"Mau makan apa?" ternyata Kai membawanya ketempat makan yang berada didalam sana.
"Kita makan dan istirahat dulu, setelah itu baru kembali ke hotel," ucapnya biasa saja, seolah tidak ada sesuatu yang terjadi.
"Hebat sekali dia, bersikap seperti itu, setelah mencium orang seenak jidatnya," gumam Alesya pelan agar hanya dirinya sendiri yang mendengarnya. Alesya merasa kesal dengan sikap Kai. Kai bukannya tidak menyadari hal itu, hanya saja dia juga merasa malu dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Aku tidak lapar dan ingin pulang," ucapnya dengan nada sedikit kesal. Lalu, Alesya berjalan meninggalkan Kai.
"Al ..., dasar bodoh!" gumam Kai sembari menghempaskan rambutnya kasar. Segera menyusul Alesya yang sudah lebih dulu jalan.
"Alesya, tunggu!" panggilnya cepat. Lagi-lagi Alesya tidak menghiraukannya. Kai baru pertama kali menghadapi wanita, jadi dia tidak memiliki pengalaman. Dia tidak tahu harus melakukan apa disaat seperti ini.
"Alesya," panggilan Kai tidak dihiraukan oleh Alesya.
"Tolong buka pintu mobilnya," pinta Alesya dan Kai langsung membukanya, dia tidak ingin berdebat dengan Alesya ditempat parkir. Meski sepi tapi, tetap saja itu tempat umum.
Sepanjang jalan mereka hanya saling diam. Sesekali Kai akan melirik ke arah Alesya dan mendapati Alesya hanya menatap ke arah jalanan dan menganggap dirinya tidak ada. Kai tidak tahu harus bagaimana.
Setibanya mereka dihotel, Alesya kembali memakai topengnya dan turun dari mobil Kai. Begitu turun, Alesya terus berjalan menuju kamarnya tanpa memedulikan Kai sedikit pun.
***
"Selamat pagi Alesya sayang dan pagi Mia," sapa Erika saat melihat Alesya dan Mia datang.
"Pagi, Kak Erika. Kak Valerie mana? Nggak ikut sarapan?" tanyanya pada Erika sambil menyantap sarapan ringan yang ada dihadapannya. Karena setelahnya mereka akan check out dan melanjutkan pekerjaan terakhir, lalu kembali ke Jakarta.
"Hai Kai, Morning," sapa Erika saat melihat Kai datang. Kai hanya membalasnya dengan tangan terangkat.
"Kak, aku duluan ya," Alesya langsung beranjak begitu melihat Kai. Dia tidak ingin menemui pria itu, kecuali saat urusan pekerjaan.
Kai melihat Alesya pergi begitu saja disaat dirinya baru tiba, ingin mengejar dan menahannya. Namun, niat itu diurungkannya.
.....
"Kerja bagus semuanya! Ayo beres-beres dan segera pulang," ucap Erika pada semua orang ditempat ini.
Pekerjaan terakhir selesai dengan lancar. Meski memakan waktu lebih lama, karena Kai dan Alesya tidak seperti biasanya. Mereka harus terus mengulang sampai Fotographer menyukai hasil jepretannya.
"Kita perlu bicara sebentar," Kai menghampiri Alesya dan ingin mengajaknya bicara.
"Lepas! Sentuh atau kalian kehilangan tangan!" ancam Kai pada Ikran yang menahannya untuk tidak mendekat pada Alesya.
"Pak Ikran, nggak pa-pa. Tolong tinggalkan kami berdua, lalu lihatlah sekeliling dan pastikan tidak ada yang melihat atau mendengar kami," ucapnya pelan dengan mengatur diri untuk tidak terbawa perasaan.
"Baik!" lalu ketiga pengawal itu pun pergi dan melaksanakan apa yang diminta oleh Alesya.
"Katakan! Aku tidak punya waktu!" ucap Alesya dingin.
"Aku minta maaf. Aku bukan bermaksud untuk menganggap itu tidak ada. Hanya saja aku tidak tahu harus berbuat apa, karena itu pertama kalinya untukku," ucap Kai memelas dengan menggenggam tangan Alesya. Namun, Alesya hanya diam dan tidak mengatakan apa pun. Sehingga membuat Kai bertambah gugup.
"Alesya? Please, jawab," ucapnya lirih dan khawatir.
"Lalu, bagaimana denganku? Jadi, itu tidak masalah?!" tanyanya geram saat mendengar Kai mengatakan pertama kalinya. Apa mungkin Kai tidak memikirkan dirinya. Meski itu bukan pertama kali untuk Alesya, bukan berarti dia bisa memperlakukannya seenaknya.
"Aku minta maaf, em. Aku tidak bermaksud seperti itu. Maafkan aku, Alesya," pinta Kai cemas.
"Tanggungjawab," gumam Alesya pelan. Kai tidak mendengarnya dan menatap bingung Alesya.
"Aku bilang tanggungjawab!" Pekiknya kesal, saking kesalnya dia sampai menutup matanya sambil berteriak seperti itu. Meski ini bukanlah ciuman pertama untuknya tapi, dia harus meminta pertanggungjawaban dari Kai yang sudah seenaknya menciumnya.
"Tang—tanggungjawab?" tanya Kai sedikit bingung.
"Ish, nggak mau? Yah sudah!" ucapnya kesal. Saat Alesya hendak pergi tapi, Kai menahannya dan memeluknya.
"I love you. Jadilah pacarku, Alesya." ucap Kai tegas tanpa basa basi dan mencium Alesya lembut.
"Umph," Alesya hanya termangu dan membiarkan Kai melumat habis bibir mungilnya itu.
"Kenapa main nyosor saja sih, kan aku belum memberikan jawaban," gerutunya karena Kai lagi-lagi seenaknya saja menciumnya.
"Kalau kamu menolaknya pasti nggak akan mau aku cium dan mendorongku menjauh. Namun, karena tidak kamu lakukan, jadi aku akan menganggap kalau kamu menerimaku," Kai tersenyum hangat padanya dan terlihat sangat tampan.
"Ish, dasar curang!" timpalnya kesal tapi, tidak terasa seperti perasaan kesal juga. Lebih seperti perasaan menggelitik di dadanya dan herannya Alesya menyukainya.
Lalu keduanya berbincang sebentar dan membuat kesepakatan, kalau mereka akan merahasiakan hubungan mereka dari publik, sampai batas waktu yang tidak dapat mereka ketahui. Karena saat ini adalah masa-masanya Kai sedang populer dan naik daun. Dia tidak bisa begitu saja mengumumkan soal kehidupan pribadinya. Jika waktunya sudah tepat, mungkin saja mereka baru akan berpacaran secara terang-terangan.
Alesya mau tidak mau menyetujuinya. Karena dia juga tidak ingin menjadi penghambat dalam karir Kai. Karena Kai juga sudah terlanjur tanda tangan kontrak dengan syarat, tidak boleh sampai tercium oleh media massa tentang kehidupan pribadinya, terlebih dengan masalah percintaannya.
***
Tiga bulan sudah berlalu sejak Kai dan Alesya berpacaran. Kontrak Alesya dengan perusahaan N pun sudah berakhir. Alesya ditawari lagi untuk perpanjangan kontrak tapi, dia menolaknya. Karena orang tuanya tidak mengijinkannya dan pihak perusahaan pun mencoba memahaminya dan berkata jika Alesya berubah pikiran dapat menghubungi mereka.
Lalu Kai, pria itu saat ini sedang berada diluar negeri, lebih tepatnya di New York. Sedang ada pameran busana dari brand Gocci. Karena itu, Alesya tidak dapat bertemu dengan kekasihnya sementara waktu dan hanya bisa menghubunginya melalui ponsel, yang dimana itu juga sangat sulit sekali. Karena perbedaan waktu dan jadwal Kai yang sangat padat.
Kai tetap memberi kabar pada Alesya saat dirinya sudah selesai bekerja, meski Alesya baru akan menjawab ketika pagi hari menurut waktu Jakarta. Komunikasi mereka terhambat tapi, itu tidak mengurangi rasa kepercayaan Alesya pada Kai. Dia tidak pernah merasa cemburu atau mencurigai Kai, bahkan jika Kai terlihat bersama dengan wanita lain. Karena Kai sesekali akan masuk dalam acara tv dan tampil bersama seorang wanita.
Kring
Bunyi telepon berdering beberapa kali. Namun, pemilik ponsel tersebut masih tertidur, karena lelah yang dirasakannya.
"Padahal dia yang minta buat ditelepon tapi, malah nggak diangkat," gumam Alesya saat Kai tidak mengangkat panggilannya. Dia tidak marah atau kesal. Karena dia mengerti, jika Kai pasti sangat lelah dan hanya ingin menyempatkan waktu untuk berbicara dengannya.
Karena tidak kunjung diangkat, Alesya mengakhiri panggilan tersebut dan dia pun bersiap untuk kembali melakukan aktifitasnya saat ini. Mengedit video yang dia rekam kemarin.
"Oi, masih berkutat di depan laptop? Temenin aku yuk, Sy," ucap Mia.
"Biar kelar Mia, jadi nggak ada beban lagi dan bebas. Bentar lagi kelar kok," ucapnya dengan mata tetap tertuju ke laptop.
"Sy, aku mau ikutan kencan buta. Temani aku yah. Terus sekalian juga kan kamu cari jodoh," ucap Mia sambil memainkan ponselnya.
"Nggak ah. Mi, kamu kan tahu aku seperti apa. Jadi aku skip deh!" jawabnya santai pada sahabatnya itu. Mia belum mengetahui tentang hubungannya dan Kai. Memang sengaja tidak diberitahukan, karena Kai yang memintanya. Lalu, jika Kai tahu dirinya ikut perjodohan, bisa-bisa nanti dia akan langsung balik ke Jakarta dan memarahinya.
"Ayolah, Sy. Aku nggak berani kalau sendirian. Mau ya, please, masa nggak kasihan sama sahabat sendiri," bujuknya memohon pada Alesya dan membuatnya tidak tega. Karena Mia sudah putus dari Raykal dan semenjak itu Mia selalu murung. Sekarang Mia sudah jauh lebih baik, dia tidak ingin sahabatnya kembali murung atau tidak bersemangat seperti sebelumnya, tapi dia juga tidak ingin ikut kencan itu dan membuat Kai berpikir aneh-aneh tentangnya.
"Hanya sekali ini saja yah, Mia. Lain kali aku nggak mau ikut-ikutan acara aneh dan nggak jelas. Kalau mau, jalanin sendiri dan jangan bawa-bawa aku," ujar Alesya
"Siap, laksanakan Komandan!" antusias Mia dalam sekejap karena Alesya mengiyakan ajakannya.