Lembar dua: Lantak

1084 Words
Surabaya, 2019 (two weeks before married) Hanya karena satu lingkungan pekerjaan, bukan berarti mereka bisa sering bertemu. Kantor Suri terletak di bagian belakang markas. Tugasnya adalah sebagai pengelola data yang membuatnya setiap hari harus berhadapan dengan layar komputer dan bolak-balik mengantarkan hasil print ke setiap kantor yang membutuhkan dokumen penting. Sedangkan Sabrang jarang ke belakang karena kantornya ada di bagian paling depan dan ia juga sepertinya memang lebih sering ke lapangan atau dinas luar ketimbang berada di dalam markas. Hal itu membuat Suri merasa bersyukur karena tak perlu melihat wajah amisnya setiap hari. Genap sebulan sejak Sabrang dimutasi ke Markas di Surabaya. Gosip yang beredar, Si Letnan ini bikin masalah di Jakarta makanya didepak ke ujung Pulau Jawa. Masalahnya apa, tidak ada yang tau pasti tapi konon penyebabnya karena ia melawan perintah atasannya. Menurut Suri gosip itu sangatlah mengada-ada karena Sabrang sedari dulu dikenal sebagai anak patuh dan taat peraturan, lihat saja mukanya yang datar atau sikapnya yang kaku, itu saja sudah menandakan betapa tak punya perasaan dirinya.Hatinya terbuat dari kaleng rombeng yang tak berguna untuk menampung jenis perasaan apa pun. Jadi, Suri tak peduli, ia biasa-biasa saja ketika tau ada pergantian jabatan yang dikatakan oleh atasannya sebulan yang lalu. Siapa yang menggantikan siapa, waktu itu Suri tak ambil pusing karena tak ada hubungannya dengan dirinya atau pekerjaannya, tapi ketika melihat betul-betul daftar nama yang akan melaksanakan Sertijab, ia baru berseru kaget saat melihat sebuah nama, Sabrang Rajendra, nama yang menghantuinya selama sepuluh tahun terakhir. Kenapa? Bagaimana? Untuk apa lelaki itu harus hadir lagi dalam hidupnya. Ini bukan soal putus cinta yang berdarah-darah atau semua yang pernah diceritakan oleh seorang penulis spesialis patah hati di dalam ceritanya, bukan, bukan itu, tapi ada hal yang lebih pelik dan itu bersangkut paut dengan kepergian ibunya. Dan ketika lelaki itu—untuk pertama kali mengajaknya berbicara setelah sebulan pura-pura tak mengenalinya, sungguh hanya membuat Suri ingin mengeluarkan cakar lalu merobek-robek wajah tampan Sabrang hingga lelaki itu mati berlumuran darah di kakinya. Dan hari ini, tepat pada hari ke-10 setelah Sabrang mencegatnya di lapangan upacara dibawah tiang bendera, mereka kembali berhadap-hadapan dalam posisi duduk di sebuah private room sebuah restoran mewah di Kota Surabaya. Saat melihat sekelilingnya tiba-tiba saja Suri ingin tertawa, mencemooh Sabrang yang berlebihan. Memangnya hal apa yang ingin dibicarakannya sampai-sampai lelaki itu harus melakukan reservasi mendadak dan mem-booking satu ruangan—yang biasa digunakan untuk makan malam satu keluarga besar— hanya untuk mereka berdua saja. “Apa kau berencana meledakkan istana negara?” tanya Suri. Memang haruslah rencana yang cukup besar untuk persiapan serahasia ini. Coba lihat saja tindak tanduk lelaki itu, tak berhenti bersikap waspada sekaligus curiga pada semua benda di dekat mereka. Meja, kursi, bahkan dinding sekali pun tak berhenti diceknya sedari tadi. “Berhenti," seru Suri. "Kau membuatku gelisah. Katakan saja kalau kau jatuh cinta dengan lelaki lain, aku jamin aku bisa menutup mulutku rapat-rapat.” Sabrang yang tengah membungkuk—memeriksa apa ada sesuatu yang mencurigakan di bawah meja, cepat-cepat menegakkan tubuhnya tapi gerakan tiba-tiba itu malah membuat kepalanya membentur daun meja cukup keras. Suri menyumpahinya dan berkata, “Mampus!!!” dengan nada puas. Lelaki itu kembali duduk tenang. Ia merapikan kemejanya yang sudah rapi lalu meluruskan rambutnya yang sudah lurus. Suri gemas dan ingin sekali mengangkat meja dan menjatuhkannya lurus-lurus tepat ke kepala Sabrang, biar semua setan yang menghuni tubuhnya keluar dan tak kembali-kembali lagi. “Aku bukan gay,” ketusnya. “Aku sangat menyukai perempuan.” Suri geleng-geleng kepala ala orang India. “Oh, aserehe mareje, aca aca. Aku senang sekali mendengarnya, Ranjit. Jadi selama ini kau bukan gay tapi gay vegetarian. Apa kau b******u dengan daun selada, Rohit?” Terdengar tarikan napas susah dari dalam diri Sabrang. Seharusnya ia sudah terbiasa dengan perangai Suri yang satu ini, kalau diajak bicara baik-baik, kelakuannya bisa serandom ini, menyebalkan dan menyusahkan. Tapi, misinya harus terlaksana kalau tidak bisa-bisa ia terkena stroke dadakan karena terlalu banyak berpikir. “Bisakah aku bercerita terlebih dahulu,” pintanya pelan. Karena Sabrang jarang-jarang meminta tolong, jadi khusus hari ini, Suri memaafkannya. “Silahkan.” Sabrang mengangguk. “Aku punya pacar.” Suri kaget. “Kau berselingkuh dari istrimu?” “Bukan. Maksudku…bukan, aku belum menikah, Suri. Jadi…” Ia mengambil napas sejenak sebelum melanjutkan kata-kata yang kelihatannya sangat susah untuk diucapkannya. “Pacarku memutuskan hubungan kami saat aku melamarnya dua hari yang lalu.” “Oh kasihan.” Kepala Suri geleng-geleng prihatin. “Yang kedua, Yai Rachman sedang sakit keras, dokter memvonis umur beliau tak lama lagi, mungkin hanya setahun.” Nah ini baru berita paling mengagetkan untuknya. Yai Rachman, kakek Sabrang yang paling dihormatinya yang sudah dianggapnya kakeknya sendir lelaki yang dulu berbaik hati menyekolahkannya, yang membela ibunya mati-matian, yang ikut mengantarkan jenazah ibunya ke liang lahat, yang menangis saat Suri berpamitan pergi dan yang tak pernah lagi diberinya kabar hingga hari ini. Pak tua baik hati itu akan meninggal dunia? Di antara rasa perih yang menyerang ulu hatinya tiba-tiba, Suri masih ingin bertanya kepada Sabrang. “Apa hubungan tragedi cintamu dengan keadaan Yai?” Selanjutnya yang didengar Suri adalah hal yang paling egois yang pernah didengarnya dari seseorang. “Yai Rachman akan mencairkan seluruh hartanya untuk kami. Aku dan semua saudaraku akan mendapatkan warisan kami dengan syarat…dengan syarat bahwa warisan itu hanya untuk cucu yang sudah menikah. Semua saudaraku sudah, hanya aku yang belum. Masalahnya…” Sabrang berhenti tiba-tiba, bisa dilihatnya tangan Suri yang tengah memegang gelas berisi air berrgetar hebat. Matanya melotot marah, urat-urat lehernya menegang. Sabrang memutuskan untuk mengambil resiko, ia melanjutkan apa yang sempat terputus tadi. “Sekar tidak mau kuajak menikah, perempuan itu sudah pergi ke Kanada kemarin malam. Aku harus segera menikah karena dua minggu lagi Yai akan menanda tangani surat pelepasan hartanya. Aku hanya butuh istri selama setahun untuk mendapatkan kepercayaan dari Yai bahwa aku sudah serius dengan hidupku.” Suara dengusan dari hidung Suri terdengar seperti banteng marah. Syukurlah ia bukan banteng suguhan yang buta warna, jadi ia bisa menghancurkan Sabrang meskipun pada hari itu ia tidak memakai kemeja warna merah. “Jadi, setelah Yai meninggal?” Suara Suri tertekan dalam, menandakan ia sedang diamuk kemurkaan. “Kalau kau mau jadi istri setahunku, kita bisa bercerai setelah Yai meninggal.” Cukup! Dengan seluruh tenaganya, Suri melemparkan gelas dalam genggamannya ke kepala Sabrang; refleks hebat menyelamatkan nyawanya, lelaki itu berkelit halus, gelas itu menghantam dinding di belakangnya, hancur berkeping-keping dengan semua belingnya luruh ke atas lantai. Sabrang memelototi Suri yang balas mendelik padanya. “Kau mau membunuhku, Hah?!!!” “MATI SAJA KAU b******k SIALAN!!!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD