Jam 6.20
Aku tiba di hotel dan berjalan masuk. Ku lihat Anwar sedang membersihkan kaca pintu lobby.
"Pagi bro...!"
Salam Anwar kepadaku.
"Yoo, pagi war! Dah sehat? Ngopi dulu donk biar tambah semangat!" Jawabku.
"Lumayan bro, biasa kemaren mah, kebanyakan minum, bonus ujan, hehehe!" Ujar Anwar.
"Lagian, ada ada aja lu mah. Hehehe...
Kerjaan di bawah udah beres nih war? Gue kerjain atas ya..!?" Usulku.
"Diatas udah beres semua bro, selow... Tadi gue datang jam 3, Dewi tlp gue, minta tolong gue backup, dia mau pulang dulu katanya, anaknya demam, nanti siang atau sore baru ke sini lagi katanya.
Udah, lu disini aja, temenin gue, sambil nunggu Teh Asti sama Bu Susi. Aman kok di atas, lantai dua, tiga, rooftop, laundry, kerjaan dah kelar semua. Aman." jawab Anwar.
"Ok dah, udah ngopi blom? Gue mau bikin kopi nih"
"Tadi sih udah, tapi kalo lu mau bikin boleh deh, gue juga mau" jawab anwar.
Aku pun menuju pantry, menaruh tas di gudang, dan membuat kopi. Setelah membuat kopi aku pun duduk di meja receptionist untuk absen dan mengecek daftar tamu malam ini.
Anwar menghampiriku dan sambil merapihkan meja bar.
"War, menurut lu gimana? Kalo gue jadian sama dewi? Tanyaku iseng pada Anwar
"Hah!? Serius? Lu jadian bro sama dewi!?"
Anwar terkejut mendengar pertanyaanku
"Yaaaah, gue cuma nanya, war! Awas, jangan dijadiin gosip!" Jawabku tegas
"Yah, gue kira udah jadian! Wah, lu udah mulai suka yah sama dewi? Gue bakal dukung banget bro! Gue dukung 100% kalo lu mau nembak dewi..." Balas Anwar mendukungku untuk menjalin hubungan dengan dewi.
"Terus, kalo gue jadian sama teh Asti, gimana menurut lu?" Tanyaku lagi pada anwar.
Anwar makin terkejut sambil melotot menatapku dengan mulut menganga.
"Ehmm, gue paham, zech! Lu suka sama dewi sekaligus teh asti! Iya kan!? Wah, kacau lu zech, parah!"
"Loh, salahnya dimana coba!? Kalo Dewi suka sama gue, gimana? Terus kalo teh Asti suka sama gue juga gimana?" Jawabku.
"Haaaaaah!? Jadi Dewi sama teh Asti, dua duanya, mereka nembak lu!? Mereka suka sama lu!? Sambung anwar yang semakin ngelantur.
"Duh, makin parah aja lu gosipnya! Bukan gitu maksud gue! Gue cuma nanya doank war! Gue lagi butuh sosok perempuan aja dalam hidup gue. Nah disini kan cuma mereka perempuan yang gue kenal!"
"Akh! Ada ada aja lu! Terserah lu dah mau yang mana! Asal jangan gue aja yang lu embat!" Jawab anwar sambil melempar kain lap kepadaku dan melangkahkan ke toilet.
"Yaudah, kalo gitu gue deketin bu susi aja dah yah!? Biar enak hidup gue, biar jadi boss lu! Hahaha!" Balasku bercanda.
"Makin gile aje lu!" Jawab Anwar.
Jam 8.35
Nampak masuk seorang wanita tinggi, dengan menggunakan blazer berwarna putih gading senada dengan rok pendek selutut, berjalan masuk memasuki lobby menghampiri meja receptionist. Rambutnya pendek, sebahu, indah berkilau.
Nampak menyembul p******a besar dengan belahan yang bgitu indah dibungkus tanktop berwarna biru muda. Di tangan kirinya menggenggam sebuah handbag berwarna sama dengan tanktop yang dikenakannya.
Saat kulihat wajahnya, ehmm... Bu Susi ternyata. Tapi memang betul-betul nampak cantik wanita ini. Kemudian dia masuk menghampiriku dan duduk di kursi sebelahku sembari melihat buku daftar tamu.
"Hey! Liatin apaan kamu, zech!?"
Tegur bu susi kepadaku.
"Eh, ibu... Saya kirain dian sastro, bu! Dari jauh mirip, ampe pangling saya, hehehe.
Eh, pas deket, ternyata bu'de sastro! Hehehe" sahutku sambil bercanda
"Ikh! Enak aja kamu! Sembarangan"
Jawabnya sambil menepuk pundakku
Tak lama berselang, Asti pun datang, sambil membawa bungkusan yang sepertinya berisi nasi uduk. Setiap datang Asti memang selalu membawa sarapan nasi uduk yang ia beli di jalan.
"Loh memang teh Asti gak bareng sama ibu?" Tanyaku pada bu susi.
"Gak, bawa motor dia, nanti siang mau ijin keluar katanya. Mau kumpul sama temen temennya" jawab bu susi.
"Yaudah, saya ke dalem dulu akh" bu Susi pun masuk ke ruangannya.
Asti tersenyum genit menatapku sambil berjalan masuk ke arah Pantry.
Sambil berbisik jauh Asti berkata "sarapan yuk" sembari menunjukkan bungkusan yang ia bawa.
Aku pun bangun dari dudukku dan menyusul Asti ke Pantry. Sambil memanggil Anwar menggunakan HT,
"Anwar, monitor!" panggilku
"Anwar masuk, kenapa bro?" Jawab anwar.
"Posisi dimana war?"
"Lagi beresin 302 bro, udah beres kok, mau lanjut ke laundry. Lu standby dibawah kan?"
"Ok ok, yak, gue masih di lobby, ini mau masak air, sambil beresin pantry. Teh Asti sama bu susi udah dateng bro."
"Ok, siap, lanjut, di copy gitu, ganti!"
Sahut anwar.
Aku langsung menghampiri Asti yang sedang duduk sambil membuka bungkusan nasi uduk.
Kudekati lalu kucium pipinya.
"Muach..."
Kukira dia akan mengelak karna malu, tapi Asti lantas menarik tanganku dan mencumbu mulutku dengan bibirnya. Kami pun awali sarapan kami dengan rujak bibir.
"Udah, nanti ada yang liat!" Kataku.
Kami pun duduk menyantap nasi uduk yang Asti bawa. Kami sarapan sambil mengobrol, sesekali kami saling berpegangan tangan, saling tatap satu sama lain dan tersenyum.
"Nanti siang mau kemana memang? Kata bu susi kamu mau ijin pergi?" Tanyaku
"Oh, mau kumpul sama bekas teman SMA, cuma ke Mall doank kok, nongkrong. Kamu curiga ya!? Jawab Asti
"Ikh, orang cuma nanya mau kemana, kok dibilang curiga! Ge-er banget kamu. Hahaa"
Tiba-tiba Bu susi datang dan masuk ke pantry untuk membuat kopi.
"Mau bikin kopi bu? Saya bikinin yah bu!?"
Aku menawarkan membuatkan kopi untuk bu Susi.
"Udah gak apa apa, kamu lagi sarapan. Saya bikin sendiri aja!" Jawab bu susi.
"Oh iya, zech, kalo sudah selesai, ke ruangan saya ya! Saya mau minta tolong beresin lemari berkas. Banyak yang udah gak kepake, nanti dibuang buangin aja!"
Lanjut bu susi.
"Iya bu, siap!" Jawabku.
"Asti nanti bilangin Anwar, beresin kamar checkoutnya sendiri dulu, zech lagi saya suruh beresin ruangan saya dulu" perintah bu susi pada Asti.
Mengangguk Asti tanpa menjawab sepatah kata pun pada bu susi.
Aneh, aku rasa ada apa apa nih, antara bu susi dan Asti. Sedari tadi saat datang, Asti seperti tidak pernah menanggapi bubu susi. Bu susi juga, saat asti datang masuk ke lobby, bu susi lantas masuk ke ruangannya seperti menghindar. Ada apa yaaaa?
Asti pun selesai lebih dulu dengan sarapannya, lantas langsung meninggalkan pantry. Bu susi kemudian duduk di kursi persis di depanku sambil menyeruput kopi yang tadi dibuatnya.
Jadi terasa canggung gini yaaa...
Aku pun selesai dengan sarapanku, dan membuang bungkusan nasi udukku ke tempat sampah. Saat aku hendak meninggalkan pantry dan bu susi, tiba tiba...
( BERSAMBUNG... )