Kami tiba di jakarta pukul delapan pagi. Yapss!,hampir 12 jam Aku duduk di pesawat Sebenernya punggung ku ingin retak, tapi apalah daya? babu tak boleh mengeluh, bukan???
Dan anehnya pak bos disampingku ini tidak terlihat kucel sama sekali, heran aku tuh. Mukanya juga masih ngeselin kayak biasanya, gak sih boong
gimanapun tetep ganteng
"Bisakah, kau lebih cepat"
"Siput aja kayanya lebih cepat dari kamu"
Sialan, mulutnya si Kaefar sekalinya ngang-ngong nyelekit amat
Aku pun, Tanpa menanggapi langsung berjalan lebih cepat sedikit untuk menyusul Pak tua itu
Setelah chek in dan segala macamnya
Kami pun, lebih tepatnya Aku sampai di kamar yang akan ku tempati selama dua hari kedepan, kalian berharap apa??, Aku sekamar dengan pak tua itu,? Oh tentu tydack, Aku takut khilaf hahahaha
Pagi datang, Aku-pun terbangun aesthetic, -seperti tokoh-tokoh pada novel lainya, mencuci muka dan tidak lupa juga mandi, sebagai bawahan yang baik. akupun mengetuk pintu pak Kaefar, ingin mengajak nya sarapan dan menunjukan hasil observasi untuk meeting Siang ini
Namun, baru saja Aku ingin membuka pintu kamarku, dia muncul dengan Tiba-tiba, dahla emang cocok kayak saiton
"Siapkan laporan, meeting dimulai jam 11"
Aku menganga-terkejut, tuh kan apa! Belum juga mangap, eh udah di serobot si maha pemerintah-tukang perintah maksudnya
"La-
-bersiaplah untuk pesta yang akan kita hadiri pukul tujuh malam,nanti"
"Jangan membuatku malu dan pakailah gaun"
"Sial,sial,sial, Kaefar sialan!."
Moodku pun hancur, untung menjadi Pegawai teladan, dan mengumpulkan berkas itu lebih awal, setelah ber, ok-ria akupun kembali kekamarku dan memesan sarapan dikamar, gagal sudah rencanaku menikmati pemandangan skyscraper disini, yang sangat ku rindukan bos mah bebas apalagi kalo cuma motong omongan karyawan
_
Aku benci sisi lemah Aldise
Namun, Nyatanya?
Sekuat apapun Aku berlari, menjauh
Masalah selalu mengikuti ku, ya!, Seperti bayangan
Aku berlari,nyaris tersasar, menerobos hujan
Dingin, namun dingin ini membuatku merasa nyaman, jujur Aku kira saat Aku kembali ke sini. Aku sudah mampu mengendalikan diri dan sembuh namun ternyata rasa sakit, dan perih itu Masih ada dan membekas dalam hatiku, terlebih melihatnya memeluk orang lain
Ya, kalau kalian bilang Aku cengeng
Aku memang sekarang se-cengeng itu, Jangankan kalian, Aku pun membenci diriku yang ini, susah melupakan sesuatu yg membuatku sedih
Ya, Aku sadar, Aku kadang memang haus perhatian, akibat dari dia yang dulu tidak pernah memperhatikanku
Padahal hanya melihatnya memeluk orang lain, yang tidak langsung adalah saudaraku, namun jujur Aku iri walau merasa tak berhak
Aku sampai di hotel dengan keadaan basah kuyup dan seperti orang sinting ,mungkin bila Aku sekarang tidak mengenakan dress, satpam didepan tidak akan membukakan ku pintu dan malah mengusirku, haha
Sayang sekarang aku terlihat seperti wanita pulang pesta yang sudah diselingkubi, haha!.
Aku benci ini!!!, Suara bergemuruh terdengar seperti makian yang mencaci-maki ku, bersahutan dalam suara di pikiran ku!!!
Sungguh! rasanya Aku sangat benci ini
Aku kira akan hujan biasa, hujan menyenangkan yang dapat menyembunyikan air mata sialan ini
Namun hal yang terburuk adalah hujan yang bergemuruh
sampai, di lantai yang aku tuju, Aku pun berlari, terburu-memasuki kamar , Aku sangat membenci hujan yang bergemuruh
meringkuk disudut melupakan tujuan awal, yang dengan lancangnya ingin menghampiri dia yang sudah bahagia mungkin?, Tertawa, Tanpa pernah tau kabarku
Tidak, Aku tidak menyalahkan siapapun saat ini, rasanya Aku hanya ingin melukai diri sendiri, menyalahkan diriku sesalah-salahnya
Aku yang lemah, yang bodoh tidak tahu diri, Aku yang terlalu berani hingga berpikir dapat menemuinya lalu dia akan mengungkapkan kerinduan terhadapku, Aku yang bodoh dan terlalu banyak ekspetasi
Jujur Aku rasanya aku lelah menjadi lemah, ingin seorang dapat sangat melengkapi ku, menjadi sandaran saat Aku lemah, juga sebagai pengingat agar Aku lemah, namun Nyatanya permintaan itu terlalu sulit tuhan kabulkan
Ketukan pintu terdengar, Aku seolah tuli dan tetap mematung, menutup kedua telinga berharap makian itu bisa hilang dari telingaku, berusaha meredam jeritan, menekan ujung kuku ku pada telapak kaki sekeras mungkin
Terdengar langkah kaki masuk, entahlah dia melihatku atau tidak
Aku tidak peduli, Aku terkesiap kaget saat tangan yang terasa dingin menyentuh tangan dan dahiku, sontak semua bayangan itu masuk secara brutal kedalam otaku
Akupun secara membabi buta berteriak berusaha mencakar secara asal dan menendang, hingga
sebuah lengan kekar dan aroma yang kukenal, mendekapku secara hangat
Perlahan Aku pun terdiam, kaku sejenak lalu kemudian Aku pun menangis tersedu sedu
Sang pria yang kukenal tersebut pun mengeratkan pelukan dan membawaku duduk, hal yang seharusnya dilakukan ayahku, nyatanya dia bahkan tak ada disini tak peduli mungkin, sibuk memeluk yang lain
Tapi tuhan nyatanya mengirimkan Kaefar, sebagai malaikat??. Entahlah
Walau ku tahu disini mungkin Aku yang akan jadi iblis
"Feel better?"
Kaefar bertanya padaku saat Aku Masih dipelukanya, jujur rasanya aku tidak ingin melepaskan pelukan ini, memalukan memang,ter pergok nangis lalu dipeluk atasanmu
Aku hanya mengangguk perlahan dan memegang tanganya seakan berkata
"jangan pergi"
Yaps, kalian benar Aku yang haus pelukan ini akhirnya tertidur di dada nyaman atasanku yang Sering ku sumpah serapahi
'Maaf kan Aku pak'
'Akhirnya berguna juga atasan galak ini'