CDS 06

536 Words
Tiap hari ada ada saja kelakuan ibu Dian dan saudara-saudara Dian, terhadap Indah. Mereka selalu mengusik ketenangan Indah. Seperti pagi ini, kakak Dian datang menghampiri ke kos nya.. Indah yang baru saja akan beranjak pergi kerja langsung merasa kaget dengan teriakan saudara Dian. "Dasar cewek matre." Teriak nya sambil berjalan dan menunjuk ke arah Indah. Indah langsung menoleh, karna sudah hafal betul suara siapa itu, dan untuk siapa kata kata itu di tujukan. Padahal selama ini, selama berpacaran dengan Dian, Indah tak pernah sekali pun meminta apa apa pada Dian. Tapi kenapa keluarga Dian selalu berucap jika Indah adalah wanita matre. Indah benar benar geram akan tingkah saudara dan ibu Dian. "Dia lagi." Gumam Indah sambil memakai sepatu kerja nya. "Apa kau bilang wanita matre?" Tanya nya dengan suara yang meninggi. "Aku tidak berucap apa-apa kok." Bela Indah. "Kau pikir aku tuli? Tadi aku dengar kau berucap padaku?" Bentak nya lagi. "Kalau kau dengar, kenapa bertanya padaku lagi? Aneh!!" Ucap Indah lalu berdiri setelah memasang sepatu di kedua kakinya. Namun langkah Indah terhenti kala saudara Dian menarik tas Indah.. "Lepaskan." Ucap Indah. "Hey perempuan kampung, sadar dirilah. Kau tidak pantas untuk adik ku Dian. Dian orang berpendidikan dan kamu? hanya gadis kampung yang mengadu nasib di kota ini." Indah tertawa sinis mendengar ucapan saudara Dian, yang mulutnya seperti tidak pernah di ajar untuk mengucap kata dengan sopan. "Kenapa kau senyum sinis melihatku?" "Jika kau bilang adik mu Dian perpendidikan, maka kau tanya saja sama adik mu supaya dia mau meninggalkan ku. Karan ku rasa jika orang berpendidikan pasti akan lebih muda mendengar ucapan orang." "Dian tidak ingin meninggal kan mu, makanya kamu yang harus meninggalkan nya." "Ouh ya?" Ucap Indah lalu menghempaskan tangan saudara Dian. "Auuuhhh." Ringis nya. "Jangan gangu aku lagi." Bentak Indah dan berlalu dari hadapan saudara Dian.. Hari hari pun berlalu, dan kelakuan keluarga Dian pun semakin hari semakin menjadi-jadi. Ada-ada saja hal yang mereka lakukan agar bisa membuat Indah menjauh dari Dian. Tapi bagaimana pun usaha mereka Dian tetap ngotot tidak ingin melepaskan Indah..Hingga suatu hari, karna Indah sudah mulai merasa capek dengan tingkah saudara Dian, akhirnya Indah memutuskan untuk berpindah kos.. Tapi meskipun Indah pindah kos. Hubungan Indah dan Dian tetap berjalan harmonis. "Terima kasih yang sayang, karna masih mau menjadi kekasihku." Ucap Dian saat mereka sedang duduk di teras kos Indah. "Hhmm iya." Ucap Indah. "Maaf yah ataa kelakuan ibu dan saudara ku." "Aku heran melihat ibu dan saudara mu. Kenapa mereka seperti itu?" "Begitulah sayang, kamu tahu kan kalau aku anak satu satunya laki laki, jadi mereka ingin yang terbaik untuk ku." "Kalau begitu ikuti mau nya orang tua mu. Biar kamu bisa dapat yang terbaik." "Tidak, aku tidak mau. Karna menurutku yang terbaik untuk ku adalah kamu sayang. Tidak ada yang lain." Ucap Dian sambil menggenggam tangan Indah, menyakinkan Indah agar percaya dengan omongan nya.. ?????? Karna sudah merasa putus asa dengan cara yang Ibu dan saudara Dian lakukan, namun hasilnya selalu gagal. Akhinya Ibu Dian memilih jalan pintas. Jalan pintas yang menurut ibu Dian sangat lah bagus,. Muda dan gampang untuk memisahkan Indah dan Dian. Dan jalan pintas itu adalah, Ibu Dian mendatangi dukun. Meminta pertolongan di dukun agar Indah dan Dian saling benci supaya mereka pisah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD