CAFE BANANA

1215 Words
"Key gw sama Rita otw nih, assalamualaikum" suara telepon di sebrang sana "Iya Vic gw hampir siap, Walaikumsalam" Kataku sambil melihat cermin, sebenarnya sama sekali belum siap karena aku tidak tau harus pakai pakaian apa, sedangkan hanya beberapa kaos dan celana jeans yang aku punya. "Ah....." Aku duduk di sudut ranjang ku, percuma aku bolak balik ini baju tidak ada yang menarik sama sekali, walaupun buat ku nyaman. Ku ambil sweater pink dan jeans hitam ku, sepatu flat hitam dan rambut ku gerai dengan tambahan jepit rambut mungil nah selesai. "Tin..tin.." Ku dengar suara klakson mobil Vicka, aku segera berlari keluar dari pagar menghampiri mereka. "Hay semua" baru saja aku dudukan b****g ku di bangku belakang, mereka menoleh ke belakang dan langsung memasang muka juteknya padaku "Kalian kenapa, ada yang salah yah" tanyaku seperti orang bodoh. "Key Lo yang bener aja donk, kita tuh mau ke cafe bukan ke kampus" Vicka sambil menggeleng-gelengkan kepalanya "Duhh mana ngak dandan sama sekali lagi nih anak" tambah Tyas kulihat dia menepuk tangannya ke kepala "Aku mana punya alat make up sih, yah sorry kalo gw bikin malu, gw nggak ikut juga gak papa kok guys kalian aja" Aku yakinkan mereka, memang aku ngak pengen pergi dari awal "Tyas tolong Lo pindah belakang, nih peralatan make gw, terserah Lo apain dia gw ikhlas" Vicka mengeluarkan tas yang gw yakini peralatan make up nya Dan benar tyas Sudah ada di jok belakang, kapan masuknya nih anak, dengan lihai tyas memoles wajahku, dia berbakat karena memang mamanya buka salon kecantikan di ruko depan rumahnya, karena dia anak perempuan satu-satunya jadi dia mau ngak mau harus bisa. "Kenya Lo tuh sebenernya dah cantik dari Sono nya, kita aja kadang iri sama Lo, ngak pernah pake produk macam-macam kulit Lo bisa putih dan bersih gitu" sambil merapikan alisku dengan pencil alis seperti nya. "Apaan sih Lo,,, udah ah jgn menor-menor nanti gw malah kayak badut Pancoran lagi" Ku kerutan mulutku sambil menunduk menahan malu iya sih banyak yang bilang seperti yang Tyas katakan, dari aku sekolah selalu saja banyak yang tertarik padaku, entah itu teman sekelas, atau pun kakak kelas. Di kampus juga orang kenal aku bukan hanya prestasi ku tapi karena wajah ku yang kata orang-orang cantik dan lugu. "Dah Selesai..... gimana Vic" tanyanya setelah memoleskan lipstick warna peace ke bibir ku, rasanya sedikit kebas "Ini key atau Alisa Subandono yah?" Vicka mengedipkan sebelah matanya, jari telunjuk dan jempolnya mengarah padaku. Bukan hanya Vicka yang bilang seperti itu, sebelum dia ada beberapa orang yang mengira aku bersaudara dengan artis itu. Aku langsung mengambil cermin pada tas make up Vicka "Ih... Lo berbakat banget si Tyas, kok gw jadi beda gini" "Maksud Lo.." tanyanya sambil tersenyum lebar "Entar gw tunggu bayarannya yah" sambungnya "Iya agak cantik gitu" aku malu takut di bilang ke pede an "Lo emang cantik key, tapi hari ini tambah cantik" sambil merebut cermin yang aku pegang. "Kalian tuh kesayangan banget sih...thanks yah buat semuanya" Vicka berhamburan dari kursi depan lalu kami bertiga saling berpelukan "Udah yuk nanti keburu malam" Tyas pindah ke bangku depan dan seketika Vicka langsung ambil alih stir dan melajukan mobilnya. -------------$$$$$$------------- Konsep cafe ini kalau dari luar kulihat tamannya cukup luas dengan lampu hias pada batang pohon-pohonnya di tengah ada gubuk kecil bertuliskan "Cafe Banana" meja dan kursi duduk dari kayu yang terpahat rapi. "Duhh parkir mana nih, parkirnya penuh banget nih" suara Vicka membuyarkan pikiran ku. "Disana saja Vic, kita jalan dikit nggak papa kan guys" telunjukku saat kulihat ada satu parkir kosong di ujung jalan sana. "Ehh.. okeh deh itung-itung bakar lemak" Ku lihat Vicka mencubit perut tyas "Bhaaaa....bisa aja Lo, siapa sindir siapa" Tyas tertawa sambil menutup mulutnya, mau tak mau aku pun ikut tertawa, sampai di depan cafe semua kursi seperti nya sudah terisi penuh. "Hehee kita puter balik nih" Tyas sambil memanyunkan bibirnya "Iya kayaknya nggak seat buat kita" sambil menggaruk rambutku yang tidak gatal menahan malu. "Ehmmm.... tenang aja gw dah reservasi donk" Vicka sambil mengeluarkan kartu nama bertuliskan cafe banana. "So sweet banget sih" Tyas sambil memeluk Vicka. "Ihhh apa sih lepasin nanti di kira L****an gw" Vicka berusaha melepaskan pelukan Tyas. "Hahaaa... yukz cepet ada performance band kampus kita katanya hari ini, dan gw denger vokalisnya ganteng pake banget key" ajak Vicka sambil menarik tangan ku "Ehhhh tungguin gw" Tyas berjalan menyusul kami kami duduk bertiga makanan pembuka telah tersedia di meja kami ada soft cake dan air mineral "Silahkan menikmati makanan pembuka cafe kami, ini promo launching jadi gratis sambil menunggu silahkan mau pesan apa?" ucap waiters laki-laki itu "Mau pesan apa key" sambil menyodorkan buku menu pada ku. "Ih kok Kenya doang sih" merebut menu makanan dari tangan Tyas. "Gw mau lemon Thea, chicken mushroom, french France sama.." Tyas menyebutkan pesanannya "Cukup Tyas ingat Lo lagi diet!" Vicka mengingatkan tyas "Heheheee... Lupa" Tyas sambil menutup mulutnya "Gw sirion steak, soft drink Lo apa key?" tanya vicka "Sama kayak Lo Vic tapi minumnya hot coklat aja" kata ku kepada waiters itu dia mencatat pesanan kami, dan berlalu. "Terima kasih telah hadir pada launching Cafe baru kami, saya Tony Hendarto pemilik Cafe ini, Cafe Banana kami menyajikan menu tradisional dan makanan cepat saji lainnya" Dia sosok laki-laki tinggi, hidung mancung, ah sangat tampan, membuat kaum hawa yang hadir disini terkesima, tapi sekilas matanya coklat mirip dengan? "Ihhh Ganteng banget kak Tony" Vicka sambil meremas tangan ku. "Ohh sakit Vic Lo kenal dia" tanyaku penasaran "Semua juga kenal, dia mantan ketua BEM kita 2 tahun lalu, setelah lulus dia lanjut jalanin bisnis papanya di Batam Vicka menjelaskan padaku tapi tatapannya tidak pernah putus ke kak Tony "humf" dasar! "Baiklah untuk menambah kehangatan acara ini, kita sambut band *Start Light* beri tepuk tangan yang meriah" kak Doni mengibaskan tangannya ke arah empat orang yang naik ke atas panggung. 'Masyaalloh kenapa harus dia orangnya' celetuk ku dalam hati "STAR LIGHT - STAR LIGHT - STARLIGHT" para tamu meneriakkan mereka dengan histeris seolah mereka band papan atas, bagiku biasa aja sebelum aku mendengar teriakan seseorang "AAAAAWWWW VI-RAZ" beberapa gadis bahkan berteriak antusias "Kak Iqbal.." salah seorang tamu sambil melambaikan tangan. "Haaa Sumpah dia lagi, kenapa jadi jodoh gini sih, ihh rasanya mau menghilang aja deh, Sumpah!" gerutu ku dalam hati. "Eh benggong lagi, key cowok itu kan yang nabrak Lo kemarin yah kalo gw ngak salah inget" Aku langsung membekap mulut Vicka "Ngak usah di omongin. nanti ada yang denger lagi" Ohh jadi Viras punya band yah, gw yang nggak gaul atau nggak peka yah sama lingkungan kampus. mereka berempat tampan-tampan semua Viras vokalis, Ibal gitaris, Dendi keyboard dan Angga drummer Tyas menjelaskan panjang lebar pada kami. "Key gw nggak tahan liat Ibal ganteng banget, apalagi saat lagi manggung" iya sih benar Ibal anak teknik, perawakan tinggi dengan kulit kuning di tambah rambut capeknya dilihat dari sudut mana pun gantengnya nggak hilang. "Kalo gw kak Angga Vic yg paling Cool" Tyas berdecak kagum, iya pesona kak Angga dengan rambut di kuncirnya badan tinggi besar, siapa yang nggak mau di peluk sama dia "Kalau Lo key, pilih siapa Dendi atau Viras?" Tyas menoleh ke arah ku. "Ahh A-aku.." aku hanya tersenyum, Dendi paling kalem seperti diantara mereka, kulit putih, mancung, bibir merahnya cute banget pastinya diliat apa lagi di rasa. Tapi yang paling membuat aku berdebar adalah dia... ust kalian pasti tau..!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD