CDS 03

711 Words
"Maaf kan aku Indah." Pinta Singgih. "Maaf? Maaf untuk apa?" "Wanita yang ada di kos ku, dia bukan sepupu ku. Dan aku yang menghamilinya." Ucap Singgih. Indah jelas saja kaget dengan ucapan Singgih barusan. Dan refleks Indah menangis, Singgih pun juga ikut menangis dan masih setia berlutut di hadapan Indah.. "Maafkan aku Indah. Aku sayang kamu, aku pengen nikah sama kamu Indah." Ucap Singgih di sela tangis nya. "Apa kamu bilang, sayang???" Tanya Indah, "Iya Indah, aku sayang kamu, dan aku sunggu-sungguh menyesal Indah. Maafkan aku." "Semuda itukah kamu minta maaf, dan bilang sayang padaku? Jika kau ingin menikah dengan ku, lalu kau mau kemana kan wanita yang sedang mengandung anak mu itu?" Ucap Indah sambil mengusap air matanya, mengatur nafas secara beraturan, agar bisa terlihat lebih tenang. Kecewa, iya pasti. Indah sangat kecewa dengan Singgih, ynag telah berani melukainya, menghianati cinta mereka. Dan ini lah keputusan Indah, iya tidak ingin menjalin hubungan lagi dengan Singgih. "Kamu udah berani berbuat. Kamu juga harus berani bertanggung jawab. Ingat dia anak orang, dan jangan bikin malu orang tuanya." Ucap Indah "Terus gimana sama kamu Indah, sama hubungan kita. Orang-orang semua pada tahu kalau aku dan kamu pacaran." "Kamu udah menghianati aku. Jadi kamu ngak usah mikirin aku atau hubungan kita lagi. Sudah cukup sampe di sini. Kalau kamu ngak mau aku benci!!, Tolong kamu nikahin dia, dan anggap saja aku sebagai adikmu." "Tapi Indah." "Sudah cukup, aku ingin pulang." Pinta Indah, Di kos Indah terus saja menangis, ia tidak mengira jika Singgih setegah itu kepadanya, menghianati cinta mereka. Padahal selama ini Indah begitu baik dan juga setia kepada Singgih. Namun apa? Justru penghianatan lah yang Indah dapatkan dari Singgih.. Detik berganti menit lalu berganti dengan jam, dan tak terasa berganti dengan hari. Indah melalui seperti biasa melalui hari hari nya bekerja di pabrik. Namun ada yang kurang, dari aktifitas Indah setiap harinya. Yaitu, tidak ada lagi Singgih yang menjemput atau mengantar Indah ke pabrik. Namun Indah sudah mulai terbiasa, dan sudah mulai melupakan Singgih. Indah mulai kembali menata hidupnya. Berpacaran dengan Singgih membuat Indah mengambil pelajaran, bahwa tak semuanya pria yang baik itu akan setia dengan pasangan nya.. Dua minggu berlalu. Hari ini Indah mendapat undangan pernikahan Singgih. Indah membaca setiap kata di undangan tersebut. Sakit, pasti masih ada yang Indah rasakan saat ini. Namun tepis semua, karna memang Singgih bukan lah jodoh nya.. "Itu undangan dari siapa mbak?" Tanya Sarah yang sedari tadi memperharikan mbak nya membaca undangan pernikahan. "Ini dek undangan dari Singgih." Jawab Indah. "Ouh dari pria breng*sek itu." Ucap Sarah geram. "Huuttss, ngak boleh ngomong kaya gitu dek. Ngak baik." "Iya emang dia breng*sek mbak. Pacaran sama mbak, terus ngehamilin anak orang.. Dasar pria aneh." Caci Sarah. "Udah dek. Justru mbak bersyukur, mbak bisa di jauhkan dari pria seperti itu.." "Mbak yaah, itu hati mbak terbuat dari apa, masih bisa baik meski sudah di selingkuhin." Indah hanya bisa tersenyum mendengar ocehan adiknya.. "Jadi mbak bakalan datang ke pestanya Singgih?" Tanya Sarah. "Iya dek." "Hhmm, yah udah deh. Semoga Singgih ngak mewek pas lihat mbak datang di sana." "Kamu bisa aja dek." •••••• Dengan berbesar hati Indah datang ke pesta perbikahan Singgih. Semua mata tertuju pada Indah saat Indah sudah sudah berada di pesta. Banyak yang berbisik bisik melihat Indah. "Dia kan pacar nya Singgih." "Kasihan yah, Singgih pacaran sama Indah, tapi Singgih nikahnya sama orang lain." "Baik sekali sih Indah, masih menyempatkan waktu untuk datang." "Kalau aku jadi Indah mungkin saat ini aku tidak berani untuk hadir ke pesta pernikahan ini." Dan masih banyak lagi bisikan bisikan yang terucal dari teman teman sepabrik dengan Indah yang datang ke pesta pernikahan Singgih. Tapi Indah tidak mau ambil pusing dengan setiap ocehan orang.. Hingga kini saat nya Indah naik ke pelaminan memberikan ucapan selamat pada Singgih dan juga istrinya. Pengantin wanita hanya bisa menunduk malu, tidak berani menatap wajah Indah, dan begitupun dengan Singgih, ia sangat malu sekaligus menyesal telah melukai wanita sebaik Indah. "Selamat yah, semoga kalian bisa menjadi keluarga yang SAMAWA." Ucap Indah sambil tersenyum. "Makasih." Jawab istri Singgih dengan pelan. "Maafkan aku Indah." Ucap Singgih. "Jaga baik baik istri dan juga calon bayi mu." Ucap Indah lalu berjalan menuruni pelaminan.. Dan akhirnya mulai hari ini tidak ada lagi nama Singgih di hati Indah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD