Lembar Delapan: Nomor Sembilan

1023 Words
Setelah seharian mengajak para murid beraktifitas bersama, para guru berinisiatif untuk mengadakan acara api unggun. Anak-anak menyambutnya dengan antusias dan mulai mengumpulkan kayu bakar dari hutan kecil yang terletak di bawah lokasi camping mereka. Suri yang pendiam sejak kejadian tadi siang hanya mengikuti arus menyusul mereka yang sudah duluan bekerja demi acara yang akan dilangsungkan nanti malam. Cewek dan cowok berbincang-bincang dan berbagi ide soal apa saja yang bisa mereka lalukan nanti malam. Suri hanya mendengar sekali lalu karena pikirannya kacau dan tak menetap pada satu waktu, satu wajah atau satu peristiwa, ibarat benang kusut, pikiran itu tak jelas ujung pangkalnya. Suri bahkan tak sadar Aidan sudah jongkok di dekatnya yang sedang mencabuti rerumputan yang tak perlu, ia baru menoleh ketika Ai menyapanya dan bertanya apa yang sedang dilakukannya. “Nyari makan malam,” jawab Suri sambil tersenyum tipis. “Rumput?” tanya Aidan ragu-ragu. “Iya,” tawa Suri. “Aku kan gajah.” Dalam situasi lain, mungkin pemuda itu akan ikut tertawa bersamanya tapi kali ini yang diucapkan Suri sangat menyakiti perasaan yang mendengar apalagi yang berbicara. Suri tak pernah seperti ini sebelumnya, gadis itu selalu punya balasan telak bagi siapa saja yang berani mengejeknya, namun entah kenapa kali ini tidak seperti biasa, apa Sabrang melakukan sesuatu yang tak biasa pada gadis itu? Sejauh mana Sabrang menyakiti Suri? “Kamu cantik kok.” Tangan Suri berhenti bergerak, tekstur rumput begitu kasar di kulitnya. Ia menatap Aidan bingung, ada riak kecil aneh di hatinya dan Suri tak tau apa jenis perasaan tersebut. “Kamu cantik, Suri,” ulang Aidan. “Cantik karena wajahmu yang selalu ceria, sifatmu yang jenaka, hatimu yang baik dan karena kau tak pernah pilih-pilih teman.” Suri membawa kembali kepalanya memandangi rumput dan ujung sepatunya. Perkataan Aidan sedikit masuk akal jika memang itulah yang dimaksudkan pemuda itu sebenarnya karena kalau tadi Aidan merujuk kata cantik pada bentuk fisiknya, barulah itu yang dinamai dusta. “Terima kasih,” jawab Suri mengulum senyum. Aidan mengajaknya berdiri dan menyarankan melakukan aktifitas yang lebih bersemangat dibanding jongkok seperti orang ambeien. Suri tertawa dan menyetujuinya. Ia kembali cerah dan menyusul Aidan yang terlebih dulu berjalan. Mereka bersisian, tepatnya Suri yang menempel ke lengan Aidan. Tinggi badan mereka tidak jauh beda, mungkin Ai hanya lebih dua sentimeter dari dirinya yang 168 cm tapi itu tak menjadi soal, karena Aidan tak pernah mempermasalahkannya. Ketika memunguti kayu bakar di dalam hutan kecil bersama anak-anak lainnya, Suri bisa melihat puncak kepala Sabrang di antara banyak anak yang mengelilinginya. Pemuda itu bertambah tinggi dan tak terkejar lagi setelah mereka memasuki bangku sekolah menengah atas. Ia kapten tim basket sekolah. Perwakilan provinsi untuk Paskibraka Nasional. Kapten tim karate dan entah titel apa lagi yang disandangnya. Sabrang punya segala hal yang bisa dipamerkannya pada dunia, tapi bagi Suri, ia hanya ingin lelaki itu mati saja, biar ia bisa hidup tenang dan tak perlu melihat wajahnya lagi. Malam yang dinanti anak-anak sudah di depan mata. Tidak ada bulan tapi bintang bertaburan seperti manik-manik di atas baju pengantin. Murid-murid duduk bersama teman-teman yang mereka sukai dan akrab, berkelompok-kelompok merapatkan diri mengelilingi api ungun. Bungkus-bungkus camilan dioper dari satu anak ke lainnya mereka menikmati makanan dalam suasana malam yang menyenangkan meskipun hawa dingin pegunungan membuat tubuh-tubuh menggigil kedinginan. Acara yang digagas guru dan murid saling melengkapi. Di mulai dengan kata sambutan dari Ibu Farida selaku wakil kepala sekolah yang datang belakangan, lalu nyanyian merdu Tiara diringi petikan gitar Hendra lalu ada permainan anak-anak yang selalu berakhir dengan tawa dan stand-up comedy dari anak-anak yang mengaku dirinya kocak. Suri tak banyak tingkah malam itu, ia bahkan menolak ketika beberapa anak menyuruhnya untuk melucu. Gadis itu bertahan sepanjang malam dengan mulutnya yang tertutup rapat, ia juga menolak ketika Aidan mengulurkannya sebatang coklat pemberian pribadi dengan alasan hatinya masih sakit dan coklat hanya menambah rasa gundah gulana karena camilan itu mengandung banyak gula. Aidan mengalah namun diam-diam menyelipkan coklat itu ke dalam saku jaket Suri. Tepat pukul 11 malam, mata-mata mulai mengantuk. Lingkaran yang melingkari api unggun pelan-pelan berkurang. Guru-guru berpamitan masuk ke dalam tenda sebelum memerintahkan semua murid untuk segera tidur. Mereka memberi izin bagi yang masih ingin menghangatkan diri di dekat api dan memerintahkan siapa saja yang terakhir tidur untuk memadamkan api. Beberapa anak masih bertahan di luar, diantaranya ada Sabrang, Aidan, Suri, Tiara dan tujuh orang lainnya. “Aku ada ide permainan,” usul Tiara tiba-tiba. Rambut pendeknya ditutupi benie berwarna hitam. “Apa? Main petak umpet? Di sini nggak ada tempat yang cukup besar untuk gajah sembunyi,” cemooh Sabrang dengan tatapan penuh ejekan pada Suri. Suri tak bereaksi atas hinaan Sabrang, malamnya terlalu damai untuk membalas mulut jahat yang telah menganggunya selama bertahun-tahun. Bagi Suri, keberadaan Aidan di sampingnya sudah cukup menenangkan hatinya, ia tak mau meributkan hal sepele dan menganggu tidur guru dan teman-temannya. “Bukan,” sela Tiara sembari mengedipkan matanya pada Sabrang. “Permainannya begini. Aku akan menulis angka di sedotan, nanti akan kubagikan random pada kita semua. Setelah itu aku akan menulis angka yang sama di sedotan-sedotan lain dan nanti akan kumasukkan ke gelas. Dan seperti arisan, satu orang akan mengambilnya dari gelas lalu sebutkan angka yang didapatnya. Setelah itu, angka itu akan dicocokkan dengan angka di sedotan yang kalian miliki, jika angkanya sama, maka yang tadi narik sedotan dari dalam gelas berhak menyuruh apa saja pada orang yang di sedotannya punya angka yang sama.” “Apa saja?” tanya Frans dengan muka culas. “Ya, apa saja.” Tiara mengangguk pasti. Sabrang menggerutu tak jelas, ia berkata kalau tak mungkin menulis pada sedotan. Tiara lalu masuk ke dalam tenda dan tak lama kemudian muncul dengan dua gelas di tangannya. Gelas pertama digilir pada setiap anak yang langsung menyembunyikan sedotan yang didapatkan lalu gelas kedua dikocok dan diberikan pada orang pertama. Gilang menarik satu sedotan lalu menyebutkan angka yang dilihatnya di sana. “Nomor lima.” Nomor lima adalah Andri yang langsung tertawa menyesal karena akan diperintah sahabatnya sendiri. Andri diperintahkan untuk menggonggong di tenda Bu Farida bersama dua orang guru perempuan lainnya. Pemuda itu terpaksa melakukannya karena harus taat pada permainan, alhasil, ia dimarahi habis-habisan oleh sang wakil kepala sekolah karena telah menganggu tidur nyenyaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD