Bab 8

1471 Words
"Jangan! Kalau kamu suruh dia datang, aku lebih baik balik ke Hotel saja. Tujuan kamu mengajakku jalan, agar aku merasa terhibur dan tidak terlalu memikirkan persoalan di Jakarta , 'kan? Kalau Mia ikut dan semakin banyak orang, bukannya terhibur aku malah menjadi badmood," ujar Kai kekanak-kanakan tapi, dia menahannya agar bisa berjalan berdua saja dengan Alesya. Dia tidak ingin orang lain mengganggu aktifitas mereka berdua saat ini. Susah payah dia mendapatkan waktu berdua dan jalan bersama. Masa harus diganggu oleh orang lain. "Hm, iyah juga sih. Yah sudah, kita berdua saja," timpal Alesya dan akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk meminta Mia menyusul. "Nanti biar aku yang bayar tiket masuknya yah. Kita gantian, jadi biar tidak terlalu membebani kamu. Lagi pula kan aku yang mengajak kamu pergi," ucap Alesya sekali lagi. Kai tidak mau memberitahunya berapa total tagihan tersebut. Jadi kali ini Alesya yang harus membayar, dia takut kalau Kai yang akan terus membayar. Meski mungkin saja Kai tidak memiliki niat itu tapi, pikiran Alesya sudah terlanjut bercabang. "Terserah," balas Kai seadanya. Yang pasti dia memiliki rencana sendiri akan hal itu. ..... "Mba, tiketnya untuk dua dewasa yah," kata Kai dan petugas segera memproses permintaan Kai. Setelah jadi, Kai pun langsung membayarnya dan dengan santai berjalan kembali menuju sebuah cafe yang dimana Alesya ada di dalamnya sedang duduk sambil menyeruput minuman coklat. "Sudah ke toilet-nya?" tanya Alesya saat melihat Kai. Begitu mereka sampai tadi, Kai mengajak Alesya untuk masuk ke dalam Storbocks dan bersantai sebentar. Setelah mereka berdua duduk, Kai mengatakan pada Alesya kalau dia ingin ke toilet dan dengan polosnya Alesya mengiyakan, sehingga mempermudah Kai. "Hem, sudah, yuk kita masuk," ajak Kai langsung. "Minumannya belum habis, biasanya kan nggak boleh bawa minuman ke dalam sana," ucap Alesya. Kai tidak membeli apa pun, hanya Alesya yang membeli minuman. Kai mengambil minuman Alesya dan langsung meminumnya habis, hingga membuat Alesya tercengang. "I—itu kan sudah aku minum, Kai!" seru Alesya. "Nggak pa-pa, selama kamu nggak ada penyakit, berarti aku aman," dengan santai Kai berbicara seperti itu, membuat Alesya tidak habis pikir dengan kelakuan lelaki dihadapannya ini. "Ish, dasar!" gerutunya lagi. "Kita mau kemana? Lewat sebelah sini, Kai. Kita belum beli tiketnya loh," ucap Alesya dan Kai langsung menunjukkan dua lembar tiket pada Alesya. "Tuh kan! Apaan sih Kai, semuanya jadi kamu yang bayar!" protes Alesya keras. "Santai Alesya. Aku nggak masalah. Anggap saja kita sedang berkencan. Jadi, semua yang kita lakukan hari ini, aku yang menanggung. Beres, 'kan?" ucap Kai santai, lalu langsung menggenggam tangan Alesya dan masuk ke dalam tempat itu. "Ha?!" Alesya tidak tahu harus merespon seperti apa, dia hanya diam dan terpaku. lagi-lagi jantungnya berdebar kencang dan wajahnya memerah. Dia merasa panas padahal ditempat itu memakai pendingin udara. "Gampang banget sih tuh cowok ngomongnya," gumam Alesya pelan sekali dengan wajah tertunduk. "Naik itu mau?" tunjuk Kai pada salah satu wahana yang terlihat cukup menegangkan. Setelah menatap Kai cukup lama, barulah dia menjawab. "Hem, boleh," sepertinya Alesya masih merasa canggung setelah mendengar perkataan Kai tadi. Dia merasa bingung apa harus menganggap ini benar-benar sebagai kencan merasa atau sebaliknya. Dia terus saja memikirkan hal tersebut. Keduanya mengantri hanya sebentar karena petugasnya sedang membantu pelanggan lain yang hendak turun dari wahana itu. Setelahnya, dia meminta mereka berdua masuk. Karena Kai membeli tiket yang prioritas atau tidak perlu antri dan lainnya. Mereka memilih bangku tengah, karena Alesya yang memintanya. Dia tidak berani kalau harus duduk paling depan saat naik rollercoasteri. "Kalau takut, kenapa mau naik?" tanya Kai saat melihat Alesya gugup. "Karena seru! Jadi, biar takut tetap harus naik. Kalau nggak untuk apa datang kesini," jawabnya jujur. Alesya bukan gadis pemberani tapi, dia menyukai wahana-wahana menegangkan seperti ini. Karena itu, biar pun dia takut, dia akan tetap naik dan menikmati setiap wahana yang ada. "Pffftt, konyol!" kekeh Kai. "Tck!" decak Alesya. "Siap dan selamat bersenang-senang!" seru pegawai tersebut dan rollercoaster pun mulai bergerak pelan dan bertahap kecepatannya bertambah. "AAAGGHHH!!!" teriak orang-orang yang menaiki wahana itu, termasuk Alesya, kecuali Kai. Bukannya berteriak tetapi, Kai malah menunjukkan respon sebaliknya. "Hahaha," tawa lepas Kai saat wahana masih terus bergerak cepat dan menikmatinya. "Agh! Kenapa tertawa? Ini serem tahu!" teriak Alesya takut karena kecepatan rollercoaster dan matanya tertutup sangat rapat. "Jangan takut dan nikmati saja, kalau yang dipikirkan takut akan ketinggian dan lainnya, nanti kamu jadi nggak akan bisa menikmati angin dan pemandangannya dari sini. Padahal bagus loh!" ucap Kai sembari memandang ke arah sampingnya. Memandang wajah Alesya yang terlihat panik, takut dan menutup matanya. "Yang benar?" Alesya yang terpancing perkataan Kai, berusaha membuka matanya pelan dan langsung tertutup lagi dalam satu detik bahkan tidak sampai. "Ish, apaan yang bagus, seram iyah! Dasar aneh!" protes Alesya keras. Dia tidak percaya menuruti perkataan sesat Kai dan membuka matanya. Ingin rasanya dia memaki Kai tapi, saat ini ada yang lebih penting dan membuatnya bertanya-tanya kapan wahana ini akan berhenti. "Pffttt," kekehnya gemas dengan Alesya. Lalu wahana pun bergerak menjadi pelan dan berhenti tak lama kemudian. Kai dan Alesya beralih ke permainan yang lain. Mulai dari Giant Swing, Negeri raksasa, Car Racing dan lain-lainnya. Hampir semua permainan dicoba oleh mereka berdua. Sekarang mereka beralih mencoba rumah hantu ditempat itu. Nama permainannya Dunia Lain, para pengunjung akan diminta untuk menaiki sebuah kereta. Nanti kereta akan berjalan pelan dan selama perjalanan akan disuguhi bermacam-macam karakter hantu dan nuansa gelap yang mencekam. Entah apa yang merasuki Alesya sehingga dia ingin mencoba permainan itu, padahal Alesya sangat penakut. "Ayo kita coba ini! Aku sudah memantabkan hati untuk masuk ke sana, walau hanya sekali dalam seumur hidup!" serunya dengan membara. Dia memantapkan hati yang tidak akan pernah siap itu, untuk mencoba wahana menyeramkan ini. "Yakin? Aku nggak mau yah sampai muncul diberita karena kamu pingsan pas di dalam sana," ucap Kai dengan tatapan tak yakin dan penuh selidik. "Iyah, aku bisa, pasti bisa. Sudah ah, ayo buruan sebelum aku berubah pikiran!" ucapnya yang menurut Kai itu sangat menggemaskan. "Yah sudah," Kai menuruti kemauan Alesya dan mereka memilih dibangku nomor dua dari belakang. Hanya ada enam orang, termasuk mereka berdua yang menaiki kereta itu. Dua pasang lainnya berada didepan mereka. "Kai, apa kita balik saja yah? Kok tiba-tiba aku berubah pikiran. Boleh nggak yah kita turun sekarang," ucap Alesya dan saat itu juga kereta baru saja mulai berjalan. "Mana bisa, Alesya," cibir Kai tapi, melembut saat melihat Alesya ketakutan. "Sini!" Kai menarik pelan Alesya untuk mendekat padanya. Lalu Kai mendekap gadis itu agar mengurangi rasa takutnya. Bagaimana mereka bisa turun jika kereta saja sudah berjalan. "Kai, kalau ada hantunya diam-diam yah, jangan kasih tahu aku dan aku juga nggak mau tahu tentang itu. Pura-pura saja kalau kamu tidak melihatnya. Terus apa pun yang terjadi di sini, jangan dibocorin ke orang lain. Ini rahasia kita berdua, aku bicara seperti ini buat jaga-jaga saja," ucap Alesya panjang lebar pada Kai. Karena siapa tahu saja, dia pingsan ditengah-tengah permainan atau terburuknya dia buangvair kecil dicelana. "Tergantung bayarannya dulu," tatap Kai sembari terkekeh. "Ish, dasar cowok matre! Masih sempet-sempetnya bicarain soal bayaran!" serunya kesal. "Coba lihat aku, semua ini butuh biaya besar paham," sambil menunjuk dirinya sendiri dari atas ke bawah di depan Alesya. "Iya, iyah. Dasar narsis!" gerutunya. Berdebat dengan Kai membuat Alesya lupa kalau dirinya saat ini sedang berada di rumah hantu. Namun, tidak memakan waktu lama, ketakutannya pun muncul kembali. "Argh!!" teriaknya dengan suara tertahan sembari memeluk Kai erat sekali. "Dasar penakut," ejek Kai dengan kekehan. "Sudah dibilangin tidak usah kesini, masih ngotot sih tadi!" celetuk Kai yang tidak didengarkan Alesya karena dia terlalu fokus dengan suasana horror. "Aku mau pulang! Hueee!" rengeknya tanpa malu lagi bagaikan anak kecil. "Tsk, jangan bikin aku malu, Alesya!" kata Kai tidak benar-benar serius. Padahal dalam hatinya, dia merasa tingkah Alesya saat ini sangat menggemaskan. "Ish, jangan gitu. Orang lagi ketakutan juga!" gerutu Alesya. "K—kai, itu..., itu apaan kok gerak-gerak? AGH!!" teriaknya dan langsung kembali memeluk Kai lebih erat dan lebih dekat lagi dari sebelumnya. "Usir Kai, usir kalau dia mendekat!" rengeknya bak anak kecil. "Pffttt, itu cuma boneka," Kai menyentuh wajah Alesya dengan maksud untuk membuatnya melihat boneka itu. Namun, dia malah diam menatap wajah Alesya yang sedang menutup mata rapat dan enggan melihat. Menurut Kai terlihat sangat manis. Kai mendekatkan wajahnya dan menciumnya. " ...! " Alesya terkejut dan membuka matanya dan yang dilihatnya adalah tatapan mata Kai yang sedang menatap dirinya. "Aku pasti benar-benar sudah gila," gumam Kai pelan saat dia berhenti mengecup bibir Alesya. Karena sudah terlanjur, Kai menyentuh lembut pipi Alesya dan kembali menciumnya. Alesya tidak tahu kenapa, dia tidak menolak Kai dan menerimanya begitu saja. Padahal dia sedang ketakutan sebelumnya tapi, entah pergi kemana rasa takut yang dia rasakan tadi. Seolah menghilang ditelan bumi dan tergantikan dengan debaran jantung yang tidak karuan. Sesaat kereta hampir selesai dan kembali tiba ditempat awal mereka naik, Kai menyudahinya serta membelai lembut pipi Alesya dengan tangannya dan langsung mengajak Alesya turun serta pergi dari sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD