Bima ternyata membawa Denira ke belakang sekolah, lebih tepatnya ke toilet bekas sekolah ini yang sudah tidak terpakai. Dan sering dipakai nongkrong oleh anak-anak nakal, terutama untuk membolos karena jaraknya yang cukup jauh dari lingkungan sekolah. Contohnya Bima, dan sahabat dekatnya.
“Aw, sakit Bima!” ringis Denira seraya memegang lengannya yang terbentur karena Bima mendorongnya begitu saja ke tembok di sana. Mata gadis itu berkaca-kaca. Sakit sekali diperlakukan seperti ini, terlebih lagi oleh seorang pria seperti Bima. Sudah pasti ‘kan kekuatannya saja lebih besar mana? Dan Denira sama sekali tidak bisa melawan pria itu.
“Gue gak peduli!” sentak Bima yang kini berdiri menjulang di depan Denira yang sangat pendek. “Ngapain lo tadi?” tanya Bima, membuat kening Denira mengerut bingung. Memangnya tadi Denira melakukan apa sampai Bima marah begini?
“Jawab!!” bentak Bima karena gadis di depannya itu malah diam berpikir, padahal Bima sedang kesal.
Ya, itulah Bima. Tidak hanya Denira yang seorang asisten rumah tangga di kediaman pria itu, Denira juga kerap diperlukan kasar oleh Bima. Pria itu adalah pria arogan, pemaksa, otoriter, dan semua sifat buruk, melekat di diri Bima. Bahkan di sekolah pun, dia selalu menjadi ‘babu’ untuk seorang Bima. Dia selalu membawakan tas Bima, dan berjalan di belakang pria itu. Dia selalu berlarian di sepanjang lorong sekolah untuk membelikan makanan pria itu di kantin, karena jika tidak, Bima akan bersikap kasar dan membully Denira di depan para murid-murid di sekolah ini.
“Aku gak tau Bim, aku gak tau aku lakuin kesalahan apa sampe kamu marah gini,” jawab Denira pelan. Ya, itulah alasan Denira semalam takut pada Bima. Karena perlakuan pria ini. Di depan Savira saja dia berlaga kasar, meski tidak sekasar di sekolah.
Bima mendengus kesal, dia melayangkan kepalan tangannya. Namun bukan di anggota tubuh Denira, melainkan di dinding samping tubuh Denira. Yang jelas saja membuat gadis itu terkejut, “Lo gak tau kesalahan lo apa?” tanya Bima dengan suara pelan.
Denira yang menunduk hanya bisa menganggukkan kepalanya, suara Bima terlalu menyeramkan menurutnya. “Aku gak tau, tapi aku minta maaf kalo aku lakuin kesalahan, aku minta maaf,” ujar Denira memohon.
Ya dirinya lebih memilih mengalah saja dari pada Bima terus marah dan berakhir kasar padanya. Denira tidak menginginkan kekerasan ini. Jadi lebih baik ia meminta maaf saja, meskipun dirinya sendiri belum hafal apa kesalahannya.
Bima tersenyum licik, dia mengambil sejumput rambut Denira yang diikat satu. “Pertama.” Bima mulai berbisik, tepat di telinga Denira. “Lo gak lupa ‘kan kalo lo itu babu gue?” tanya Bima, menekan kata babu. Dengan suaranya yang amat rendah dan ngebas membuat Denira sedikit merinding.
Dan dengan lemah, Denira hanya bisa menganggukkan kepalanya, dia tidak bisa menyangkal itu. Dia tidak bisa menyangkal jika Bima bosnya, dan dirinya babu Bima.
Bima lagi-lagi tersenyum sinis, “Terus kenapa lo berangkat sama cowok itu?” Denira mengangkat kepalanya dengan raut wajah bingung, cowok itu? Sam maksud Bima?
“Sam? Dia itu Sam?” tanya Denira yang membuat Bima kembali melayangkan tatapan tajam padanya.
“Jangan bilang nama cowok itu, gue gak suka!” desis Bima emosi. Entah kenapa, entah apa alasannya sampai ia emosi seperti itu.
“T-tapi Bim, tadi aku telat bangun, terus tadi aku juga ketinggalan angkot yang biasanya ngetem di depan gang rumah aku, terus aku bingung, aku gak mau bolos karena aku takut beasiswa aku terancam, terus karena Sam ngajakin aku, aku ikut dia,” ujar Denira menjelaskan kejadian yang ia alami tadi.
Bima terdiam sebentar, namun dirinya tidak peduli. “Terus kenapa lo gak jalan kaki aja hah?” sentak Bima masih tidak mau kalah dari gadis di depannya itu.
Denira mengerut takut, dia semakin menundukkan wajahnya, wajah Bima itu saat diam saja menyeramkan, apalagi saat marah seperti ini. Wow, sangat menyeramkan, seperti monster bahkan, kalau kata Denira.
“Aku takut telat, Bim. Maafin aku,” mohon Denira lagi. Denira mengeratkan genggamannya ke tali tas yang ia pakai, saat tangan Bima menyentuh lehernya. Bahkan saat Bima mendekatkan wajah mereka, juga kepala Bima yang miring. Membuat Denira tidak bisa berpikir jernih. Ia takut pria itu akan melakukan hal yang buruk padanya.
“Terus ini.” Ternyata, tangan Bima hanya hinggap di leher Denira. Kini tangan itu sudah memegang karet gelang yang Denira pakai di rambutnya. Denira masih waspada, apalagi kepala Bima masih di depannya.
“Aw!!” Ketakutan itu seketika berubah jeritan, dan kamar mandi yang hening tersebut kini terisi teriakan Denira. “Aw, sakit, Bim. Lepasin Bim, kepala aku sakit, Bima,” pinta Denira seraya menangis kesakitan karena kini, tangan besar Bima menjambak rambutnya.
Sakit? Jelas!
Perih! Jangan ditanyakan.
Rasanya kulit kepalanya seperti akan mengelupas karena tarikan Bima yang kuat. Dan Denira hanya bisa mampu menangis dan memohon, tidak bisa melawan Bima. Itu hal mustahil. “Bim, aku mohon.” Tangisan yang terdengar pilu itu membuat Bima langsung menghentikan aksinya.
“Aku salah apa Bim? Kenapa rambut aku kamu tarik? Ini sakit Bima?” Denira merosot, berjongkok dan menangis di lututnya.
Sementara itu Bima masih berdiri dengan tatapannya yang lurus, tidak pernah ia mendengar tangisan Denira yang sepilu ini. Apa dia keterlaluan? “Gak, gue bener, gue bener lakuin ini biar ini cewek jera,” gumam Bima dalam hatinya.
Pria itu berjongkok di depan Denira, mengangkat dagu Denira dengan kasar hingga gadis itu mendongak. “Lo tanya apa salah lo?” Bima terkekeh kecil, namun sedetik kemudian wajahnya berubah kembali menyeramkan dengan jarinya yang semakin mencengkeram erat dagu Denira.
“Salah lo itu, lo iket rambut lo jadi satu, dan lihat, leher buluk lo ini kelihatan, dan gue gak suka itu!” teriak Bima yang membuat Denira tertegun.
“Bima gak suka aku iket rambut karena leher aku kelihatan? Tapi kenapa?” gumam Denira dalam hatinya.
“Aku gak keburu Bim. Aku telat.” Bima berdecih sinis, dia menghempaskan begitu saja dagu Denira membuat wajah gadis itu tertoleh ke samping. Dan kemudian Bima berdiri dari jongkoknya itu.
“Gue gak mau tau alasannya, yang perlu lo ingat, gue larang, buat lo ikat rambut kayak gini. Awas aja kalo gue masih lihat lo ikat rambut kayak gini, siap-siap aja rambut lo gue gunting habis,” ancam Bima dan setelah itu ia melangkahkan kakinya keluar dari sana tanpa rasa bersalah.
Tangis Denira pecah, apalagi saat mendengar suara terakhir Bima yang ia yakini sedang berbicara dengan seseorang di dalam telepon.
“Bawa ketua OSIS itu ke ruang eksekusi.”
***
To be continued