Cemburu : Karyawan yang Mengirim Pesan Menggoda

2052 Words
Ting Ting Ting Dengan malasnya kuraih handphone suamiku yang sudah pasti akan di acuhkannya jika aku tak mengambilnya. Terkadang aku pikir Mas Rama itu terlalu acuh soal pesan masuk di handphonenya, bagaimana jika itu adalah satu pesan penting soal pekerjaannya. “Mas ada pesan masuk-“ Mataku hampir lompat, kaget saat melihat penggalan kalimat dari pesan yang muncul dari notifikasi handphone milik Mas Rama itu. “Mas, Poppy siapa?” Langsung kutanyakan siapa si pengirim pesan berisikan kalimat-kalimat manis itu pada suamiku. “manager baru, kenapa? dia chat Mas?” Balas Mas Rama santai, walau ia bersikap tak peduli, seolah Si Poppy itu bukan siapa-siapanya dan malah terus menciumi kulit pundak hingga kini bibirnya itu tengah turun menjelajahi punggungku yang sedang polos, tak berbusana sekarang ini. “Mas, coba liat dulu pesannya... masa pesan manager sama CEO bahasanya santai banget gini?? dia pikir kamu ini temennya apa?? kamu jelas lagi di godain sama dia Mass...” Pak Rama gimana liburannya? Have fun ya Pak *emot senyum “hhh... tapi sayangnya Mas gak kegoda sayang...” Balas Mas Rama sambil mencumbu leherku. “ish, Mas! aku serius” “hhh.... sayang, kamu ngapain marah-marah gara-gara pesan iseng gituan sih, udah sini Mas blok nomornya” Ucap Mas Rama sambil benar-benar langsung memblok nomor salah satu karyawannya itu. Tapi bukankah setelah di blok sekalipun, bisa saja nanti tanpa sepengetahuanku Mas Rama membuka mode bloknya dan bertukar pesan dengan wanita genit itu. “Mas, berapa banyak karyawan yang suka chat kamu kaya gitu?” Tanyaku sambil kulemparkan tatapan curigaku pada Mas Rama, “hhh... sayang-“ “Mas, kamu gak diem-diem punya handphone lain kan selama ini?? kamu gak chat diem-diem sama karyawan cewek kamu kan??” Tanyaku semakin curiga, sampai isi kelapaku kini jadi di penuhi dengan semua bayangan buruk tentang dirinya. “sayang!!! kamu tuh apaan sih, Mas ini kamu anggep suami apaan yang bisa-bisanya kaya gitu di belakang kamu...” Balasnya dengan nada yang terdengar lebih emosi, sampai aku jadi diam dan terus menatapnya. “hhh... ini check sendiri, bahkan kamu tau sendiri kan kalo Mas gak pernah kunci layar handphone Mas” Ucapnya sambil mempersilahkan aku memeriksa isi handphonenya itu. Tapi kalau di pikir lagi, memang benar Mas Rama tak pernah mengunci layar handphonenya. Dan justru itu semakin membuatku curiga padanya. Sampai terpikir olehku kalau mungkin saja di handphonenya yang biasa di pakai Mas Rama itu memang tak ada apa-apa, tapi bagaimana jika Mas Rama memiliki cara rahasia lain untuk berselingkuh di belakangku. “Mas... di perusahaan kamu itu kan banyaknya anak muda, pasti banyak juga perempuan-perempuan yang masih muda, masih fresh terus cantic-cantik banget lagi kan... aku gak heran kok kalo kamu sampe kepincut sama satu perempuan di sana...” “sayang, kamu kenapa sih... Mas itu gak mungkin kepincut sama perempuan manapun, kamu tau sendiri gimana Mas sangat-sangat terobsesi sama kamu, kalo bisa Mas pengen terus sama kamu, tidurin kamu, pelukin, ciumin kamu setiap hari sepanjang hidup Mas... cuma kamu sayang” Ucapnya, meski aku juga tak bisa meragukan soal yang satu itu, karena memang Mas Rama selalu bertingkah seolah sangat terobsesi padaku. “sayang... kamu gak usah cemburuan gini, karena Mas gak mungkin berpaling dari kamu sayang...” “janji ya Mas” “iya sayang...” Mas Rama langsung memelukku kembali dengan sangat erat membuat tubuhku dengannya kian merapat. Tapi tetap saja aku masih kepikiran soal si pengirim pesan itu. Dan malah jadi mempertanyakan soal bagaimana selama ini karyawan-karyawan muda di kantornya itu bersikap pada Mas Rama, aku harus mulai waspada pada karyawan-karyawan muda dan cantic juga cukup menarik di perusahaannya. ‘hhh... kenapa aku baru curiga sekarang ya? selama ini aku terlalu di sibukin sama urusan pengen punya anak, sampe lupa kalau banyak wanita muda di luar sana yang mau embat suamiku ini’ Sampai malam pun kini tiba, dan sudah 15 menit lamanya aku hanya terus diam menatapi juga memperhatikan Mas Rama yang sedang memainkan handphonenya. Aku masih betah dengan pikiran curigaku padanya. “sayang... ada yang mau kamu bilang sama Mas?” Aku balas dengan menggelengkan kepalaku padanya. “terus kenapa dari tadi liatin Mas sampe serius gitu?” Sepertinya Mas Rama sadar kalau sedari tadi aku tengah memperhatikannya. “Mas lagi apa?” Tanyaku akhirnya, “hhh... sini sayang, Mas lagi liat-liat design buat project baru” Aku kemudian menghampiri Mas Rama yang sedang duduk sambil memainkan handphonenya itu. Mas Rama mendudukanku dalam pangkuannya, ia membuatku terkunci di antara kedua tangannya yang mulai menunjukan beberapa design padaku. Sepertinya aku sudah berburuk sangka padanya tadi, aku pikir Mas Rama sedang berbalas chat dengan wanita lain. “Mas... mau jalan-jalan gak? kayanya suasana malem diluar enak buat jalan-jalan deh” Usulku, karena rasanya aku memang harus merefresh pikiranku yang di penuhi oleh pikiran yang tidak-tidak pada suamiku itu. Semua ini berawal dari pesan wanita sore tadi itu, aku sampai jadi parnoan begini jadinya. “okey ayoo... kamu pake sweter biar gak dingin” “ehmm males, di pelukin Mas aja biar gak dingin gimana??” Balasku manja padanya “hahahha... yaudah sini jalan-jalannya dengan senang hati sambil Mas pelukin” Tapi kemudian jadinya aku tetap dipakaikannya baju hangat, takut masuk angin katanya. Selama menghabiskan waktu diluar, berjalan di antara hamparan pasir bersama sapaan angin malam, rasanya benar-benar romantic sekali. Mas Rama beberapa kali mencium puncak kepalaku dengan lembut, rasanya benar-benar seperti pengantin baru lagi saja aku dengan nya. “Mas” “ehm?” “kalo nanti aku tua, kalo nanti aku keriput, kalo nanti aku gak subur dan menupause, aku bakal jadi sensitive, sering marah, marah... bahkan...” Rasaya lebih baik untuk kubisikan saja kata terakhirku di telinga Mas Rama, “gak rapet lagi... gimana?” Mas Rama menyunggingkan senyumnya sambil terkehkeh geli, karena pertanyaan konyolku itu. “ya gapapa sayang... Mas itu bakal terus sayangin kamu, meski hubungan kita nanti gak se-hot sekarang, sampe jadi kaya kakek nenek yang mungkin bakal ributin banyak hal setiap harinya... Mas bakal tetep sayang banget sama kamu...” Balasnya, tapi kemudian kuperhatikan ujung matanya malah di pakainya memandang ke arah lain, sampai kuekori arah pandangnya itu. “hhffttt... sayangin apanya, sekarang aku yang belum tua aja, mata kamu itu udah kamu pake buat lirik-lirikin cewek lain yang lebih sexy dari aku Mas...” Balasku padanya, Dan Mas Rama malah hanya memasangkan wajah tak berdosanya, ber-hehe ria di depanku saat ini. Karena saking kesalnya aku sampai mendelikan mataku padanya, padahalkan sedang romantic-romasntisnya tapi ia malah menghancurkan moodku begini. “dasar laki-laki semua sama aja, suka banget liat yang bening, apalagi yang keliatannya gede kaya mau lompat terus jatoh gitu” Balasku sengaja menyinggung pemandangan yang tadi sampai membuatnya mengalihkan tatapan matanya dariku. “Akh! Mas! ini di luar, kenapa kamu pegang-pegang dad* aku” Protesku pada tangan nakalnya yang suka tak ingat tempat itu. “ya abisnya kamu cemburunya sampe segitunya...” “Mas duluan yang bikin aku bete...” Aku tak ingin kalah mendebatnya, sampai kemudian ia terlihat memejamkan matanya dan kalau Mas Rama sudah seperti itu, tandanya ia akan memilih untuk menyerah padaku. “sayang... mata laki-laki manapun kalo di suguhin pemandangan kaya tadi pasti langsung lirik, itu karena insting cowok yang suka banget sama keindahan-” “jadi aku kalah indah sama cewek yang bajunya kurang bahan tadi?? gitu??!!” Ia merapatkan bibirnya, tak mampu lagi berkata setelah kuskakmat begitu. “aahhh!!! nyebelin!! Mas kok diem aja sih! jadi aku beneran kurang indah dari cewek tadiii??!!” Ucapku sambil kucubiti perutnya, “ah! akh!! sakit, ampun sayang... ampun ampun...” “ya gak gitu, tapi... hhh maapin Mas sayang, mata Mas tadi emang nakal, jangan marah lagi yaa...” Ucapnya sambil tiba-tiba berlutut di depanku dengan tangan yang di rapatkannya, bersikap memohon padaku. “Mas ih! bangun malu” “maapin dulu...” Ucapnya memelas, hingga aku jadi terpaksa harus mengangguk dan mengiayakannya karena ulah Mas Rama itu, sampai kini jadi banyak orang yang tengah menatap ke arahku dan Mas Rama. “iya-iyaaa Mas... ayo bangun” “nah gitu dong...” Ucapnya sambil mengembangkan senyum bahagianya kini. Aku benar-benar selalu kalah dengan tinggkahnya yang seperti itu. Mas Rama selalu paling hebat membuat suasana hatiku seperti sebuah roller coster. “sayang...” “ehmm...” Balasku dengan nada malas. Mas Rama yang sadar kalau aku yang masih menyimpan marahku untuknya itu, langsung menatapku dan menaruhkan dua jari telunjuknya itu untuk memaksa ujung bibirku tertarik membentuk senyum kini. “Mas jail banget deh, aku lagi gak mood...” “sayang udah dong marahnya... beli ice cream yuuu, bebas deh, mau rasa apapun dan sebanyak apa pun...” Tawarnya padaku mencoba meluruhkan amarahku “bener ya... aku mau beli selemari esnya loh Mas...” “ya gitu juga sayang... kalo kamu sakit perut gimanaaa??” “biarin, siapa tau abis banyak makan ice cream, badan aku jadi montokan(?) berisi, kaya cewek tadi” Balasku, masih menyinggung dan membawa-bawa wanita yang telah merusak mood kencan berduaku dengan Mas Rama malam ini. “ahhh... udah dong jangan bahas itu lagi” Aku manyun saja dan memilih untuk mendiamkannya. Tapi Mas Rama juga tak kehilangan akalnya, sampai kemudian tiba-tiba saja tangannya memangku tubuhku lalu membawaku berlarian di hamparan pasir putih pantai ini. “ahahhhh Mas... aaaaa” Aku hanya bisa berteriak sambil berpegang erat pada tubuh kuatnya yang kini sedang menggendongku di tengah romantisnya malam berbintang dan suara deburan ombak di pantai yang indah ini. Dan entah sudah seberapa jauh kakinya itu melangkah, sampai tak lama kemudian kurasakan kakinya bergerak melambat, bahkan kini sudah berhenti di area yang cukup sepi dan tak seramai tadi. “sayang...” Panggilnya dengan aku yang tak di lepaskannya dari pangkuannya itu. Mas Rama lalu membuat wajahku berhadapan dengan wajah tampannya, kening kami di satukannya dengan posisiku yang jauh lebih tinggi di atasnya. Dalam diam kami saling bertatapan, wajah tampannya membawaku larut dalam kedamaian dan pemandangan yang jauh lebih indah dari panorama alam pantai malam ini. “ini janji Mas sayang... Mas akan selalu sayangin kamu sampai akhir nanti sayang... bahkan ketika 7,8 miliar orang di dunia ini mengalami perubahan di hati mereka, Mas akan jadi satu-satunya orang yang akan selalu miliki hati yang sama dan gak akan pernah alamin yang namanya perubahan dalam mencintai kamu sayang...” Ungkapnya padaku, selama empat tahun hubungan pernikahanku dengannya, yang memang tak selalu di penuhi hal manis, tai banyak juga yang terjadi mulai dari pertengkaran sampai tangisan. Tapi pada akhirnya aku akan selalu kembali ke dalam peluknya, tersenyum, merasa beryukur telah menjadi istri dan menjadi bagian dari hidupnya seperti sekarang ini. Dan tepat di saat momen seperti ini, Mulutku selalu di buat beku sampai hanya kecup dan cium yang mampu kulakukan sebagai balasku untuk semua haru yang telah di torehkannya di hatiku. Sampai kemudian kini tengah kurasakan kuluman dan hisapan bibirnya yang terasa lebih lembut dan lebih manis dari permen kapas yang sangat kusukai sekalipun, bahkan lebih legit dan membuatku ingin lagi dan lagi seperti buah ceri favoritku. “hhh... Mas, jangan lagi kamu pake mata indah kamu ini buat lirik wanita lain selain aku...” Pintaku “sayang... kamu harus tau, laki-laki itu emang terkadang kaya gitu, Mas dan semua laki-laki di dunia ini, pada umumnya memang punya refleks, sampe bikin kita langsung aja ngelirik kecantikan atau tubuh wanita yang cukup mencolok, meskipun dia udah punya seseorang yang di cintai di hatinya... tapi itu sama sekali gak akan berpengaruh sama komitmen yang kita buat, perempuan yang terlihat cantik sekilas itu gak akan mungkin buat laki-laki normal langsung tinggalin perempuan yang dia sayang... inget itu...” Ucapnya panjang, “hhhfftttt gitu ya... tapi aku tetep aja cemburu” Gerutuku *(lirik butter-BTS) “oh?? ini lagu baru BTS...” Ucapku dengan riangnya, rasanya senang sekali saat tiba-tiba saja kedengar lagu dari boy-band asal korea selatan yang sedang kugilai belakang ini, dan kebetulan kini tengah mengalun dengan indahnya. “nah kan... sekarang malah kamu yang bikin Mas cemburu, pokoknya Mas itu paling males kalo kamu tiba-tiba lebih pilih dengerin lagu BTS dari pada ngobrol sama Mas, sampe anteng banget liatin mereka di banding tatapin wajah Mas...” Tiba-tiba saja Mas Rama protes begitu padaku “ya itu kan bedaaa...” Sanggahku, tapi sepertinya itu percuma saja, karena kemudian Mas Rama menurunkan tubuhku dari pangkuannya, ia sampai membalikan tubuhnya dan berjalan pergi lebih dulu meninggalkanku. “Mas!! mau kemana??” “matiin musiknyaa!!!” “kenapa??” “aku cemburu!!” .....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD