MALAM MINGGUKU DENGAN BU SUSI #2

1480 Words
... Bu Susi menggenggam pergelangan tanganku, dan menarikku... "Tunggu sebentar zech! Buru-buru ama sih kamu!" Aku kaget, dan panik... Apa yang akan dilakukan bu susi!? Apa aku ada salah? Apa bu susi tahu hubunganku dengan Asti, dan dia marah padaku? Aku pun mulai panik... "Itu sekalian bawa kardus bekas ke ruangan saya! Buat bawa kertas kertas yang udah gak kepake!" Kata bu susi Huhft, lega, panik aku... "Oh... Iya bu, nanti saya bawa! Saya mau ke toilet dulu. Habis itu langsung ke ruangan ibu..." Jawabku... "Oh, Ok..." Balas bu susi Setelah dari toilet, akupun langsung ke ruangan bu susi sambil membawa sebuah kardus. Bu susi masih asik dengan kopinya di pantry sambil bermain handphone. Saat aku masuk ruangan bu susi, ternyata lemari berkasnya bagian atas sudah terbuka. Beberapa berkas sudah ada di lantai. Aku pun memasukkan berkas berkas atau kertas kertas itu ke dalam kardus. Tiba-tiba kudengar suara pintu tertutup dan dikunci "ceklak!!!" Aku terkejut dan bingung, bu susi seketika merangkulku dari belakang... "Gak apa apa, zech! Kamu tenang aja!" Bisik bu susi di telingaku. "Bu, jangan bu! Nanti ada yang liat!" Tegurku dengan sopan. Aku pun bergegas keluar dengan membawa kardus berisi kertas berkas yang tidak terpakai, aku harus bersikap seolah tidak ada apa apa. Aku menaruh kardus itu di gudang dan segera naik ke atas menyusul Anwar. Jam 10.50 Anwar sedang ngopi di laundry sambil melipat handuk handuk. Hampir semua tamu kamar sudah checkout, tinggal beberapa kamar yang masih terisi hingga waktu checkout jam 12 siang nanti. Artinya pekerjaan hari ini sudah di handle oleh Anwar, aku agak tenang jika pekerjaan aman. Aku pun langsung menghampiri Anwar. "Kenapa lu? Pucet banget muka lu! Sampe keringetan gitu! Abis liat setan?" Tanya Anwar kepadaku. Padahal aku sudah mencoba bersikap biasa saja, tapi anwar masih menyadari ada yang aneh denganku, artinya aku saat ini memang nampak panik. Iya, memang panik. Aku panik. Aku pun langsung meminta rokok pada Anwar, dan mengambil sisa kopi yang masih dinikmatinya. "Lah, lah, aneh banget sih luh! Zech! Lu kenapa!? Maen bawa aja kopi gue!" Aku naik ke atas menuju rooftop, aku coba menenangkan diri sejenak... Kubakar rokok, dan berfikir... Aneh rasanya jika bu susi pun sampai bersikap seperti itu padaku. Anita mungkin saja begitu padaku... Dewi pun lebih wajar lagi bersikap seperti itu padaku... Tapi sangat tidak mungkin wanita seperti bu susi bisa berani melakukan hal itu padaku. Jam 12.05 "Zech, monitor! Zech!" Anwar memanggilku lewat HT "Masuk, kenapa bro?" Jawabku "Tolong merapat dulu ke lobby, bu susi nyuruh kita kumpul! Mau briefing!" "Siap, dicopy, ganti!" Wah, tak terasa kurang lebih satu jam aku melamun di rooftop, aku pun bergegas turun menuju lobby. Di pantry sudah berkumpul, Anwar, Asti, dan bu Susi. Aku pun lekas bergabung dengan mereka. "Ok, udah kumpul semua ya. Hari ini, sampai nanti malam, Dewi tidak bisa masuk, urgent, karna anaknya harus dibawa ke rumah sakit, katanya gejala DBD. Sekarang, Asti juga ijin mau pulang, karna ada urusan. Jadi siang ini sampai nanti sore ada Anwar dan zech, aman ya!?" Jelas bu susi pada kami. "Anwar boleh pulang sore nanti. Zech bisa ya kamu long-shift nanti malam sampai pagi!?" Lanjut bu susi. "Bisa bu, siap!" Jawabku. "Saya masih disini kok, seperti biasa malam minggu. Mungkin sampai jam 8 malam. Masih ada pekerjaan yang belum saya selesaikan!" Ungkapnya sambil melirik menatapku "Ok, itu aja, sudah jelas ya... Ok, Asti, kamu boleh pulang. Anwar silahkan lanjutkan laundry. Zech kamu standby di receptionist!" Kami pun membubarkan diri, Anwar bergegas kembali ke atas, bu susi masuk ke ruangannya. Aku mengantar Asti sampai ke depan hotel. "Kabarin aku ya! Jangan pulang malem malem!" Pesanku pada Asti yang siap tancap gas motornya. "Iya, cuma ke mall doank, kumpul kumpul temen cewek semua kok!" Jawab asti sembari tersenyum padaku. Asti sudah berangkat, aku pun masuk ke dalam, bersamaku ada dua pasangan yang juga masuk ke dalam hotel. Lelaki setengah baya, dan seorang gadis cantik yang lebih muda darinya. Aku tau itu pelanggan yang ingin check in, bukan seorang bapak yang mau mengantar anaknya jalan jalan, bergegas aku standby di receptionist. "Mas, kamar 304. Tadi udah booking pakai aplikasi yah!" Ujar si bapak kepadaku "Siap pak, saya cek dulu ya.... Ok, sudah dibayar, ini kuncinya pak, silahkan tandatangan disini... Terimakasih sudah menginap di hotel kami, selamat istirahat..." Mereka pun naik ke atas, dan itu adalah tamu terakhir yang check in, semua kamar sudah full untuk malam minggu ini. Aku langsung memasang Full Sign di pintu kaca lobby, tanda kamar sudah penuh. ( ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ) Sudah jam 15.40 Aku baru turun dari lantai atas untuk kontrol. Semua pekerjaan aman di tangani Anwar, tapi kemana Anwar ya? Bu susi juga mungkin masih di ruangannya, entah apa yang sedang dikerjakannya. Saat aku tiba di lobby, Anwar keluar dari ruangan bu susi. "Bro, we balik yak!? Duluan. Badan we kayaknya gak enak lagi nih, pusing. Barusan udah ijin sama bu susi." Ijin anwar padaku... Mungkin dia belum fit total kemaren, dan lagi hari ini hampir semua pekerjaan dia yang tangani. Dia pasti kecapean. Aku jadi tidak enak, tapi begitulah anwar. Pekerjaan susah seperti prioritas utamanya disini. "Yaaaah, kecapean kali lu bro! Yaudah, pulang deh, Istirahat, hati hati ya..." Jawabku. "Yooo, tengkyu ya bro!" Lemah langkahnya keluar hotel. Aku pun kembali ke meja receptionist, hemmm... Bosan kurasa jika situasi seperti ini, seperti tidak ada tantangannya kerja dan hidup kalau bgini... (Aku melamun) Jam 16.15 Tiba-tiba bapak tamu kamar 304 yang tadi datang bersama gadis yang lebih muda, datang menghampiriku... "Mas, saya mau check out, ini kunci kamar. Itu cewek biarin aja, dia lagi tidur, kalo dia nanti tanya bilang aja saya duluan, nanti sekalian pesankan taksi buat dia pulang ya! Ini ada tip buat kamu! Makasih ya!" Jelas bapak ini kepadaku sambil memberikan uang tip tiga ratus ribu rupiah, lalu pergi begitu saja. Aku bingung dan berpikir sejenak. Bapak itu sudah naik ke mobilnya dan sudah pergi. Aku bergegas naik menuju kamar 304. Ini pasti tindak kejahatan, bahaya!!! Pintu kamar tidak terkunci, aku pun masuk. Alangkah kagetnya aku melihat isi kamar yang berantakan, pakaian dan segala macam dalaman gadis itu berserakan dengan bantal dan seprai yang ada di lantai. Ada dua botol minuman keras yang sudah kosong juga, tapi anehnya bapak tadi tidak terlihat mabuk ataupun bau alkohol. Kulihat gadis itu sudah terkapar tak berdaya di atas tempat tidur, telanjang bulat, tubuhnya begitu indah, bersih dan mungil. Kulihat di atas meja rias ada uang kertas pecahan seratus ribu, sebanyak tiga juta rupiah. Sepertinya ini bukan tindak kejahatan, mungkin bapak tadi sudah puas dan ada urusan lain. Huhft, akhirnya aku masih bisa berfikir jernih. Tapi, kulihat gadis ini sepertinya mabuk parah! Tubuhnya basah dengan keringat bercampur miras. Toketnya kecil, tapi dengan p****l yang cukup besar berwarna coklat kehitaman. Memeknya merah merekah dihiasi j****t j****t halus. Aku tidak tahan melihat kesempatan ini. Aku langsung buka baju seragamku. Memeknya yang sudah basah ku bersihkan dengan tissu basah. Aku naik keatas tempat tidur, kudekati wajah gadis cantik ini, lalu ku cumbu, kujilati dan kuciumi wajah dan lehernya, sambil kuremas remas kedua toketnya dan kumainkan pentilnya. Gadis ini tidak melawan atau mengamuk, hanya bisa mengerang, mungkin karena mabuk. Terus kunikmati sekujur tubuhnya. Walaupun mabuk, gadis ini terlihat menikmatinya. Tak butuh waktu lama, langsung saja kuhujamkan torpedoku yang sudah panas ini, ke lubang goa sempit ini. Gadis ini mendesah begitu keras saat kumasukkan kontolku ke memeknya yang masih sempit. m***k ini terasa sempit sekali, dan cukup kesat, seperti belum pernah dimasuki k****l sama sekali. Kuhujam terus bertubi-tubi keluar masuk kontolku di memeknya... Uuuuuggghhht... Nikmat sekali m***k gadis ini. Gadis ini pun tanpa henti mendesah dan meringis kesakitan, sampai tak terasa mengeluarkan air mata. Oooouuugght... Nikmat sekali m***k ini, ku ewek memeknya sembari kunikmati t***t, bibir, dan wajahnya yang cantik dengan mulutku... Terlihat gadis ini sudah tak berdaya, tak lagi kudengar ia mendesah atau merintih, hanya nafasnya yang terengah-engah bersautan dengan nafasku... Tak lama aku pun sampai pada puncakku... Uuuugh, nikmat sekali m***k ini hingga tak mau aku melepaskan Kontolku dari cengkramannya... Sepertinya... Uuuuuggghhht.... "Croooooooottt... Crot... Crooot..." Aku pun jackpot di dalam ujung memeknya... Gadis ini pun menghela nafas panjang menikmati hangatnya guyuran pejuhku di dalam memeknya, dan gadis ini pun kembali terlelap dalam mabuknya. Dan saat ingin kucabut kontolku, kulihat, ada darah bercampur m**i di sekitar batang kontolku...... (...?...) Oh, sial... Gadis ini masih perawan ternyata... Dan aku sudah merenggut mahkota sucinya... Dan bapak tadi, mungkin hanya menikmati fetish nya tanpa memakai gadis ini... Sial! Aku dalam masalah besar... Aku harus berfikir sebelum keluar dari kamar ini... ( ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ) Kupakai kembali seragamku... Lalu kuambil botol minuman yang sudah kosong tadi, kucolek darah dari m***k gadis ini, lalu kulumuri di bagian leher botol. Kumasukkan perlahan leher botol ke dalam memeknya. Aku pun bergegas keluar kamar 304 dan langsung turun menuju lobby. ( BERSAMBUNG...)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD