Fibroid : Jangan Makan Ayam, Nanti Fibroid

2061 Words
“Shinta...” “Nak...” Aku terbangun karena mendengar suara lembut nan hangat itu. “Ibu...” Betapa bahagianya aku melihat sosoknya saat kubuka mataku di pagi ini. Dan belum sempat kubangunkan tubuh ini, dirinya sudah merengkuhku erat ke dalam peluknya. “Sayang...” Sesuatu yang basah kini kurasakan dingin mengenai baju hingga meresap ke kulit pundakku. Aku tahu Ibu pasti sedih karena tahu soal keadaanku. “Ibu...” Hanya bisa kupanggil dirinya begitu. “Gak papa nak, kamu kuat sayang, semua pasti bakal baik-baik saja, Ibu dan Rama ada untuk kamu...” Ucapnya sambil mengusapi lembut punggungku. “Maaf bu, Ibu... harus punya anak menantu seperti Shinta-“ “Suuuttt sayang, gak ada yang perlu di mintai maaf atau di maafkan, kamu itu seseorang yang udah Tuhan kasih buat ibu dan Rama, kamu itu sudah jadi bagian dan kehadiran kamu sudah menjadi kebahagian terbesar dalam hidup kita semua sayang...” Sungguh, entah tuhan itu memang maha penyayang atau mungkin aku yang kelewat beruntung memiliki tangan-tangan yang merangkul dan memapahku dalam kondisiku yang sedang di terpa badai seperti sekarang ini. “Ibu...” “Gak papa sayang... kamu pasti bisa sembuh...” “Shinta... Shinta mungkin akan semakin jauh buat punya kesempatan mengandung dan kasih keturunan untuk Mas Rama...” Ungkapku, aku harus memberitahu hal penting itu padanya. “Sayang...” Ibu melepaskan peluknya pada diriku, dan kini tengah lekat menatapku. “Yang harus kamu pikirkan sekarang adalah kesembuhan kamu dulu... itu yang terpenting...” Tegasnya sambil erat dirinya memegangi tanganku. “Denger apa kata ibu yaaa... kamu tuh kadang gak dengerin apa kata Mas, tapi nurut apa kata Ibu...” Ucap Mas Rama yang berjalan menghampiri dan kini sudah mendudukan diri di sampingku. “Sayang, denger Mas...” Ucapnya sebelum benar-benar memulai kalimatnya, dengan kedua tangannya yang ikut meraih tanganku yang lainnya, yang tak di genggam ibu. “Perempuan itu bukan mesin pembuat anak... kamu gak seharusnya di beratkan dengan kewajiban untuk memberikan seorang anak untuk Mas, kamu sudah jadi istri yang baik untuk Mas, penuhin kewajiban kamu dan turutin apa semua yang Mas ucapin sama kamu... itu lebih dari cukup sayang...” Aku tertunduk mendengar ucapan suamiku itu, meski memang dari mulut Mas Rama tak pernah terucap soal dirinya yang begitu menginginkan seorang anak hadir di antara aku dengannya, tetap saja aku merasa bahwa akulah yang timpang di sini. “Bener apa kata suami kamu sayang...” Tambah Ibu, dengan tangan hangatnya yang kini tengah di belaikannya lembut pada pipiku. “Jangan pernah kamu merasa telah menjadi istri yang tak baik untuk Rama hanya karena fibroid kamu itu, kamu sudah melakukan yang terbaik... Rama tak akan pernah bisa sampai seperti sekarang ini jika bukan karena sosok perempuan hebat yang selalu setia mendampinginya...” Aku sungguh berterimakasih Ibu bersedia mengatakan itu semua padaku. “Bantu Shinta buat sembuh bu...” “Tentu sayang...” “Tentu, Ibu di sini...” “Mas juga di sini bakal selalu ada buat kamu sayang...” Sungguh beruntunglah aku memiliki support system yang bisa menuntunku dan menggenggam tanganku seperti saat ini, hingga aku merasa tak sendiri dan sedikitnya optimis bisa melewati semua ini. . . . “Sayang, Mas berangkat dulu ya...” Pamitnya padaku, pagi ini Mas Rama tak begitu rewel seperti hari-hari biasanya. Ia bahkan hanya meminta di bantu berpakaian saja, tak memintaku untuk di siapkan ini dan itu seperti biasanya. Bahkan Mas Rama membuat kopi paginya sendiri untuk di bekalnya. Aku jadi sedikit bersalah padanya. “Sayang...” “Ehm?” Mas Rama tiba-tiba menunduk dan... “Huuuuhh...” Ia meniup perutku. Entah apa maksudnya itu. “Jangan nakal ya, aku bakal bikin kamu ketemu dokter sama obat terbaik... jangan lama-lama ada dalem sana okey...” Ucapnya, Mas Rama malah bercakap-cakap seperti itu dengan fibroid yang ada di dalam rahimku. Aku tersenyum saja melihatnya, kata-katanya itu terdengar seperti sebuah mantra ajaib untuk tubuhku, sampai aku merasa jadi sangat bisa baik-baik saja hari ini. Tapi terlintas di benakku, akan sangat menyenangkan dan membahagiakan sekali jika perkataannya pada perutku itu di tujukannya pada bayi dalam kandunganku, bukan pada fibroidku, jika perkataannya itu bukan ancaman dan peringatan pada fibroidku untuk tak membuatku sakit, melainkan doa dan harapan akan pertumbuhan janin, buah hatiku dengannya.... ‘Aku menantikan hari-hari bahagia itu Mas...’ Batinku “Mas...” Panggilku, Mas Rama lantas kembali bangun lalu mengecup lembut keningku. “Baik-baik ya, selesai meeting Mas langsung pulang, kita ketemu dokter hari ini...” “Maaf Mas... gara-gara aku kerjaan kamu-” “Berhenti minta maaf, kamu itu bahkan gak bisa di bandingin sama kerjaan Mas...” Ucapnya, tak bisa aku di buat berkata-kata lagi atas kebaikan suamiku ini. “Mas...” Kupeluk malaikat tersayangku itu. “Kalo ada apa-apa langsung kabarin Mas ya...” “Iya Mas....” Meski masih ingin untuk tetap berada dalam peluknya, namun sudah saatnya Mas Rama untuk pergi ke perusahaannya, hingga kulepas lingkar tanganku pada dirinya. “Bu, titip Shinta ya...” Titipnya pada Ibu yang tak kusadari entah sejak kapan sudah berdiri dekat, menyaksikan percakapanku dengan Mas Rama yang akan segera berangkat bekerja itu. “Ada Ibu, gak papa, Shinta aman sama Ibu...” “Bu, Rama berangkat dulu... sayang Mas berangkat ya...” “Ehm, hati-hati Mas...” Dan setelah berpamitan, Mas Rama langsung masuk ke dalam mobilnya. Tak butuh waktu lama untuk suamiku pergi dan sudah tak terlihat dari area perumahan yang kutinggali saat ini. Ia telah benar-benar melaju pergi dengan mobilnya itu. “Ayo nak, masuk ke dalam...” “Iya bu...” Aku di rangkulnya masuk ke dalam rumah dan di bawanya duduk ke kursi ruang tengah. “Sayang... Ibu denger banyak perempuan-perempuan di luar sana yang bisa berhasil sembuh, bahkan cuma dengan metode rumahan saja... kamu juga bisa seperti itu dengan perhatiin gaya hidup kamu jadi lebih sehat... ayo kita lakuin dari hal-hal kecil yang bisa kita lakuin buat kesembuhan kamu” Aku mengangguk sambil melemparkan senyumku mendengar ucapan ibu itu. Ibu benar-benar penyemangat terbaik yang kupunya. Dan katanya memang ada beberapa langkah yang dapat di terapkan di rumah dalam upaya untuk mempercepat proses penyembuhan fibroid selain treatment dan prosedur medis oleh dokter di rumah sakit. Meski aku belum tahu jelasnya itu seperti apa, tapi mendengar ada cara lain yang bisa membuatku melewati fibroid ini, rasanya sungguh seperti mendapat harapan baru. “Karena kamu tidak mengalami berat badan berlebih seperti kebanyakan perempuan penderita fibroid, jadi mungkin kita hanya perlu mengendallikan diet kaya nutrisi tapi rendah lemak ya sayang... Ibu dengar dengan mengatur pola makan dan makanan yang di konsumsi itu memegang peranan besar dalam proses penyembuhan fibroid...” “Iya bu... Dokter Galih juga saranin Shinta buat mulai atur makan dan hindarin karbohidrat gak baik, lemak, sama perbanyak sayur dan buah...” Balasku atas penjelas Ibu itu. Memang dalam beberapa kasus yang di jelaskan dokter Galih, fibroid itu lebih beresiko di alami oleh perempuan dengan berat badan di atas normal, sampai obesitas. Itu bisa terjadi karena pada tubuh perempuan yang memiliki berat badan berlebih, dengan sel-sel lemak yang lebih banyak, itu dapat menyebabkan tubuh memproduksi hormone estrogen tinggi, yang dapat memicu pertumbuhan si fibroid itu. “Nak, kamu juga gak boleh dulu makan ayam ya...” “Ayam?” Sedikit heran aku, dengan pantrangan makanan yang baru saja di ucapkan oleh Ibu. “Ehm bahkan ada yang bilang katanya makan ayam itu bisa menyebabkan dan memperparah miom atau fibroid di rahim perempuan...” Entah itu hanya mitos atau benar adanya, tapi itu artinya mulai hari ini aku harus diet dan menjaga makanku kembali, namun bukan untuk mendapatkan tubuh ramping melainkan mendapat tubuh yang sehat. “Ibu gak ngerti secara ilmiahnya seperti apa, tapi katanya lemak dari daging ayam itu gak baik, terus juga produk olahan s**u, mentega, itu juga gak baik buat perempuan yan punya miom nak...” Aku cukup mengerti apa yang di maksudkan oleh Ibu, sepertinya aku memang harus menjaga tubuhku dengan lebih lagi mulai sekarang. Karena di buat penasaran, akhirya aku googling tentang ayam yang kata ibu harus berhenti kumakan itu. Dan setelah kucari tahu ternyata bukan hanya ayam yang sudah tak bisa kumakan, ternyata semua daging hewan ternak yang di beri hormone itu dapat meningkatkan kadar hormone estrogen, dan seperti penjelasan dokter Galih, semakin tinggi estrogen dalam tubuh maka semakin besarlah fibroid yang tumbuh di dalam rahimku. Makanan dari produk s**u, makanan asin, dan makanan yang mengandung karbohidrat seperti pasta, roti putih, nasi putih dan kue kering mulai saat ini sudah harus kuhindari untuk kesembuhan fibroid ini. ‘Hhhh... ini akan benar-benar jadi perjalan yang sulit...’ Batinku setelah k****a semua artikel kesehatan dari salah satu blog terpercaya itu. . . . “Shinta...” “Mbak Lina...” “Mbak udah denger.... kamu gak papa?” Tanya padaku, “Gak papa kok, Mbak...” Balasku, meski sudah kubalas begitu, tapi raut wajahnya masih tampak begitu tak tenang saat ini. Mas Rama hari ini memang membawaku ke rumah sakit yang di rekomendasikan oleh kakak iparku ini, kebetulan ia juga menjalani pemeriksaan kandungannya di rumah sakit yang cukup terkenal dengan dokter-dokter professional dalam ginekologi dan obstetrinya ini. “Mbak sendiri gimana? Morning sickness-nya udah baikan?” Ia mengangguk, namun sepertinya ia pun saat ini masih tak baik-baik saja, wajahnya pucat. Sepertinya kehamilannya yang kali ini membuatnya mengalami mual hebat. “Shinta... itu- fibroid kamu itu sama kaya kista? Kamu pasti kesakitan banget?” Tanyanya padaku, sepertinya memang beberapa orang belum terlalu mengenal apa itu fibroid atau yang biasa di sebut miom itu. Dan sama seperti yang di pikirkan oleh Mbak Lina, banyak yang menyamakan kista dengan fibroid padahal itu dua hal yang berbeda. “Ehm fibroid atau miom itu sesuatu berbeda...” Balasku “Beda?” “Ehm, memang katanya sulit untuk di bedakan dan butuh pemeriksaan lebih lanjut untuk tau seseorang itu punya kista atau fibroid, karena gejalanya juga kurang lebih sama...” “...Aku juga sempet ngira kalo fibroid yang di jelasin sama dokter Galih itu kista, tapi ternyata bukan...” “Apa bedanya?” “Katanya kalo miom atau fibroid itu padat, soalnya dari jaringan otot polos di rahim yang tumbuh, tapi kalo kista itu lebih mirip kantung yang biasanya berisi darah, nanah, gitu...” Jelasku sedikit pada Mbak Lina, meski aku juga masih belum mengerti banyak soal apa yang sedang kuderita saat ini, tapi aku pikir ada baiknya aku meluruskan beberapa pandangan yang menganggap bahwa fibroid atau miom itu sama dengan kista. “Sayang... ayo, masuk dokter udah nunggu di dalem” Ucap Mas Rama yang sudah menyelesaikan pendafaran untuk konsultasiku dengan salah satu dokter di rumah sakit ini, “Mbak Lina gimana?” Tanyaku, tak enak meninggalkan ibu hamil itu di kursi tunggu sendiri dan masih menunggu suaminya. “Gak papa, masuk aja, Ayahnya Evan bentar lagi dateng kok...” “Yaudah Mbak aku masuk duluan ya...” Setelah berpamitan, Mas Rama kemudian menuntunku untuk berjalan beriringan untuk bertemu dokter yang akan menemuiku di ruangannya. “Selamat sore....” “Selamat sore dok...” . . “Hhhh...” Beberapa kali kuhela napasku, dua puluh menit berlalu, aku menjelaskan semua yang terjadi padaku, riwayat kesehatanku sampai terakhir soal aku yang di diagnose mendapat fibroid di rahimku, sungguh berat sekali rasanya. Seperti mengorek-ngorek luka yang ingin sekali kutimbun atak kukubur saja. “Dokter seberapa bahaya fibroid istri saya ini? Jangan tutupi apapun...” Tanya Mas Rama dengan sangat tegas pada dokter yang sudah berputar-putar sedari tadi menjelaskan soal fibroid itu. “Miom ini umumnya tidak berbahaya Pak Rama, namun kondisinya terkadang bisa menyebabkan keluhan yang sangat mengganggu ibu Shinta. Tapi memang harus segera kita lakukan penangan karena dapat menimbulkan komplikasi seperti Anemia defisiensi besi karena pendarahan yang begitu hebat...” Mas Rama langsung meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Ia pasti mulai panik mendengar aku yang mungkin bisa saja mengalami apa yang di jelaskan oleh dokter Wisnu yang menanganiku saat ini. “Terlebih, Pak Rama dan Ibu Shinta belum memiliki anak bukan... dan memang tak bisa di pungkiri kalau fibroid rahim yang ada di dalam rahim Ibu Shinta dapat menggangu kehamilan yang mungkin sedang di rencanakan...” Jelasnya, “Huhhhhh...” Semakin berat saja napas yang saat ini kuhembuskan karenanya. “Sayang...” “Ehmm...” “Dokter lakukan semua yang terbaik untuk istri saya, jangan biarkan fibroid itu berlama-lama di dalam rahim istri saya...” “Pertama kita lakukan pemeriksaan MRI dan tes pendukung lainnya terlebih dahulu, untuk mendapat hasil pemeriksaan yang menyeluruh...” “Baik dok...” . . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD