Hendriansyah sampai dikampung neneknya,namun hanya diujung jalan karna mobil tidak bisa masuk kekampung itu akses jalan yang kecil membuat Hendri terpaksa menggunakan ojeg yang berada disana,
"Pak,ojeg" panggil Hendri,
"Iya mas,kemana mas?" Tanya tukang ojeg itu mendatangi Hendri,
"Kerumah nek Sihah"
"Maaf kalau boleh tau mas ini siapanya mbah Sihah?"
"Saya cucunya pak"
"Masyaallah Hendri" tukang ojeg itu mengenali Hendri,
"Bapak kenal saya?" Tanya Hendri,
"Saya Diro bapaknya Aris"
"Aris? Masyallah pak Diro" Hendri dan Diro saling tertawa dan mengobrol sepanjang perjalanan,
"Sekarang Aris kerja dimana pak?"
"Aris sekarang kerjaannya kekebun terus Hendri,dia bapak suruh kuliah enggak mau katanya nanti nyusahin bapak iya akhirnya kaya sekarang" ucap pak Diro sembari mengendarai motornya,
"Enggak apa-apa pak,kan bisa buka usaha"
"Itu dia Aris minta buka usaha tapi modal belum ada,maklum saya hanya ngojek dan Aris hanya buruh disawah"
Hanya butuh waktu satu jam akhirnya Hendri sampai dirumah nek Sihah,rumah yang dari dulu sampai sekarang tidak ada perubahan,suasana asri pedesaan terasa sejuk,Diro membantu Hendri menurunkan tas dan kopernya,
"Terimakasih pak" Hendri menerima koper dan tas yang diturunkan pak Diro,
"Kalau begitu saya permisi mas"
"Pak tunggu saya belum bayar"
"Tidak usah nak,kaya sama siapa aja" ucap pak Diro memutar motornya,
"Pak saya harus bayar"
"Simpan saja uangmu untuk jalan-jalan disini,nanti bapak kasih tau Aris kalau kamu ada disini"
"Iya pak,terimakasih"
"Nek Sihah,cucu mu datang" teriak pak Diro kemudian pergi,Hendri hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya,
Benar saja nenek Sihah dan kakek Aryo keluar dari rumah dan melihat ada cucunya dihalaman rumah betapa senang dan terkejutnya nenek dan kakek itu,
"Masyaallah nak,cucuku yang ganteng datang kesini" nek Sihah memeluk Hendri,
"Nenek apa kabar?"
"Nenek sehat nak,apalagi saat melihatmu" nek Sihah tak henti mencium cucu kesayangannya itu,
"Alkhamdulilah akhirnya cucuku datang kesini" kakek Aryo memeluk Hendri,
"Kakek apa kabar?"
"Alkhamdulilah kakek sehat"
"Ayo masuk jangan berdiri disini,cuaca mendung nanti hujan" ajak nek Sihah,
Mereka bertiga masuk kedalam rumah dan duduk diruang tamu,nek Sihah menyiapkan minum untuk suami dan cucunya,
"Ada hal apa kamu datang kesini nak?" Kake Aryo menyeruput tehnya,
"Untuk sementara Hendri mau tinggal disini,sama kakek dan nenek"
"Benarkah?" Tanya nek Sihah berbinar,
"Iya nek" Hendri tersenyum tulus pada neneknya.
"Akhirnya ada yang menemani kita dimasa tua kek" nek Sihah meneteskan airmatanya,
"Haduh mulai nenekmu drama" ucap kakek Aryo sambil terus menyeruput tehnya,Hendri yang menyaksikan nenek dan kakeknya berdebat hanya tertawa karna meskipun mereka sudah tua mereka masih bisa romantis dan saling menghibur,
"Biarkan Hendri istirahat,dia habis perjalanan jauh" kakek Aryo melihat nek Sihah yang terus menggenggam tangan cucunya,
"Tapi Hendri enggak akan pergi lagi kan?"
"Enggak nek,Hendri disini nemenin kakek dan nenek" Hendri menggenggam erat tangan neneknya,
"Sudahlah biarkan Hendri istirahat,ini tanganku sebagai ganti tangan Hendri lepaskan tangannya" kakek Aryo menyodorkan tangannya dan benar saja nek Sihah langsung menggenggam tangan kakek Aryo,
"Kalian beromantis lah Hendri akan istirahat" Hendri berdiri menggendong tas dan menarik kopernya masuk kekamarnya,
"Masih sama tidak ada yang berubah" Hendri menatap sekeliling kamar itu,kamar yang dulu selalu ditiduri Hendri dan orang tuanya setiap kali mereka mengunjungi kakek dan neneknya,Hendri mengeluarkan semua bawaanya termasuk foto Jelita,Hendri menyimpan foto itu diatas nakas.
"Nak Hendri apa kamu mau makan dulu?" Nek Sihah masuk kekamar Hendri,
"Tidak nek,nanti saja" Hendri kembali merapikan pakaiannya dan memasukannya kedalam lemari,
"Mentari" ucap nek Sihah saat melihat foto Jelita,
"Namanya Jelita nek,cantik bukan?"
"Dia kekasihmu?"
"Iya nek,cucu menantu nenek"
"Kapan kau mengenalnya?apa kau kesini untuk dia?" Tanya nek Sihah,
"Maksud nenek apa?Jelita tinggal dikota nek,tapi sekarang Jelita sudah tidur dengan nyenyak dan enggak bangun lagi" Hendri mengusap air matanya,
"Kek,kakek" panggil nek Sihah,
"Iya nek,ada apalagi Hendri mau istirahat kenapa diganggu lagi?"
"Liat foto itu" nek Sihah menunjuk foto Jelita,
"Mentari" ucap kakek Aryo,
"Enggak kakek,enggak nenek nyebut dia mentari,dia Jelita kek" Hendri tersenyum pada kakek dan neneknya,
"Itu Mentari anaknya pak Hisyam"
"Pak Hisyam siapa lagi kek?" Hendri tersenyum dan menganggap kakek dan neneknya sok tahu,
"Oh iya nek ini ada titipan dari mamah" Hendri menyerahkan dompet kecil yang dititipkan mamahnya,
"Nenek mengerti sekarang" nek Sihah pergi kekamarnya dan diikuti oleh kakek Aryo,
"Mereka kenapa sih?" Hendri lanjut merapikan pakaiannya,setelah selesai Hendri tertidur karena lelah.
Sore harinya Hendri dibangunkan oleh kakek Aryo untuk mandi dan bersiap sholat berjamaah dimasjid,Hendri pun bangun membersihkan diri kemudian berangkat bersama kakek Aryo menuju masjid,
"Hendri" panggil seseorang dari belakang,
"Aris?"
"Iya aku Aris,kamu apa kabar?"
"Alkhamdulilah baik RIS,kamu sendiri apa kabar?"
"Seperti yang kamu lihat" mereka tertawa bersama,
Setelah selesai melaksanakan sholat Hendri dan kakek Aryo tidak langsung pulang mereka mengobrol dengan warga lain didepan masjid,Hendri terpaku dengan seorang gadis yang sedang bercengkrama dengan teman-temannya.
"Jelita" gumam Hendri,
"Kamu lihat apa?" Tanya Aris,
"Wanita itu" tunjuk Hendri,
"Oh itu Mentari anaknya pak Hisyam,cantik iya"
"Enggak,aku harus ngejar dia" Hendri terbangun dan berlari mendekati Mentari,membuat Aris bingung tapi tetap mengikuti sahabat kecilnya itu,
"Jelita" Hendri memeluk Mentari,Mentari yang tidak mengenal Hendri sontak terkejut dan merasa bingung karena tiba-tiba dipeluk laki-laki,
"Maaf mas siapa?tolong lepasin saya" ucap Mentari,
"Enggak Jelita,kamu enggak boleh pergi lagi dari hidupku,aku sangat merindukanmu Jelita"
"Mas aku bukan Jelita" Mentari mencoba melepas pelukan Hendri,
"Hendri,kamu bikin dia takut" Aris menarik Hendri,
"Mas Aris temannya kenapa sih?" Tanya Anggi,
"Maaf mbak Mentari teman saya mengira mbak ini Jelita"
"Enggak RIS,dia Jelita dia calon istriku tunanganku" ucap Hendri,
"Ada apa ini?" Kakek Aryo yang melihat keributan langsung menghampiri,
"Hendri mengira mbak Mentari itu Jelita kek,Hendri terus memeluk mbak Mentari dan membuat mbak Mentari katakutan" jelas Aris,
"Hendri istighfar nak" kakek Aryo memeluk Hendri dan menenangkannya,Hendri yang semakin menangis diperlukan kakeknya itu,
"Sebenarnya ada apa ini kek?" Tanya Aris,
"Kalian bertiga ikut kakek kerumah iya"
Mereka bertiga hanya mengikuti permintaan kakek Aryo untuk datang kerumahnya,setelah sampai dirumah nek Sihah kebingungan melihat Hendri yang terus menangis tanpa henti,
"Ada apa dengan cucuku?" Tanya nek Sihah khawatir,
"Biarkan Hendri istirahat nek"
Kakek Aryo membawa Hendri kekamarnya dan keluar lagi dengan membawa bingkai foto Jelita.