Selagi aku menunggu, rasanya aku menemukan wajah-wajah yang sama dengan yang sedang kupasang saat ini. Aku tahu mereka memiliki perasaan bimbang dan ketakutan seperti apa yang kurasakan saat ini.
Berat sekali memang harus menerima kenyataan bahwa kita sedang tak baik-baik saja bahkan mungkin hal buruk tengah menanti kita di depan sana.
Canggung sekali aku menunggu, sampai mataku bertemu dengan mata sayu itu.
Kulemparkan senyum pada perempuan muda yang saat ini tengah duduk tak jauh dari sampingku, dan tentu ia pun dengan ramah membalas senyumanku. Namun sungguh tak nyaman sekali melihatnya, bibirnya tersungging, tertarik melengkung, namun wajah itu seperti ingin mengatakan sesuatu yang berlainan dengan yang di tampilkannya saat ini padaku.
Aku tahu ketakutan, kekhawatiran, kegelisahan, kental semua terasa di sini, saat ini.
“Kamu ini Dek, apa aja yang udah kamu lakuin? Ngapain aja selama ini, sampe punya penyakit kaya gini hah?”
“Makanya jadi perempuan itu harus apik, jangan sembarangan...”
“Apa kata orang nanti kalo mereka tau kamu yang masih gadis tapi udah harus dateng ke dokter kandungan kaya gini...”
Dengan wajah ketusnya wanita paruh baya itu ngedumel(?) pada gadis pucat yang hanya diam tertunduk saja saat ini.
“Ahhh... mereka pasti mikir yang aneh-aneh, kamu punya penyakit kelamin lah... nanti kamu di cap nakal lah... atau mungkin mereka langsung mikir kalo kamu ini mandul, gak worth it banget jadi perempuan, mau jadi perempuan kaya gimana nanti kamu??”
“Bikin malu ibu aja kamu ini Dek, ckckk...”
Kutatapi dengan wajah heranku sambil mulai bertanya-tanya, apa telingaku baru saja salah dengar?
Semua kata-kata sarkas itu bukan di tujukan padaku, tapi sungguh rasanya sakit sekali harus mendengar itu terucap dari wanita yang berstatus ibu dari perempuan yang sebelumnya sempat tersenyum lemah padaku itu.
‘Gak worth it jadi perempuan?’
‘Perempuan itu harus apik???’
‘Padahal bukan berarti gak apik, tapi memang sudah waktunya aja tubuhnya itu sakit...’
Batinku,
Kalimat-kalimat itu kini lekat menempel di kepalaku, entah kenapa aku marah mendengar semua itu. Bukankah seharusnya ia berhak mendengarkan kata-kata yang lebih baik? lagi pula siapa sih di dunia ini yang mau sakit? kenapa harus di katai sekasar itu? Aku sungguh tak percaya semua itu harus terucap dari mulut ibunya sendiri.
“Ehmmm...”
Dan seketika aku terkesiap, saat tiba-tiba sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh kedua telingaku, sampai sontak aku menoleh ke sisiku yang lainnya,
“Mas...”
Tak tahu apa maksudnya, yang saat ini tengah menutup kedua telingaku dengan kedua tangannya itu.
“Mas mau kagetin aku ya?”
Mas Rama menjawab dengan menggelengkan kepalanya padaku,
“Mas mau tutup telinga kamu dari semua perkataan buruk yang gak seharusnya kamu dan perempuan lainnya denger...”
Aku mengerutkan keningku mendengar ucapannya yang masih bisa kudengar walau kedua daun telingaku tertutup oleh tangannya.
“Mas...”
Kulepaskan kedua tangannya dari telingaku dan kugenggam itu.
“Kamu sama perempuan yang ada di sini itu lagi sakit, dan itu bukan sesuatu yang harus di ‘shaming’ seperti itu.... rahim atau organ reproduksi kalian yang lagi sakit itu bukan aib sayang...”
Ucapnya padaku
Entah harus berapa kali kuucap syukur atas malaikat tampanku ini. Mas Rama benar-benar obat terbaik untuk semua yang kurasakan, bahkan aku pikir tak perlu kulakukan pengobatan ini, karena aku akan baik-baik saja asal bisa selalu bersamanya.
“Mas...”
Dengan mata yang mulai berkaca, kupanggil dirinya
“Mas di sini sayang... jadi kamu gak perlu khawatirin apa-apa, anggap aja kamu lagi kena demam, atau flu, jadi gak papa sayang, kita obatin sakit kamu itu, dan kamu pasti bakal sembuh...”
Tak bisa jika aku hanya berdiam diri saja, hingga kupeluk si penenang dan penyejuk hatiku itu.
“Makasih banyak Mas...”
“Makasih buat apa sayang... Udah jadi kewajiban Mas untuk ada dan menjaga perempuan yang paling Mas sayang ini...”
Kulesakan wajahku, ingin kubenamkan wajahku lebih dalam pada tubuh hangat yang selalu menjadi tempat teraman ini.
“Mas....”
Aku sudah tak peduli lagi orang akan berkata apa saat mata mereka melihatku yang sedang erat memeluk Mas Rama saat ini.
“Yang kuat ya sayang, kamu harus kuat, optimis bisa sembuh... okey?”
“Ehmm... aku harus sembuh”
Benar, aku harus sembuh untuk bisa selalu ada dan terus membalas cinta, kasih dan sayangnya yang begitu besar untukku.
.
.
.
Selama perjalanan Mas Rama tak henti-hentinya menggenggam tanganku, bahkan ketika ia membutuhkan kedua tangannya untuk mengemudikan mobil, tangannya sejenak menaruh tangan pucat dan kurusku ini di atas pahanya, tak di biarkannya untuk menjauh walau hanya sedetik saja darinya.
“Mas...”
“Iya? Kenapa?”
“Tangan aku basah Mas pegangin terus...”
Ungkapku jujur padanya,
“Ehm, Mas lap sebentar...”
Mas Rama kini meraih tisu dan mengelap telapak tanganku yang sedikit lembab karena selalu berada dalam erat genggamannya.
“Mas, aku bisa sendiri...”
“Gak papa biar Mas aja...”
“Hhhh... Mas kenapa sih, aku baik-baik aja kok, Mas gak harus sampe segininya sama aku...”
Sungguh rasanya sikap Mas Rama saat ini begitu berlebihan, bahkan aku pikir ia over mengkhwatirkanku.
“Sayang, selama ini kamu udah selalu perhatiin Mas sampe ke hal-hal kecil yang seharusnya bisa Mas lakuin sendiri, kamu udah selalu manjain Mas, urusin semua kebutuhan Mas... dan sekarang udah waktunya kita gantian...”
Aku hanya bisa menatapnya kini, inginku untuk merasa senang dengan nyaman mendengar ucapnya itu, namun dengan membayangkannya saja aku sudah cukup di buat kegelian karenanya.
“Kenapa senyum-senyum gitu? Mas serius sayang...”
Aku jadi mengeluarkan tawa-tawa kecilku karenanya, rasanya sulit untuk kubawa serius pembicaraannya itu.
“Pokoknya, nanti Mas yang bakal nyuci, tapi ajarin cara pake mesin cucinya dulu yaa... terus masak, siapin air buat kamu mandi, pijitin kamu, abis itu... mandiin kamu juga...”
Aku jadi tertawa mendengarnya, Mas Rama benar-benar paling hebat dan berbakat dalam menghiburku.
“Hahahh... Mas ini ngaco deh, perut aku yang sakit Mas, tangan aku gak papa jadi kenapa Mas repot-repot mau lakuin semua ituuu...”
Balasku sambil terus mengeluarkan tawaku karena ucapannya tadi itu.
“Ya kan Mas ceritanya mau berbakti sama istri sendiri...”
Pecah sudah kini tawaku keras karena ucapannya itu. Mendengar dirinya menyelipkan kata berbakti itu sungguh lucu sekali bagiku, karena bukankah seharusnya istri yang berbakti pada suami? Tapi kenapa Mas Rama berpikir, sampai berencana ingin melakukan hal seperti itu untukku.
“Mas, kebalik tauu...”
“Engga, kata siapa? Mas itu wajib banget berbakti sama istri Mas yang udah selalu urusin Mas selama ini... Udah saatnya kamu di manjain, di puja-puja kaya dewi, ratu, putri, pokoknya Mas mau lakuin semua hal yang buat kamu...”
Ucapnya padaku,
Hhh... bagaimana mungkin aku tak di buat jatuh cinta lagi dan lagi padanya, ia yang selalu bisa membuatku merasa berharga dan merasakan apa itu cinta tulus darinya.
“Sayang...”
Panggilnya padaku
“Ehm?”
“Ehmm... Mas harap kamu gak takut ataupun patah semangat karena kondisi kamu ini, dan... soal perkataan Ibu-ibu di rumah sakit tadi itu... jangan kamu pikirin, dan kalo kamu harus denger lagi sejenis pekataan menyakitkan kaya gitu, Mas harap kamu gak akan terlalu terpengaruh atau sedih karenanya...”
Akhirnya aku mengerti kenapa Mas Rama bersikap seperti ini padaku. Sepertinya ia ingin aku bersiap soal mulut-mulut yang akan membicarakan tentang diriku dan kondisiku saat ini.
“Meskipun kedengerannya sok tau atau negative thinking, tapi beberapa orang di luar sana memang cuma mau tau apa yang mereka mau tau, mau denger apa yang mereka mau denger, dan mau liat apa yang mau mereka liat, ‘it’s easier to judge someone, than to believe...’...”
Ucapnya padaku, rasanya aku seperti baru saja di pasangi sebuah alarm untuk berjaga-jaga agar tak mudah dan sembarang menerima perkataan orang di luar sana.
“Apapun yang mereka bilang sama kamu, kamu itu berharga buat Mas... kamu itu perempuan yang akan selalu Mas sayang dan Mas puja sampai kapan pun itu...”
Tambahnya juga tutupnya dengan kalimat yang terdengar begitu manis sekali di telingaku.
“Makasih banyak Mas.... Mas udah mau terima semua tentang aku yang banyak banget kurangnya ini...”
“Kurangnya kamu itu, kaya goresan pahatan patung di museum, yang bikin mahal dan keliatan lebih sexy tauu...”
“Ihh dasar kamu ini Mas...”
Balasku, sambil kupukul pelan dirinya yang masih sempat-sempatnya menyelipkan gombalannya padaku.
“Tapi... kenapa? kenapa Mas... masih sayang sama aku yang udah jelas seperti ini Mas?”
Tanyaku, jujur aku masih tak mengerti dengan dirinya, karena sangat mudah baginya yang notabene adalah seroang CEO, muda, tampan, dan sudah jelas mapan untuk mencari pengganti diriku yang lebih baik, bukannya mau berepot diri mengurusiku yang sakit seperti ini.
“Kok kenapa sih? Karena kamu itu istri Mas sayang...”
“Maksud aku... bukannya biasanya laki-laki itu pengen perempuan yang capable, worth it, untuk mendampingi hidupnya, dan lagi... sekarang kalo istrinya gak bisa begitu mengimbangi suaminya, biasanya suka... cari lagi... gitu...”
Ucapku dengan nada ragu dan pelan sekali kulontarkan itu dari mulutku. Dari yang kudengar sangat mudah sekali jika pria yang sudah mapan untuk memiliki wanita lainnya, walau hanya sebagai mainan, simpanan, bahkan istri yang di rahasiakan.
“Ya ampun... mana bisa sayang... kamu itu udah perempuan yang paling capable, sempurna banget buat Mas, Mas ini bukan laki-laki bodoh yang mau sia-sia-in perempuan kaya kamu...”
“Eughhh gak tau aja di luar sana banyak banget yang pengen milikin kamu... Mas itu udah susah payah dapetin kamu, ini aja Mas beruntung banget bisa milikin kamu, masa mau Mas sia-sia-in sih....”
Aku tersenyum saja mendengar ucapannya itu,
“Laki-laki yang kamu sebutin barusan itu, pasti gak tau caranya sayangin perempuan... atau gak pernah tau dan terima cinta dari perempuan hebat kaya kamu... makanya gak bisa setia gitu...”
Ucapnya sok tau sekali,
“Mas, kamu ini... “
Aku jadi tersipu mendengar ucapannya itu.
.
.
.
Ost Karena Wanita
...
Lekuk indah hadirkan pesona
Kemuliaan bagi yang memandang
Setiamu simbol keanggunan
Khas perawan yang kau miliki
Akulah pengagum ragamu
Tak ingin 'ku menyakitimu
Lindungi dari sengat dunia
Yang mengancam
Nodai sucinya lahirmu
Karena wanita ingin dimengerti
Lewat tutur lembut dan laku agung
Karena wanita ingin dimengerti
Manjakan dia dengan kasih sayang
Ingin kuajak engkau menari
Bermandi hangat cahaya bulan
Sebagai tanda kebahagiaan
Bagi semesta cinta kita
Karena wanita ingin dimengerti
Lewat tutur lembut dan laku agung
Karena wanita ingin dimengerti
Manjakan dia dengan kasih sayang
Bintang terang itulah dirimu
Janganlah redup dan mati
Aku di belakangmu
Memeluk dan menjagamu