Di dalam kelas, Sabrang menangis sesungukan, ia malu, sangat malu dan saking malunya, tadi di lintasan ia bahkan tak bisa lagi menarik celananya ke atas karena tangannya sudah kaku. Anak-anak yang masuk ke dalam kelas untuk mengambil tas dan bersiap-siap pulang hanya melewatinya saja dan tampak segan untuk membujuk Sabrang yang membenamkan kepalanya dalam-dalam ke kedua lengannya yang bertumpu di atas meja. Sampai satu persatu kelas mulai kosong dan Sabrang masih betah menangisi nasibnya yang tragis, dipermalukan oleh anak yang sangat dibencinya.
“Ayo pulang.”
Satu suara mengagetkannya, ketika mengangkat kepala ada Suri di sana, sudah siap dengan ransel di punggungnya.
“Biar aku yang bawa.” Tangan Suri terjulur hendak mengambil tas Sabrang tapi anak lelaki itu menepisnya dengan kasar.
“Nggak usah! Pergi kau sana!”
“Tadi aku idak sengajo,” kata Suri pelan. Ia memang tak sengaja mempermalukan Sabrang karena ia tak sejahat itu.
“Bohong! Kau memang membenciku kan?!”
“Iyo, eh, tapi aku idak jahat. Beneran, sumpah. Aku idak sengajo.”
Sabrang memukul daun meja dengan keras, Suri terperanjat kaget. “Apa hebatnya kau! Sudahlah gendut macam sapi, bau babi, bodoh, jelek, miskin lagi! Hah! Kau tu ndak ada apa-apanya dibanding aku! Papaku kaya, mamiku juga, rumah kami bagus! Mobil banyak! Nggak kayak kau yang kemana-mana bawa sepeda butut! Apa enaknya punya orang tua miskin, ha?! Sana, suruh bapakmu yang gila makan bulan itu untuk cari kerja, jangan cuma bisa tidur-tidur saja kerjanya kayak kucing!!!”
Suri terdiam, ekspresinya terlihat sedih. Matanya bergetar menahan tangis. Ia lalu berkata maaf sekali lagi dan berbalik pergi meninggalkan kelas. Sabrang diam di tempat, tubuhnya bergetar menahan marah, ia kemudian mengelap mata dan pipinya dengan punggung tangan dan saat itulah ia menyadari kehadiran Saga yang berdiri di dekat bangkunya sendiri.
Anak lelaki itu berjalan ke arah pintu, tapi sebelum pergi meninggalkan Sabrang, ia berbalik dan berkata, “Bapak Suri sudah meninggal waktu kami kelas satu.”
Saga pergi dan Sabrang menangis kembali.
Sabrang terlahir sempurna dengan kedua orangtua yang sempurna. Papanya perwira TNI dan punya jabatan strategis di Kodam Sriwijaya. Beliau orang Batak tulen, marganya Nasution, menikah dengan Maminya yang berdarah campuran Jawa-Palembang-Tionghoa. Yai Rachman, kakeknya dari pihak ibu adalah orang terkaya di Palembang bahkan mungkin di Sumatra Selatan. Sabrang tak tau berapa jumlah kekayaan beliau tapi karena ia tak pernah kekurangan sejak kecil dan gampang sekali memiliki apa pun yang ia kehendaki, membuatnya yakin kalau uang yang dimiliki Yai Rachman tak akan habis sampai hari kiamat nanti.
Dari Syafrie Nasution dan Cendrawati, hadirlah empat anak, tiga lelaki dan satu perempuan. Urutannya Sangaji, Sigit, Sabrang dan Sofia, empat bersaudara yang tampan dan cantik, otak cemerlang dan menjadi kebanggaan bagi kedua orangtua mereka. Tapi, dibanding kedua saudara laki-lakinya, kepongahan Sangaji adalah yang terunggul, ia benar-benar sadar akan latar belakang keluarganya yang paripurna, ia berani menaikkan dagu, membusungkan d**a tatkala berjalan dan berkata. Dunia dalam genggamannya dan ia tak mau ambil peduli dengan orang lain.
Sabrang anak lumayan baik, Sigit jauh lebih baik dan Sofia di mata orang-orang adalah yang terburuk. Gadis cilik itu kejam dan bermulut tajam, tidak ada yang dapat membendungnya jika sudah mengamuk karena ego yang tersinggung. Sofia adalah putri di keluarganya, penguasa khayangan, tidak ada yang berani padanya bahkan kedua orangtuanya sekalipun. She’s a little Goddes.
Sabrang pernah melihat Sofia menendang Yuk Gusti, ibunya Suri hanya karena salah membawakan baju. Sewaktu ia kelas dua SMA, Sabrang terpaksa membentak adiknya karena melempar gelas ke kepala pembantu mereka karena tak suka air minumnya dicampur dengan air panas.
“Kata Mami, Sofi harus minum air hangat,” jawab Yuk Gusti sembari meraba-raba keningnya yang benjol.
“Nggak mau!” teriaknya keras-keras, sampai urat lehernya bertonjolan.
“Diam, Sofi!” hardik Sabrang tak kalah keras. Ia mengambil gelas baru dan menuangkan air dingin untuk adiknya. “Minum!” katanya mengangsurkan gelas itu ke hidung Sofi. Sofia meneguk airnya cepat-cepat lalu membelalakkan matanya pada Yuk Gusti dan berlalu dari ruang makan.
“Maaf, Yuk,” kata Sabrang pada ibunda Suri kemudian bergerak hendak membantu perempuan itu menyingkirkan pecahan gelas.
“Nggak usah, kagek kau luko kena beling.” Yuk Gusti melarang anak majikannya yang baik dan pengertian tapi entah kenapa selalu memusuhi Suri. Sabrang mengangguk karena ternyata ia tak tau bagaimana cara membersihkan pecahan beling.
Kejadian itu hanya satu dari sekian banyak ledakan amarah Sofia pada Yuk Gusti, Sofia tak pernah mau tau apakah perempuan itu terluka fisik maupun batin karena keegoisannya, semua kebenciannya selalu dilampiaskan pada Yuk Gusti, menganggap ibunda Suri sasaran empuk untuk pelampiasan amarah yang memang tak pernah bisa dikontrolnya.
“Biso Ayuk minta tolong?” tanya Yuk Gusti setelah berhenti dari kegiatannya menyerok beling.
“Minta tolong apo, Yuk?”
“Tolong panggilkan Suri.”
Sabrang dengan berat hati menyeret kakinya keluar, ia tak suka tugas yang satu itu karena Suri pasti takkan mau mendengarkannya. Dan benar saja, sesampainya di rumah sebelah, gadis itu menatapnya seolah Sabrang terkena guna-guna tingkat tinggi karena tengah berdiri di halaman rumahnya.
“Apo dio?” dengus Suri. “Ngapo kau kesini?”
“Mamak kau manggil!” bentak Sabrang. Dihentakkannya kakinya sebelum berbalik dan pergi meninggalkan Suri yang masih mendengus-dengus layaknya lubang pernapasan tertutup kotoran hidung.
Suri menemukan ibunya dan Sabrang tengah berdiri di depan petak bunga magnolia yang tumbuh subur, sedang memperbincangkan sesuatu yang tak bisa didengarnya. Ibu menyuruh Suri untuk membeli rumput yang akan ditanam di sebuah area kosong di depan garasi, wanita itu juga memintanya untuk mencari rumput yang bagus.
“Duit.” Tangan Suri terjulur ke depan. Sabrang berdecak tak percaya.
“Kau perginya samo aku.”
“Ngapo?”
Sabrang menoyor kepala Suri kuat-kuat. “Takutnya, duit yang kuberi nanti kau belikan es kacang merah. Lagipula, memang cuma kau yang bisa milih rumput mana yang bagus.”
“Aku? kenapa?” tunjuk Suri ke dadanya.
“Kau kan sapi.”
Yang membuat Suri tak habis pikir adalah, ibuknya malah ikut menertawainya, tertawa setelah putri kandungnya dikatai sapi oleh orang asing. Apa duit keluarga Sjafrie Nasution sebegitu harumnya, sampai-sampai ibuk melupakan sebentuk harga diri.
Pertanyaan itu masih menggelayut di benaknya bahkan setelah ia naik ke atas motor Sabrang. Hatinya masih panas dan ia mau melampiaskannya dan cara terbaik adalah dengan membetot perut Sabrang kuat-kuat sampai pemuda itu mengaduh kesakitan dan berteriak-teriak di atas motor yang tengah melaju.
“Lepas, Suri! Sakit!”
Suri makin mengetatkan pelukannya ke perut Sabrang, ia tak peduli Sabrang yang menggila karena ulah laknat kedua lengannya. Hatinya puas luar biasa, bahagianya tak bisa dilukiskan, seolah dunia telah utuh memihak padanya bukan kepada Sang Musuh yang kini tengah merana.
Perjalanan terasa singkat tapi bagi Suri itu sudah cukup. Ia turun dari atas motor berlagak tak pernah melakukan apa-apa, tak pernah berbuat dosa besar kepada Sabrang yang setelah sepeda motornya terparkir rapi, memeluk perutnya sendiri dan memijat ototnya dengan lembut. Raut wajahnya menjadi jelek karena kebanyakan meringis, ia seperti pesakitan yang tak sabaran menanti diperiksa dokter.
Siapa yang ambil peduli dengan sikap berlebihan semacam itu, pikir Suri ketika tak sabaran membalikkan badan dan masuk ke dalam tempat penjualan tanaman berpagar kayu. Bermacam kembang pot atau masih bertunas dalam polibek berjejer rapi di atas rak-rak besi yang terlihat kokoh. Sejujurnya, Suri tak terlalu menyukai bunga karena meskipun terlihat cantik dan wangi, gadis itu lebih senang membaui aroma yang berasal dari tubuh lelaki atau wangi uang.
Daripada mengurusi Sabrang yang masih misah misuh lebih baik ia bertanya-tanya pada pemilik kios bunga soal rumput terbaik yang mereka punya. Lelaki paruh baya itu dengan senang hati memperkenalkan terlebih dahulu keseluruhan isi kiosnya tanpa perlu ditanya. Ada banyak jenis tanaman di sana, mulai dari yang berbunga dan bewarna sampai tanaman herbal.
“Yang cak pohon kelapo itu, apo?” tanya Suri sembari berspekulasi, karena menurutnya tanaman itu sangatlah kontet untuk ukuran pohon kelapa.
“Nah, itu namonyo palem botol mini,” terang si pemilik kios.
Keterangan berlanjut lagi, mulai dari kukur macan, cemara lilin, bibit pohon anggur, bambu air hias, pohon obat daun saga sampai jenis-jenis kegunaan bermacam-macam pupuk.
“Yang bau kambing ni, apo dio pulo?”
Suri menunjuk seonggok besar yang dari jauh terlihat sepert kerikil hitam— dan mengeluarkan aroma khas yang tak mengenakkan di penciumannya.
“Ah, ini namonyo pupuk kandang taik kambing.”
“Taik?”
“Iyo. Berak kambing.” Lelaki itu menyendok kotoran itu dengan tangannya langsung tanpa memakai sarung tangan dan tanpa aba-aba menyorongkannya ke depan hidung Suri. Terang saja gadis itu kaget dan langsung tersuruk ke belakang karena tiba-tiba saja hendak disuapi segenggam kotoran binatang. Si pemilik kios nyengir melihat Suri yang merasa jijik.
“Ini beguno untuk menyuburkan tanah dan menggemburkannyo.”
Mendadak, Sabrang hadir di antara mereka, ia berdecak-decak melihat onggokan pupuk kambing kering dan berkata, “Dio nak pesan limo karung taik ini, Pak, biar dio tambah gembur.” Sabrang cepat-cepat melanjutkan ucapannya sebelum tangan Suri melayang ke kepalanya. “Omong-omong, aku ke sini nak beli rumput, Pak.”
Sabrang meninggalkan Suri yang asyik memandangi bunga dan kembali lagi tak lama kemudian dan menemukan gadis itu masih berdiri di depan onggokan pupuk kambing; kesempatan itu tak disia-siakan Sabrang, ia mengendap ke belakang Suri lalu menyepak pantatnya hingga Si Gadis limbung sebelum jatuh ke atas taik kambing kering berwarna hitam kehijauan.
Siang itu, Suri makan dengan berak kambing.