Hari ini adalah hari dimana Asyila dan mamanya akan pergi menemui sang papa. Asyila memang sudah mempertimbangkannya, dia tidak ingin menyesal ataupun menyia-nyiakan kesempatan yang Allah berikan untuknya.
Mama Asyila memang sudah membuat janji pertemuan dengan mantan suaminya itu, namun mama Asyila sengaja tidak memberitahukan dirinya kalau yang ingin bertemu adalah dirinya, dia pun membuat pertemuan atas nama perusahaannya.
Sesampainya di Jakarta, Asyila terus melihat wajah mamanya yang terlihat gelisah. Dia memang gelisah, panik dan takut. Tapi dia yakin kalau mamanya jauh lebih gelisah untuk berjumpa dengan papanya. Apalagi, jika sampai papanya tahu kalau mamanya menyembunyikan hal besar ini.
“ Ma.” Panggil Asyila yang langsung menggenggam tangan mamanya. Mama Asyila pun tersenyum kearah Asyila.
“ Ya sayang.”
“ Ma, kalau memang mama ngga siap, kita bisa kok undur pertemuan ini.” Ucapnya.
“ Ngga sayang, apa kamu masih takut.” Tanya mamanya dan Asyila langsung menggeleng. “ Lalu kenapa kamu mau mengurungkannya sayang.”
“ Asyila ngga takut ma, tapi Asyila khawatir sama mama.” Balas Asyila.
“ Sayang mama baik-baik aja.” Elak mamanya.
“ Mama bisa bohongi banyak orang, tapi mama ngga bisa bohongi Asyila ma.” Balas Asyila.
Mamanya pun langsung memeluk Asyila. “ Makasih karena kamu sudah mengkhawatirkan mama sayang, tapi mama beneran akan baik-baik aja Syil. Mama seperti ini tuh sangat wajar Syil. Namanya juga bertemu dengan mantan suami lagi setelah dua puluh tahun lebih ngga pernah bertemu Syil, jadi wajar kalau mama gugp sayang.”
“ Iya juga sih ma, tapi apa mama yakin sanggup untuk bertemu dengan papa lagi.”
“ Iya sayang, mama akan melakukan apapun untukmu.” Balas mamanya yang terus meyakinkan Asyila kalau dirinya baik-baik saja.
Mereka pun tiba di di perusahaan besar milik papanya. Asyila dan mamanya pun saling berpegangan tangan untuk masuk ke perusahaan tersebut.
“ Ada yang bisa saya bantu bu.” Tanya bagian resepsionis.
“ Saya sudah membuat janji dengan pak Adam.”
“ Owh baik bu, atas nama siapa.”
“ Atas nama, U. A MALL.” Balas mama Asyila.
Kemudian mereka pun langsung mengantarkan mereka berdua ke ruangan pertemuan yang sudah di tentukan. Asyila dan mamanya benar-benar gugup saat menunggu kedatangan papanya.
Setelah menunggu lebih dari sepuluh menit, akhirnya pintu ruangan pun terbuka. Dan terlihatlah sosok laki-laki paruh baya yang masih terlihat tampan walaupun sudah banyak keriput di wajahnya, siapa lagi kalau bukan Adam Muzaki, seorang pengusaha yang sudah banyak di kenal akan kearifan dan kesuksesannya.
Asyila dan mamanya pun langsung berdiri saat Adam masuk, mata Asyila mulai berkaca-kaca saat pertama melihat sosok yang begitu ingin dirinya temui selama bertahun-tahun. Dan sekarang laki-laki itu tepat ada di depannya.
Adam pun mendekat, namun dia belum terlalu memperhatikan orang yang ada di depannya. Dia belum tahu kalau wanita yang ada di depannya adalah mantan isterinya sendiri.
“ Assallamualaikum….” Salam Adam saat melihat kearah wanita yang sungguh tidak asing baginya walaupun sudah dua puluh tahun lebih dia tidak pernah melihat sosok tersebut.
“ Waalaikumsalam.” Balas Asyila dan mamanya yang langsung menangkupkan kedua tangan mereka.
“ ULYA.” Panggil Adam yang sungguh terkejut melihat wanita yang menghilang darinya.
“ Apa kabar Mas Adam.” Balas Ulya dengan wajah tenangnya dan mencoba tersenyum di hadapan mantan suaminya.
“ Apa benar ini kamu, apa benar kamu Ulya.” Tanya Adam yang benar-benar masih tidak menyangka kalau Ulya ada di depannya. Bahkan Adam hampir saja reflek akan memeluk Ulya. Namun, Ulya langsung mundur. Akhirnya Adam pun sadar kalau dirinya dan Ulya bukan lagi suami isteri, namun sudah menjadi mantan suami isteri. “ Maaf Ul, aku refleks.”
“ Ngga apa-apa mas, kamu belum jawab pertanyaanku. Gimana kabarmu.” Tanya Ulya.
“ Aku baik Ul. Aku benar-benar ngga menyangka setelah dua puluh tahun lebih kita ngga bertemu sekarang aku melihatmu ada di depanku, dan bahkan di kantorku. Ini benar-benar mengejutkan Ul. Kemana kamu pergi selama ini Ul, kenapa kamu menghilang begitu saja.” Tanya Adam yang benar-benar penasaran kemana perginya Ulya setelah perceraian mereka berdua.
“ Aku mencari tempat yang bagus untuk aku tinggali mas. Jadi aku berkelana.” Balas Ulya yang masih sempat bercanda.
“ Ul, aku benar-benar minta maaf atas …”
“ Mas, itu masa lalu. Ulya pun sudah melupakannya. Ulya baik-baik aja kok mas. Dan maksud Ulya datang kesini bukan untuk membahas hal itu.” Elak Ulya.
“ Maaf, tunggu aku kesini karena aka nada pertemuan dengan U.A MALL. Apa itu kamu.” Tanya Ada dan Ulya pun lansung mengangguk.
“ Ya, Ulya adalah pemilik U. A MALL. Ulya yang membuat janji bertemu denganmu mas.”
“ Masyaallah Ul, kamu benar-benar luar biasa. Aku ngga menyangka kamu akan sehebat ini.”
“ Jangan bilang seperti itu mas, kamu yang lebih luar biasa. Kamu bisa sehebat sekarang mas.” Balas Ulya.
“ jangan percaya omongan orang luar Ul, aku tidak sehebat itu. Bahkan aku laki-laki pengecut yang sudah menyakiti wanita berhati tulus sepertimu.”
“ Mas, cukup mas. Ulya ngga mau membahas masalah itu. Karena ada hal yang lebih penting yang ingin Ulya bicarakan denganmu.” Balas Ulya.
“ Ok, maaf aku sampai lupa dengan temu janji kita untuk membahas masalah pekerjaan. Aku masih benar-benar tidak menyangka Ul. Oh ya, kamu belum memperkenalkan gadis cantik di sebelahmu ini.” Ledek Adam yang langsung beralih memandang kearah Asyila.
Asyila yang sedari tadi terus fokus mendengarkan mama dan papanya bicara pun sampai menitika air mata. Dia pun langsung menghapus air mata saat papanya sudah menyadari akan kehadiran dirinya disana.
“ Perkenalkan saya Asyila.” Ucap Asyila yang langsung tersenyum kearah Adam dan mencoba menguatkan dirinya.
“ Pasti kamu gadis muda yang luar biasa, makannya bu Ulya ini memilihmu menjadi asistennya.” Tebak Adam yang mengira kalau Asyila adalah asisten dari Ulya.
“ Dia bukan asistenku mas, tapi dia adalah anakku.” Balas Ulya yang membuat raut wajah Adam pun langsung berubah dan kembali terkejut mendengar kalau Ulya mempunyai seorang putri.
“ Dia anakmu, jadi kamu sudah menikah lagi setelah bercerai denganku.” Tanya Adam yang penasaran.
“ Ada hal yang lebih penting yang ingin Ulya bicarakan denganmu.”
“ Aku tahu niat kita bertemu untuk membahas tentang pekerjaan Ul, tapi apa salah kalau aku sedikit bertanya tentang hal pribadimu.” Tanya Adam.
“ Ini bukan tentang pekerjaan, ini masalah lain. Dan aku ngga mau kita membicarakan masalah ini di kantor kamu. Aku ingin kita bicara di rumahmu, atau tempat lain yang lebih privasi.” Ucapan Ulya benar-benar membuat Adam bingung. Dia masih tidak mengerti saat Ulya mengatakan permintaannya.
“ Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan, sampai harus …”
“ Kamu akan tahu saat kita pergi ke tempat yang aku minta. Tapi kalau kamu keberatan, kita akan bicara lain waktu.” Jawal Ulya tanpa berbasa basi.
Adam yang melihat raut wajah serius Ulya pun yakin kalau memang ada hal penting yang ingin Ulya sampaikan padanya.
“ Arman.” Panggil Adam pada asistennya.
“ Ya pak.”
“ Batalkan semua meeting kita hari ini.” Pinta Adam yang berani membatalkan semua meetingnya hanya untuk menuruti permintaan Ulya.
“ Baik pak.” Jawab Arman yang langsung pergi untuk membatalkan acara Adam hari ini.
“ Aku sudah membatalkan semuanya, jadi kamu bisa leluasa untuk bicara denganku. Kita akan bicara di tempat yang ngga akan ada orang yang bisa mendengarnya.”
“ Apa Anggi akan baik-baik saja kalau kita bicara di rumahmu. Tapia pa yang akan kita bicarakan pun, Anggi berhak tahu mas.” Tanya Ulya yang khawatir dengan isteri dari Adam.
“ Aku pikir kamu begitu update tentang berita mengenaiku, dan aku pikir kamu sudah tahu mengenai Anggi.” Balas Adam.
“ Apa maksud kamu mas.”
“ Anggi sudah menginggal lama Ul, dia sudah meninggal sekitar sepuluh tahun yang lalu karena sakit.” Jawaban Adam membuat Ulya terkejut, karena dia memang tidak pernah mencari tahu perihal kehidupan pribadi Adam. Yang dia tahu, Adam adalah pengusaha yang sukses.
“ Maaf mas, aku benar-benar ngga tahu tentang hal ini.”
“ Ngga apa-apa Ul, kalau begitu kita pergi sekarang.” Ajak Adam yang langsung keluar dari ruangan.
Asyila pun langsung menahan tangan mamanya, dia ragu untuk bisa pergi dengan papanya. “ Ma.”
Mamanya pun tersenyum dan menggenggam erat tangan Asyila dengan begitu erat. “ Sayang, kamu harus percaya kalau semuanya akan baik-baik saja.” Ucap mama Asyila yang kemudian menggandeng tangan Asyila untuk keluar dari ruangan tersebut dan mengikuti kemana Adam membawa mereka.
***
Ternyata Adam membawa Ulya dan Asyila ke rumah yang pernah dia tinggali bersama dengan Ulya dulu. Setibanya di sana, Ulya benar-benar terkejut. Dia tidak pernah menyangka kalau rumah ini masih ada, dan bahkan tidak terlihat seperti rumah kosong.
“ Mas, ini.”
“ Ya, ini rumah kita dulu. Setelah perceraian kita dan setelah kamu pergi. Aku ngga pernah menjual ataupun membiarkan rumah ini tidak terawatt Ul. Karena aku selalu ingat bagaimana kamu merawat rumah ini dengan sepenuh hati. Jadi aku tetap menjaga rumah ini supaya tidak sunyi ataupun kumuh karena kehilangan pemiliknya.” Ucapan Adam benar-benar membuat Ulya teringat akan banyak kenangan yang dia miliki di rumah ini.
“ Apa kita ngga bisa cari tempat yang lain aja mas.” Tolak Ulya yang memang tidak ingin terbawa suasana karena berada di rumah ini. Baginya semuanya sudah musnah, begitu juga kisahnya dengan Adam.
“ Kenapa Ul, apa kamu ngga nyaman aku bawa kesini.” Tanya Adam.
“ Ma.” Ucap Asyila yang ingin tetap berada di rumah yang penah di tinggali oleh papa dan mamanya. Walaupun saat itu dia belum ada di sini, namun dia pun ingin melihat bagaimana dulu papa dan mamanya hidup di rumah yang begitu terlihat nyaman.
“ Ok, kita akan bicara di rumahmu ini.” Balas Ulya yang akhirnya setuju saat menatap mata Asyila yang penuh dengan harapan. Kemudian, Adam pun langsung membukakan pintu rumah tersebut.
“ Makasih ma.” Ucap Asyila yang tahu mamanya terpaksa.
“ Semua ini demi kamu sayang.” Balas mamanya yang mengelus wajah Asyila.
Saat mereka bertiga duduk pun semua terlihat canggung tanpa mengatakan apapun, tapi akhirnya Adam pun mengawalinya.
“ Apa yang ingin kamu bicarakan denganku sampai kamu memintaku untuk membawamu ke tempat khusus seperti sekarang. Apa hal penting itu Ul.” Tanya Adam.
“ Mas. Apa kamu ingat, kenapa dulu Ulya meminta waktu sekitar enam bulan untuk menandatangani perceraian kita berdua.” Tanya Ulya dan Adam pun langsung menggeleng.
“ Karena kamu membutuhkan waktu untuk menenangkan diri, makannya kamu pergi menjauh dariku. Aku sekali lagi minta maaf, karena aku sudah begitu melukai hatimu Ul, aku sungguh menyesal.” Jawab Adam penuh dengan wajah menyesalnya.
“ Kamu memang benar, kalau aku membutuhkan waktu untuk menenangkan diri, tapi ada hal lain yang ngga pernah aku katakan kepadamu setelah dua puluh tahun lebih kita bercerai.” Balas Ulya yang masih membuat Adam bertanya-tanya sendiri.
“ Apa maksud ucapanmu Ul, aku benar-benar ngga paham. Kenapa kamu mengatakannya berbelit-belit seperti ini sih.” Balas Adam yang mulai terpancing karena Ulya tidak mengatakan dengan jelas.
“ Tadi kamu bertanya padaku, apakah aku sudah menikah lagi setelah kita bercerai, maka jawabanku belum mas, aku belum pernah menikah lagi setelah kita bercerai.” Ucapan Ulya pun membuat Adam terkejut, dan sekarang tatapannya langsung beralih menatap gadis yang duduk di samping Ulya. Ulya yang mengetahui kecurigaan Adam pada Asyila pun langsung menabhakan ucapannya. “ Alasanku dulu meminta waktu enam bulan lebih untuk bercerai denganmu karena Asyila, karena dulu aku mengandung Asyila saat kita memutuskan untuk bercerai mas.” Mendengar penuturan Ulya pun membuat Adam langsung berdiri karena sangat terkejut. Setelah dua puluh tahun lebih mereka berpisah tiba0tiba Ulya datang dan mengatakan kalau sebelum mereka bercerai dirinya saat itu sedang mengandung, yang itu tandanya kalau gadis yang ada di hadapannya ini adalah putrinya, itulah yang saat ini bisa dia tangkap dari ucapan Ulya. Tatapan Asyila dan Adam pun bertemu, keduanya pun menatap dengan tatapan penuh luka, dan ketidak percayaan atas apa yang terjadi pada mereka berdua.