Lembar Empat: Boy-A

1171 Words
Namanya Aidan dan Suri sudah lama menyukainya. Aidan pindah ke Kota Palembang saat mereka berusia sebelas tahun dan muncul di kelasnya sebagai anak baru. Suri tak tau apa namanya perasaan yang dirasakannya ketika itu karena yang ia rasakan adalah gelombang yang membuat kapalnya oleng saat memandangi kedua mata Aidan yang tenang dan teduh. Rambutnya yang lurus dan berkilauan membikin mata Suri sedikit silau sedangkan kulitnya yang pucat membuat Suri iri karena merasa Aidan jauh lebih cantik darinya. Ai, begitu panggilan sayang Suri pada anak lelaki itu. Badannya kurus dan terlihat ringkih, satu kepala lebih pendek darinya dan tampak tak berminat pada pelajaran olahraga. Bicaranya pelan, langkah kakinya juga, saat tertawa, Ai lebih manis dari kembang gula pasar malam dan ketika memandang matanya, Suri merasa anak lelaki itu tengah berbicara pada jiwanya. Alah! Berlebihan. Memang sih tapi bukankah seperti itu rasanya jatuh cinta? Dunia yang seluas ini terasa menyempit pada satu orang saja. Malamnya terasa panjang karena selalu tak sabaran bertemu Aidan pada pagi harinya. Ia lebih mudah berkonsentrasi pada pelajaran jika bocah lelaki itu absen karena sakit atau ada acara keluarga, dilain hari, ia bahkan tak tau apa yang tengah diterangkan guru di depan kelas. Aidan dan Sabrang hampir mirip secara karakter. Sama-sama patuh dan taat. Tekun belajar dan selalu berkejaran dalam rangking sekolah. Semester ini Sabrang yang juara, semester berikutnya giliran Aidan. Rivalitas itu jadi buah bibir di sekolah mereka dan membuat anak-anak perempuan terbagi dalam dua kubu, Sabrang Mania dan Aidan Lovers. Suri meludah saat membaca form pendaftaran “Sabrang Mania” bagi murid kelas satu yang ditempel di majalah dinding sekolah. Ia tertawa keras-keras dan berkata orang gila mana yang mau-maunya dikibulin grup “SAWAN” yang dipelesetkannya dari kata SAbrang MANia. Suri merenggut kertas pendaftaran tersebut lalu melemparkannya ke kepala Sabrang yang kebetulan lewat di belakangnya. “Wah, si Sabrang Sawan sekarang sudah jadi artis nih, hahaha.” Sabrang membalasnya dengan melempari Suri dengan batu sekepalan tangan. Batu besar itu salah sasaran dan malah mengenai kaca jendela kelas III/A alih-alih ke kepala Suri yang menjadi niatan awal. Tawa Suri makin keras dan berteriak, “Mampus kau Sawan!!!” lalu berlalu dengan perasaan puas yang tak terbantahkan. Sabrang terpaksa merogoh sakunya mengganti sepetak kaca jendela yang hancur berantakan karena ulahnya sendiri. Ia juga kena marah guru karena sudah bikin gaduh dan membuat anak-anak tak berani masuk kelas karena takut tergores beling. Pelajaran berikutnya setelah istirahat jadi sedikit tertunda karena tidak ada anak yang mau membantunya menyapu pecahan kaca, para penggemar Sabrang yang rata-rata adalah cewek manja yang alergi sapu hanya bisa melihat dari jauh dan memberi semangat. Suri datang setelah Sabrang yakin kalau ia telah membersihkan lantai dari butiran kaca paling kecil Gadis itu membawa serokan bersamanya lalu mengambil alih sapu dari tangan Sabrang dan menggantikannya bekerja. Sabrang membiarkan karena ia bingung juga mesti bagaimana lagi. “Ini memang pekerjaan pembantu,” kata Suri. Ia menyapu ulang dan melebarkan area sapunya karena takut ada beling kecil yang lompat jauh. “Ini karena ulahmu, Sugeng!” bentak Sabrang masih marah. “Ya, ya. Aku sudah menolongmu jadi sekarang kita impas.” “Siapa yang menyuruhmu menolongku!” “Tidak ada. Itu karena aku baik,” kata Suri sembari memasukkan pecahan beling ke dalam tong sampah. “Dengar kau ya, seumur hidup aku tak akan pernah meminta pertolongan padamu.” Suri angguk-angguk bosan. Ia balas memandang mata Sabrang yang berapi-api penuh pendirian. Gadis itu berdecak-decak dan beranjak ke arah pintu, tapi sebelum itu ia masih sempat membalas si anak lelaki. “Nanti kalau kita bertemu lagi, hal pertama yang akan kau lakukan adalah berlutut memohon sesuatu padaku.” Siang berikutnya setelah Sabrang salah lempar batu, Suri tengah duduk berdua dengan lelaki kesayangannya di undakan kelas paling ujung yang menghadap ke kantin sekolah. Setiap istirahat memang begitu, yaitu mudah sekali menemukan keberadaan mereka berdua di ujung lorong, duduk-duduk sambil bercerita. Suri punya banyak teman tapi ia lebih senang mengobrol dengan Aidan. Jika semua murid wanita sering bimbang hendak berlabuh di fans club yang mana, kaki Suri tak pernah beranjak dari sisi Aidan ia adalah suporter nomor satu dan garda terdepan dalam pembelaan. Ia akan melakukan apa saja untuk bisa dekat dengan sang pujaan hati dan demi mendapatkan perhatian Aidan padanya. Ya katakanlah kalau ia adalah contoh b***k cinta yang sebenarnya, bagi Suri Aidan adalah segala-galanya. Tadi, Aidan datang membawakan Suri sebotol minuman dingin. Anak lelaki itu berhasil membuat Suri salah tingkah dan hampir memakan tangannya sendiri. “Ai nggak makan?” Rambut halus Aidan bergerak lembut saat ia menggelengkan kepala. Kulit putih susunya membuat bocah lelaki itu seperti porselen hidup. “Kenapa nggak makan? Ai puasa.” “Nggak. Aku nggak lapar.” Suri ingin menjilat bibir Aidan untuk merasakan manis senyumannya. “Kenapa? Kok bisa ada manusia yang nggak lapar.” Seseorang datang dari belakang lalu tiba-tiba menoyor kepalanya dengan kasar sampai semua rambutnya terlempar ke depan. “Oi bontet! besak perot makan sebaskom!!!” Piring plastiknya yang berisi lontong sayur tumpah ke tanah. Makanan yang terlanjur dikunyah meluncur turun melalui kerongkongan dan membuatnya tersedak. Aidan buru-buru membuka tutup botol minuman yang tadi diserahkannya lalu membantu gadis itu minum. Setelah deritanya reda, barulah Suri bisa menoleh ke samping dan bisa melihat Sabrang nyengir dengan muka tak bersalah. Tangan Suri terangkat mengayunkan piring bekas lontong ke muka Sabrang. Cengiran anak lelaki itu kuncup saat wajahnya ditampol tanpa aba-aba. Sabrang berteriak marah, pipinya panas dan perih. “Kampang, kau!” Sabrang mengumpat. Mendengar kata kotor itu, Suri makin menjadi-jadi. Dicengkeramnya kerah seragam Sabrang lalu anak itu diangkatnya tinggi-tinggi sebelum dijatuhkannya ke bawah. Kedua kakinya tak tinggal diam, Sabrang habis diinjak-injaknya. “Mulutmu, Boi! Jangan mengumpat perempuan! Apa kau tak diajari mamak kau, hah!” Sabrang harus diopname beberapa hari di rumah sakit. Nyonya Cendrawati mengamuk dan hampir membujuk suaminya membawa satu batalyon tentara untuk merubuhkan rumah yang ditinggali Suri, ibu dan neneknya. Ibu sampai berlutut di hadapan Sjafrie Nasution dan istrinya, memohon agar membukakan pintu maaf bagi Suri. Suri marah melihat ibunya yang seperti tak punya harga diri. Sambil menangis ia menarik-narik lengan ibu untuk berdiri lagi dan membalas semua hinaan Nyonya Cendrawati. “Anak kau yang pertama berulah, kenapa aku yang harus minta maaf!” seru Suri dengan berani. Ia tak takut dengan seragam tentara Om Sjafrie, baginya yang paling menakutkan adalah martabatnya diinjak-injak oleh orang-orang zalim. “Kau membunuh anakku!” Mata Nyonya Cendrawati hampir mencelat keluar saking semangatnya memelototi Suri. Perempuan itu mendengus-dengus seperti banteng ngamuk. “Aku juga kepengin lihat anak kau mati, tapi patah tulang sudah bikin aku senang!” “Kau gilo!!!” Nyonya Cendrawati mengaum marah, cakar-cakarnya menjulur ke depan siap mencabik-cabik Suri. Untunglah Om Sjafrie cepat menghalangi amukan istrinya, lelaki itu menahan tubuh Cendrawati dan meminta Suri dan ibunya untuk pergi. “Tenanglah. Tak satupun tulang Sabrang yang patah, anakmu itu cuma tergores kakinya.” “Cuma, abang bilang? Cuma? Apa abang idak dengar kata dokter?” Selanjutnya Suri tak tau lagi apa yang sebenarnya dikatakan dokter, karena ia sudah keluar dari kediaman keluarga Sjafrie. Tapi ia harap, Sabrang mati dan tak lagi menganggunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD