Nuna harus menyesali setiap partikel yang menyesaki dadanya. Laki-laki yang datang di malam itu. ternyata hanya sebatas ingin tahu kondisi fisiknya. Sebuah perjalanan cinta yang rencana akan dimulainya pun hanya berupa angan-angan yang tak bisa terjawab. Mendamba sebuah keseriusan dalam hubungan. Namun nyatanya tak mudah untuk bisa mengubah sesuatu menjadi suka dalam keseluruhan. Setelah bertukar nomor ponsel. Ternyata itu hanya sebuah formalitas belaka. Nuna menelan kekecewaan. Kini dilihatnya laki-laki itu telah memblokir kontaknya. Namun harapan hanya sebuah doa yang bisa dipanjatkan. Karena sejatinya semua hanya akan mendapat keputusan dari sang Maha adil. Nuna menyeka air matanya yang jatuh. Tak ingin larut dalam kesedihan. Laki-laki yang diharapkannya itu adalah sosok yang tepat m

