"Gila, cantik banget lu, Sy," puji Mia saat melihat sahabatnya itu tampak cantik bak peri yang keluar dari buku dongeng.
"Lebay ah. Biasa aja ini, gua cuma menyesuaikan dengan dresscode yang ditentukan. Malah lu yang niat banget tuh, nggak liat penampilan lu sekarang? Gua rasa cowok-cowok bakal klepek-klepek pas ngelihat lu nanti," Alesya tidak menyangka jika sahabatnya totalitas banget dikencan buta ini. Padahal, namanya kencan buta, mereka tidak tahu informasi dan penampilan dari lawan jenisnya.
"Hehehe, siapa tau aja kan, Sy. Disana ada yang pas dan sesuai banget sama tipe gua. Jadi bisa sekalian deh," kekehnya sambil bertingkah malu-malu dihadapan Alesya.
"Iyah, semoga yah. Walau gua nggak yakin sih," balasnya dan mereka berdua pun masuk kesebuah tempat kencan buta itu dilaksanakan.
Terlihat sudah ditata sedemikian rupa agar suasana dan lainnya mendukung. Lalu, untuk meja dan kursi juga sudah ditata rapi dan indah agar para pasangan kencan buta bisa menikmati makan siang mereka bersama pasangan yang tidak mereka ketahui dengan nyaman.
"Halo, selamat siang para Lovers. Kalian pasti sudah tidak sabar untuk mulai berkenalan dengan calon pasangan kalian, bukan? Yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Silahkan masuk untuk para peserta kencan buta!" Ucap MC yang terlihat dan terdengar bersemangat. Lalu, setelah penyambutan singkat, MC mempersilahkan para peserta masuk kedalam ruangan dan mengatur mereka agar berdiri saling berhadapan satu sama lain.
Semua telah diatur oleh pihak penyelenggara. Cara menentukan pasangan pun sudah dipastikan akan dilakukan seadil mungkin. Karena itu mereka akan mengundi dan setiap dua nomor yang terpilih akan menjadi pasangan kencan buta ditempat ini.
Semua pihak laki-laki begitu ingin menjadi pasangan kencan Alesya. Karena mereka semua terpikat pada kecantikannya. Tapi apa daya, hanya salah satu dari mereka yang akan menjadi pasangan kencan Alesya.
"Karena masing-masing sudah memiliki pasangan masing-masing . . .," MC masih sibuk membawa acara. Hingga akhirnya, pasangan ditinggalkan diruangan itu, agar memiliki waktu bebas untuk mengobrol sambil menikmati hidangan yang telah disediakan.
"Hai, Andrew," sambil mengulurkan tanganya pada Alesya.
"Alesya," balasnya dan menjabat tangan yang terulur padanya, meski dia enggan dan terpaksa.
"Silahkan duduk," pria bernama Andrew itu mempersilahkan Alesya duduk. Awalnya Andrew ingin bersikap gentle dengan membantu Alesya menarik kursi, tapi Alesya menolaknya dengan halus.
"Kamu cantik, kenapa ikut acara seperti ini?" tanyanya langsung begitu mulai.
"Hm, tidak ada alasan khusus, hanya menemani sahabat kesini," jawab Alesya sekedarnya saja, tapi jujur.
"Oh, baiklah. Tapi, berkat itu, kita jadi bertemu disini. Seolah memang sudah ditakdirkan," ucap Andrew yang perlahan mulai merayu Alesya.
"Takdirnya, tapi maaf, saya tidak percaya yang seperti itu. Siapa tahu takdir berkata lain. Bertemu saat ini bukan berarti akan mengarah lain hal," balas Alesya yang sangat paham dengan maksud pria itu. Dia hanya ingin menggodanya.
"Hahaha, kamu lucu, saya menyukainya," ucapnya secara terang-terangan
Alesya hanya diam dan tidak memedulikan perkataan Andrew. Dia hanya ingin semua ini cepat berakhir dan menoleh kearah sahabatnya, Mia, terlihat Mia sedang mengobrol santai dengan pria yang ada dihadapannya. Terlihat senang dan bahagia sekali, meski ini hanya sementara dan tidak mungkin serius, tapi seperti itu sudah lebih dari cukup. Asal sahabatnya bisa tersenyum lagi dan melupakan Raykal, laki-laki b******n yang menduakan dan menipu mentah-mentah sahabatnya.
Jika mengingat itu, Alesya merasa sangat marah sekali. Bisa-bisanya laki-laki itu membohongi Mia, padahal Mia selalu memperlakukannya dengan sangat baik. Apa pun selalu diusahakan oleh Mia untuk Raykal. Bahkan, laki-laki itu mendapatkan keperawanan Mia.
Alesya mengetahuinya, karena Mia menceritakan semuanya padanya tanpa terlewat satu pun. Raykal, sebulan pertama mereka berpacaran, dia langsung meminta dan mengajak Mia melakukan hubungan intim. Awalnya Mia menolak, tapi Raykal terus memaksa dengan segala bujuk rayunya, sehingga Mia akhirnya luluh dan mau menyerahkan hal yang berharga baginya pada laki-laki berengsek itu.
Setelah puas dan mendapatkan apa yang diinginkannya, sekarang dia malah meninggalkan sahabatnya. Bukan hanya meninggalkannya, tetapi menyakitinya juga. Alesya baru mengetahui, Raykal suka melakukan kekerasan saat melakukan hubungan intim bersamanya. Meski Mia menolak, tapi Raykal masih saja seperti itu. Seperti seseorang yang dirasuki oleh orang lain dan tidak mengenal ampun.
Mia tidak menceritakannya, Mia baru menceritakan hal itu pada Alesya saat dia memaksa Mia mengatakan hal yang sebenarnya, kenapa Mia begitu ingin mempertahankan laki-laki b***t itu. Itu karena Raykal telah mencuci otak Mia agar terus bergantung padanya.
Jika mengingat itu semua Alesya benar-benar merasa marah dan rasanya dia bisa membunuh b******n Raykal itu. Karena Alesya tahu betapa sakit dan membekasnya hal-hal seperti itu. Karena dia sendiri juga pernah mengalaminya, meski saat itu dia berhasil menyelamatkan dan mempertahankan kesuciannya.
"Halo, apakah kamu masih disini?" panggilan Andrew membuyarkan lamunan Alesya dan seketika ekspresi wajahnya kembali normal.
"Ah, maafkan saya, tadi saya sedang memikirkan hal lain," ucap Alesya merasa bersalah. Meski dia tidak menyukai acara seperti ini, tapi setidaknya dia harus bersikap sopan dan profesional jika sudah hadir ditempat ini.
"Tidak apa. Bisa saya tebak, apakah gadis itu sahabat yang kamu maksud?" tanya Andrew ramah.
"Iyah, dia satu-satunya sahabat saya dan saya rela melakukan apa saja agar dia bisa terus tersenyum seperti itu," ucap Alesya hangat sembari melihat kearah Mia.
"Anda mengagumkan sekali. Bisa saya bayangkan sebesar apa kasih sayang kamu untuknya. Sahabat anda pasti merasa beruntung memiliki kamu disisinya."
"Hem, anda salah. Kami sama-sama beruntung karena memiliki satu sama lain dan saya yakin, dia juga akan mengatakan hal yang sama seperti yang saya katakan," ucapnya dengan sangat yakin, jika Mia juga memiliki pemikiran yang sama dengannya. Karena memang seperti itulah yang terjadi. Karena Mia sudah lebih dulu melakukannya pada Alesya. Menghibur, menolong, menjaganya dan masih banyak lagi yang tidak dapat dikatakan. Mia-lah yang membantu Alesya melewati masa-masa sulitnya beberapa tahun sebelumnya, selain orang tua Alesya.
"Berarti persahabatan kalian benar-benar mengagumkan. Sahabat sejati,"
"Iyah, sahabat sejati dan selamanya," ucapnya.
"Hm, maaf kita jadi membicarakan saya. Mari kita membicarakan hal lain. Apa pekerjaan anda?" tanyanya basa basi karena merasa malu terlalu banyak membicarakan dirinya sendiri.
"Haha, tidak apa, malah saya senang. Jadi bisa mengenal kamu lebih lagi, 'kan."
"Aku seorang pegawai swasta, bagaimana dengan kamu?"
"Mahasiswa tahun ketiga," balas Alesya.
Cukup lama mereka berbincang, meski merasa tidak nyaman, Alesya masih terus merespon Andrew meski seadanya. Tiga puluh menit sudah berakhir dan saatnya mereka bertukar dengan orang lain. Acara ini diatur agar semua mendapatkan kesempatan yang sama dan dapat saling mengenal dengan semua yang hadir disini. Karena itu acara ini sangat susah untuk diikuti, karena terbatasnya jumlah peserta yang mereka terima. Hanya empat calon pasangan yang akan mereka terima.
MC kembali memimpin acara dan mengundi nomor yang tersisa, setelah mendapatkan nomor, dengan cepat dan profesional dia mengarahkan para peserta kencan buta untuk berbicara dengan calon pasangan mereka.
"Hai, Cantik. Namamu siapa? Aku Jonny. Senang bisa berkenalan dengan kamu, Sayang," sapa laki-laki yang ada dihadapan Alesya.
Alesya merasa lelah, karena harus berhadapan lagi dengan orang baru dan memulai semuanya dari awal lagi. Alesya hanya menjawab singkat dan menyebut nama saja.
"Apakah aku boleh meminta nomor mu? Siapa tahu kita berdua cocok dan bisa melanjutkannya diluar sini," ucap jonny dengan agresif. Berbeda sekali dengan Andrew. Meski Andrew sesekali merayu atau menggodanya, tapi cara yang dia gunakan terkesan lebih baik dan elegan, daripada pria yang dihadapannya ini.
"Maaf, kita dilarang bertukar nomor oleh pihak penyelenggara," ucapnya jujur. Pihak mereka memang mengatakan, para peserta berhak untuk menolak memberikan informasi yang menurut mereka itu bersifat pribadi jika merasa tidak cocok dengan lawan jenisnya. Pihak penyelenggara acara juga menyerahkan semua keputusan terkait kencan buta ini pada para peserta, mereka tidak akan memaksa atau mengatur harus seperti apa. Karena acara ini diadakan untuk menemukan calon pasangan ideal yang cocok dengan para peserta. Jika merasa tidak cocok, mereka boleh menolak apa pun itu.
"Jangan kaku seperti itu, Baby. Aku merasa cocok dan sangat menyukai kamu loh. Kamu benar-benar tipeku sekali," ucap Jonny dan dengan agresif langsung mendekati Alesya dan membuat jarak diantara mereka menipis.
"Tolong menjauh. Saya merasa tidak nyaman, jika anda seperti ini," ucap Alesya berusaha menahan emosi didalam dirinya. Ingin rasanya dia memaki dan melempar Jonny dengan tas yang ada ditangannya.
"Jangan malu, Baby. Lihat sekeliling, hampir semua seperti itu. Berbicara dengan berdekatan agar merasa lebih intim," ucapnya dengan tatapan menjijikkan yang membuat Alesya kesal.
"Lalu, jika kamu mau, kita bisa mengakhiri basa basi ini dan keluar dari sini. Kita bisa langsung menuju keatas," ucapnya sembari memberi kode pada Alesya dengan matanya mengarah keatas. Atas yang dimaksud Jonny adalah kamar hotel. Karena saat ini, acara diadakan disebuah hotel yang memiliki cukup nama.