidur sayang...”
Ucapnya memotong kalimatku, aku ini memang mudah lelah dan sudah menjadi kebiasaan kalau habis main air contohnya seperti berenang, aku pasti selalu tertidur dan gagal menikmati malam panas bersamanya kemudian.
“kali ini engga, aku janji”
“manjain Mas dulu baru main”
“iiih Mas ini, main duluuuu...”
“No!”
Sekarang aku sudah tak lagi bisa mendebatnya, karena tubuhku sudah di pangkunya kini dan mulai di baringkannya di atas ranjang hotel kamar ini.
“aahh!! Mas jangan sampe kerobek”
“kalo pengen?”
Tanyanya membandel, sambil menggigiti bagian tali dress di pundakku yang kemudian di turunkannya.
“jangaaannn... ini limited edition aku antri belinya”
“kamu tuh lebih bagus kalo naked tau gak”
Ucapnya sambil menarik dress yang kupakai melorot sudah di buatnya dari tubuhku, sampai menyisakan pakaian dalamku saja saat ini jadinya.
“ahahahahh... aku naked keluar gitu? kaya orang gila dong”
“ya engga maksduhnya kalo sama Mas aja sayang... dan sebenernya Mas tuh agak gak ngerti kenapa kamu bawa bawaan sekoper penuh gitu, padahal Mas pengennya liat kamu naked aja gitu hehe”
Aku terperanga mendengar ucapan liar suamiku itu.
“ih Mas nanti ganti nama jadi Rama Grey kaya pemeran Fifty Shades of Grey itu”
Plakkkk
“ah! Mas! kenapa p****t aku di tampar sih??”
“di filmnya kan Si Dakota-nya suka di tampar tampar gitukan, sambil di iket”
*(Dakota Jhonson pemeran serial Fifty shades)
“ih Mas horror ih, jahat gak mau ah”
Kataku sambil berusaha membangunkan diri, takut di perlakukan aneh oleh dirinya.
“ahahahhah.... engga-engga lah sayang, Mas lebih suka kamu yang pimpin permainan kok”
Balasnya sambil membuka bra dan menurunkan celana dalamku, sampai telanjanglah sudah aku dibuatnya kini.
“huffttt... kirain kamu mau kaya gitu Mas”
“Mas ini bukan maniak sayang, yaudah ayo...”
“ayo apa?”
“bukain baju Mas, terus manjain”
“ish katanya bukan maniak, gimana sih”
“maksudnya bukan maniak gila s*x kaya si Grey itu, tapi kalo di manjain istri ya itu wajib sayang”
.....