Bab 39

1036 Words

Obrolan kami kupikir akan penuh emosi, maka dari itu, aku mencegah Adit yang berniat masuk ke rumah, dan memilih duduk di tangga teras untuk menyelesaikan masalah kami. Jujur, sekarang jauh lebih sulit dari yang seharusnya. Setelah pria ini memelukku tanpa aba-aba, aku bisa merasai dengan jelas bahwa kekuatan yang aku bangun selama ini, sudah hancur. Pertahanan terakhir hanyalah menghindari Adit dengan menunduk, memalingkan tatap ke halaman, atau ke tempat lain—agar tidak semakin luluh. "Kamu ... tunggu surat cerainya?" tanya Adit. "Iya." Aku menjawab seadanya, kemudian meneguk ludah secara kasar. "Tapi, saya belum buat sama sekali." "Labil banget." Aku menghardik, sekadar untuk menyembunyikan sebuah harap yang tidak aku inginkan. "Saya masih berharap kamu berubah pikiran, Nissa.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD