Hari berganti menjadi bulan. Tak terasa kini sudah lebih tiga bulan berlalu. Indah sudah kembali seperti sedia kala lagi, tidaj ada Singgih dan tidak ada lagi kesedihan yang Indah tampak kan. Dan hingga pada suatu hari, datanglah lah Dian anak laki laki dari pemilik kos yang saat ini sedang menuntut ilmu di luar kota, hampir tiap weekend Dian datang, dan ternyata Dian menaksir Sarah adiknya Indah. Tapi Dian tidakberani mengungkapkan perasaan nya pada Sarah. Dian hanya berani bercerita ke Indah tentang perasaan nya pada Sarah. "Aku suka adikmu." Ucap Dian.
"Sarah?" Tanya Indah.
"Iya, siapa lagi? Emang kamu punya adik lain lagi selain Sarah?"
"Ngak lah, Sarah kan adik perempuan ku satu satunya." Ucap Indah.
"Aku suka Sarah, tapi aku tidak berani bilang padanya. Karna yang ku tahu saat ini Sarah sudah miliki kekasih."
"Iya, Sarah memang sudah mempunyai kekasih.. Kau terlambat datang." Jawab Indah
"Iya kau benar aku datang terlambat. Ouh yah Indah apa kau berpacaran dengan teman ku?" Tanya Dian kemudian.
Namun Indah tak menjawab pertanyaan Dian. Indah malah memilih sibuk membaca bukunya, tidak mendengar sama sekali pertanyaan Dian. Dan saat ini Dian tahu nya kalau Indah berpacaean dengan teman nya. Karna diam nya Indah artinya ya untuk Dian.
Dan pada suatu hari Sarah putus dengan kekasihnya.. Entah bagaimana ceritanya pacarnya Sarah di rebut oleh tentangga kos Sarah sendiri. Hingga beberapa minggu putus dari sang kekasih, Sarah sakit keras.
"Dimana adik ku yang dulu, adik ku yang selalu kuat menghadapi cobaan." Ucap Indah sambil menitihkan air matanya melihat keadaan adiknya yang semakin hari semakin parah saja. "Kau harus berjuang, mbak yakin kau bisa sembuh."
Tak ada sama sekali respon yang Sarah berikan. Hingga pada bulan Desember tahun 1997 Sarah adiknya Indah meninggal dunia.. Indah sangat syok atas meninggalnya adiknya. Karna Sarah adik perempuan Indah satu satunya.
"Hikksssss, hikkkssss." Tangis Indah pecah kala melihat tubuh adiknya yang terbujur kaku.. "Kenapa kau pergi. Kenapa kau tega meninggalkan mbak sendiri Sarah?"
"Sudah nak, ikhlas kan kepergian adik mu." Ucap ayah menenangkan Indah.
"Ayah, hiksss hiksss hiksss. Kenapa bisa seperti ini. Kenapa ayah?"
"Berhentilah menangis. Ini sudah jalan takdirnya adik mu. Lebih baik kita mengiklaskan nya dan berdoa semoga adik mu di terima di sisiNya."
•••••
Tiga hari setelah kepergian Sarah, Indah kembali ke kota Bandung. Kembali memulai rutinitas biasanya seperti sedia kala. Namun kali ini ada yang berbeda. Tidak ada lagi sang adik yang menemanya di kos. Indah setiap harinya merasa sedih karna teringat akan sang adik yang selalu ada untuknya dan selalu saling mendukung. Dan pada suatu hari, karna merasa sepi Indah berjalan melangkah keluar dari kos nya dan menuju rumah ibu kos bermaksud menonton tv. Saat Indah sedang asyik menonton tv dengan beberpa teman kos lain nya. Tiba tiba bapak kos datang menghampiri Indah, lalu tanpa ada angin dan hujan, bapak kos langsung berucap pada Indah. "Indah, kamu mau tidak ku jodohkan dengan anak ku Dian."
Seketika Indah kaget mendengar ucapan bapak kos nya. Indah tidak bisa menjawab apa pun karna ini tiba tiba, dan tidak ada perasaan juga di sini.. Dan entah dari mana ternyata Dian mendengar ucapan bapaknya. Sehingga membuat Dian sewot. "Diakan sudah punya pacar pak, mana mau sama aku." Ucap Dian.
Indah hanya diam menanggapi ucapan Dian, Indah tidak mau ambil pusing, padahal sebenarnya saat ini tidak tidak memiliki pacar. Dan beberpa menit kemudian Indah pamit ingin kembali ke kamar kos nya..
???
Singkat cerita.
Lalu entah bagaimana awalnya, akhinya Dian menyatakan cintanya pada Indah. Dan Indah tidak memberikan jawaban sama sekali.. Hingga membuat Dian berusaha meminta tolong pada temannya Indah yang bernama Ririn.
"Ririn, kamu harus menolongku. Tolong dekat kan aku dengan Indah!" Ucap Dian
"Iya, tapi aku tidak janji kalau Indah bisa suka padamu."
"Itu urusan belakang, yang jelas aku bisa mendekati Indah, dan tugas mu hanya menyakinkan Indah agar mau menerima ku."
"Baiklah, tapi satu pintaku. Tolong jangan sakiti Indah."
"Kau tenang saja, aku mencintai Indah dan aku tidak akan mungkin bisa menyakiti orang yang aku sayangi."
"Baguslah kalau kau seperti itu." Ucap Ririn.