Ruang sidang terasa seperti peti mati raksasa.
Udara dingin menempel di kulit Claudia, merayap hingga ke tulang. Ia berdiri di balik meja terdakwa, kedua tangannya terlipat di depan perutnya yang mulai membulat. Borgol sudah dilepas, tapi rasa dinginnya masih melekat, seperti bekas luka yang tak terlihat.
Hakim mengangkat kepalanya. Suara baritone itu menggema. Berat dan tegas tanpa emosi hanya berdasarkan fakta hukum yang terjadi.
“Setelah mempertimbangkan seluruh alat bukti, keterangan saksi-saksi, serta fakta-fakta persidangan yang terungkap…”
Claudia menunduk. Ia tidak berdoa. Ia sudah terlalu lelah untuk berharap.
“…pengadilan tidak menemukan bukti yang cukup bahwa terdakwa melakukan pembunuhan dengan perencanaan.”
Beberapa wartawan saling berbisik. Pena bergerak cepat. Kilatan kamera tertahan oleh peringatan petugas.
Namun Claudia tetap diam tanpa reaksi.
Ia sudah tahu.Ia sudah merasakan apa yang akan terjadi
Hakim melanjutkan, suaranya seperti pisau yang pelan tapi bisa menguliti dengan presisi
“Oleh karena itu, terdakwa Claudia Carlson dinyatakan tidak bersalah atas dakwaan pembunuhan tingkat pertama.”
Hening sesaat
“Namun, pengadilan menyatakan terdakwa bersalah atas pembunuhan tingkat kedua, karena dengan sengaja telah menyebabkan kematian Roy Moore tanpa perencanaan terlebih dahulu, namun dilakukan dengan niat jahat.”
Kata bersalah itu jatuh tepat di dadanya.Menghantam.Menghancurkan dirinya .
“Dengan demikian, pengadilan menjatuhkan hukuman pidana penjara selama sepuluh (10) tahun di Lembaga Pemasyarakatan Negara Bagian Nevada, dengan pengurangan masa tahanan yang telah dijalani.”
Tok.Tok.Tok.
Suara palu hakim terdengar bagikan guntur yang menggelegar
Dan di detik itulah, segalanya benar-benar berakhir.
Air mata Claudia jatuh tanpa suara. Tidak ada tangisan histeris. Tidak ada jeritan. Hanya cairan hangat yang mengalir pelan di pipinya, seperti sesuatu yang sudah terlalu lama disimpan dan akhirnya tumpah juga.
Sepuluh tahun. Ia sudah menduganya. Sejak sebulan lalu, sejak kesaksian Bella menghancurkan sisa-sisa hidupnya Sejak Aidan, dengan wajah lelah dan mata penuh penyesalan, berkata bahwa semua jalan terasa buntu.
Tidak ada CCTV.Tidak ada saksi yang berpihak. Gedung Carlson sudah berpindah tangan kepada seseorang yang bernama Dominic Santiago
Dan seorang Dominic Santiago… bukan nama yang bisa disentuh sembarang orang.
Claudia menunduk, lalu tanpa sadar mengelus perutnya.
“Kita akan baik-baik saja, Baby,” bisiknya lirih, hampir tak terdengar.“Mama masih hidup. Walau… kita harus memulai segalanya dari penjara.”
Tangannya gemetar.Aidan menoleh padanya. Wajah pengacara simpatik itu tampak sangat lelah dibandingkan saat terakhir kali mereka berbicara. Kantong mata terukir jelas di bawah matanya.
“Claudia,” ucapnya pelan setelah sidang usai, ketika ruang mulai dikosongkan.“Aku tidak akan berhenti. Aku akan terus mencari bukti Kalau aku menemukan bukti baru, aku akan ajukan banding.”
Claudia hanya mengangguk dan dengan suara lirih mengucapkan terimakasih
“Tapi aku harus jujur,” lanjut Aidan. “Itu tidak akan cepat. Mungkin kamu harus melahirkan di penjara.”
Claudia menelan ludah.
“Aku akan berusaha agar banding itu berhasil sebelum anakmu berusia dua tahun. Itu batas maksimal anak boleh tinggal bersama ibunya di dalam penjara. Aku ingin…Aku ingin kalian bisa keluar bersama.”
Nada suara Aidan lembut, hampir seperti permintaan maaf.
“Jaga kesehatanmu. Itu yang paling penting sekarang.”
Claudia ingin mengatakan sesuatu. Apa saja. Tapi tenggorokannya seperti tertutup rapat. Ia hanya mengangguk lagi, kali ini lebih lemah.
****
Koridor penjara wanita di Las Vegas panjang dan dingin. Lampu-lampu neon memantul di lantai abu-abu kusam, menciptakan bayangan yang terasa tak berujung.
Dengan tangan diborgol, Claudia berjalan tertatih di antara dua petugas.Dari balik jeruji, suara-suara para tahanan terdengar
“Wah, ada penghuni baru.”
“Gemuk amat. Hamil ya?”
“ Itu dia yang sosialita jatuh miskin.”
Tawa pecah. Kasar. Tanpa empati.
Claudia menatap lurus ke depan. Setiap langkahnya terasa lebih berat dari langkah sebelumnya.
“Katanya dia bunuh suaminya sendiri karena suaminya berkhianat dengan sahabatnya” ujar seorang wanita bertato di lengan.
“Kalau aku jadi dia, sahabatnya sekalian aku bunuh juga. Biar lengkap.”
“Harusnya begitu!” sahut yang lain.
Langkah Claudia tidak berhenti.
Ia tidak punya tenaga untuk marah. Tidak juga untuk membela diri.
Petugas berhenti di ujung koridor.
“Ini selmu.”
Pintu besi dibuka. Sebuah ruang sempit berukuran sekitar tiga kali empat meter. Tempat tidur besi kecil di satu sisi. Toilet terbuka di ujung ruangan . Dingin. Kosong. Tanpa warna.
Petugas menyerahkan sebuah kotak.
“ Ini barang-barang yang diperbolehkan.”
Satu stel baju oranye.
Sabun batang.
Sikat gigi dengan gagang sangat pendek agar para tahanan tidak menjadikannya senjata
Tidak lebih.
Claudia menerimanya. Masuk ke dalam sel. Pintu ditutup di belakangnya dengan bunyi dentang keras yang menggema sampai ke dadanya.
Ia duduk perlahan di ranjang besi. Nafasnya terengah. Tubuhnya terasa berat, bukan hanya karena kehamilan, tapi karena seluruh hidupnya seperti menindih dari segala arah.
Tangannya kembali ke perut.
“Ini hari pertama kita di sini, Baby,” bisiknya.
“Masih ada… tiga ribu enam ratus lima puluh empat hari lagi untuk Mama.”
Suaranya bergetar.
“Kamu mungkin cuma bisa menemani Mama dua tahun. Tapi selama itu… Mama janji akan melindungimu.”
Air matanya jatuh ke baju oranye nya.
“Empat bulan lagi kita akan bertemu.”
Ia menutup mata.
Tidak tahu bagaimana masa depan akan berjalan. Tidak tahu apakah Aidan akan menemukan apa pun. Tidak tahu apakah keadilan masih ada untuknya
Yang ia tahu hanya satu…..
Ia harus bertahan.Karena sekarang, satu-satunya hal yang tersisa di dunia ini…adalah denyut kecil di dalam rahimnya.
Dan untuk itu, ia tidak boleh menyerah.Ia harus hidup betapun beratnya.