Chapter 4 - Song Lianyu

1224 Words
"Sekarang aku harus bagaimana? Aku sudah berusaha, tapi tali ini tetap tidak mau lepas juga," ujar Long Feiye. Pergelangan tangannya sudah lecet dan terluka. Hewan berkaki empat hanya berjarak lima meter dari Feiye. Bola mata harimau dewasa itu berbinar-binar menatap calon mangsanya. Kebetulan sekali aku sedang kelaparan. Dan makanan lezat pun datang sendiri padaku, batin harimau merasa senang. Teriakan minta tolong Long Feiye terdengar sampai ke telinga seorang gadis cantik yang sedang berjalan tak jauh dari sana. Dahinya berkerut bingung, dia mencari suara seseorang yang berteriak itu. "Suara orang, tapi berasal dari mana?" Dia celingak-celinguk menyusuri jalan hutan. Di sisi kiri dan kanan ada banyak barisan pohon-pohon. Semakin lama suara teriakan itu terdengar dengan jelas hingga Song Lianyu bisa melihat dengan bantuan cahaya bulan, ada seekor harimau dewasa dan juga seseorang pria yang tampak seumuran dengannya di dekat pohon. Jaraknya lebih kurang sepuluh meter dari tempatnya berdiri sekarang. "Laki-laki itu mengapa diam saja tak berniat untuk melawan?" ujarnya dengan pelan. Dia belum menyadari kalau kedua tangan Feiye terikat tali. "Tunggu sebentar bukankah hewan itu harimau mawar kuning? Itu berarti hewan spiritual tingkat tinggi!" "Hei, apakah kau kau mati? Mengapa kau hanya melihatnya saja? Kau harus melawannya!" teriak Song Lianyu memberikan peringatan. Long Feiye mencari asal suara gadis yang meneriakinya. Dia melihat seorang gadis walaupun tak jelas karena hanya mengandalkan cahaya bulan saja. "Tanganku terikat tali! Aku mohon tolong aku!" ujarnya dengan nada memohon. Ini adalah harapan terakhirnya untuk bisa hidup. Semoga saja gadis yang kebetulan lewat itu mau menolongku, batin Feiye. Harimau mengaum keras dan bergerak ingin menerkam tubuh Feiye. Di tempatnya berdiri dengan cepat Song Lianyu mengambil busur dan anak panah dari tas yang tersangkut di punggungnya. "Entahlah, aku tak tahu apa aku bisa melawan harimau itu atau tidak. Yang penting aku menolongnya terlebih dahulu." Tiga anak panah sekaligus dilesatkan ke perut harimau dewasa. Darah merah mengalir dari luka tersebut, namun harimau masih berdiri tegap. Hewan belang balik berbalik dan menatap Song Lianyu yang berdiri tepat dengan jarak delapan meter darinya dengan tatapan ganas dan juga marah. Namun Lianyu tak peduli. Song Lianyu masih memegang busur dan anak panah hanya saja kali ini dia juga menyalurkan kekuatan spiritualnya pada busur dan anak panah. Dia menarik tali busur dan tiga anak panah ke arah tanah. Dalam hitungan detik cahaya ping yang lembut membentuk lingkaran seperti kubah dengan kelopak-kelopak bunga berjatuhan mengelilingi hewan berkaki empat. Harimau sekali lagi mengaum dan suaranya cukup menyakiti indra pendengaran saat kaki-kakinya berusaha untuk menghancurkan formasi bunga persik yang dibuat Song Lianyu. Dengan cepat gadis itu berlari menghampiri lalu dengan kekuatan kultivasi yang dimiliki dia memutuskan tali yang mengikat Long Feiye dalam hitungan detik. Tanpa sadar dia menarik tangan pria muda itu dan mengajaknya berlari bersama untuk meninggalkan harimau mawar kuning. "Harimau itu merupakan hewan spiritual tingkat tinggi. Ilmu yang aku miliki belum cukup untuk bisa membunuhnya. Aku hanya bisa mengurungnya untuk sementara waktu saja," ujar Song Lianyu setelah mereka memutuskan untuk istirahat sejenak di salah satu rumah warga terdekat. Jantung dan napas bergerak dengan cepat. Rambutnya yang hanya diikat tali putih tak sengaja terlepas dan jatuh di atas tanah. Kini rambutnya terurai dengan bebas. Long Feiye terpesona karena kemampuan gadis yang belum dia ketahui namanya itu. "Aku ucapkan terima kasih," ujarnya dengan tulus. Song Lianyu mengangguk pelan sebagai jawaban. Dia menatap pria yang duduk di dekatnya itu. "Kenapa kau bisa berada di hutan itu?" tanyanya. "Aku diikat oleh teman seperguruanku tadi sore," jawab Long Feiye. "Lalu kenapa kau tak berusaha untuk melepaskan diri apalagi situasi tadi itu sangatlah berbahaya. Jika aku datang terlambat semenit saja nyawamu bisa saja melayang dan kau saat ini sedang berada di dalam perut harimau," balas Song Lianyu dengan ekpresi sedikit ngeri. "Aku tak bisa berkultivasi oleh karena itu aku tak bisa melepas talinya," jawab Long Feiye. Apakah gadis ini juga akan mentertawaiku karena aku tak mampu berkultivasi? batin Long Feiye. Dia sudah siap jika kali ini dia akan dihina lagi. Tidak ada tawa ataupun kata ejekan yang keluar dari mulut gadis yang duduk di dekatnya itu. Biasanya begitu mengetahui kalau dia tak bisa berkultivasi maka gadis ataupun laki-laki akan tertawa mengejek. Feiye sedikit kaget ternyata ada juga orang yang mentertawakannya. Gadis yang menolongnya itu hanya diam saja. "Oh, wajar saja kau tak melawan harimau itu tadi. Aku pikir kau tidak melawan harimau karena sedang latihan mental," ujar Song Lianyu beberapa saat kemudian. Long Feiye menggeleng, lalu tersenyum karena penuturan gadis cantik dengan rambut terurai itu. "Tentu saja tidak." Song Lianyu menoleh ke arah hutan yang sudah jauh dari mereka. "Aku pikir harimau mawar kuning sudah tak mengejar kita lagi," ujarnya dengan bernapas lega. Hawa dingin terasa menusuk tulang. Song Lianyu lupa membawa jubah hangatnya karena pergi terburu-buru. Dia mengusap-ngusapnya tangannya mencoba mengusir rasa dingin. Dia harus cepat mencari tempat untuk menginap supaya udara dingin tak membuatnya membeku. "Apakah kau tahu penginapan terdekat di sekitar sini?" tanya Lianyu. "Penginapan? Ada, tapi sedikit jauh dari sini. Jika kau tak keberatan aku membawamu ke sekte Bunga Salju saja. Rasanya tak aman jika seorang gadis berjalan sendirian di saat sudah malam begini," balas Long Feiye. Anggap saja sebagai balas budi karena gadis itu telah menolongnya dari harimau ganas. "Bukankah itu sekte paling nomor satu di Qifeng?" tanya Song Lianyu dengan wajah tertarik. Dia memang sejak lama ingin ke sekte Bunga Salju, namun tak pernah sempat karena dia banyak pekerjaan. Feiye mengangguk sebagai jawaban. "Bagaimana apakah kau setuju untuk pergi bersamaku?" tanyanya lagi. "Baiklah aku setuju!" jawab Song Lianyu semangat. Dalam waktu satu jam mereka sudah sampai di depan gerbang sekte Bunga Salju bersamaan dengan itu terlihat Yuwen Yue, Han Shiyi, dan Bai Quan juga terlihat ada di sana sedang bersiap-siap untuk berangkat. Dengan cepat Feiye mengajak Lianyu ke arah pintu masuk. Lianyu menatap takjub gerbang tinggi dan indah sekte Bunga Salju. "Feiye, kau kemana saja?" tanya Han Shiyi langsung saat melihat orang yang mereka cari. Dari panggilan gadis bermarga Han, Lianyu akhirnya tahu jika nama pria yang ditolongnya itu adalah Feiye. "Iya, kami dari sore mencarimu, tapi kau tidak ada! Sebenarnya kau pergi kemana?" Kali ini Bai Quan yang bertanya. "Baguslah kau sudah kembali," respon Yuwen Yue. "Teman-teman lebih baik aku cerita di asrama saja," ujar Long Feiye. *** Di dalam kamar asrama nomor sepuluh di kamar Bai Quan dan Long Feiye mereka duduk melingkar di lantai yang dilapisi tikar. Tidak lupa pintu asrama juga ditutup dengan rapat. "Katakan apa yang sebenarnya terjadi!" pinta Han Shiyi pada Feiye. Feiye menceritakan semua yang telah terjadi padanya tanpa ditutupi. Mendengar penjelasan itu membuat teman-temannya marah dan tidak terima dengan perbuatan Mu Chen dan rombongannya yang jahat pada Feiye. "Aku akan memberikan mereka pelajaran!" ujar Bai Quan dengan emosi. Dari mereka berempat Bai Quan yang paling mudah marah. "Bai Quan, tenanglah aku baik-baik saja," sahut Long Feiye berusaha untuk menenangkan. "Kau jangan diam saja Feiye. Mereka itu sudah terlalu jahat padamu," jawab Han Shiyi. Song Lianyu yang melihat kejadian itu merasa terharu. Dia diam-diam merasa iri pada empat orang sahabat ini. Hal-hal semacam ini tak pernah dia dapatkan selama hidupnya. Ayah dan ibunya tak memberikan perhatian seperti perhatian yang didapatkan Feiye dari teman-temannya. Saat dia terluka pun ayah dan ibunya cuek padanya dan tidak peduli. Tanpa sadar kedua netra matanya berkaca-kaca dan setetes air matanya menetes, namun dengan cepat dia menghapus air matanya menggunakan tangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD