‘Tak mudah menjadi perempuan, katanya....’
Aku terus menatapi sepenggal kalimat dari blurb buku karya penulis novel laris Kim Ji Yeong born 1982 yang kemarin Mas Rama belikan padaku. Kemudian halaman demi halaman kubuka dan k****a dengan rasa penasaran akan apa yang telah penulis kenamaan itu tuliskan di dalamnya.
Dan tak terasa waktu terus berlalu, kini aku sampai dibuat ikut menjadi bagian dari apa apa saja yang di kisahkan di setiap paragraph demi paragraph yang tertulis di setiap lembar buku itu. Aku benar-benar tersentuh akan ceritanya.
Tapi semua perasaan keintimanku dengan buku itu harus pecah, sampai fokusku juga jadi buyar saat tiba-tiba suara Mas Rama yang berdehem dengan cukup keras dan dengan jahilnya tengah di lakukannya berulang-ulang, itu benar-benar terdengar sangat mengganggu di telingaku. Alhasil, kacaulah sudah suasana hatiku yang padahal sedang larut larutnya ikut sendu dalam kisah-kisah yang di ceritakan dalam buku bersampul biru tua itu.
“ehem...”
Itu adalah ehem-nya yang kesekian kalinya sejak Mas Rama keluar dari kamar mandi sampai kini sedang menyisir rambutnya yang beraroma menthol yang sangat wangi sekali.
“ehemmm...”
Aku masih diam dan sedang mencoba mengembalikan fokusku untuk kembali membaca. Dan yang aku tahu dengan pasti adalah bahwa sesungguhnya tenggorokannya itu baik-baik saja, Mas Rama tak sedang batuk atau flu, tapi entah kenapa Mas Rama teruuuusss saja berdehem bertingkah seolah buah durian tengah tersangkut di tenggorokannya. Padahal dari suara dehemannya saja, jelas terdengar kalau Mas Rama hanya berpura-pura tengah bertingkah membenarkan(?) tenggorokannya itu.
Aku masih betah mengabaikannya,
“EHEMM!”
“......”
(*aku masih dalam mode diam)
“EHEMM EHEMMM EHEMMM”
Suaranya kini jadi terdengar lebih seperti suara sapi yang sedang protes karena tak di beri makan seminggu saja di telingaku.
“apa sih Mas....”
Akhirnya aku menyahutinya.
“gak peka banget sih! tenggorokan Mas sampe sakit ehem-ehem-in kamu dari tadi tau gak”
Aku sampai menaikan alisku mendengar protesnya itu, di tambah mata yang kini menatapnya dengan tatapan aneh karena tingkahnya itu.
“Mas ini ada-ada aja sih... kalo mau bilang sesuatu yang bilang aja... ngapain ehem ehem dulu”
Balasku sambil terkehkeh,
Mas Rama jadi menatapku datar kini. Aku tahu ada yang sedang di inginkannya, tapi ia malah bertindak kode-kodean(?) seperti ini padaku. Langsung saja kubuat dudukku menyamping untuk menghadap padanya,
“apa? ada apa? ehm?”
Tanyaku padanya.
“Mas nyesel beliin buku itu buat kamu....”
“kenapa? gara-gara aku tinggal kemarin sore buat ketemu Mbak Fira? ehm?”
Tanyaku, dan wajahnya masih saja datar, sudah pasti itu artinya bukan karena itu.
“kamu tuh seharusnya lebih sering liatin Mas, pegangin Mas, hari minggu itu cuma ada sehari dalam seminggu sayang... ini malah cukein Mas hhh...”
“jadi Mas Rama kaya gini karena ngerasa udah aku cuekin, gara-gara dari tadi aku pegang sama liatin buku ini? gitu?”
“iya... gak peka banget sih kamu sayang... sebel deh”
Ucapnya dengan wajah yang di buat seperti anak kecil yang tengah merajuk saat ini. Aku jadi tertawa karena tingkahnya itu,
“hahahahh.... Mas, Mas ini suami aku, dan ini cuma buku, benda, ngapain di cemburuin coba...ada-ada aja deh”
Balasku, mungkin benar apa katanya waktu itu, oleh buku saja Mas Rama bisa sesensitif ini jika tak kuperhatikan, apa jadinya nanti kalau aku punya anak yang butuh perhatian penuh dariku.
“apa? jadi mau apa? dipeluk? dicium?”
“sini kamunya....”
Pintanya manja dengan dua tangan yang sudah direntangkannya lebar-lebar, siap menyambutku untuk masuk ke dalam pelukannya. Mas Rama meraih tubuhku, sampai kini aku sudah berada dalam panggkuannya.
“Mas ini... manja banget sih... kita belum punya anak aja, rasanya aku udah punya bayi super besar di sini”
Kataku padanya. Kubelaikan tanganku pada wajah tampan yang kini tengah melengkungkan sudut bibir tebal yang merah dan sangat menggoda itu, Mas Rama menampilkan senyum tertampannya. Tak tahan kalau hanya kubiarkan, sampai kukecup lembut bibir Mas Rama.
“sayang....”
Panggilnya, begitu bibirku kulepaskan darinya.
“ehm?”
Aku hanya bersuara demikian sebagai jawabku atas panggilannya itu, tapi aku sadar saat kemudian kurasakan tangannya yang semula hanya berdiam pasif di pinggangku, kini tengah merayap naik kepunggungku, sampai refleks kutahan napasku begitu kurasakan sentuhan jari-jarinya tengah menyapa tubuhku ini.
“Mas...”
Panggilku dengan banyak hembusan napas di ujung katanya, Mas Rama menekan punggungku hingga tubuhku sampai jadi sangat merapat padanya. Ia kemudian mencari area telinga, dan bibir lembutnya mulai mencumbuku disana,
“Mas tau kamu udah selesai dateng bulannya sayang...”
Bisiknya di telingaku. Aku sampai bergidik geli di buatnya. Aku tergoda untuk bisa melakukan lebih dengannya. Padahal matahari saja masih belum terlihat meninggi apalagi untuk tenggelam dan pergi, tapi aku sudah ingin terbaring untuk menikmati aktifitas yang sangat menguras energy, yang biasanya kulakukan di malam hari, menikmati peraduan tubuhnya dengan tubuhku sambil mengalunkan desahan tanpa henti.
Deru napas yang memburu kini terasa bukan hanya dari diriku, tapi juga dari dirinya yang sudah merapatkan keningnya padaku yang berada di atas tubuhnya. Mataku menemukan tangannya dengan jari-jari yang kini tengah bergerak tepat berada di depan dadaku, aku bisa cukup tahu soal apa yang akan di lakukannya padaku.
Satu kancing pakaianku sudah berhasil di bukanya.
“sayang...”
Panggilnya kembali dengan suara beratnya. Kunaikan pandanganku untuk menatap mata yang kini tengah mewakili mulutnya untuk berkata meminta padaku.
“ehm...”
Tangan yang tampak sekokoh besi namun terasa selembut bulu-bulu angsa putih juga sehangat mentari pagi itu kini tengah meraih leher dan rahangku. Membuat bibirku jadi menyatu, siap berpagutan dengan dirinya. Daging merah lembut itu menyesapi milikku, tak ada kesan menuntut dari gerakan bibirnya pada bibirku, tapi aku tahu ada sesuatu yang sebenarnya ingin segera mendesak masuk. Sampai kupersilahkan dirinya dengan kubuka mulutku, beserta lidah yang sudah siap menyambut kehadirannya untuk bisa bertalian dengannya di dalam ronggaku.
Suhu tubuhku berhasil di buatnya naik, begitupun dengan birahi plus kaus suamkiku yang sedang kunaikan untuk kulepaskan kini.
“Mas...”
Panggilku begitu ciumanku dengannya harus terlepas.
“sayang....”
Mas Rama dan aku haya terus saling memanggil sedari tadi, tapi itu seolah mewakili kalimat selanjutnya yang ingin terucap yaitu, ‘aku... inginkan tubuhmu...’
Ikat rambutku dilepaskannya, rambutku kini jadi terurai dan tengah diusapnya. Kukalungkan tanganku pada leher Mas Rama yang kini sedang bersandar pada sandaran sofa.
“Mas...”
Tak ingin menunggu lama lagi, bibirku mulai melakukan aktifitasnya kembali menciumi kulit wajah tampan sampai pada leher yang beraromakan sangat memabukan itu.
Dudukku jadi tak nyaman saat ku rasakan sesuatu dibawahku terasa menusuk-nusuk tepat pada area sensitifku.
“sayang”
Ceklek
“oh... astaga...”
Suara dengan nada keget itu terdengar sangat familiar sekali, sampai aku dibuat berbalik untuk menoleh ke arah pintu.
“Ibu...”
Sontak aku bergerak untuk turun dari tubuh Mas Rama, tapi Mas Rama justru malah menahan pinggangku untuk tetap dalam posisi itu. sadar aku di tahannya, langsung kupelototi Mas Rama yang tak mau melepaskan tubuhku dari pangkuannya.
“sayang diem, punya Mas udah ereksi berat, malu sama ibu....”
Bisiknya padaku.
“ah... yang bener aja Mas... turunin aku, aku juga malu sama ibu”
Aku jadi berdebat dalam bisik bersama Mas Rama saat ini.
“ah... di lanjut aja, Ibu mau ke rumah sebelah kok, mau ketemu Dewa”
Ucap Ibuku dengan nada canggung saat memergoki anaknya yang akan memulai aktifitas panasnya.
“Iya Bu”
Balas Mas Rama tak tahu malu sekali dirinya.
“doain aku gol Bu”
Tambahnya, kupukul dadanya yang sudah polos itu.
“Mas ish”
“ya, semangat nak”
balas ibuku, aku sangat malu sekali karenanya, rasanya aku sudah di telanjangi di saat pakaianku masih lengkap saat ini.
“Massss.... aku gak punya muka lagi buat ketemu ibu nantiii!!!”
Kataku sambil kusembunyikan wajahku di dadanya.
“hahahhah... gak papa, ibu ngerti kok, jadi ibu tau kalo kita itu berusaha buat bikinin dia cucu”
Aku hanya bergerak gelisah di atasnya sambil memukuli pelan d**a suamiku yang sudah berbicara dengan santai sekali seperti itu. Untung saja bukan aku yang bertelanjang d**a, tapi Mas Rama.
“sayang....”
“apa?”
Balasku dengan nada malas,
“ayo...”
“ayo apa?”
“ayo lanjut...”
Ucapnya, aku jadi mendongak karenanya.
“lanjut?”
***
“hahahahh... Hahhhh...”
Lisa tertawa puas sekali saat kuceritakan apa yang terjadi pagi tadi.
“jadi nyesel aku cerita ke kamu Lis”
kataku dengan wajah masamku.
“hahahh... tapi bener kata Mas-mu Shin, jadi ibu mertuamu itu tau kalo kamu sama Mas Rama itu dari malem sampe pagi-pagi aja masih berusaha buat bikinin dia cucu”
kata Lisa.
“huss jangan keras-keras ngomongnya malu tau”
Kataku sambil menatap beberapa wajah yang seperti tengah menahan senyumnya karena tak sengaja mendengar perkataan Lisa.
“gak usah malu kali Shin, bukan ngomongin usaha mau maling ini kok, jadi ya santai aja”
Aku menjatuhkan bahuku sambil menghela napas beratku.
“usaha yang masih belum juga keliatan hilalnya itu bikin aku kadang suka kaya mikir, sia-sia gak sih semua ini... “
“Shinta... jangan berpaku sama apa yang belum kamu punya, gak ada yang namanya sia-sia kalo kamu bisa liat sisi baiknya, bersyukur sama apa yang kamu punya sekarang, waktu, Mas Rama dan semua perhatiannya yang belum kebagi buat si bayi nanti... nikmatin aja dulu...”
“bener tuh, belum tau aja pas lagi enak-enaknya dan mau sampe eh... tiba-tiba ada yang minta di bikini s**u, keselnyaaa... pengen marah gak bisa, ya yaudahlah...”
Ucap Mas Doni yang baru saja datang bersama suamiku dari toilet sedari tadi.
“kok lama sih yah... negrokok dulu ya?”
Lisa langsung mencurigai suaminya yang memang lama sekali meninggalkan double date minggu sore ini. Aku juga kini jadi menatap Mas Rama dengan melempakan sorot mata curigaku padanya.
“engga... serius gak ngerokok sayang, kalo ngerokok abis Mas di cerca nanti sama karyawan di kantor”
Mas Rama langsung menjawab tanpa perlu kutanyai.
“lah kenapa Ram?”
“biasalah ada program perusahaan bebas asap rokok gitu...”
Balas Mas Rama pada Mas Doni.
“Mas, kalo sampe diem-diem ngerokok awas aja yah...”
Ancamku padanya, Mas Rama aku ingatkan untuk tak merokok karena akan berakibat buruk pada kesuburan juga kualitas spermanya. Aku pernah membaca sebuah penelitian yang menyatakan bahwa konsentrasi s****a pria perokok itu turun sekitar 23%, kecepatannya bergerak 13% lebih lambat dan bentuk s****a abnormalnya jadi meningkat jumlahnya, dan penurunan kualitas s****a inilah yang menyebabkan s****a sulit untuk membuahi sel telur. endingnya ya susah hamillah jadinya.
“Shinta besok jadi kumpul sama yang lain kan?”
“kumpul?”
....