Lembar Sembilan: Kelam, Diam

1046 Words
Semua anak terbahak-bahak sekembalinya Adri ke dalam lingkaran dan Bu Farida masuk lagi ke tendanya, Gilang bahkan guling-guling karena saking semangatnya tertawa. Tiara kembali memberikan gelas pada orang kedua. Kali ini yang dapat sial adalah Suci. Ia diminta untuk menakut-nakuti satu tenda anak perempuan yang diketahui dihuni oleh cewek-cewek penakut. Suci mengikik ala kuntilanak di depan tenda tersebut kikikannya disambut oleh teriakan-teriakan histeris penuh ketakutan. Tenda-tenda lain menjeblak terbuka, anak-anak berhamburan keluar dalam selimut masing-masing. Muka-muka mengantuk, kuap yang tak bisa ditahan dan sumpah serapah memenuhi area camping pada jam 12 malam. Bu Farida bertindak cepat memarahi lingkaran permainan yang digagas Tiara dan menyuruh mereka untuk bubar. Satu persatu mulai masuk ke dalam tenda masing-masing. Pak Hendra menyuruh Sabrang untuk mematikan api sebelum masuk ke dalam tendanya. Suasana kembali tenang lalu berganti hening. “Suri,” panggil Sabrang pada punggung Suri. Gadis itu dan Aidan tengah berjalan ke tenda masing-masing. “Kau masuk saja, aku perlu bicara dengan Suri.” Ia mengibaskan tangan pada Aidan yang kebingungan. “Bicaralah, aku baru masuk setelah kalian selesai,” tolak Aidan. Sabrang mendekati Aidan. Ia terlihat menakutkan menjulang tinggi di hadapan Aidan. Wajahnya yang keras seperti dijilat nyala api. “Apa aku perlu menyeretmu ke dalam? Masuk!” “Nggak apa-apa, Ai. Aku memang perlu bicara dengan dia. Masuklah, kalau dia macam-macam, aku akan memasaknya sampai jadi Sabrang guling.” Aidan masih cemas saat berjalan menuju tendanya, Suri memberikan senyuman menenangkan dan berjanji akan baik-baik saja. Setelah itu ia mengikuti Sabrang berjalan ke kegelapan malam dengan banyak pertanyaan di dalam kepalanya. Keduanya berdiri berhadap-hadapan di antara pohon-pohon teh yang tumbuh rapi. Di pucuk kepala hanya ada bintang dan lebih banyak lagi mereka, cahayanya tak terlalu terang tapi cukup bagi Suri untuk menantang mata Sabrang yang balas menatapnya. “Mau apa kau?” tanya Suri. “Sudah malam, aku mengantuk.” “Berapa nomor yang kau dapat?” Pertanyaan Sabrang membuatnya bingung, tapi ia tetap menarik sedotannya dan menemukan nomor sembilan di sana. Pemuda itu memperlihatkan sedotan di tangannya pada Suri dan nomor yang tertulis juga nomor sembilan. “Apa kau tak sadar, sebelum kejadian Suci tadi aku sudah menarik sedotan dari gelas di tangan Tiara? Aku punya nomor sembilan dan kau juga punya nomor yang sama. Jadi aku ingin melanjutkan permainan tadi.” Suri mendengus lalu tertawa. “Kau mengajakku ke sini hanya untuk bermain? Apa kau bakalan mati malam ini sampai-sampai tak bisa menunggu pagi untuk melanjutkan hal sekonyol ini? Ya TuhanSabrangkupikirpikir kau pintar.” Ia berdecak-decak tak percaya. Ganti Sabrang yang tertawa. “Aku memang pintar, Suri, untuk itulah aku memintamu ke sini dan memang tak ada hubungannya dengan sedotan sialan ini. Inginku adalah, besok pagi kau harus mencium Pak Sabang lalu mengaku cinta padanya.” Mata Suri terbelalak kaget saat mendengar perkataan Sabrang. “Apa kau bilang? Pak Sabang sudah punya pacar! Kau juga tau bulan depan dia mau kawin sama Bu Andini! Gila kau!!!” “Aku tidak gila, Sugeng! Aku cukup waras untuk membuat rencana mempermalukanmu, kalau bisa sampai kau dikeluarkan dari sekolah!” “Aku tidak bodoh! Aku tidak akan melakukannya!” “Kalau kau tak mau aku akan bilang ke Pak RT komplek kalau pamanmu itu seorang homo dan pecandu narkoba!” Suri semakin marah oleh ancaman Sabrang. “Apa hubungannya dengan Mang Tuci! Jangan ganggu dia! Dia keluargaku!” Sabrang mendekatinya dan menunjuk lurus wajah Suri dengan telunjuknya. “Justru itu! Aku muak bertetangga dengan orang-orang seperti kalian! Adikku sampai masuk rumah sakit karena ibumu, apa kau tak ingat?!” “Dia jatuh karena tak menghiraukan ibuku kalau tangga rumah kalian baru dipel! Dan Sofi cuma diopname seminggu, dia baik-baik saja sampai sekarang!” “Tetap saja kalian adalah orang-orang penganggu!!!” “Jangan mengada-ngada!!! Alasanmu tak masuk akal!” teriak Suri putus asa. Mang Tuci adalah satu-satunya keluarga yang ia punya selain Ibuk. Jika umur beliau tak panjang, kepada Mang Tuci lah nanti Suri meminta perlindungan. Sabrang tak bisa seenaknya mengusir lelaki itu hanya karena ia punya orientasi seksual berbeda, karena bagaimanapun ia juga manusia yang punya hak hidup dan merdeka; lagipula, Mang Tuci tak pernah menganggu orang lain dan tak pernah sekali pun menggoda lelaki di lingkungan mereka, mang Tuci punya kelompoknya sendiri, apa yang dilakukannya di sana adalah hak pribadinya. Sabrang benar-benar keterlaluan, sejak kapan ia suka menindas mereka yang berbeda dan merasa paling superior dibanding orang lain? “Aku akan meminta bapak untuk menghubungi RT/RW perihal pamanmu itu, lihat saja, takkan sampai tiga hari, kau dan keluargamu akan diusir dari kompleks!” Sabrang mendesiskan ancamannya pada Suri, mukanya terlihat makin beringas. “Kau lakukan perintahku besok pagi atau kita lihat saja sejauh apa tindakanku!” Sabrang berbalik dan melangkah pergi, Suri dalam kekalutannya berlari lalu menarik lengan Sabrang hingga pemuda itu kembali berhadapan dengan dirinya. “Nama kalian hanya beda satu huruf, aku ingin meminta pergantian,” pinta Suri. “Pergantian ap…” Tidak ada yang keluar dari mulutnya karena Suri sudah menutupnya dengan mulutnya sendiri. Gadis itu menciumnya. Erangan dari dadanya menandakan ada sesuatu yang serius tengah terjadi. Sabrang kembali meraup wajah Suri ketika gadis itu menyudahi ciuman yang disangkanya sudah cukup. Tapi tidak bagi lelaki itu, ia belum selesai, jauh dari kata selesai. Hawa semakin dingin pada pukul satu dini hari. Perbukitan mulai diselubungi kabut. Telapak daun-daun teh dijatuhi embun, begitu lembut di kulit. Oksigen rasa-rasanya semakin tipis, membuat Suri dan Sabrang harus berkali-kali menghirup udara baru sebelum kembali melumat dalam ciuman dalam dan sedikit sembrono. Lidah Sabrang menari-nari dalam mulutnya, mencicipi setiap inci bagian dalam. Suri membalas tak kalah antusias dan melenguh saat kedua pantatnya diremas tangan Sabrang yang lihai. Semuanya seperti diluar kendali akan sehat. Hanya napsu semata dalam permainan mereka. Tubuh saling memeluk begitu eratnya, tangan-tangan bergerak liar dan bergembira ketika menemukan titik-titik sensitif di tubuh si pria atau pun si wanita. Isi kepala kosong melompong, yang penuh adalah perasaan hingga tumpah memenuhi setiap inci kulit mereka. Jika ini tak segera dihentikan, kebun teh itu akan menjadi saksi percintaan masa muda keduanya. Dan ya, itulah yang terjadi. Secepat apa keduanya menempel oleh serangan ciuman Suri secepat itu pula Sabrang memisahkan tubuh keduanya. Lelaki itu mendorong Suri keras hingga gadis itu menghantam petak-petak pohon teh. Lelaki itu menyapu mulutnya dengan punggung tangan dan berkata. “Aku sudah tau kalau kau itu murahan!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD