Lembar Dua Belas: A Secret

1203 Words
Ketika Sabrang menginjak bangku sekolah menengah atas, ia pernah menyarankan ibunya untuk membawa Sofia ke psikiater karena amarah yang tak bisa dikendalikan itu, Sabrang takut, Sofi akan melukai lebih banyak orang di luar sana. Nyonya Cendrawati pada waktu itu tak menghiraukan saran putra ketiganya dan malah balik menghardik Sabrang karena tega mengatai adik kandungnya gila. Ia menyerah karena saran itu juga ditolak oleh Sang Ayah. Sebagai kakak, yang dilakukan Sabrang pada waktu itu hanyalah mengawasi keseharian Sofi dan mencoba menghadang jika Sofia mulai mengamuk lagi, namun hal itu tak bisa dilakukannya sepanjang waktu, 24/7, karena ia sendiri juga punya banyak tugas dan tanggung jawab lain di sekolah dan di luar sekolah. Kegiatan yang diikutinya saja sudah menghabiskan separuh harinya di luar sana, hingga suatu hari… Sabrang berlari tergesa-gesa masuk ke dalam rumah tatkala mendengar Sofia jatuh di tangga yang menuju lantai dua rumah mereka, namun yang ditemuinya bukan tubuh adiknya yang tergeletak lemas tapi Mami Cendrawati yang tengah menampar kedua pipi Yuk Gusti diikuti dengan rentetan sumpah serapah dan hardikan-hardikan yang tak akan disangka bisa keluar dari seorang Nyonya terhormat seperti dia. “Idak anak, idak mamak, senang nian menyakiti keluargaku!!! Dulu Sabrang yang masuk rumah sakit gara-gara anak gemuk kau itu, sekarang anak kesayanganku yang nak kau bunuh!!! Kampang kau!” Yuk Gusti terdiam, badannya bergetar hebat menahan malu dan pembelaan yang terendap di dalam mulutnya. Sabrang merasakan sedikit amarah saat mendengar kronologis kejadian dari Pak Haju, sopir keluarganya, ia tak menyangka Yuk Gusti bisa setega itu kepada Sofia. “Ngapo, Yuk? Sofi tu masih kecik, tega nian ayuk mencelakainyo,” tanya Sabrang dengan nada keras dan terluka. Tak disangka, Yuk Gusti mengangkat kepalanya dan menatap Sabrang dengan tatapan sedih dan mata berkaca-kaca. “Ayuk sudah bilang ke Sofi kalau tangga baru dipel, tapi Sofi idak mau dengar.” Perempuan itu akhirnya menangis terisak-isak; menggigit bibirnya sendiri agar suara yang keluar tidak memancing amarah tak perlu dari majikannya. “Apo?! Anakku pulo nak kau salahkan!!!” “Bukan, aku nak bilang…” “Diam, kau!” Sabrang tak tau kelanjutan dari tragedi itu, ia memutuskan untuk ikut Sigit yang ingin menyusul Sangaji dan ayah mereka ke rumah sakit. Di sana, dokter memberitahu mereka kalau cedera Sofi tidak terlalu serius tapi Syafrie Nasution bersikeras agar putrinya mendapatkan perawatan terbaik dan perawat paling handal untuk mengurus Sofia sampai benar-benar pulih. Sepulangnya ia dari rumah sakit, Sabrang masih sempat menoleh ke samping kanannya, rumah Suri terlihat gelap seperti tidak ada kehidupan di dalamnya, sepi dan sunyi. Pemuda itu hanya bisa menghela napas, bingung harus berbuat apa karena semua di luar kendalinya. Ia setuju dengan sikap kedua orangtuanya yang marah karena melihat anak perempuan mereka menangis meraung-raung kesakitan, toh ia sebagai kakak Sofia juga merasakan hal yang sama karena mereka bertalian darah satu ayah dan satu ibu, kesakitan yang dirasakan saudara kandung juga bisa dirasakannya. Tetapi melihat pembelaan lemah Yuk Gusti terhadap badannya yang menurutnya tidak bersalah, menimbulkan rada adil dalam diri Sabrang, bagaimanapun juga, tentunya Sofia tidak akan jatuh berguling ke lantai bawah jika mendengarkan peringatan Yuk Gusti, gadis cilik itu tidak akan berakhir di rumah sakit jika tidak berkepala batu dan mau mendengarkan orang lain. Hah, entahlah. Yang pasti, pada hari itu Sabrang memihak pada adiknya, meskipun ia tau kalau Sofia memang sedikit gila. Siang itu, Sabrang memutuskan untuk naik ke balkon lantai dua yang bisa diakses melewati tangan spiral dari area servis dimana Yuk Gusti biasa mencuci baju di sana. Ia capek sekali sehabis mengetik karya tulis yang akan diikutkannya dalam Lomba Karya Tulis tingkat provinsi yang akan berlangung tak lama lagi. Ia seharusnya fokus untuk Ujian Akhir Nasional, tetapi Pak Sabang, wali kelasnya, membujuk untuk ikut berpartisipasi mewakili sekolah bersama beberapa anak kelas dua. Sabrang mengiyakan permintaan itu dan tampak serius dengan amanah yang dibebankan ke atas pundaknya. Ia butuh istrirahat dan berencana untuk rebah-rebah di kursi malas yang terletak di balkon lantai dua untuk mengusir rasa panas yang tak bisa disembuhkan oleh dinginnya air conditioner. Mungkin sisa-sisa hujan yang baru saja berhenti bisa mendinginkan kepala dan badannya sejenak. Meskipun memasuki musim penghujan, kota ini masih saja panas. Ia menjadi sangat mudah merasa gerah setiap kali menggerakkan badan untuk melakukan sesuatu hal. Biasanya tidak seperti ini dan ia terbiasa dengan hawa panas Kota Palembang karena ia dilahirkan dan dibesarkan di Bumi Sriwijaya; satu hal yang sudah melekat dalam darah dan dagingnya. Tapi tidak kali ini. Ia tahu dan menyadari bahwa rasa panas itu bukan berasal dari perasaan terkurung di antara tanah beringsang dan tawang nan terik tapi karena pemadangan menjijikkan yang terpampang di depan matanya saat itu. Tak jauh di depannya, seorang lelaki kurus kering tengah mengintip kamar Sigit dari balik jendela kaca. Si Lelaki yang diketahuinya adalah paman Suri, adik ipar Yuk Gusti yang memang sering mampir membantu kakak iparnya bebersih di kediaman keluarganya, namun yang dilakukan pria itu sekarang mencetus api kemarahan dalam dirinya karena Mang Tuci tengah merancap, membetot-betot selangkangannya dengan penuh nafsu sembari memandangi entah apa yang berada di balik sana. Tapi Sabrang tak sempat bertanya baik-baik karena di dalam kepalanya sudah terbentuk sebuah skenario tentang apa yang terjadi sebaliknya, bahwa Mang Tuci Si Homo Banci tengah menargetkan kakak kesayangannya, Sigit, sebagai mangsa bagi ketidaknormalannya sebagai seorang manusia. Sabrang menarik keras tangan Mang Tuci yang terkaget-kaget saat dihela tanpa perlawanan oleh pemuda yang tenaganya belipat-lipat lebih besar dari dirinya. Lelaki itu hampir dilempar Sabrang ke lantai bawah jika tak sempat meraih selusur tangga putar. Celananya sudah turun ke bawah, ia dengan susah payah turun melewati anak tangga dan akhirnya tersungkur ke lantai setibanya ia anak tangga terakhir. “Pasang celanamu! Aku tak ingin melihat sesuatu yang menjiijikkan!” bentak Sabrang kalap. Matanya melotot marah, urat-urat lehernya bertonjolan. Ia sudah siap dengan kedua tinju terkepal, kalau perlu, ia bisa mengubur hidup-hidup lelaki kurang ajar ini. Mang Tuci mematuhi perintah Sabrang, ia memasang celananya dan mengancingkannya. Ia tampak tenang dan tak ada raut bersalah di wajahnya. Dengan berani, Mang Tuci menantang mata Sabrang dan hal itu hanya membuat sang pemuda semakin murka dan terealisasi dengan dua bogem mentah ke rahang Mang Tuci. Lelaki itu meringis menahan rasa sakit, darah segar mengalir dari sudut mulutnya, punggungnya sakit menghantam dinding ruang cuci yang ditutupi batu-batu alam bertekstur kasar. Tapi Sabrang tak peduli, dua jab kanannya menyasar perut dan dadanya, Mang Tuci jatuh ke lantai dengan badan babak belur. Ketika satu kaki Sabrang terangkat hendak meremukkan tengkorak Mang Tuci, dengan cepat lelaki itu menaikkan sebelah lengannya dan meminta Sabrang untuk berhenti dan memberinya kesempatan untuk bicara. “Tunggu.” Suara Mang Tuci parau, ia meludahkan segumpal darah. “Kau balik ke atas. Lihat apa yang ingin kau lihat.” Ia terbatuk lagi dan tubuhnya menggelosor ke lantai, lemah tak berdaya. Sikap tubuhnya kaku, semua ototnya dalam keadaan paling siap. Tenaganya yang meluap-luap membuat tubuhnya bergetar menahan apa yang hendak tumpah. Sabrang sedikit oleng, tercabik di antara keinginan membunuh Mang Tuci atau menaiki tangga kembali untuk membuktikan kalau penganiayaan yang dilakukannya memiliki alasan yang tepat. Sabrang memilih yang kedua, ia menaiki tangga dan menuju jendela kamar Sigit dan menengok ke dalam, melihat apa yang ingin dilihatnya. Sabrang tersuruk beberapa langkah ke belakang, matanya mengerjap tak percaya, bahkan akal sehatnya mempertanyakan kesehatan indra penglihatannya, namun pada akhirnya ia memang punya alasan… Alasan untuk membenci kakaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD