Suara gerasak-gerusuk dari dalam kamar yang berukuran sangat kecil itu terdengar. Di dalamnya hanya ada satu set tempat tidur kecil, lemari baju yang kecil, dan meja yang juga kecil. Tidak ada yang istimewa di dalamnya. Kalian bisa tebak kamar siapa ini. Alma Denira. Iya, perempuan itu.
Sebenarnya ini bukanlah rumah milik Denira, dia mengontrak di sini. Dan sudah hampir bertahun-tahun, ayahnya pun masih ada saat itu.
Dan penyebab suara bising di dalamnya yaitu si pemilik kamar sendiri. Denira kesiangan. Jam sudah menunjukkan pukul enam lewat, namun Denira baru bangun dari tidurnya. “Ish, kenapa bisa telat bangun sih, ‘kan aku jadi telat ke sekolahnya,” ujar Denira yang kini sudah memakai seraga sekolahnya.
Denira berkaca di depan cermin kecil di kamarnya, mengambil beberapa make up sederhana dan memakaikan di wajahnya. Denira bukan seorang perempuan yang mengerti akan make up. Hanya pelembab, bedak, dan juga pemerah bibir yang ketiganya sama sekali tidak mahal. Yang penting wajahnya tidak terlalu kusam saja. “Kaca mata aku mana?”
Denira kelimpungan, dia mencari-cari benda yang selalu ia pakai itu. Lalu setelah menemukannya, Denira kembali berkaca. Dan memakai kaca mata tersebut. “Gak usah dikepang aja kali ya? Soalnya bakalan telat,” gumam Denira memperhatikan rambutnya yang masih diurai.
Sebenarnya jika tidak dikepang dua, Denira tidak percaya diri untuk masuk ke sekolah. Entahlah kenapa, gadis itu memang aneh, atau justru ... istimewa? “Ya udahlah, dari pada telat.” Akhirnya Denira memutuskan untuk tidak mengepang rambutnya, dia mengambil satu karet gelang, lalu mengambil sisir, dan menyatukan rambutnya menjadi satu. Kuncir satu. Itulah keputusan terakhir Denira untuk rambutnya.
Kemudian Denira mengambil tasnya dan segera pergi ke sekolah. Meskipun ia tahu akan telat—karena dirinya juga harus menunggu angkutan umum—Denira tidak akan membolos. “Semoga aja udah ada angkot yang nge-tem di sana,” ujar Denira berdoa.
Setelah mengunci rumah yang jauh dari kata mewah itu, Denira lalu berlari supaya segera sampai di terminal tempat beberapa angkutan umum berhenti.
“Loh, angkotnya mana?” Dengan nafasnya yang tidak teratur karena sehabis berlari barusan, Denira mencari-cari angkutan umum yang selalu ia naiki untuk ke sekolah, dan hari ini tidak ada.
Kemungkinannya dua, angkutan umum itu tidak jalan, atau memang angkutan umumnya sudah berangkat. Dan hal itu membuat Denira cukup bingung untuk segera ke sekolah. “Gimana ini, masa iya aku jalan kaki?” ujar Denira.
Wajahnya terlihat sedih, andai saja dia memiliki uang lebih, Denira pasti akan menaiki ojek, tapi uangnya akan habis jika memakai ojek dan dia tidak bisa jajan di sekolah.
Suara deru motor membuat Denira yang tengah menunduk mendongak seketika. Matanya membulat saat melihat sebuah motor matic berjalan menghampirinya. “Loh, Denira?” Orang yang memakai helm biasa itu memanggil Denira.
Denira mengerjapkan matanya, “Sam?” gumam Denira saat melihat teman satu sekolahnya juga. Dia adalah Sam, ketua OSIS di sekolahnya, wajahnya tidak kalah tampan dari Bima, menurut Denira. Apalagi Sam ini punya kelebihan, yaitu otaknya yang pinta dan juga sikapnya yang baik hati. Jauh dari Bima.
“Lo kenapa belum berangkat?” tanya Sam seraya mematikan mesin motor itu. Dia memang mengetahui Denira, meskipun tahunya juga karena cap ‘babu’ dari seorang Bima.
Denira memilin rok selututnya itu. “Em, aku, tadi angkotnya udah berangkat, aku kesiangan tadi di rumah,” jawab Denira gugup. Karena jujur, dia belum pernah berinteraksi dengan Sam. Kesehariannya di sekolah yang habis, karena menjadi pengekor Bima.
Sam mengangguk, “Ya udah, ayo sama gue aja,” tawar Sam yang jelas membuat Denira terkejut. Sam mengernyit bingung karena Denira malah terus berdiri dan tidak menuruti tawarannya. “Ayo,” ajak Sam lagi, namun dengan suara yang lebih keras, membuat Denira tersentak kaget.
Sam mengangguk seraya menepuk jok belakangnya saat Denira menatapnya dengan ragu. Ia tahu gadis di depannya ini akan sungkan untuk meminta tumpangan, jadi Sam ajak saja duluan. “Udah, ayo.”
Merasa pria di depannya beda dari yang lain, Denira pun mengangguk lalu mulai menaiki motor tersebut dengan posisi miring. “Nih, helmnya,” ujar Sam sembari memberikan satu helm berwarna biru tua, sama seperti kepunyaan Sam.
Dan dengan senang hati Denira mengambil dan memakainya. “Udah,” ucap Denira memberi tahu, dan Sam pun mengangguk lalu motor tersebut melesat meninggalkan terminal menuju sekolah.
***
Sementara itu, di sisi lain, tepatnya di parkiran sekolah. Bima dengan gagahnya duduk di atas motor, dan di sampingnya ada beberapa sahabatnya juga. Entah apa yang dilakukan pria-pria nakal itu di parkiran seperti ini.
“Eh iya, gue semalem liat si Denira bos,” celetuk salah satu teman Bima. Bram. Dan perkataan Bram itu langsung membuat Bima menoleh, dengan sebelah alisnya yang naik.
“Di mana?” tanya Bima. Bram langsung tersenyum, “Cie, ternyata lo peduli ya sama si cupu, padahal gue bohong itu,” ujar Bram yang berhasil menjebak sahabatnya yang jahat itu.
Sebenarnya sih mereka sama-sama saja, keduanya sama-sama jahat pada Denira. Namun yang lebih mendominasi yaitu sang ketua. Bima. Dan mereka juga tahu kalau Denira adalah asisten rumah tangga di rumah Bima.
Bima berdecak sebal, bisa-bisanya dia dijebak oleh temannya itu. “Lagian lo Bim, kalo suka sama peduli bilang, jangan malah bully terus,” timpal teman Bima yang satunya lagi, Sean. Perkataan Sean itu diangguki oleh Bram.
“Gue gak peduli sama dia, gue cuma mastiin dia gak khianatin nyokap gue dengan kerja di tempat lain aja,” ujar Bima membela diri.
Pria itu bersedekap, hendak melanjutkan perkataannya lagi namun terhenti saat sebuah motor dengan dua orang di atasnya memasuki gerbang sekolahan. “Si cupu?” batin Bima yang sebenarnya masih ragu. Karena seluruh kaca helm itu ditutup.
“Liatin apa lo?” tanya Bram, lalu dia mengikuti arah pandang sahabatnya tersebut, begitu pula dengan Sean.
“Si ketua OSIS?” gumam Bram saat melihat motor yang dikendarai orang yang diperhatikan oleh Bima. Lalu dia menoleh ke arah Bima. “Lo ngapain liatin di ketos? Suka lo– Woy Bima, mau ke mana?” Pertanyaan itu berubah menjadi seruan saat Bima melangkahkan kakinya dengan cepat menghampiri seseorang yang mereka sebut ‘ketos’ itu.
Tanpa mengucapkan apa pun, Bima menarik tangan perempuan yang di belakang. Lalu membuka helm tersebut menampilkan wajah perempuan. Denira. “Aw, sakit Bim, pelan-pelan,” ringis Denira saat Bima membuka helm tersebut dengan kasar.
Namun wajahnya berubah pias saat melihat wajah majikannya itu. “Bim, maaf, aku tadi–”
Belum sempat Denira melanjutkan perkataannya, Bima langsung menarik gadis itu, dan melempar helm yang berada di tangannya ke tangan Sam, yang untung saja dapat ditangkap dengan baik oleh Sam. “Awas lo,” ancam Bima menunjuk Sam dengan tatapan matanya yang tajam.
Sementara itu, Denira hanya bisa meringis saat tangannya yang terus dicengkeram erat, ini sangat menyakitkan. Apalagi saat Bima dengan kasar menarik tangannya itu, mengikuti langkah pria di depannya dengan langkahnya yang terseok-seok.
Dan Denira yakin, kemalangannya akan dimulai lagi setelah ini.
***
To be continued