"Sekali lagi saya katakan dengan sopan, agar anda menjauh dari saya atau saya akan melaporkan anda pada pihak penyelenggara,"
"Jangan seperti itu dong, Sayang," bukannya malah menjauh Jonny malah semakin mendekat dan hendak melakukan hal yang tidak baik pada Alesya. Dalam hitungan detik, Alesya langsung bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan Jonny. Alesya menuju ke MC yang sedang berada dipojok ruangan itu sembari berbicara dengan para staff lainnya dan sesekali memainkan ponselnya.
"Maaf, permisi. Saya ingin keluar dari acara ini. Apakah saya bisa keluar sekarang?" tanya Alesya ramah dan tetap bersikap biasa.
"Kalau kami boleh tahu, alasan anda ingin keluar apa yah?" tanya salah satu staff tersebut.
"Itu karena mendapat kabar dari orang tua saya dan mereka meminta saya pulang. Alasan kenapa saya harus pulang, tidak bisa saya beritahukan disini, karena bersifat sangat pribadi," ucap Alesya pada mereka. Alesya hanya tidak ingin memberitahukan pada mereka alasan yang sebenarnya karena merasa tidak nyaman dan sangat risih pada Jonny. Karena Alesya takut akan pikiran yang menyebut dirinya berlebihan dan sebagainya.
"Oh, baik jika seperti itu, tidak apa," ucap MC tersebut.
Jonny melihat Alesya berbicara pada pihak penyelenggara dari tempatnya berada saat ini. Jonny berpikir, jika Alesya mengadukannya pada mereka dan merasa geram. Dia segera bangkit dan menghampiri Alesya. Lalu, dengan kasar menarik tangan Alesya hingga membuatnya merintih sakit.
Para pihak penyelenggara terkejut melihat perbuatan Jonny pada Alesya dan merasa bingung tapi mereka lebih dulu melakukan tindakan dengan memisahkan Jonny dari Alesya.
"Ada apa ini?!" tanya MC pada Jonny dan para staff lainnya pun mengangguk setuju.
"Cewek ini. Apa yang dia katakan? Apakah dia berkata jika saya melakukan hal yang aneh padanya atau melecehkannya? Jika iya, semua itu bohong. Dialah yang menggoda saya dan saat saya merespon balik, dia malah marah dan pergi begitu saja. Jangan percaya dengan ucapannya!" ucap Jonny dan membuat semua didalam ruangan ini terkejut. Pasalnya, Alesya tidak menyebut sedikit pun hal-hal yang dikatakan oleh Jonny.
Itu membuat mereka mengetahui alasan yang sebenarnya kenapa Alesya ingin meninggalkan tempat dan acara ini. Semua pasti karena ulah Jonny dan karena Alesya merasa terganggu, dia ingin meninggalkan acara ini tanpa menyulitkan siapapun. Mereka semua para penyelenggara sudah dapat mengerti atas tindakan Alesya.
Tetapi, Alesya merasa khawatir karena ucapan Jonny. Dia takut jika mereka semua menyalahkannya atas kegaduhan yang terjadi saat ini.
"Maaf, kenapa anda yakin sekali, jika Nona ini melaporkan anda?" tanya salah satu pekerja disana.
"Itu karena sebelum pergi, dia sempat mengatakan akan melaporkan saya, jika saya berbuat sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Padahal saya hanya memberi respon atas perbuatannya."
"Pokoknya jangan percaya apapun yang dia katakan. Semuanya," sekali lagi Jonny menekankan ucapannya pada mereka dan Alesya hanya diam.
Mia yang melihatnya langsung berdiri dan menghampiri Alesya.
"Sy, ada apa?" tanya Mia.
"Mia, maaf," hanya dua kata yang diucapkan oleh Alesya pada Mia. Awalnya dia tidak ingin pergi, karena dia tahu Mia pasti akan mengikutinya dan dia akan menghancurkan kesempatan Mia untuk mendapatkan kekasih baru, jika saja ada pria yang cocok dengannya disini.
"Kenapa lu minta maaf, memangnya apa yang sudah lu lakuin? Heh! Lu apain sahabat gua? dia nggak mungkin seperti ini, kalau lu nggak aneh-aneh, Berengsek!" dengan lantang Mia memarahi pria itu. Mia tahu jika Alesya tidak mungkin melakukan sesuatu, jika tidak ada sebabnya.
"Apa-apaan lu! Lu nggak tahu kalau teman lu p***k. Dia yang menggoda gua, tapi sekarang dia malah bersikap seperti dia yang menjadi korban," ucap Jonny balik memarahi Mia.
"Maaf, kenapa anda begitu yakin kalau Nona ini melaporkan anda?" tanya MC tersebut menengahi keributan yang semakin lama semakin memanas.
"Itu sudah pasti karena dia ingin menuduh dan menjatuhkan saya atas hal yang tidak saya perbuat. Padahal sejak awal dia-lah yang menggoda saya lebih dulu," ucap Jonny dengan percaya diri.
"Tapi maaf, yang Nona ini katakan hanya meminta ijin agar dia dapat keluar dari acara ini, karena ada urusan mendesak di rumahnya," balas Sang MC tersebut dan membuat Jonny kaget.
"Lalu anda tiba-tiba datang kemari dan membuat keributan dengan menuduh Nona ini mengatakan kebohongan yang memfitnah anda. Bukankah itu artinya malah anda yang membongkar sendiri kelakuan anda?" ucapnya tegas dan tajam.
"I..itu, itu karena saya mengira..., dasar cewek murahin, awas kalau bertemu lagi, gua akan membalasnya!" sembari mengucapkan kalimat berupa ancaman, Jonny sembari melarikan diri dari tempat itu.
"Nona, maaf sekali anda harus mengalami kejadian seperti ini,"
"Tidak, tidak apa-apa. Sepertinya saya harus segera pergi dari sini," ucap Alesya dan dia dengan cepat meninggalkan tempat itu. Sebelum pergi, dia mengatakan pada Mia, agar dia tetap berada disini saja. Dia tidak ingin merusak rencana Mia untuk dapat menemukan seseorang yang mungkin saja akan dia temukan diacara ini. Lalu, Mia dengan berat hati menyetujui Alesya dan kembali masuk kedalam ruangan acara itu berlangsung.
Ring Ring
"Ha..lo," ucap Alesya berusaha biasa saja.
"Sayang, kamu dimana sekarang?" ternyata itu telepon dari Kai.
"Aku? Aku saat ini sedang ada di Hotel Rotz Carltin, tadi aku sedang menemani Mia, tapi sekarang aku ingin pulang karena urusannya telah selesai," balas Alesya seadanya. Dia merasa tidak berbohong karena benar dia menemani Mia. Hanya saja dia tidak mengatakan urusan apa itu.
"Kamu diam disana dan jangan kemana-mana," ucap Kai sembari tergesa-gesa berlari dan kembali menggapai pintu lift yang hampir saja tertutup.
"Maksudnya?" tanya Alesya dengan wajah bingung dan tidak mengerti.
"Please, Sayang. Tetap disana," Kai merasa lift berjalan begitu lambat sekali. Padahal dia ingin segera menemui kekasihnya, yang hanya berbeda lantai dengannya.
Kai telah kembali ke Indonesia dan baru saja tiba di Apartement miliknya yang terletak diatas Mall mewah kawasan Jakarta Selatan.
"Hem, baiklah," Alesya mengiyakan walaupun dia merasa bingung. Karena Kai memintanya menunggu.
"Aku harus menunggu sampai kapan?" tanyanya lagi pada Kai.
"Sekarang berbaliklah," ucap Kai dengan senyum merekah diwajahnya saat mendapati kekasihnya, Alesya, berada dihadapannya.
"Berbalik?" tanyanya bingung tapi tetap melakukan apa yang diminta Kai.
"Kai?!" ucapnya saat melihat Sang Kekasih, Kai. Alesya berlari menuju Kai yang saat ini merentang kedua tangannya.
"Iyah, ini aku. Aku sangat merindukanmu, Sayang," ucapnya lembut sembari memeluk erat Alesya.
"Aku juga!" balasnya.
"Kenapa kamu sudah disini? Kenapa tidak memberi kabar?" tanyanya bertubi-tubi pada Kai. Karena dia kembali ke Indonesia, tapi tidak memberi kabar apa pun padanya.
"Kejutan! Aku sengaja, karena ingin memberimu kejutan. Awalnya ingin langsung ketempat kamu, tapi ada sesuatu yang tertinggal didalam koper. Jadi aku pulang dulu, tapi ternyata kamu berada disini," ucapnya antusias. Terlihat kalau Kai sangat bersemangat sekali dapat bertemu dengan Alesya.
"Mampir dulu ketempatku, aku ingin memberikan sesuatu padamu," ajaknya pada Alesya.
"Apa? Aku menunggu disini saja," ucap Alesya, tapi Kai langsung menarik pelan tangan kekasihnya dan memencet tombol lift untuk menuju ke kediamannya.
"Masuklah,"
"Hem," jawab Alesya singkat. Semenjak mereka menjalin hubungan, ini pertama kalinya dia datang ketempat tinggal Kai. Itu karena Kai begitu sibuk dengan pekerjaannya sebagai model. Dua bulan lalu dia harus berangkat ke Jepang untuk pemotretan dan setelah itu baru dia ke New York, menghabiskan waktu disana selama sebulan. Sebulan pertama mereka berpacaran hanya dapat bertemu beberapa kali, karena Kai juga cukup sibuk bekerja. Disaat jadwal Kai kosong, Alesya tidak bisa karena harus melakukan pekerjaannya yang masih terkontrak di Perusahaan N. Disaat berakhir tepat dibulan itu juga dan jadwal Alesya kosong, kembali bentrok dengan jadwal Kai, sehingga membuat keduanya sulit untuk bertemu. Sebenarnya bisa saja Alesya datang menemui Kai dilokasi pemotretan, tapi karena mereka merahasiakan hubungan mereka, Alesya tidak bisa melakukan hal itu.
"Ini untuk kamu," memberkan sebuah kotak berukuran sedang pada Alesya.
"Apa ini?" ucapnya.
"Hadiah. Aku melihatnya saat pemotretan di New York. Karena bagus dan berpikir akan cocok jika kamu memakainya, jadi aku membelinya,"
"Dasar, padahal kamu tidak perlu melakukannya," senyumnya hangat pada Kai. Meski Kai tidak membawakannya apa pun, dia akan tetap senang hanya dengan bertemu dengannya.
Alesya mengambil dan membuka kotak itu. Setelah terbuka, terlihat sebuah kalung berbentuk beruang yang kecil dan manis, dengan kedua matanya memiliki masing-masing satu buah berlian kecil yang menambah kesan mewah. Design sederhana tapi terlihat elegan. Alesya menyukainya, terlebih beruang adalah binatang favoritnya.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Kai dengan semangat sekaligus penasaran dengan reaksi dan jawaban Alesya.
"Iyah, aku menyukainya. Makasih yah, Sayang," ucap Alesya sembari menatap Kai.
"Biar aku pakaikan," Kai mengambil kalung itu dari dalam kotaknya dan memakaikannya pada Alesya. Berjalan kearah belakang Alesya dan melingkarkan kalung tersebut pada leher kekasihnya, Alesya. Setelah selesai memakaikannya, Kai memeluk Alesya dari belakang dengan melingkarkan kedua tangannya dipinggang Alesya dan membenamkan wajahnya dipundaknya.
"Aku mencintaimu, Alesya," ucapnya lembut dan penuh kehangatan.
"Aku mencintaimu juga," balas Alesya dengan merangkul tangan Kai yang berada diperutnya.
Kai membalik pelan tubuh Alesya agar menghadap dirinya, menyentuh lembut pipinya dan mencium bibir Alesya lembut dan pelan. Mereka berciuman selama hampir sepuluh menit, mungkin karena terlalu lama tidak bertemu dan suasana sangat mendukung, membuat mereka semakin terbawa suasana. Kai menjadi lebih agresif dibanding sebelumnya, suasana keduanya semakin memanas. Kai sembari mencium Alesya sambil menggendongnya dan membawa Alesya kedalam kamarnya.
Sesampainya disana, Kai dengan lembut membaringkan Alesya diatas ranjang yang biasa selalu dipakai tidur olehnya. Disaat suasana semakin memanas, Kai menyentuh Alesya lembut dan hendak membuka resleting gaun yang dikenakannya, sudah terbuka dan menampakkan sebagian bahu putih dan mulus Alesya.
Tapi saat itu, saat Kai menyentuh dan menciumi bahu Alesya dengan lembut, tiba-tiba saja Alesya berubah. Dia memiringkan wajahnya dan menahan tubuh Kai dengan kedua tangan didada Kai. Alesya ketakutan entah karena apa, hingga membuat Kai merasa cemas.
"Sayang?" panggil Kai yang tidak dihiraukan Alesya.
"Sayang, kamu kenapa? Alesya," hanya sedikit meninggikan suaranya dan ingin menyentuh pipinya, disaat itu juga membuat Alesya menutup wajahnya dan mengeluarkan suara meminta ampun pada Kai.