Lembar Tiga: A Wish For (Suri)

1602 Words
Palembang, 2004 Dalam satu kali hidupnya, entah sampai dimana umurnya, Suri ingin tinggal di tempat yang sejuk. Tak hanya sekedar tinggal, ia juga ingin mati, ditimbun oleh tanah sedikit basah, lunak dan dingin. Separuh harinya akan dihabiskan di luar, dimulai dari yang tak mungkin yaitu menangkap halimun dan dimasukkan ke dalam toples. Kemudian mandi di bawah pancuran air dingin, memilih-milih batu apung yang berguna untuk menggosok tumit kaki. Rumahnya terbuat dari batu, beratap jamur seperti pondok-pondok para peri; terletak di atas bukit, bersulam hamparan sawah serta pokok-pokok kayu berdaun rimbun. Pagi hari saat membuka jendela, dua pot daun mint menanti untuk disayang dengan sedikit luruhan air untuk daun-daunnya yang hijau. Tidak ada pilihan musim, cuaca atau suhu. Setiap hari, angin bukit akan menderu deras, menggoyangkan pucuk-pucuk pohon, semak, rerumputan dan kelopak bunga. Hujan datang pada pukul sepuluh, berhenti pada pukul tiga. Teh daun melati dan camilan manis menemani dirinya menunggu. Membiarkan air dan angin membasahi permukaan, menyapu gundah gulana, menyelimutinya dalam rasa aman. Oh, betapa ia sangat menyukai tinggal di pedesaan, dekat dengan belantara perbukitan, sawah, capung, keong dan kodok. Embikan kambing, lenguhan sapi, ributnya suara jangkrik dan gemericik air dari pancuran bambu dan tiupan angin yang menyapu anak-anak rambutnya. Bukannya… Tinggal di kota terpanas di negara ini, pada rumah dua lantai tak jadi, sempit dan harus melihat muka Sabrang setiap hari. Menyebalkan. Rumah itu seharusnya dua lantai, tapi uang bapak habis ketika dinding dan atap terpasang. Jadi, terpaksa empat jendelanya ditutupi kayu dan pintunya dipasangi kain terpal yang dicopot dari baliho pasca kampanye calon anggota dewan. Ibuk tak membiarkannya dirinya membuat sarang untuk dirinya sendiri, karena beliau takut ada pencuri masuk lalu menculiknya untuk sebuah tebusan. Menurut Suri, itu tidak pernah terjadi, pertama: tidak ada pencuri yang mau menculik anak gendut karena itu akan teramat merepotkan. Kedua: dilihat dari sudut manapun, rumah yang mereka tinggali tidak memberi tanda-tanda keberadaan uang agak seribu rupiah, yang membuat pencuri paling bokek sekali pun akan melewatkannya begitu saja. Tapi ibuk tetap memaksanya tidur di lantai bawah, di atas bale bambu, di seberang dipan Nek Sarminah sedangkan beliau memilih tidur di lantai beralaskan selimut yang berasal dari kain-kain sisa jahitan, ya, ibunya dalah seorang penjahit baju dengan masih menggunakan metode jahit kuno, upah murah, dua mesin jahit satu mesin obras dan tidak begitu menghasilkan uang lebih, walau hanya untuk sekedar membeli satu set kursi ruang tamu. Menurut Suri, mereka belum membutuhkan kursi ruang tamu karena mereka memang tak punya kenalan untuk bertamu; lagipula rumah mereka memang tidak layak menerima tamu karena separuh dari ruangan sudah habis ditutupi sisa-sisa kain, benang dan sampah sedangkan separuhnya lagi habis sesak oleh barang-barang Suri, buku, baju seragam, mainan dan bungkus cemilan. Di belakang ada dapur dan kamar mandi, tidak ada halaman belakang untuk menanam sayur pun halaman depan yang langsung berhadapan dengan jalan kendaraan. Mereka miskin, sangat miskin tapi ibuk berjanji akan tetap menyekolahkan Suri sampai perguruan tinggi. Kemana bapaknya? Bapak sudah lama mati. Paru-parunya kena rampok asap rokok, asap kendaraan dan debu jalanan. Suri masih kecil waktu itu, ketika seorang lelaki datang tergopoh-gopoh ke rumahnya dan berkata kalau bapak sudah tak bergerak di atas becak sewaan yang digunakannya untuk menghasilkan sedikit uang. Ibuk tidak menangis menerima kabari itu, ia hanya diam dan berkata dalam suara tenang meminta tolong untuk mengantarkan jenazah pulang ke rumah. Dan tak seperti istri-istri kebanyakan yang akan meraung-raung dan menepuk-nepuk d**a, ibuk tak berkata apa-apa sehabis bapak dikebumikan, balik ke rumah, menjerang air, menanak nasi dan memberi makan ibunya dilakukan tanpa suara, bahkan setelah Suri menginjak bangku sekolah menengah, tak sekalipun ia melihat ibuk meneteskan air mata untuk alasan apa pun, apalagi untuk suami yang telah lama mati. Suri tidak mengerti kenapa, mungkin saja karena memang tidak ada cinta di antara mereka, atau memang tidak pernah ada cinta sedari awal. Entahlah, mana di antara dua yang benar. Nenek Sarminah secara teknis adalah ibu tiri bapak. Jadi, ibuk merawat mertua tirinya dan seorang putri gendut banyak makan seorang diri dari hasil upah jahitan yang tak seberapa. Tapi, Nenek Sarminah tak pernah tak tau diri. Suri adalah cucu kesayangan yang disayang dan selalu dimanja. Sewaktu stroke belum menyerang persendian, beliaulah yang membesarkan Suri, memandikan, menyuapi makan dan mengajarinya mengaji karena hari-hari ibu habis terpakai untuk membanting tulang mencari selembar dua lembar rupiah. Meskipun miskin dan tak punya bapak, Suri adalah anak paling bahagia dimuka bumi, karena ia begitu disayang dan dicintai. Pagi itu seperti biasa sebelum berangkat sekolah, Suri wajib makan pagi biar sebelum istirahat siang, ia tak pingsan kelaparan. Jualan ibuk tak bermodal besar, hasil dagang kemarin itulah yang diputar kembali untuk hari ini, jadi Suri terpaksa makan lebih banyak nasi daripada lauk, sesekali nasinya diberi ibuk kuah tekwan sebagai penambah rasa enak. Beras yang mereka santap adalah raskin alias beras pembagian pemerintah yang bewarna merah kusam, saat tanak teksturnya keras dan rasanya tak enak, tapi beras itulah yang menyelamatkan perut mereka sehari-hari dan Suri bisa makan sepuas hatinya. Nek Sarminah sudah dibedaki ibuk dan memakai pakaian terbaiknya. Orangtua itu tergelak saat melihat Suri tengah berusaha memasukkan semua makanan ke dalam mulutnya sampai-sampai pipinya yang gembul seperti mau meledak saja. Kursi roda Nek Sarminah diletakkan ibuk di sebelah kursi bambu, setiap pagi, beliau akan menemani ibuk jualan sarapan pagi yang digelar di atas meja persegi panjang, mengharap ada yang datang membeli dan setelah lewat dari pukul delapan, ibuk akan membawa Mamaknya ke dalam lalu ia sendiri berangkat untuk rezeki selanjutnya; menjadi pembantu rumah tangga di keluarga Sabrang dan setelah sore menjelang, ibuk baru menjahit baju pesanan orang. Begitulah, seluruh waktunya dihabiskan untuk mencari uang. Hari itu hari pertama semester genap dan Suri sudah menginjak kelas dua SMP. Nek Sarminah diam-diam menyelipkan selembar lima ribuan pada cucunya dan berkata kalau ibunya tak perlu tau. Suri mengedipkan mata kemudian pamit berangkat sekolah. Untuk mencapai sekolahnya, gadis itu harus berjalan kaki menyusuri sebuah parit lebar yang membelah beberapa kecamatan. Parit itu memang tak sebaiknya mengalir di dalam kota, pikir Suri, saat ia harus memutar jauh jika air sungai meluap dan membanjiri jalan yang bisa ia lalui ke sekolah. Luapan air itu busuknya bukan main karena memang hanya berisi sampah dan kotoran manusia. Tapi hari itu untunglah memasuki musim kemarau; hanya ada sedikit air di alam parit tapi nyamuk dan lalat berterbangan mengerubungi tumpukan sampah, memakannya dengan suka cita. Suri bukan siswa teladan, ia rata-rata air, tak bodoh juga tak terlampau cerdas, ia suka berteman. Temannya banyak, bahkan kakak-kakak kelas tiga juga menyukainya yang ramah dan jenaka. Mekipun bentukan fisiknya yang besar acap dijadikan lelucon Suri tak serta marah atau merajuk, ia akan membalas hinaan itu juga dengan hinaan, karena ia adalah penganut mata balas mata, gigi balas gigi. Ia akan mengembalikan apa yang diterimanya, dengan adil. Kau baik aku lebih baik. Kau jahat aku lebih jahat lagi. Menunggu bel berbunyi, Suri memilih duduk di undakan depan kelasnya bersama Tiara yang mungil. Dari jauh mereka tampak seperti ibu dan anak karena Suri berkali-kali menepuk kepala Tiara setiap kali gadis kecil itu selesai bercerita. “Aku suka sama Sabrang.” Kepala Tiara menunduk saat mengungkapkan perasaannya. Ia terlalu malu karena telah bicara terus terang. Suri kembali lapar melihat Iwan yang sedang mengganyang pempek di sebelahnya. Dalam bayangannya, kepala Iwan telah berganti dengan pempek adaan raksasa. “Kau suka si Sapri?” “Namanya Sabrang. Bukan Sapri.” “Terserah. Kok bisa kau suka sama hantu blau kayak dia?” Mata Tiara berkedip-kedip, senyumnya malu-malu. “Ganteng,” katanya setengah berbisik. Suri berdecih. “Muka kayak iwak belido itu kau bilang ganteng. Mata kau picek.” Iwan tertawa mendengar Suri mengumpat. Anak lelaki itu memberikan jempolnya sebagai persetujuan. “Tidak baik begitu. Kata ibuku, jangan terlalu benci sama seseorang, karena bisa saja kau nanti kawin sama dia.” Tiara menunjukkan muka masamnya pada Suri yang telah menghina anak lelaki paling tampan satu sekolahan. “Aih. Macam tak ada saja laki-laki di dunia ini. Lagipula kalau kau sampai kawin sama Si Sapri kau pasti bakal beranak ular air tawar.” Belum sempat Tiara membalas, sebuah bayangan panjang muncul di hadapan mereka. Iwan membawa bungkusan pempeknya menjauh, karena Sabrang hendak masuk ke dalam kelas; menatap Suri dengan wajahnya yang dingin. “Minggir.” Tiara lekas-lekas beranjak menyusul Iwan merapat ke dinding kelas. Suri yang kebetulan memang duduk di tengah-tengah jalan masuk sehingga badan besarnya menghalangi siapa saja, tidak bergeming, ia tetap dengan muka bloon tak pedulinya. “Apa kau tuli, Sugeng?” Selidik Sabrang, sekarang rautnya berganti galak. Suri tegak berdiri dan ia lebih tinggi dari Sabrang, matanya melotot mengerikan. Normalnya, siapa saja akan ketakutan melihat genderuwo mengamuk tapi tidak dengan Sabrang. Walaupun ia pendek dan jauh lebih kurus, namun tak terbersit sedikitpun rasa takut dalam dirinya, baginya Suri bukanlah sebuah ancaman. “Apa kau tak lihat jalan lain, Sapri?” “Jalanku tertutup perut gembrotmu itu. Ck, ck, ck…manusia normal makan nasi kalau kau makan anak sapi.” Kepala Suri terdengak ke belakang saking semangatnya ia tertawa. “Berarti yang kumakan kemarin itu bapakmu dong, Sapri Si Sapi.” Iwan dan Tiara menutup mulut memblokir tawa yang tersembur mendengar hinaan Suri. Melihat muka Sabrang yang merah padam karena amarah, Suri makin menjadi-jadi, ia menubruk-nubruk d**a Sabrang dengan dengan tubuh gemuknya hingga anak lelaki itu terjatuh tepat di pantatnya sendiri. Tawa Suri menggelegar dan memancing murid-murid lainnya, mereka mulai berkerubung untuk menyaksikan pertarungan abad ini. Tapi itu pun tak lama. Bel sudah berbunyi, pelan-pelan lingkaran penonton pun bubar. Suri mencibir Sabrang yang masih terduduk di ubin halaman, bocah lelaki itu masih marah. Suri tak peduli. Ia berniat beranjak menuju barisan upacara bendera tapi kaki Sabrang tiba-tiba menjegalnya, Si Tambun Suri jatuh ke depan, wajah bulatnya yang terlebih dahulu menghantam bumi. Sabrang tertawa sampai kiamat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD