Setelah pulang dari liburanku bersama Mas Rama, aku jadi sangat sensitive sekali dengan bunyi notifikasi di handphone Mas Rama. Bahkan aku selalu langsung menoleh dan menatap Mas Rama mencoba untuk membaca raut wajahnya. Langsung kuberpikir yang tidak-tidak saat senyum di sunggingkan Mas Rama, dan langsung juga tercipta tanya ada apa gerangan saat satu alisnya di naikan yang kemudian di susul oleh dahi yang di kerutkannya.
Ting
Ini sudah yang keempat kalinya aku menoleh karena suara itu.
“sayang, kamu nunggu pesan atau gimana sih, handphone Mas loh yang bunyi dari tadi”
“ehmm... dari siapa Mas?”
Seketika raut Mas Rama berubah karena tanyaku itu, ia bahkan memicingkan matanya kini menatapku penuh curiga.
“sayang... gak biasanya kamu tanya ini dari siapa?”
“gak boleh aku tanya??”
Aku malah bertanya balik dengan nada ketusku, kemudian membalikan tubuhku, berusaha kembali focus memasak menu makanan untuk diner malam ini bersamanya.
“sayang...”
Mas Rama memanggilku, tapi kuabaikan saja. Sampai suara langkahnya kini terdengar mendekat, dan tak lama kurasakan bahu juga hembusan napas khas suamiku itu di area leherku.
“nih...”
“apa?”
Tanyaku tak mengerti dengan Mas Rama yang tiba-tiba memberikan handphonenya padaku
“ini... di liat aja, isinya cuma kerjaan aja kok, gak lebih dari laporan beberapa asisten Mas...”
“hhh... ketauan deh, aku lagi mata-matain kamu”
Jujurku, Mas Rama kemudian terkehkeh saja mendengarku berkata begitu. Mas Rama mendekatkan wajahnya sampai membuat bibir kami bertemu, dan jelas saja kelembutan daging lembut yang merah merekah itu kusambut dengan senang hati.
“hhh... Mas”
“masih ada yang ganggu pikiran kamu? ehm? sayang, Mas kan udah bilang kalo Mas gak mungkin chat-an sama cewek lain di belakang kamu...”
“tapi Mas, batu yang keras kalo terus-terusan di tetesin air pasti kekikis juga akhirnya, kalo Mas sampe tiba-tiba kegoda nanti gimana??”
“sayangnya Mas bukan batu, tapi laki-laki bernama Rama yang udah di miliki Shinta, istri Mas yang cantik banget ini”
“cih, gombal”
Ucapku, tapi tetap saja kata-kata manisnya itu membuat lengkungan senyum di bibirku kini tercipta.
“Mas, aku mau ikut kelas masak sama yoga, boleh gak?”
“ehm? tiba-tiba??”
“engga tiba-tiba Mas, aku emang lagi seneng masak, terus kalo soal yoga, katanya selain bagus buat badan, yoga juga bisa ilangin stress...”
Balasku, Mas Rama kemudian menganggukan kepalanya, setuju pada rencanaku itu.
Tapi sejujurnya ada alasan lain yang kumiliki selain yang kusebutkan baru saja padanya itu. Setelah berbicara dengan Lisa dan Cika, dan tentunya kuceritakan pula soal yang di pesan yang di terima Mas Rama saat liburan kemarin.
~
@Cafe S kemarin sore
“yang bener??? wahh... gak heran sih suami kamu kan bening banget Shin, setaralah sama boyband favorit kamu itu”
“aku harus gimana dong?? Lisa, kalo Mas kamu di godain, kamu bakal gimana??”
“aku? ehmmm aku bakal terriak ... ‘KAMU GAK SAYANG BAYU MASSS???!!!’ gitu, aku pasti langsung ngotot bawa-bawa anak kesangannya...”
Aku langsung ber-ah-ria, senjata Lisa ternyata anaknya yang pasti sangatlah berharga bagi suami dan keluarga kecil mereka. Apa daya aku yang masih belum memiliki senjata andalan yang bisa menuntut Mas Rama untuk menjaga kesetiaannya atas keluarga yang telah lama kami bina.
“Mas Rama harus aku marahin kaya gimana, yang ada malah kalo alasan dia yang cari cewek lain diluar sana karena aku gak bisa kasih anak... jatohnya aku yang salahkan? aku yang jadi alasan karena kurang baik buat dampingin dia, hhh...”
Ungkapku, sampai kini Lisa juga Cika yang duduk di sampingku langsung siaga menggenggam tanganku, yang mulai di rundungi perasaan pesimis, rendah diri, dan akan jatuh kemudian larut dalam pikiran burukku.
“Shin, jangan sendu gini dong... anak kamu pasti bakal dateng di antara kamu sama Mas Rama kok, di waktu yang baik, dan yang udah tuhan rencanain buat kamu...”
Ucap Lisa berusaha mengobati kegelisahan hatiku.
“tapi awas aja kalo sampe Mas Rama berpaling karena kata-kata kamu barusan itu... karena jelas itu gak bisa di jadiin buat alasan berpaling, siapaun itu laki-lakinya... karena menurut aku, laki-laki itu sebenernya gak boleh seenaknya nuntut anak, apalagi sampe ninggalin perempuan karena gak bisa kasih keturunan... karena kan secara cewek yang hamil, cewek juga yang lahirin, harus kasih asi, besarin, jagain, di saat mereka sibuk sama kerjaan mereka juga kan...”
Ucap Cika, meski itu terdengar masuk akal, tapi aku sudah di cocoki bahwa itu semua adalah tanggungjawab yang harus ku emban sebagai seorang wanita, rasanya akan sulit untuk berpikir seperti sudut pandangnya itu.
Terlebih Cika yang belum menikah dan terhindar sampai belum merasakan pahitnya dari shaming perkataan orang yang sering kali menyinggung hatiku, mungkin mudah saja naginya untuk berkata begitu.
“hhhh, coba deh kamu ada di posisi aku, coba rasain gimana cara mata aku memandang sampe gimana munculnya perasaan iri, setiap kali liat perempuan yang lagi senyum sambil tatapin anak yang ada di pangkuannya...”
Semua kata itu terlontar begitu saja, sampai Lisa dan Cika kini hanya bisa terdiam merapatkan bibirnya.
“ehem... berat sih, kita beda orientasi, maaf Shin aku gak ngerti...”
“gak papa kok Cik, aku cuma lagi sensitive aja kayanya...”
“Tapi mungkin buat antisipasi... kamu sering-sering aja main ke kantornya, pantau kalo emang ada cewek genit yang deketin suami kamu, sambil bawain makanan gitu, jadi istri CEO yang baik buat Mas Rama...”
Usulnya
“tapi aku masak apaan?? aku kan gak hebat-hebat banget soal masak”
“ehmm aku lupa kasih tau, kantor sebelah buka kelas masak, chef mentornya orang yang suka masakin di hotel-hotel elit di Bali”
Cika langsung membawakan sebuah brosur yang menginfokan kelas memasak yang akan berlangsung dalam satu bulan lamanya itu.
“waaahh... ada baiknya juga Cika stay di sini, aku jadi ada temen”
“Shinta, terus aku apaan??”
Tanya Lisa yang protes karena merasa tak di anggap.
“kamu ibunya Bayuu... sibuk mulu sama bayi kamu”
Begitulah obrolan kemarin sore bersama dua temanku itu. sampai jadilah aku memutuskan untuk mengambil kelas masak.
....
Author pov
Esokan paginya di kantor Rama, terlihat sosok CEO yang penuh dengan kharismanya itu, tengah memperhatikan presentasi beberapa timnya. Tangannya berkali-kali mencoret beberapa hal yang tak di setujui pada laporan di tangannya itu, dan ia juga mengangguk seraya setuju dengan ide-ide yang tengah di paparkan oleh karyawannya itu.
“tunggu, bagaimana dengan security systemnya?”
“soal itu-“
Ting
Nada pesan yang masuk saat rapat itu membuat keheningan di ruangan yang di buat gelap agar semua mata terfokus pada layar presentasi di depan.
“maaf, sebentar”
Ucapnya memberi jeda sejenak, saat menemukan nama istrinya tertera pada notifikasi pesan masuk di handphonenya itu. Tangannya sigap membuka layar handhonenya, karena tak biasa sekali pikirnya, Shinta mengirimi pesan di jam sibuk seperti ini, jika bukan balasan pesan karena Rama yang mengirimkan beberapa kalimat rindu pada Shinta.
“ehm? apa ini? hahh...”
Ucapnya sambil mengembangkan senyumnya, terkehkeh geli atas apa yang baru saja di kirimkan istrinya itu. Wajah seriusnya mendadak hilang, yang ada kini hanya raut senang seorang pria dengan mata yang terpana karena pesan yang di kirimkan Shinta padanya. Dan itu berhasil membuat beberapa wajah yang tengah duduk dalam satu meja rapat itu menirukan senyum yang sama gelinya, melihat tingkah CEO mereka yang ternyata bisa berperilaku sampai seperti remaja yang baru merasakan cinta begitu.
“ehem... Pak”
Asistennya lantas menyadarkan Rama yang seperti sudah lupa kalau ia sedang dalam rapat saatnya ini.
“oh? ooh... maaf sayang- saya maksud saya, ah gini- oh-“
Ucap Rama tak jelas, lidahnya seperti sedang keseleo, berbelit-belit sampai kemudian ia menyerah mengangkat kedua tangannya untuk menutupi wajah merah karena malunya itu.
“hahhh... saya keliatan konyol banget ya?”
Dengan suara yang teredam Rama bertanya demikian, Namun tak ada yang berani menjawab, mereka semua hanya bisa menahan tawa, karena tak bisa juga mereka berbohong kalau CEO nya itu memang terlihat konyol sekali saat ini.
“siapa pak? istri ya?”
Tanya asistennya pelan, Rama yang terus mengcoveri wajahnya yang sedang tak bisa berhenti tersenyum itu, hanya mampu menjawab dengan anggukan kikuknya saja saat ini.
“aahhh malu”
Gumamnya, sambil munundukkan wajahnya, dan itu berhasil membuat suara tawa yang tertahan kini terdengar lebih keras dari 8 karyawan karena tingkah manis ‘Bos Besar’ mereka itu.
“ah, kita ambil break, sorry...”
Ucap Rama sambil melangkah keluar melarikan diri kembali menunju ruangannya ingin sendiri dulu karena butuh focus untuk membaca pesan sang istri. Meski hancur sudah reputasinya di hadapan karyawannya.
“bos kenapa sih?”
“biasaa... bucin banget sama istrinya”
Beberapa dari mereka langsung tertawa karena tingkah bos mereka itu, meski sesungguhnya sudah bukan hal yang asing lagi melihat betapa manisnya keluarga harmonis CEO berserta istrinya itu.
“iri deh... “
Timpal yang lainnya, dan memang kalau melihat bagaimana manisnya Rama dan Shinta, siapapun akan langsung berkata iri seperti itu.
“hhh... rapatku harus break gara-gara Shinta yang kirimin aku fotonya itu, jadi pingin pulangg...”
Ucap Rama begitu mendudukan diri di sofa ruangannya. Ia lantas kembali memandangi foto sang istri yang menampilkan kiss mark karyanya di leher juga area dadanya.
Mas
Aku jadi bisa gak ikut kelas yoga gara-gara kamu *emot sedih dan marah
Tapi anehnya aku pengen yang tadi subuh, gak mau kiss marknya, pengen bibir kamunya aja...
Begitu pesan di bawahnya. Kini jari-jari jahilnya bahkan memperbesar area d**a istrinya yang memang di penuhi oleh bercak merah ulahnya. Smirk senyum seorang pria, sejuta pesona itu di tampakannya, bangga atas apa yang telah di perbuatnya.
“woyy!!!”
“heyy bro”
“ckk, di gosipin tuh sama anak-anak”
Ucap Boby yang merupakan kepala marketing yang cukup dekat dengannya.
“bodo amaattt”
Balas Rama tak peduli.
“ckk, chat nakal dari Shinta ya???”
“sok tau banget sih...”
“jadi kapan punya anak?”
“denger ya, menikah itu bukan soal berkembang biak dan punya anak...”
“wiiih, bisa aja nih balesnya”
“aah, pokoknya gue seneng banget deh sekarang, gara-gara cemburunya itu sekarang dia jadi lebih overprotektif, perhatian sampe kirim pesan gini sama gue dan gak terlalu mikirin anak ahahahh...”
Boby hanya memandangi heran bosnya yang bisa-bisanya berpikiran begitu.
“Rama, Lo kurang perhatian apa gimana sih, heran gue ckckk...”
.....