bc

Tomorrow With You

book_age18+
12.6K
FOLLOW
114.7K
READ
love after marriage
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
bxg
humorous
heavy
icy
realistic earth
like
intro-logo
Blurb

Rania Amarise Poernomo (25 tahun) betah hidup dengan status single walaupun sering mendapat protes dari orang sekitarnya. Mereka selalu memaksa Rania untuk segera mengakhiri masa lajangnya. Gadis itu tidak peduli karena hidupnya saat ini sudah sangat nyaman.

Namun ketika sebuah lamaran datang dari seorang pria menyebalkan bernama Derren Narawangsa (30 tahun), mulailah hidup Rania tidak tenang. Pria berstatus duda dengan satu anak ini memberi kesempatan pada Rania untuk menerima atau menolak lamaran tersebut.

Rania yang belum memikirkan sebuah pernikahan tentu saja memilih menolak. Namun, ketika ada sesuatu yang membuat hatinya tergerak dan sulit untuk menolak lamaran tersebut, apakah ia akan tetap memilih hidupnya yang tenang atau rela keluar dari zona nyaman yaitu menjadi istri Derren demi seseorang?

chap-preview
Free preview
TWY Part 1a
Rania Amarise Poernomo atau akrab disapa Rania, baru saja selesai dengan riasan yang ia kenakan untuk acara penting hari ini. Ini adalah pengalaman pertamanya dan ia begitu gugup saat ini. Gadis berusia 25 tahun ini bergegas keluar dari kamar hotel dan pergi ke kamar yang letaknya tidak jauh dari kamarnya. Semalam ia memang menginap di hotel bersama teman-temannya yang lain. Di hari penting seperti ini, Rania tidak boleh terlambat. Maka saat diminta menginap, ia menerima dengan senang hati. Ketika sampai di kamar yang dimaksud, Rania mengetuk pintu pelan lalu membukanya. Ia begitu terpesona dengan sosok yang kini ada di hadapannya. Sungguh luar biasa melihat penampilan berbeda dari sosok yang selama ini dekat dengannya. “Wah cantik banget sih, Dok. Aku loh sampai pangling lihatnya,” puji Rania pada sosok yang tengah duduk di depan meja rias dengan kaca besar. “Rania, kamu bisa saja. Tapi makasih lo pujiannya. Aku juga nggak salah pilih kamu jadi bridesmaid. Cantik banget pakai gaun itu,” ucap Delila. Dokter cantik yang jadi teman kerja Rania di rumah sakit. Keduanya begitu dekat, karena Dalila menganggap Rania sudah seperti adiknya sendiri. Perbedaan umur hanya terpaut dua tahun, sehingga keduanya seperti saudara. “Ini gaunnya yang bikin cantik, aku mah biasa aja, Dok.” Rania duduk di tepian kasur. “Kamu itu merendah atau pura-pura merendah? Sadar atau nggak, kamu ini cantik Rania. Kamu saja yang nggak pernah percaya diri,” ucap Delila. “Udah ah Dok, jangan puji saya nanti jadi besar kepala. Hari ini Dokter Delila yang jadi ratunya. Duh saya aja jadi perempuan kesemsem lihatnya, apalagi calon suami Dokter Dalila. Bisa-bisa pingsan saking terpesonanya.” Delila tertawa menanggapi ucapan Rania. “Mbak Delila kita foto sekarang ya,” tiba-tiba keduanya dikejutkan oleh salah satu anggota Wedding Organizer yang muncul di balik pintu. “Boleh Mbak,” jawab Delila. “Dok, saya panggil yang lain dulu ya,” ucap Rania, lalu meninggalkan Delila bersama anggota Wedding Organizer tadi. “...” Delila mengangguk. Serangkaian prosesi pernikahan Delila dan Ferel berjalan lancar. Acara berlanjut ke pesta resepsi yang dihadiri banyak tamu undangan. Selain tamu dari pihak Delila yang kebanyakan dari kalangan kesehatan, tamu Ferel juga banyak dari kalangan bisnis. Keduanya memang dari keluarga kaya tidak heran acaranya begitu meriah. Resepsinya saja dilakukan di hotel paling mewah di Jakarta. Belum lagi dekorasi pestanya benar-benar megah dan terkesan romantis. Siapa pun yang datang pasti merasa takjub. Rania menyingkir dari teman-temannya untuk menerima telepon dari Gavi, adik laki-laki Rania. Saat matanya fokus pada ponsel, ia tidak sadar tubuhnya menubruk punggung lebar dan tegap. Ia terkejut dan merasa bersalah. “Maaf Mas, saya nggak sengaja,” ucap Rania tulus. Pria itu berbalik menghadap Rania. Wajahnya terlihat kesal, tatapannya dingin dan tajam siap menusuk siapa pun yang menatapnya, termasuk Rania yang berdiri dengan kepala sedikit mendongak Rania semakin terkejut saat melihat baju pria itu basah karena minuman yang dibawa tumpah saat ia menabraknya. “Mas bajunya basah. Biar saya ambilkan tisu untuk bersihin,” ucap Rania gugup. Pria itu bergeming, ia masih menatap tidak suka pada Rania. Ia pergi begitu saja tanpa peduli dengan permintaan maaf dan ketulusan Rania ingin membersihkan bajunya yang basah. “Duh Gusti, mimpi apa aku semalam harus ketemu pria model begitu. Tatapannya kayak siap nerkam mangsa. Udah minta maaf tapi dicuekin. Menyebalkan.” Rania bergidik kesal. Suasana tengah riuh karena sekarang waktu yang di tunggu-tunggu bagi yang berstatus single apalagi kalau bukan lempar buket bunga pengantin. Acara lempar bunga biasanya diawali dengan pasangan pengantin yang memegang buket bunga secara bersamaan, lalu melemparkannya ke tamu undangan dengan cara membelakanginya. Konon siapa yang berhasil mendapat buket bunga maka akan segera mendapat jodoh atau akan segera menikah. Saat semua antusias dan siap-siap memperebutkannya, Rania justru tidak tertarik sama sekali. Ia belum berniat menikah cepat, lagi pula kalau ia yang dapat buket bunga itu memangnya dengan siapa ia akan menikah. Maka dengan senang hati ia memperbesar peluang orang lain untuk mendapat buket bunga itu. Rania berdiri di sisi kanan agak menjauh dari tempat orang-orang berkumpul. Ia sibuk memainkan ponselnya sambil memilih foto yang ingin ia unggah ke sosial medianya. Saat suasana mendadak riuh, Rania mengalihkan pandangan ke depan. Tepat di hadapannya berdiri seorang pria yang masih Rania ingat begitu menyebalkan baginya. Pria itu menatap bingung benda yang ada di tangan kirinya sedangkan tangan kanannya memegang ponsel yang masih menempel di telinganya. Tiba-tiba pria itu melirik ke kiri dan ke kanan lalu menoleh ke belakang menemukan Rania memandangnya dengan tatapan judes. Pria itu menyerahkan benda yang dipegangnya pada Rania. Sontak saja Rania terkejut sekaligus bingung. Bagaimana bisa pria itu menyerahkan buket bunga pengantin padanya. Tiba-tiba semua orang bertepuk tangan ke arahnya. Dan sialnya pria itu pergi dari kerumunan dengan wajah datar, dingin dan menyeramkan. Walaupun tampan, tubuhnya tinggi tegap dengan garis wajah tegas sedikitpun hati Rania tidak bergetar. Baginya kesan pertama sangat penting, jika sejak awal sudah menyebalkan maka saat itu juga Rania tidak ada respek terhadap orang itu. “Eh Mas, ini buket bunga kenapa buat saya?” panggil Rania setengah berteriak. Namun sayang, pria itu tidak menjawab bahkan sekedar menoleh saja. “Kurang asem, bikin malu aja.” Rania benar-benar kesal. Rania hanya bisa menampakkan cengiran pada orang-orang yang ada di sana. Ia bingung harus bersikap seperti apa saat teman-temannya menggodanya. Ia memutuskan menemui teman-temannya karena merasa canggung dengan tatapan tamu di sana. Berharap teman-temannya bisa menyelamatkan dirinya yang tengah di landa malu. “Kamu lo beruntung banget dapet buket bunga dari cowok super ganteng. Siapa dia Rania, pacar kamu?” tanya Erika yang juga rekan kerja Rania. Wajahnya berbinar membayangkan sosok pria tadi. “Tapi kalau pacar kenapa ninggalin Rania gitu aja?” tanya Eliana menimpali. Rania memutar bola matanya, “Kalian jangan sembarangan. Aku nggak kenal sama dia dan ini kalian mau?” Rania menyerahkan buket bunga pada temannya. “Nggak baik gitu. Terima saja, jarang-jarang kan,” goda Erika. “Jarang-jarang apa?” tanya Rania curiga. “Jarang-jarang ada yang kasih bunga. Sekalinya ada yang kasih langsung buket bunga pengantin. Ajip banget kan,” jelas Eliana begitu antusias. Rania berdecak sebal, “Ck! Aku bisa beli buket bunga kalau mau. Lagian ini cuma buket bunga bukan hal yang luar biasa yang harus dihebohkan. Kalian berdua lebay banget sih.” “Kamu sih jomblo makanya nggak antusias. Coba saja punya pasangan pasti ikutan tuh berebut sama undangan yang lain,” protes Erika. “Hubungannya apa coba jomblo sama buket bunga?” tanya Rania bodoh. Eliana menghela napas, “Susah ngomong sama orang kelamaan jomblo. Otaknya suka lemot, nggak jalan. Umur udah segini, kamu nggak kepikiran nikah gitu?” Rania mengangkat bahunya, “Aku sih santai aja. Lagian kasian Papa kalau aku tinggal nikah. Jadi sampai saat ini aku happy aja tuh. Nggak mau pusing soal status single atau double,” jawab Rania santai. Erika dan Eliana saling pandang kemudian menggeleng pasrah. Keduanya sudah hafal dengan jawaban diplomatis dari Rania. Bagi gadis itu, menikah bukan tujuan utama dalam hidupnya. Bersama dengan Papa dan Adiknya saja sudah membuatnya bahagia. Jadi jangan berharap Rania akan menangis darah ketika umurnya sudah matang tapi masih sendiri. ------------------ Terima kasih sudah mampir di cerita ini. Sebelum lanjut membaca saya sebagai Author ingin menyampaikan beberapa hal. Jika kalian merasa cerita yang dibaca kurang sesuai, silakan tinggalkan cerita ini untuk meminimalisir kalian menulis komentar negatif. Apabila menemukan kesalahan informasi atau adanya typo bisa disampaikan dengan cara yang baik. Masukan yang positif akan selalu saya terima. Jadi tolong sebelum menulis komentar jahat alangkah baiknya dipikirkan lagi dampak komentar tersebut bagi Author. Saya juga sebagai manusia biasa tidak luput dari segala kesalahan. Terima kasih dan salam sayang untuk kalian   RAN

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Kala Terang Dinanti

read
11.1K
bc

Single Man vs Single Mom

read
97.2K
bc

My Secret Little Wife

read
55.2K
bc

Suami Cacatku Ternyata Sultan

read
7.5K
bc

Dilema Hati Istri Bayaran Sang Bos

read
46.2K
bc

Turun Ranjang, Dinikahi Kakak Ipar

read
27.7K
bc

Tuan Bara (Hasrat Terpendam Sang Majikan)

read
108.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook