Lembar Sepuluh: Fair & Square (Sabrang)

1064 Words
Palembang, 2000 Kalau ada yang iseng bertanya, sejak kapan ia membenci Suri, Sabrang akan menjawab: entah, aku tak tau tanggal pastinya, yang pasti sejak mereka kecil. Ia yang belakangan hadir di komplek perumahan itu, rumahnya bersebelahan dengan rumah kecil yang terlihat kumuh dan usang. Berapa umurnya waktu itu? Kira-kira sepuluh tahun dan si anak tetangga yang super gendut itu ternyata satu sekolah bahkan satu kelas dengannya. Suri betul-betul gemuk, lehernya nyaris tak kelihatan, lengan dan kakinya juga besar hingga Sabrang nyaris mengiranya sapi kurban saat anak itu berdiri memandanginya tanpa berkedip dari pagar yang membatasi rumah mereka. Awalnya, mereka biasa saja, hanya saling lihat dan mengira-ngira. Suri tak pernah tersenyum atau memandanginya malu-malu seperti kebanyakan anak perempuan di sekolah. Bocah itu memandanginya seolah-olah Sabrang baru turun dari pesawat UFO dari planet alien di luar angkasa sana. Sejenak, Sabrang mengira dirinya yang aneh, sepanjang hari ia sibuk mencari cermin, mengira dimana letak kesalahannya: apakah rambutnya, atau hidungnya mungkin bengkok seperti paruh burung, mungkin saja ada bulu tumbuh di kuduknya atau jangan-jangan, ada cabe menyelip kurang ajar di giginya yang berderet rapi. Tapi tidak ada, semua orang yang dimintai tolong untuk melihat-lihat berkata kalau Sabrang sempurna, perfect, 100 persen! Hari itu, di kelas lima sekolah dasar, Ibu Guru Ria menyuruh anak-anak membacakan pekerjaan rumah mereka berupa karangan mengenai keluarga masing-masing di depan kelas. Satu-persatu murid-murid maju ke depan melaksanakan perintah Bu Guru dengan baik. Ada satu dua anak yang melupakan tugasnya, ada pula yang grogi sehingga menolak ke depan dan ada pula yang begitu bersemangat menjalankan tugasnya, siapa lagi kalau bukan Suri, anak yang selalu rangking 13 selama bersekolah dengan tak tahu malu mengawali bacaan karangannya dengan… “Bapakku namanya Sugeng.” Anak-anak tertawa, Sabrang mendengus jijik dan semakin jijik ketika menyadari seluruh isi kelas memusatkan perhatiannya pada Suri yang ternyata bisa mengarang sebebas apa pun yang ia mau bahkan yang tak masuk akal sekali pun dengan seenaknya juga ditulisnya di sana. “Makanan kegemaran bapak adalah bulan, ia suka sekali yang rasa kacang.” Menurut Bu Guru dan anak-anak, Suri itu lucu sekali, tak henti-hentinya mereka tertawa, bertepuk tangan dan membercandai Suri. Sabrang tiba-tiba saja membenci perubahan suasana tersebut karena ketika dirinya membacakan karangan indahnya yang sempurna, ia hanya dihadiahi tepuk tangan biasa saja dari mereka. Jadi, kenapa bisa Si Suri Konyol bisa membuat keseluruhan isi kelas menjadi gembira dan penuh gairah? Dimana letak hebatnya bocah gendut ini? Pintar tidak, kaya pun tidak, ibunya cuma tukang jahit, mereka miskin! Suri mengakhiri sesi membaca karangan dengan gilang gemilang. Ia membungkuk elegan kepada para hadirin yang bersorak bertepuk tangan atas karangan yang menurut Sabrang sangatlah konyol dan jauh dari tata bahasa yang baik dan benar. "Bagus, Suri," kata Bu Guru dengan raut puas. Sabrang makin menjadi-jadi di tempat duduknya. Ia merasa tengah menduduki ratusan paku payung yang dilem permanen. Suri berjalan dengan penuh gaya meninggalkan panggung, ketika melewati Sabrang dan hendak menuju bangkunya sendiri, Si Anak Lelaki menjulurkan kaki lalu menjegal Suri yang lupa menurunkan dagu dan kepalanya. Si gadis terjerambab. Keningnya menghantuk lantai. Sabrang terpingkal-pingkal, ia mengesampingkan dosa dan bersorak atas nama pembalasan untuk egonya yang terkoyak. "Makanya, potong poni kau. Kepanjangan sudah! hahaha...apalah guna poni panjang tu, untuk nutupin aib?" Hanya dia seorang yang tertawa, anak-anak yang lain memandangnya seolah Sabrang sudah gila. Suri bangkit dan berjalan ke bangkunya, ia tak menangis, matanya saja yang merah. Bu Ria memarahi Sabrang dan memberikan nasehat berlama-lama. Sabrang merengut sampai jam pelajaran habis. Pulang sekolah, kelas lima tak langsung pulang, karena mereka harus mengikuti ekstrakulikuler yang pada siang itu adalah latihan lari estafet. Sekolah mereka ada lapangannya, terletak di bagian belakang area sekolah. Tidak terlalu besar tapi cukup untuk lapangan sepakbola mini untuk murid-murid. Pak Santosa, guru olahraga datang dengan segala peralatan yang diperlukan, beliau lalu menyuruh anak-anak berkumpul dan membagi mereka menjadi kelompok-kelompok kecil berdasarkan abjad nama. Sabrang protes waktu Suri datang ke kelompoknya dan meminta Pak Santosa untuk mengganti Si Gendut dengan murid lain, terang saja beliau menolak dan malah menyuruh Sabrang untuk segera menentukan pelarinya. Jadi, Sabrang adalah pelari terakhir karena menurutnya ia adalah atlet masa depan Indonesia dan larinya cepat sekali. Anak-anak dalam kelompoknya tak protes, mereka hanya bisik-bisik soal Sabrang yang percuma saja pintar dan tak tau kalau pelari tercepat dalam estafet selalu menempati posisi awal bukannya akhir. Mereka membiarkan saja dengan sifat sok tau segalanya dan menyemangati Si Pelari nomor satu, Saga, yang dari dulu memang dikenal karena larinya yang cepat. Peluit berbunyi, anak-anak di balik lintasan mulai menyemangati pelari-pelari mereka. Suara sorak sorai menambah suara riuh di lapangan pada siang menjelang sore tersebut. Suri adalah pelari ketiga, sebelum Sabrang yang sok. Saga berlari seolah tak ada yang sanggup mengejarnya lagi dan benar, ia melesat meninggalkan lawan-lawannya dan dengan mudah mengoper tongkatnya pada Suhay yang sudah menunggu. Giliran Suri sebentar lagi, jantungnya sudah tak keruan, ia cemas apakah ia bisa melaksanakan tugas dengan baik dan ketika tap! Tongkat itu sudah berada dalam genggamannya, Suri dengan penuh percaya diri membawanya berlari, menuju Sabrang yang sudah menunggu di seberang lintasannya yang sedang dilaluinya. Sedikit lagi sedikit lagi, Sabrang menunggu dengan bunyi dag dig dug di dadanya, Si Gendut sudah berada sedikit di depan pelari-pelari musuh, sepertinya kemenangan sudah ada di pelupuk matanya, sebentar lagi ia bisa berteriak pada langit kalau ia sekali lagi akan keluar sebagai pemenang bukannya pecundang. Tapi, semua yang terjadi dalam hidup selalu tergantung akan nasib dan nasibnya pada sore itu tidak cukup bagus. Suri tersandung angin, ia tak sengaja menekuk jari-jari kakinya hingga ia terjatuh ke depan tepat setelah satu langkahnya sampai di depan tubuh Sabrang. Gadis itu terhuyung-huyung dengan tangan menggapai-gapai ke depan mencari pegangan dan hap! Ia memang mendapatkannya, yaitu celana Sabrang hingga kain itu melorot ke bawah seiring dengan jatuhnya Suri ke lantai lintasan. Suara-suara itu semakin keras saat Suri mengangkat kepalanya. Yang pertama dilihatnya adalah muka merah Sabrang yang menunduk memelototinya lalu semakin ke bawah ia bisa melihat... apa itu? Titit? Burung kuntul? APA?!!! Suri menarik tubuhnya, ia terduduk dan menatap horor s**********n Sabrang yang imut berganti-ganti dengan wajah gantengnya yang penuh angkara murka. Rupanya tadi ia terlalu bersemangat menarik kain itu sampai-sampai celana dalam Sabrang juga terbawa turun. Anak-anak tertawa, terbahak-bahak menyaksikan drama komedi tragedi tersebut. Mereka menunjuk-nunjuk Sabrang yang separuh telanjang dan Suri yang syok. Pelan-pelan, Suri menarik celana olahraga sekaligus celana dalamnya hingga tontonan gratis burung kutilang Sabrang tertutup kembali dengan sempurna. Sebagian penonton kecewa tapi lebih banyak lagi yang masih heboh tertawa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD