Kembar

1961 Words
Kakek Aryo keluar membawa bingkai foto dan menunjukkannya pada Mentari,Aris,dan Anggi. Foto yang ditunjukkan kakek Aryo membuat semua orang menganga dan tidak menyangka, "Ini wanita yang bernama Jelita,yang Hendri sebut-sebut sedari tadi" ucap kakek Aryo memperlihatkan foto Jelita, "Mentari" "Mentari kamu kenal Hendri?" Tanya Aris, "Enggak mas,saya justru baru lihat mas Hendri hari ini" "Foto ini" Aris menunjuk pada foto Jelita, "Aku tidak tahu mas kenapa fotoku bisa ada pada mas Hendri" "Atau jangan-jangan" Anggi memicingkan matanya, "Apaan sih Anggi,kamu tahu sendiri kalau kita baru ketemu mas Hendri hari ini, "Namanya Jelita dia tinggal dikota,tapi saat ini dia sudah tiada" "Maksud nenek?" "Jelita adalah tunangan dari Hendri,mereka akan melangsungkan pernikahan tapi setelah fitting baju tragedi menimpa mereka dan membuat mereka terpisah jauh sekali sekarang" "Ya Allah kasihan sekali Hendri,aku fikir hidupnya enak dikota dan bahagia" ucap Aris "Hendri masih belum bisa menerima kenyataan,dia juga belum mau bertemu orang bahkan untuk menggantikan papahnya dia tidak mau dan memutuskan untuk datang kesini" "Tapi kenapa wanita ini mirip sekali denganmu mentari?" Tanya Anggi menatap foto Jelita dan wajah mentari secara bergantian, "Aku juga tidak mengerti" "Apa kalian kembar?" Tanya Aris, "Selama ini bapak enggak pernah memberitahuku kalau aku memiliki kembaran" Saat mereka sedang mengobrol tiba-tiba Hendri keluar dari kamarnya, "Jelita" Hendri berlari mendekati mentari dan duduk didepan Mentari sambil menggenggam tangan Mentari, "Eh" Mentari reflek melepas tangan Hendri, "Kamu kenapa? Kenapa kamu tidak mau aku pegang?" "Maaf mas tapi aku" "Jelita kamu dari mana saja? Kenapa kamu baru muncul sekarang? Aku selama ini yakin kalau kamu masih hidup dan itu ternyata benar" "Mas aku Mentari bukan Jelita" "Kamu ngomong apa sih sayang,kamu itu Jelita ini foto kamu" Hendri mengambil foto ditangan nenek Sihah, "Nak,ini Mentari bukan Jelita" "Enggak nek,ini Jelita nek calon istri Hendri yang mau Hendri kenalkan sama nenek" "Bagaimana ini" bisik Mentari pada anggi, "Aku juga bingung" "Hendri" panggil Aryo, "Iya kek" "Kemari" Hendri mendekat kearah kakeknya Aryo,dan duduk disampingnya, "Kamu salah mengenali orang nak,dia Mentari anak dari pak Hisyam" "Tapi kek" "Nak,sadarlah dari hayalanmu,kekasihmu Jelita sudah tiada dan yang kamu lihat saat ini adalah Mentari bukan Jelita" Hendri menundukkan pandangannya, "Bukan kakek ingin membuatmu sedih atau tidak mengerti keadaanmu tapi dengan kamu memaksa Mentari untuk menjadi Jelita itu sangatlah tidak mungkin karena mereka dua orang yang berbeda" "Tapi kenapa wajahnya sama" "Wajahnya sama dengan Jelita mungkin hanya kebetulan,Mentari ini orang desa sedangkan Jelita orang kota" "Apa tidak bisa Mentari menjadi Jelita?" Aryo menatap Mentari dan Mentari menundukkan pandangannya, "Cinta itu tumbuh dari hati,jika kamu ingin bersama Mentari karena wajahnya yang mirip dengan calon istrimu maka itu akan menyakiti Mentari dan dirimu sendiri" "Baik kek,aku mengerti" Hendri menatap dalam Mentari, "Tari ayo kita pulang ini sudah malam,bapakmu pasti akan memarahimu jika kamu pulang telat" ucap Anggi, "Iya nggi" "Nek kek,kami pamit pulang ini sudah malam" ucap Mentari pada Sihah dan Aryo, "Iya nak,hati-hati" ucap Sihah, "Nak Aris tolong antarkan mereka berdua ini sudah malam" ucap Aryo, "Baik kek,sekalian Aris juga pamit pulang" "Iya hati-hati" "Assalamualaikum" ucap Anggi,Mentari,dan Aris sambil menyalami Sihah dan Aryo, "Wa'alaikumussalam.wr.wb" ucap Aryo dan Sihah, Setelah kepergian orang-orang Hendri kembali masuk kekamarnya dan menatap dalam foto Jelita, "Kamu dimana sayang? Aku yakin itu bukan makam kamu" Hendri memeluk foto Jelita sampai terlelap. #Mentari POV Mentari Khairunisa adalah putri dari Hisyam Ali,ibu Mentari sendiri sudah tiada saat Mentari berumur 5 tahun,Mentari tumbuh besar hanya dengan didikan dan asuhan seorang ibu,sejak usianya menginjak 5Tahun Mentari sudah tidak lagi merasakan kasih sayang ibunya,Hisyam sendiri sangat menyayangi putrinya, "Assalamualaikum" ucap Mentari saat memasuki rumah, "Wa'alaikumussalam dari mana saja? Kenapa jam segini baru pulang?" "Tadi habis kerumah kakek Aryo pak,karena tadi cucu kakek Aryo pingsan di masjid" "Perempuan?" "Laki-laki" "Lantas kenapa kamu mengantarnya? Bukankah dia seorang laki-laki? Seharusnya diantar oleh laki-laki juga" "Iya pak,tapi tadi ada permasalahan kecil" "Tunggu,cucu kakek Aryo? Itu artinya dia anak dari Alex?" "Kalau itu Mentari enggak tahu pak" "Iya sudah masuk kamar" "Baik pak" "Eh tunggu" Mentari yang sudah jalan seketika terhenti kembali saat Hisyam kembali menghentikannya, "Iya pak" "Kamu jangan dekat-dekat dengan keluarga itu" "Memangnya kenapa pak?" "Kalau bapak bilang jangan dekat-dekat iya jangan dekat-dekat!!!!!" "Ba-baik pak" ucap Mentari dan kembali melangkahkan kaki menuju kamarnya, "Alex,jangan harap aku akan melupakan kejadian itu dan membiarkan putriku dekat dengan putramu" ucap Hisyam setelah kepergian Mentari. Pagi harinya Hendri sudah rapih dan bersiap pergi, "Nak kamu mau kemana?" Tanya Sihah yang melihat cucu kesayangannya sudah rapih, "Nenek,Hendri mau kerumah Aris sekalian mau ajak Aris berkeliling" "Pantas saja cucu nenek sudah tampan pagi-pagi" "Iya dong nek" "Kamu sarapan dulu,bi Sum sudah membuat sarapan untuk kita" "Hendri sarapan diluar saja nek,Hendri udah ditunggu Aris" "Iya sudah kamu hati-hati" "Iya nek, assalamualaikum" "Wa'alaikumussalam" Hendri berjalan keluar menuju rumah Aris,namun ditengah jalan dia berpapasan dengan Mentari dan Hisyam,membuat Hendri menghentikan mereka, "Pagi" ucap Hendri, Hisyam menatap Hendri dari atas sampai bawah, "Anak muda jaman sekarang tidak bisa mengucap salam" ucap Hisyam, "Assalamualaikum" ucap Hendri lagi, "Wa'alaikumussalam" "Jelita" ucap Hendri, "Hei anak muda,kamu siapa? Dan siapa Jelita?" "Eh maaf pak maksud saya Mentari,saya Hendri cucu dari kakek Aryo" "Oh jadi kamu yang namanya Hendri" "Iya pak" "Jauhi anak saya dan jangan pernah menyapa anak saya lagi!!!" "Pak" ucap Mentari yang merasa tak enak hati, "Apa? Kamu mau membela dia?" "Maaf pak,memangnya saya salah apa sampai saya tidak boleh berteman dengan Mentari?" "Salahmu banyak" ucap Hisyam dan pergi meninggalkan Hendri, "Mas,maafkan bapak saya" ucap Mentari, "Mentari cepat!!!" "Baik pak" "Saya permisi, assalamualaikum" Mentari berlari menyusul Hisyam, "Wa'alaikumussalam.wr.wb" Hendri kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah Aris. "Assalamualaikum" "Wa'alaikumussalam.wr.wb,nak Hendri masuk nak" ucap Diro, "Pak,Aris ada" "Eh Hendri,sebentar aku pakai baju dulu" ucap Aris, "Iya ris" "Duduk dulu nak,mau minum apa?" "Enggak usah repot-repot pak" "Oalah enggak repot kok,saya buatkan kopi iya" "Tidak usah pak,aku enggak minum kopi" "Oalah iya sudah kalau begitu,saya mau berangkat ngojek dulu" "Iya pak" Diro melangkah keluar dari rumah dan tak lama Aris keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapih, "Kita mau kemana?" "Keliling aja,sudah lama enggak kesini jadi pengen lihat suasana desa sini" "Baiklah,sudah sarapan?" "Belum,kita sarapan diluar saja ris" "Baiklah,ayo jalan" "Kamu enggak pamit ibumu?" Aris tersenyum,"ibuku sudah meninggal sejak aku usia 10tahun" "Ya Allah,maafkan aku ris aku enggak tahu" "Enggak apa-apa santai saja,iya sudah ayo keburu siang nanti panas" "Ayo" Aris mengeluarkan motor kesayangannya dan menyalakan mesinnya, "Motor tahun berapa ini ris?" "Motor saat aku SMP,bapakku enggak mungkin antar jemput aku terus akhirnya dibelikanlah motor ini" "Wah kamu hebat,motor dirawat terus dari SMP loh tapi masih bisa digunakan sampai sekarang" "Tapi jelek Hen" "Enggak apa-apa yang pentingkan ada kendaraan,kalau enggak ada ini motor kita mau keliling naik apa? Mobilku saja tidak bisa masuk kesini" "Oh iya aku sampai lupa,bapakku minta aku ngasih tahu kamu kalau mobil kamu aman diparkiran pintu masuk sana" "Iya aku percaya disini aman" "Iya sudah ayo kita jalan" "Okey" Aris dan Hendri berboncengan keliling desa,tak lupa Hendri mengabadikan setiap tempat yang indah dan lucu menurutnya, "Hendri,kamu suka foto-foto gitu?" "Iya" "Kenapa enggak jadi fotografer saja" "Papah enggak ngijinin,papah mau aku meneruskan dirinya untuk memimpin perusahaan" "Wah itu bagus loh" "Tapi aku tidak suka berkecimpung didunia bisnis" "Aku lebih suka menjadi diriku sendiri" "Iya sih,terkadang kalau tidak suka dipaksa tidak akan baik juga kedepannya" "Kamu sendiri kenapa enggak nyari kerja dikota?" "Aku enggak tega ninggalin bapakku,kalau aku ke kota gimana beliau?" "Iya juga sih,tapi bagaimana jika kamu nyoba bisnis dikota tapi kamu tetap mengerjakannya dari sini" "Aku enggak punya teman dikota" "Aku temanmu" "Memangnya kamu mau membantuku?" "Kenapa enggak?" Aris tersenyum,tak lama mereka sampai disebuah warung makan pinggir sawah,warung makan didesa yang sederhana yang bisa menyaksikan pemandangan sawah,bukit,dan gunung, "Kita sarapan disini iya,disini makanannya enak poll hehe" "Okey" Hendri dan Aris turun dan masuk ke warung makan,setelah memesan apa yang mereka mau Hendri dan Aris duduk ditempat duduk yang sudah disediakan, "Pemandangannya bagus iya ris" ucap Hendri menikmati pemandangan sekitar, "Iya,disini biasa anak muda desa nongkrong bisa makan sambil ngobrol dan menyaksikan view gunung dan bukit" "Oh iya Hendri,aku mau tanya soal Jelita" lanjut Aris, "Jelita itu wanita yang baik,sederhana,cantik,dan lembut" "Sesempurna itu?" "Dia wanita kota namun sikap dan wataknya tidak seperti wanita kota lainnya itu sebabnya aku begitu mencintainya" "Apa kecelakaan itu benar-benar memisahkan kalian?" "Entahlah aku tidak yakin,karena saat itu aku masih sempat sadar sebelum koma,samar-samar aku melihat Jelita dibawa oleh seseorang tapi enggak tahu siapa yang membawanya,sampai akhirnya aku sadar dari koma aku dikasih tahu Jelita sudah tiada" "Makamnya?" "Makamnya ada,tapi entah kenapa hatiku bilang kalau yang dimakam itu bukan Jelita" "Mungkin itu hanya perasaanmu" "Mungkin saja" "Terus kenapa kamu menganggap Mentari itu Jelita?" "Wajah mereka sama,kamu pun melihat sendiri di foto Jelita" "Iya sih,tapi pasti ada perbedaan" "Tidak ada sama sekali mungkin hanya gaya rambut yang berbeda,oh iya aku mau tanya tentang Mentari" "Tanya apa?" "Mentari itu benar-benar anak pak Hisyam?" "Mentari itu anak pak Hisyam dan ibu Nirmala,saat usianya 5 tahun ibunya meninggal dan akhirnya dia hidup bersama pak Hisyam" "Apa Mentari benar-benar anak yang dilahirkan didesa ini? Atau sebelumnya ditemukan setelah dewasa?" "Hahaha jadi menurutmu Mentari itu Jelita?" "Iya siapa tahu" "Mentari itu sejak kecil sudah ada disini,saat ibuku meninggal dulu Mentari sudah berumur 4 tahun,dia datang melayat bersama dengan ibunya" "Jadi kamu tahu Mentari kecil disini?" "Iya jelas tahu" Saat mereka asik mengobrol makanan pun sudah siap dan diantarkan pada mereka,mereka melahap sarapan mereka sampai habis. "Lalu bagaimana dengan pak Hisyam?" "Bagaimana apanya?" "Kayaknya dia enggak suka sama aku" "Pak Hisyam?setahuku dia baik pada semua orang" "Tapi kenapa dia memintaku untuk menjauhi Mentari?" "Benarkah?" "Sebelum ke rumahmu aku bertemu dengan pak Hisyam dan Mentari,saat aku menyapa mereka pak Hisyam justru memintaku untuk menjauh dari Mentari" "Kalau itu aku kurang tahu,soalnya pak Hisyam tidak melarang siapapun untuk berteman dengan Mentari" "Tapi kenapa ke aku" "Mungkin kamu kayak teroris hahaha" ucap Aris sambil tertawa,membuatnya mendapat jitakan dari Hendri, "Bu,mau nasinya sebungkus sama gorengannya sepuluh ribu" "Oh iya mbak,tunggu dulu iya soalnya gorengannya harus digoreng dulu" "Iya Bu" Suara wanita itu membuat pandangan Hendri teralihkan,dua pasang mata saling bertemu dan bertatap, "Mentari" "Mas Hendri" "Eh ada Mentari,sini" ucap Aris memanggil Mentari, "Beli nasi enggak masak Tari?" Tanya Aris, "Enggak mas,tadi Mentari sibuk bantu bapak" "Oalah" "Mas Aris sama mas Hendri ada disini sarapan disini,memangnya bi Sum enggak ke rumah nenek Sihah?" "Oh bi Sum kerumah dan sudah masak juga,tapi aku dan Aris sudah janjian untuk keliling desa jadi sarapannya disini" "Oh begitu,mas Hendri betah tidak disini?" "Alhamdulilah betah,suasananya adem dan tenang" "Oh iya Mentari,apa benar tadi pagi Hendri dimarahi bapakmu?" Tanya Aris, "I-iya mas,aku sendiri enggak tahu kenapa bapak melarang aku untuk berteman dengan mas Hendri" "Mungkin karena Hendri terbiasa dikota,jadi berfikir orang kota itu membawa dampak buruk" "Mungkin saja" "Oh iya Mentari,apa aku boleh meminta tolong?" "Boleh mas" "Kamu mau iya jadi model? Aku ingin memfoto pemandangan itu tapi harus ada orangnya" "Modus nih" ucap Aris, "Loh enggak,fotonya juga sama kamu Ris,jadi dibuat seolah kalian sedang bermain atau apa gitu disana,nanti aku ambil gambarnya" "Wah ide bagus tuh,kalau bisa biar jadi model hehehehe" ucap Aris, "Iya sudah ayo" Mentari dan Aris berjalan menuju bawah bukit,Hendri bersiap dengan kameranya dan mengambil beberapa gambar, "Lihat dong" ucap Aris mengambil kamera Hendri, "Wah keren juga iya aku,eh Mentari kamu cantik udah kaya model dimajalah" "Emang kameranya aja yang bagus mas" "Kamu memang cantik" ucap Hendri dan wajah Mentari memerah saat Hendri mengucapkan dia cantik, "Mbak ini sudah jadi pesanannya" teriak ibu-ibu penjaga warung, "Oh iya Bu" Mentari berlari menuju warung untuk mengambil pesanannya dan membayar, "Mas,aku pamit dulu iya assalamualaikum" "Wa'alaikumussalam" ucap Aris, "Eh Mentari tunggu" Hendri menghentikan Mentari, "Iya mas" "Apa aku boleh meminta nomor ponselmu?" "Boleh" "Catat diponselku" Hendri menyerahkan ponselnya pada Mentari,Mentari menerima ponsel Hendri dan mengetikkan nomornya diponsel Hendri, "Sudah mas" "Terimakasih" "Sama-sama" Mentari pergi dengan senyum yang merekah dibibirnya,Mentari merasa bahagia bisa bertemu lagi dengan Hendri bahkan Hendri meminta nomornya,mungkinkah Mentari jatuh cinta pada Hendri? Jika iya lantas bagaimana dengan Hendri?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD