“Kamu tidak pernah pantas mendapatkan Roy.” Suara itu menusuk, dingin, penuh ejekan. “Dia tidak pernah mencintai wanita gemuk sepertimu. Tidak pernah!”
Kata-kata itu meledak di samping telinga Claudia, seperti halilintar yang memecah kepalanya.
“Kamu cuma umpan bagi aku dan Roy” lanjut Bella dengan nada puas. “Diperas. Dimanfaatkan. Karena kamu anak orang kaya, pewaris Carlson, pemilik gedung megah. Roy bertahan di sampingmu bukan karena cinta tapi karena hartamu.”
Napas Claudia tersendat.
“Roy mencintaiku,” Bella mendesis. “Dan kami berdua… menikmati betapa bodohnya kamu.”
“Kamu yang harus mati,. Bukan Roy.”
Jari-jari itu tiba-tiba melingkar di leher Claudia, menekan brutal , kuat dan mencengkram seluruh leher Claudia. Udara seperti hilang Dadanya terbakar. Dunia di sekelilingnya menggelap, ruang terasa menyempit.
“Wanita gendut sepertimu tidak pantas dipuja,” bisik Bella tepat di wajahnya, bau napasnya penuh penghinaan. “Kamu bahkan tidak pantas bahagia.”
Claudia meronta. Kukunya mencakar pergelangan tangan Bella hingga perih, tapi cekikan itu justru semakin kuat. Lebih kuat. Lebih kejam. Seolah Bella ingin memastikan Claudia benar-benar merasa tak berdaya.
“Lihat kamu sekarang,” lanjut Bella sambil tertawa kecil. “Dulu sosialita kaya, pewaris besar. Selalu bergaya bagai putri raja di seluruh kalangan jet set kota Las Vegas……. Sekarang?” Dia tertawa mengejek “ Kamu hanya tahanan. Kamu akan membusuk di penjara!”
Suara tawanya rendah penuh kepuasan menikmati penderitaan Claudia.
“Aku senang anakmu akan terlahir tanpa ayah, biar dia merasakan apa yang aku rasakan, selalu terhina dan tersisihkan” katanya dingin. “Aku ingin anakmu menderita! Aku ingin anakmu tahu kamu hanya pecundang yang pasti tak akan sanggup menghidupi dia! Mau jual diri seperti ibuku, kamu juga tidak bisa, karena tubuh besarmu itu sangat menjijikan!"
Lalu Bella merendahkan suaranya, seperti mengisi racun yang disuntikkan perlahan ke aliran vena Claudia
“Kalau kupikir-pikir…”ia tersenyum seperti orang gila “ Apakah lebih baik anak itu digugurkan saja sekarang. Anak sial di perutmu itu tidak akan pernah bahagia.Aku kasihan padanya"
Tekanan di leher Claudia semakin kuat.
“Lebih baik dia mati sebagai benih… daripada hidup membawa darah wanita sepertimu.”
Mendengar kata-kata keji itu, amarah meledak di d**a Claudia.
Dia boleh dihina.Dia boleh dihancurkan.
Tapi anaknya …..
TIDAK!!!!
“AHHH!” Claudia berteriak. histeris“Kamu wanita jalang! Kamu Biadab ! Jalang! Gila! Aku Benci padamu. Aku menyesal menyayangimu . Kamu penghianat!!!”
Tiba-tiba air dingin mengguyur wajah dan tubuhnya.
Claudia tersentak bangun sambil menjerit terkejut. Tubuhnya basah kuyup. Dingin langsung menembus tulang.
“Diam!”
Seorang wanita asing berdiri di depan tempat tidurnya, memegang ember plastik kosong. Rambutnya sebahu, wajahnya cantik tapi keras, tatapan tajam tanpa sedikit pun belas kasihan.
“Kamu ganggu tidurku,” bentaknya. “Kamu pikir ini rumahmu? Ini penjara, b***h!!!”
Claudia terengah. Dadanya naik turun. Tangannya refleks memegang lehernya, tidak ada bekas cekikan.
“Penjara…?” gumamnya. “Itu tadi… cuma mimpi?”
Tubuhnya gemetar hebat.
“Maaf… maafkan aku,” bisiknya lirih, setengah sadar. Pandangannya berkeliling sel. “Tapi… bagaimana kamu bisa masuk ke selku? Apakah kamu petugas?”
Wanita itu mendengus, seolah pertanyaan bodoh yang keluar dari mulut wanita tidak berpendidikan..
“Lihat bajuku.” Ia menunjuk seragam oranye yang sama dengan yang dipakai Claudia “Pakai otakmu. Aku ini juga tahanan !”
Ia melangkah lebih dekat. Aura dingin menyelimuti udara.
“Tapi aku tahanan yang tidak bodoh seperti kamu,” lanjutnya ketus. “Uangku bisa membeli hampir semua kunci sel; di koridor ini.
Kecuali kunci utama.”
Claudia menelan ludah.
“ Ini peringatan untukmu, siapa pun yang berani mengganggu tidurku,” wanita itu mengangkat ember kosongnya, matanya dingin tanpa emosi, “akan kusiram. Dan kamu pecah rekor karena hari pertama di sini sudah menjerit seperti orang kehilangan nafas. Yang lain biasanya butuh waktu. Hmmm. Paling tidak seminggu. Tapi kamu belum 24 jam uda kena ember mautku!” Ia tertawas sinis, sambil berbalik menuju pintu lalu menyibakkan rambutnya dengan angkuh
“Sekarang tidur!” perintahnya dengan nada datar . “Kalau tidak, ember kedua akan menyusul.”
Pintu besi tertutup. Kunci berputar.
Klik.
Claudia terduduk lemas di lantai.
“Siapa… dia?” bisiknya pada diri sendiri.
Bagaimana mungkin seorang tahanan memiliki kekuasaan seperti itu?
Tangannya gemetar saat ia meraih handuk kecil. Ia ingin mengganti baju tapi tidak ada baju lain. Hanya seragam oranye yang kini basah dan melekat di kulitnya.Udara musim dingin merayap masuk dari celah-celah dinding. Claudia menggigil semakin hebat.
Dengan tangan gemetar, ia melepas baju basah miliknya dan menggantungkannya, berharap bisa mengering. Tubuhnya ia bungkus dengan selimut tipis, lalu ia bersandar di dinding ranjang besi.Perutnya terasa sedikit berdenyut.
Claudia refleks membelai perutnya.
“Maafkan mama anakku … Maafkan mama mu yang tidak berguna ini,” bisiknya dengan suara bergetar. “Maafkan mama karena kamu harus menderita seperti ini.”
Air mata jatuh satu per satu.
“Ya Tuhan…” doanya lirih “Tolong aku melewati hari-hari ini. Masih ada tiga ribu enam ratus empat puluh sembilan hari lagi… aku tidak tahu apakah aku sanggup bertahan.”
Dingin semakin menggigit. Kesunyian terasa semakin mencekam. Bau besi dan lembab memenuhi seluruh sel, membuat rasa sakit di hati Claudia semakin dalam
Claudia meringkuk di sudut ranjang besi, memejamkan mata, menggenggam selimut tipis itu sekuat tenaga, seolah seluruh jiwanya bergantung pada selembar kain yang bahkan tak mampu menghangatkan tubuhnya. Napasnya pendek, tertahan, takut jika terdengar terlalu keras bahkan ia tidak berani memejamkan mata karena takut kembali bermimpi… dan menjerit.
Malam pertamanya di penjara sudah memberinya pelajaran kejam. Ia bahkan belum sempat belajar bertahan, tapi sudah dihukum.Seperti kata wanita itu, ia memecahkan rekor. Disiram air dingin di malam pertama, hanya karena mimpi buruk tentang Bella yang menghina dirinya dan mencekiknya hingga mati.
Sekarang Claudia tahu satu hal:Ia tidak boleh bermimpi.Ia tidak boleh berteriak.
Karena di tempat ini, tidak ada yang akan melindunginya.Ia kini sendirian. Hanya dingin. Jeruji. Dan bayangan wanita misterius itu yang kekuasaannya terasa lebih nyata daripada hukum apa pun di penjara ini.
Dari balik lorong, terdengar suara langkah pelan menuju arah selnya, langkah yang terlalu teratur. terlalu tenang.
Claudia membuka matanya.
Di bawah cahaya redup, sebuah bayangan wanita dingin tadi berhenti tepat di depan selnya Dan suara itu terdengar, rendah dan penuh peringatan
“Besok saat olahaga dan sarapan , jangan banyak tingkah kalau mau selamat.”
Jantung Claudia berhenti berdetak.
Siapa sebenarnya wanita itu?