“Shinta...”
Begitu kubuka pintu rumahku, telah nampak beberapa wajah yang tengah menyambutku. Raut mereka semua tampak sama di tampilkannya padaku saat ini. Menyiratkan begitu banyak kekhawatiran, sepertinya fibroidku ini tak hanya menjadi masalahku seorang diri tapi juga untuk mereka-mereka yang saat ini sedang berada di ruang tengah rumahku malam ini.
“O-oh?? Kenapa kalian semua di sini?”
Tanyaku pada kakak-kakak iparku, Mbak Jeje, Mas Putra, dan Mas Dewa juga Mbak Lina saja sudah ada di rumahku tengah duduk bersama Ibu.
“Ehmm, kita semua khawatir sama kamu, pengen tau gimana keadaan kamu...”
Mbak Jeje yang menghampiriku dan kini tengah menuntunku untuk ikut duduk di tengah-tengah mereka, menjawab demikian untuk mewakili alasan kehadiran semua orang di rumahku malam ini.
“Shinta gak papa kok, kenapa kalian sampe repot dateng malem-malem gini...”
Ucapku, sungguh aku jadi merasa tak enak sekali pada mereka-mereka yang sudah mau berepot diri menyempatkan datang menemuiku saat ini. Padahal aku tahu mereka itu orang-orang yang memiliki hari yang cukup sibuk.
Mbak Jeje yang sudah selalu kerepotan dengan Aldy, anaknya yang cukup aktif bersama Mas Putra itu, belum lagi Mbak Lina yang ternyata sehabis dari rumah sakit langsung menuju rumahku dan bukan pulang ke rumahnya yang berjarak cukup jauh itu, mereka semua ada untuk diriku saat ini, aku sungguh benar-benar bersyukur memiliki semua orang-orang ini di hidupku.
“Kita ini keluarga, jadi gak ada kata repot... jadi, gimana tadi pemeriksaannya?”
“Ehmm, hasilnya sama kaya di klinik yang Shinta datengin sebelumnya, tapi untungnya gak ada perbuahan ukuran atau pun penambahan fibroid di rahimnya...”
Balas Mas Rama yang langsung mendudukan diri di sampingku, dan kembali menggenggam tanganku kini.
“Kata temen Mas sih, fibroid itu gak seberbahaya itu, kalian jangan terlalu terburu-buru, atau panik gitu... lebih baik perhatiin dulu, soalnya takutnya ada beberapa treatment yang mungkin cocok dan gak harus sampe lakuin oprasi... kaya hidup sehat, olahraga teratur, pokoknya pertimbangin dulu semuanya baik-baik”
Ucap Mas Dewa padaku dan Mas Rama. Dan mungkin memang benar apa yang baru saja di katakannya itu. Aku harus mempertimbangkan banyak hal dan tak terlalu terburu-buru dengan fibroidku ini.
“Tapi kalo di biarin lama mungkin bakal ngebesarin terus negabanyakin, nantinya makin parah...”
Balas Mbak Lina yang kedengarannya tak satu suara dengan suaminya itu.
“Shinta, pokoknya dengerin apa kata dokter, jangan negbandel, Mbak gak mau kamu kenapa-kenapa...”
Tambahnya padaku
“Iya Mbak, aku juga ikutin apa dokter aja...”
Kubalas seperti perkataan Mbak Lina yang tak henti-hentinya mencemaskanku itu.
“Itu... bukan jadi oprasi besar kan?”
Pertanyaan itu keluar dari mulut Mbak Jeje yang sedang sibuk menyuapi Aldy dengan pudding kesukaannya,
“Bukan kok, untungnya ukuran miom atau fibroidnya juga masih bisa di kategorikan belum yang terlalu besar... jadi dokter bilang oprasi miomektomi laparoscopic itu bisa di lakuin buat ilangin miom atau si fibroidnya itu”
*(Miomektomi adalah prosedur pembedahan yang di lakukan untuk mengangkat fibroid dari rahim)
*(Laparoskopi adalah jenis prosedur bedah yang memungkinkan seorang ahli bedah untuk mengakses bagian dalam perut dan panggul tanpa harus memebuat sayatan besar di kulit, sehingga pasien bisa menghindari sayatan besar yang biasa di lakukan ada oprasi konvensional)
Mas Rama menjawab semua tanya itu mewakili diriku, ia benar-benar sudah bertindak seperti asisten, penjaga, sekaligus perawat untukku.
Dan sungguh beruntunglah aku yang tak harus melakukan prosedur bedah mioktomi perut dengan rata-rata panjang sayatan kisaran 7,7-10 cm di perut bawahku, baik itu di lakukan secara vertical maupun horizontal. Biasanya prosedur ini di lakukan untuk mereka yang memiliki fibroid besar dan banyak di rahimnya.
Dan berbeda dengan oprasi bedah miomektomi laparoskopi yang di rekomendasikan oleh dokter Wisnu, di mana aku yang hanya akan mendapat sayatan kecil dengan ukuran 1-1,27 cm di bagain perut bawahku, yang kemudian akan di masukan alat bernama laparoscope ke dalam perutku itu saat aku sudah memilih untuk melakukan oprasi nanti. Laparoscope itu sendiri adalah alat yang sangat tipis yang di lengkapi dengan lampu dan kamera yang di oprasikan secara otomatis dan di kendalikan oleh remot yang langsung di oprasikan oleh dokter.
Dokter Wisnu menjelaskan kalau fibroidku nantinya akan di hancurkan hingga bentuknya menjadi kecil selama prosedur bedah laparoskopi itu, sampai di nyatakan hilang dan bersih dari rahimku.
“Tapi tadi juga dokter Wisnu bilang selain laparoskopi ada juga cara lain, dan waktu penyembuhannya lebih cepet... sayang, apa sih tadi namanya, kok Mas lupa ya”
“Itu Mas, miomektomi histeroscopic...”
Balasku mengingatkannya,
“Apa itu?”
Mas Putra yang sepertinya baru mendengar istilah prosedur medis itu, reaksinya percis sekali dengan Mas Nakula saat baru pertama kali mendengar kata itu di ucapkan oleh dokter Wisnu.
“Kayanya itu teknik yang sama kaya waktu aku mau pasang KB kemarin, aku kan juga di periksanya pake cara histeroscopic itu...”
Balas sang istri, karena memang semua wanita bisa melaukan pemeriksaan histeroscopic untuk pemeriksaan umum, termasuk untuk mereka yang mengalami gejala tertentu pada organ reproduksinya, atau bagi mereka yang ingin melakukan program yang berhubungan dengan kehamilan sampai KB yang di lakukan oleh Mbak Jeje.
“Miomektomi histeroscopic itu hampir sama kaya lapasroskopi, nanti ada yang masuk juga buat pengangkatan fibroidnya tapi itu bedanya masuk dari v****a atau leher rahim, terus itu nanti dokternya hancurin fibroidnya gitu, ya kan sayang...”
Aku mengangguk menyetujui penjelasannya itu, Mas Rama dalam sekejap sudah seperti seorang ahli medis saja karena efek dari sakitku ini.
“Tapi itu bahaya gak? Maksudnya ada resikonya gak? Jangan-jangan pemulihannya cepet tapi resikonya gede lagi”
Sepertinya kita semua terlalu awam untuk permasalahan seperti ini sampai lagi-lagi kekhawatiran muncul kembali kepermukaan,
“Ehm, katanya sih aman Mas, meskipun ada aja efeknya kaya luka di bagian serviks, infeksi alat yang gak steril, tapi katanya resikonya jarang terjadi...”
Balasku, sesuai dengan apa yang sempat di jelaskan dokter Wisnu saat sesi konseling pemeriksaan tadi.
“Aaahhh.... kok jadi Mas yang ngeri sih, ribet banget ya ampun kalian jadi perempuan....”
Mas Putra sampai berkata demikian, ia bahkan bergidik ngeri sambil menyembunyikan dirinya pada tubuh sang istri yang sedang memangku Aldy itu.
“Nah, karena kalian udah tau gimana sulitnya jadi perempuan... jadi jangan sembarangan perlakuin istri kalian yaa... hormatin, sayangin, jagain selalu perempuan yang udah selalu berjuang di samping kalian itu...”
Ucap Ibu pada ketiga putranya itu.
“Iyaaa, siap Bu Bos”
Suasana tampak cair dan pembahasan soal fibroid di tutup kemudian di gantikan dengan menu pilihan makan malam delivery yang akan menemani bincang-bincang hangat keluarga malam ini.
.
.
.