Jam 9.40 pagi, aku menunggu seseorang di halte yang tidak terlalu jauh dari gerbang ruko cluster.
Tiba tiba mobil Toyota Fortune putih berhenti di depanku, saat kulihat kaca jendela kirinya terbuka, ternyata ANITA
"Yuk, masuk!" ajaknya kepadaku.
Akupun masuk ke mobil dan ikut dengan Anita.
Ya, pagi tadi aku keluar hotel lebih dulu, sesuai jam kerja, agar tidak ada yang curiga. Setelah serah terima tugas dengan Anwar dan Asti, aku keluar dan menunggu Anita di halte sambil ngopi, dia yang memintaku menunggunya disana.
"Kita cari sarapan dulu ya zech! Aku mau makan soto tangkar nih, ada warung langgananku gak jauh dari sini. Habis itu kita ke Mall ya!? Ada yang mau aku beli, skalian aku mau beliin sesuatu buat kamu" dengan santai Anita berbicara kepadaku seperti bicara kepada orang yang sudah lama ia kenal.
Sesampainya kami di warung soto tangkar, kami pun makan sambil berbincang. Anita bilang ia ingin mengenalku lebih dekat. Aku agak bingung dengan pernyataannya, karna tidak mungkin Anita menyukai atau bahkan jatuh cinta kepada seseorang roomboy hotel yang miskin sepertiku ini.
Karena mungkin ini tempat umum, Anita tidak begitu banyak terbuka dan membicarakan hal hal yang terlalu intim.
Setelah selesai makan kami langsung menuju ke Mall. Anita bilang ia sudah harus belanja bulanan untuk keperluan dapur rumahnya. Dan ada beberapa keperluan yang ingin dia beli untukku.
Sampai di Mall, kami menuju supermarket dan membeli segala sesuatu yang Anita butuhkan untuk keperluan dapur rumahnya.
Lalu Anita mengajakku masuk ke department store untuk berbelanja kebutuhan lainnya.
Anita banyak membelikanku barang seperti pakaian, sepatu, dan lain lain. Anita juga membelikanku handphone model paling baru yang tidak mungkin bisa kubeli dari gajiku bekerja di hotel. Bahkan tadinya Anita ingin membelikanku motor, agar aku lebih mudah untuk pergi bekerja, atau bertemu dengannya di luar. Menurutku itu terlalu berlebihan dan aku menolaknya, aku bilang kalau aku sudah menabung untuk membeli motor bekas dari hasil kerjaku sendiri.
Jam 15.10 kami pun pulang.
"Mampir ke rumah aku mau ya zech!?
Tiba tiba Anita mengajakku ke rumahnya. Sontak aku pun terkejut, untuk apa Anita mengajakku ke rumahnya?
"Mau ngapain? Jawabku.
"Ya mampir aja, main, biar kamu tau rumah aku dimana. Lagian, masa kamu tega, liat aku bawa masuk belanjaan sebegitu banyaknya ke rumah sendirian"
"Oke deh, aku mampir. Kebetulan malem ini aku off, baru lanjut masuk kerja besok pagi"
"Nah gitu donk, makasih ya zech..."
Kami pun sampai di rumah Anita, rumahnya berada di perumahan elit pinggiran kota, cukup mewah untuk orang miskin sepertiku, dan letaknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku yang kumuh.
Aku pun turun dari mobil dan membantu Anita mengeluarkan semua belanjaannya dari mobil.
Tiba tiba seseorang datang menghampiri kami, wanita muda, lugu, sopan, dan cukup cantik menurutku. Kira kira usianya sepantar denganku.
"Zech, kenalin, ini AYU (25 tahun), asisten rumah tangga aku. Dia pinter masak loh, nanti kita makan malam disini yah...
Ayu, kenalin, ini zech, masih sodara sepupu saya, baru saya jemput dari Bandung, dia ada kerjaan sini jadi mungkin beberapa hari dia bakal sering mampir untuk istirahat disini"
Aku terkejut mendengar Anita menyusun skenario seperti itu.
"Iya bu..." Jawab Ayu dengan singkat.
Setelah kami selesai dengan belanjaan, kami pun masuk, dan Anita mempersilahkanku di rumahnya...
"Santai aja, anggap aja rumah sendiri. Disini aku cuma tinggal sama Ayu. Pokoknya kamu bebas disini. Aku mau ganti baju dulu ya, nanti aku suruh Ayu untuk siapin kamar buat kamu. Kalo mau minum atau ngemil ambil aja sendiri di dapur."
Sedari tadi mulutku asem belum ngerokok dan pengen ngopi. Aku pun ke dapur untuk membuat kopi.
Ternyata ada Ayu yang sedang masak sambil merapihkan belanjaan yang tadi kami beli.
"Sini biar saya bantu, yu..."
Spontan aku menawarkan diri untuk membantunya, maklum, kebiasaan melayani dan membatu orang di kerjaan, hehe.
"Aduh, jangan mas, nanti kena marah saya sama Bu Anita" tolaknya halus padaku
Ya sudah, aku pun lanjut membuat kopi.
"Ayu, tolong siapkan kamar dulu ya untuk zech, takutnya zech mau istirahat. Yang sebelah kamar saya aja ya! Biar gampang, saya ada kerjaan yang harus dibantu zech soalnya"
Tiba tiba saja Anita datang mengagetkan kami, hehe
"Kamu mau aku bikinin kopi sekalian? Aku bikinin ya!? Kayaknya enak tuh ngobrol disitu sambil ngopi sore sore gini"
Kataku sambil menunjuk kursi yang ada di taman belakang di luar dapur, persis di depan kolam renang.
"Wah boleh juga, aku tunggu di situ ya!"
Jawab Anita sambil melangkah keluar dapur menuju taman.
Lalu kuhampiri Anita dan memberikannya kopi yang aku buat, sambil duduk di sampingnya, kami duduk di sebuah kursi taman panjang yang menghadap kolam renang.
"Kamu pasti bingung ya zech? Knapa aku memperlakukan kamu kayak gini!"
Tanya Anita padaku membuka obrolan.
"Iya lah, pasti aku bingung, tapi aku bisa apa, aku cuma bisa nurut. Aku kan punya kamu!" Jawabku dengan sedikit menggombal.
"Aduh, kamu kok pake gombal segala!
Apa yang aku kasih, apa yang aku lakuin buat kamu, itu gak seberapa zech, itu cuma hadiah kecil buat kamu tanda terimakasih aku"
"Hadiah apa? Tanda terimakasih bagaimana?" Tanyaku bingung
"Kemaren sore, awalnya aku godain kamu cuma buat melampiaskan birahiku. Karna aku saat itu sedang butuh, ditambah aku sedang mabuk. Tapi perlakuan kamu ke aku tuh beda, beda dengan laki laki lain yang udah aku ajak kencan. Diluar sikap liar kamu saat NGEWEK, Kamu memperlakukan aku dengan baik. Kamu lembut, bertanggungjawab, nepatin janji, kamu sangat menghargai wanita.
Beda dengan lelaki lain sebelumnya, mereka cuma mau nikmatin aku gitu aja, setelah selesai mereka minta uang, terus pergi gitu aja. Beda banget sama kamu, Zech! Kok kamu bisa begitu sih?"
Aku pun menjawab dengan santai, dan apa adanya.
"Bagaimana ya... Jujur aja, aku sebetulnya sama saja dengan laki laki lain. Siapapun yang ada di posisiku kemaren sore, pasti tidak bisa menolak ajakan wanita cantik, sexy, dan wangi kayak kamu, aku normal juga kali, aku punya hawa nafsu, aku punya fantasi sebagai laki laki, hehehe... Kalo soal menghargai wanita, kedua orangtuaku betul betul ngajarin aku untuk menghargai wanita... Wanita itu lemah, tapi bukan berarti dari kelemahannya itu kita bisa seenaknya memperlakukan wanita semau kita, tapi wanita itu harus kita jaga, kita lindungi, karna kita tidak tau kekuatan sebesar apa yang wanita itu miliki. Aku belajar itu dari ibuku, dia wanita yang hebat, kuat... Itu aja sih. Gak ada spesial dari aku, aku cuma berusaha untuk berbuat baik sama siapapun..."
"Wow... Aku terkesan loh... Sumpah!"
Jawabnya sambil memelukku sejenak
"Makasih ya zech, udah memperlakukan aku sebagaimana mestinya laki laki memperlakukan seorang wanita"
Lama kami berbincang, banyak obrolan yang kami bicarakan. Kami saling bertukar pengalaman, menceritakan kehidupan masing masing, latar belakang, dan lain sebagainya.
Hingga kami saling mengenal satu sama lain.
Bahkan aku tidak melakukan obrolan atau perbincangan mendalam seperti ini dengan Asti dan Dewi.
( BERSAMBUNG... )