Celline memandang langit-langit kamarnya dengan tatapan mata kosong. Insomnianya kambuh lagi. Ia tidak dapat memejamkan matanya barang sedetikpun. Ia sudah berada di dalam kamarnya sejak kemarin malam. Ia tidak makan selama dua hari. Dirinya sungguh tidak memiliki nafsu makan. Semua makanan yang dibawakan Marriane untuknya kembali dengan utuh. Ia hanya bisa menangis dan meringkuk di balik selimutnya. Hari perpisahannya dengan Aldi membuat dirinya merasa lebih baik menyiksa diri daripada harus menjalani ini semua. Entah mengapa dengan menyiksa diri setidaknya membuat suasana hatinya merasa lebih baik. Ia tidak menyesal jika akhir dari semuanya ini adalah mati. Matahari mulai menyingsing dan sinarnya masuk melalui jendela kamar tapi si empunya kamar enggan untuk melakukan aktivitas

