bc

Warisan Mas Tentara

book_age18+
1.4K
FOLLOW
9.5K
READ
arrogant
kickass heroine
dare to love and hate
sweet
bxg
humorous
soldier
city
enimies to lovers
like
intro-logo
Blurb

Tidak banyak yang bisa Suri lakukan sebagai istri tentara. Hidupnya terjadwal, penuh disiplin dan berhias peraturan-peraturan. Baginya itu bukanlah hal yang sulit karena setelah pernikahan itu selesai pada tahun depan, ia akan menerima lima belas milyar rupiah sebagai bagian dari perjanjian pernikahannya dengan Sabrang. Lelaki yang sangat ia benci dan pernah didoakannya mati waktu mereka kecil dulu.

Hanya saja, Suri tak mau mendengarkan perkataan temannya bahwa tidak baik membenci seseorang berlebihan karena kita tak tau kelau di masa depan bisa saja kita berubah menyayaginya.

Takdir berbalik mencibirnya, ketika Sabrang berkata “ayo kita hentikan pernikahan ini. Aku ingin menikah kembali denganmu Suri, wanita yang paling aku cintai.”

chap-preview
Free preview
Lembar Satu: Runtut Ke Belakang
Palembang, 2019 Calon mantan suami: “Aku sudah nggak tahan. Aku mulai.” Calon mantan istri: “Lajulah, kau kan bosnya.” Calon mantan suami: “Satu. Tidak boleh mengobrol selain keadaan darurat.” Calon mantan istri: “Darurat? Maksudnya skincare habis? Wi-fi macet?” Calon mantan suami: “Dua. Tidur di kamar terpisah. Tidak boleh sembarangan masuk sebelum diizinkan.” Calon mantan istri: “Aku ambil kamar utama. Kau boleh tidur di dapur.” Calon mantan suami: “Tiga. Semua pengeluaran bulanan tidak ditanggungkan ke dalam perjanjian, kecuali untuk urusan pribadimu.” Calon mantan istri: “Hei, aku juga punya uang tauk!” Calon mantan suami: “No s*x!” Calon mantan istri: “Yakin?” Sabrang menatap Suri yang duduk di seberangnya. Perempuan itu melipat tangan di perut yang membuat dadanya agak terangkat naik. Rambut panjangnya berantakan, sedangkan matanya fokus ke depan, pada dirinya. Yah, seberapa menggodanya perempuan ini, ia yakin akan mampu melewati pernikahan 12 bulan tanpa sedikit pun tergoda untuk menyentuhnya. Calon mantan suami: “Ya. No sex.” Suri mencibir, ia sengaja memajukan badannya ke depan, membiarkan mata Sabrang menatap lapar kedua bongkahan buah dadanya yang menyembul dari pakaiannya yang sedikit terbuka. Berlama-lama hingga akhirnya ia jadi geli sendiri. “Dasar anak lugu, padahal, no s*x no party, lho.” Kemudian ia tertawa-tawa, menertawai Sabrang yang tidak tau apa yang baru saja dikatakannya. Apa?! Sepuluh perjanjian pernikahan? Itu adalah hal terkonyol yang pernah ia dengar. Dengan atau tanpa perjanjian, keduanya sudah tau hal-hal apa saja yang harus dihindari dari sebuah pernikahan kontrak yang akan mereka jalani. Ini sama saja dengan punya room mate, berbagi rumah tapi tidak dengan urusan pribadi. You do what you want, I do what I want. Segampang itu lho, jadi tidak perlu harus repot-repot membuat daftar yang diakhiri dengan tanda tangan di atas materai sepuluh ribu. What the hell, kita hanya sedang ber-simbiosis mutualisme bukannya lagi bersengketa soal tanah warisan. Ngomong-ngomong soal warisan, cerita ini tidak bisa bermula dari sehelai kertas berisi peraturan-peraturan konyol ala Sabrang tapi mari kita kembali ke awal cerita dengan runtutan rapi ke belakang tentang apa yang sebenarnya telah terjadi. Satu setengah hari yang lalu. Suri tidak yakin ia tengah berada di lantai berapa yang ia tau kamar ini sangatlah besar dan mewah. Mungkin, Yai Rachman menyewa kamar paling bagus di Hotel Arista, tempat resepsi pernikahannya yang akan dihelat sebentar lagi. Wanita yang sedari tadi tak berhenti memegang wajahnya, berkali-kali menambahkan sesuatu tanpa persetujuannya. Lihat semua warna itu, apa tidak terlalu kuat untuk wajahnya yang pucat? Apa matanya harus dicoloki lensa kontak juga padahal kedua organ itu baik-baik saja. Apa katanya tadi soal matanya yang kini serupa mata kucing. “Biar suami mbak makin terpesona sama mbak.” Ingin Suri meneriaki si perias pengantin, bahwa satu-satunya cara agar Sabrang mengeluarkan kata terpesona dari mulutnya adalah ketika ia meneriakkan yel yel prajurit yang disambung dengan lagu tepuk tangan “terpesona…aku…terpesona.” Lelaki itu tidak akan pernah mengaguminya apalagi sampai jatuh cinta padanya, karena bagi Sabrang Suri hanya sekedar tetangga masa kecil yang tidak perlu ia berikan sedikit perhatian. Mereka bukan sohib kental yang menyimpan banyak kenangan dalam satu album foto. Suri dan Sabrang bahkan tidak bisa dibilang teman, karena tidak ada teman yang setiap hari sibuk meludahi muka satu sama lain. Katakan saja mereka adalah sepasang musuh yang saling membenci dan kalau dibiarkan bisa saling membunuh. Tidak ada kecocokan, tidak ada hal yang sama, tidak ada cerita, di antara Suri dan Sabrang hanya ada satu perjanjian, yang berbahaya, penuh rahasia dan jika diketahui pihak ketiga maka bisa mengakibatkan kematian. Pucuk dicinta ular pun tiba. Si Ular yang baru saja dimaki-maki Suri di dalam kepalanya, muncul dari balik pintu dalam seragam hijaunya dan mulut mengerucut tak suka melihat Suri belum siap-siap juga. Ia meminta dengan sopan kepada semua orang di dalam ruangan itu untuk keluar selain istrinya dan setelah sepi, ia lalu memulai pidatonya yang entah keberapa kali ia ulangi. “Jadi…kau bisa bantu aku kan? hari ini kita akan melaksanakan resepsi pedang pora. Kemarin kau sudah berlatih dan aku lihat masih ada yang kurang. Mungkin kau perlu untuk lebih serius dan hindari mengikik seperti monyet sirkus.” Suri memberikan suaminya muka malas karena ia sungguhan malas mendengar hal berulang-ulang nyaris usang. Mungkin di kehidupan sebelumnya, Sabrang adalah sejenis toa karatan di atas mobil Kijang lama yang tak berhenti bersahut-sahutan di sepanjang jalan. Lelaki itu mengira dirinya tengah memberi kata sambutan di kelurahan, bahwasanya Suri—sebagai satu-satunya warga, harus menuruti semua kemauannya selama acara berlangsung nanti. “Apa kau mengerti?” Suri mengangguk-angguk, setuju untuk sesuatu yang sama sekali tak didengarnya. Baiknya memang begitu, biar Sabrang berhenti melakukan hal sia-sia dan untuk kebaikan bersama. Setelah lelaki itu puas barulah ia mengizinkan kembali orang-orang yang menunggu bosan di luar dan selanjutnya pergi meninggalkan kamar. Suri tertawa kecil dan meminta Yuk Dian, sang penata rias untuk melakukan apa yang disukainya karena Suri benar-benar sudah tak peduli. Lalu, ini belumlah lengkap, apa masih ada cerita lainnya? Baiklah, mari kita kembali lagi ke dua bulan sebelumnya. Surabaya, 2019  Suri tau kalau ada yang sedang menatapanya dan ia juga tau siapa itu. Tapi, urusannya berdiri di sana adalah untuk tersenyum dan mendengar dengan takzim apa yang Komandan Grup katakan pada lima orang yang berdiri mengelilingi beliau; Suri, atasannya Pak Mojo, ajudan Si Jendral yang bermata awas, wakil Si Jendral yang sedikit mengantuk dan Sabrang…si ular kobra. Tau ular kobra? Yep, itu sejenis ular. Entah berapa lama Si Jendral bertausiyah, karena ia mengingatkan pentingnya salat duha berjamaah bagi semua prajurit yang beragama islam. “Dampak baiknya akan kita rasakan…” “Siap.” “Apa kalian tau?” “Siap.” “Itulah yang akan menolong kita di akhirat kelak.” “Siap. Amiin.” Ah, apa sebaiknya ia memberikan saran yang bermanfaat semisal kapan kira-kira gajinya bakalan naik, pikir Suri dalam hati, namun saat mengalihkan pandangan ke sebelah kanan bahu Si Jendral, Si Ular masih betah memelototinya dengan muka seperempat seram dan berlagak kalau ia sebenarnya tengah mencoba mengintimidasi. Suri mengalihkan pandangan karena ia tak mau kalau tiba-tiba saja ia berjalan mundur sambil menggoyang-goyangkan pantatnya karena terlalu lama dipelototi Sabrang. Mana tau lelaki itu memang punya ilmu hebat yang bisa membuatnya melakukan apa yang pria itu mau termasuk mengeluarkan api dari dalam mulutnya. Setelah kelompok kecil itu bubar dan Si Jendral pergi bersama ajudannya, Sabrang mendadak meminta Suri untuk tetap tinggal dengan alasan bahwa ia ingin menanyakan sesuatu. “Apa?” tanya Suri dengan nada bosan. Sabrang berdecak jengkel. “Siapa yang mengajarimu bicara seperti itu pada seorang perwira?” katanya. Perempuan itu mencibir setelah yakin tak ada yang memperhatikan mereka. “Tak peduli pun. Nggak bakalan ada yang percaya kalau PNS teladan macam aku ini bisa berbuat seperti yang kau keluhkan itu.” Mereka berdiri di bawah tiang bendera, hampir ke tengah lapangan upacara yang kosong pada jam sepuluh yang panas. Hanya ada beberapa orang yang melewati punggung mereka dan orang-orang itu tak ambil peduli apa yang Suri dan Sabrang bicarakan, karena memang kelakuan keduanya yang tak menarik perhatian. “Ck, kau masih saja dengan kau yang dulu.” “Aku bukanlah aku yang dahulu, dubidum dubidum dubidam dubidam.” Suri bersenandung kemudian mengedipkan sebelah matanya. Ini pertama kalinya mereka bertemu setelah sepuluh tahun lamanya. Jika mereka berangkat dari sebuah perkawanan, tentu saja ini akan jadi ajang lepas rindu karena sudah lama tak bersua tetapi bagi Suri maupun Sabrang, sama-sama tak punya kenangan menyenangkan di antara mereka, jadilah pertemuan kembali itu malah memantik api amarah dalam diri masing-masing atas dendam yang tak sudah-sudah. Sejak kecil hingga saat ini, Suri masih bisa meladeni tinggi badang Sabrang karena ia cukup jangkung untuk ukuran wanita Indonesia, jadi ketika berdiri berhadap-hadapan begini, ia tak perlu memangkas kepercayaan dirinya untuk tak mendongak ketika harus berbicara empat mata dengan lelaki itu. Seperti saat ini, ia dengan leluasa menilai dan mencari-cari apa ada sesuatu yang salah pada diri Sabrang dewasa. Tentu saja tidak, sama seperti ketika ia masih kecil dan saat dirinya beranjak remaja, lelaki ini masih dalam kategori sempurna. Dirinya tampan dengan fisik mengesankan. Bagaimana menceritakannya tanpa takut akan berlebihan, entahlah, ia memang tampak seperti model katalog majalah pakaian dalam pria dewasa. Dan tentu saja, kesempurnaan itu tak akan lengkap dengan otak cerdas cemerlang yang membawa kakinya melangkah mudah pada tempat-tempat tertinggi pada penilaian pribadi dan penilaian masyarakat, sehingga patut rasanya ia terasa sulit dijangkau. “Apa kau sudah beristri?” tanya Suri tiba-tiba. Satu alis Sabrang terangkat naik. “Apa pedulimu?” “Aku memang tak peduli karena aku hanya bertanya. Tapi kalau pun benar kau sudah beristri, aku jadi kasihan padanya.” Suri berhenti sejenak, Sabrang menunggu kata-kata selanjutnya. “Aku rasa, perempuan itu adalah perempuan paling tulus di muka bumi ini, dan kau tau kenapa? Karena ia rela tak dibayar sebagai tempat tumpahan semua perangai burukmu, sifat angkuhmu dan mulut bengismu.” Setelahnya, perempuan itu tersenyum. Bibirnya melebar ke pipi tapi matanya melotot, persis seperti Ibu Ratu Suzana yang tengah menakut-nakuti para peronda malam. Sabrang menyipitkan mata tapi tak ada balasan dari mulutnya, entah apa yang dipikirkannya. “Kenapa aku harus bertemu orang sepertimu,” kata Sabrang dengan nada penuh ejekan. “Perdamaian dunia akan lebih mudah terwujud jika tidak ada makhluk aneh sepertimu yang punya bibit laten seorang provokator.” Suri melangkah satu langkah ke depan, lalu berbisik ke telinga Sabrang; sebuah gerakan yang disadarinya sangatlah beresiko. “Aku hanya senang membuatmu marah, Sabrang, dan kau tau kenapa? Karena aku tertarik denganmu.” Ketika perempuan itu menarik kepalanya kembali, Sabrang bisa merasakan bulu-bulu halusnya berdiri. Napas yang terasa hangat menyapu lehernya, gerakannya yang halus membuat hatinya terasa cenat cenut, hal-hal aneh mulai bermuncul di dalam pikirannya termasuk… “Kalau sudah tidak ada lagi, saya mau balik ke kantor, Letnan,” kata Suri tiba-tiba sopan. Sabrang mengerjap, semua bayangan indah itu langsung kocar-kacir. “Ya, silahkan,” ucapnya pelan. Suri memberi hormat lalu pergi, meninggalkan lelaki itu bingung sendirian.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
67.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook