Kebenaran

1254 Words
. . . . Sila sudah mengenakan pakaian tidurnya, sebuah lingerie dan tidak lupa kimononya. Tapi, sekarang dia sedang duduk dibalkon kamar dengan ditemani rokok disela jarinya dan sebotol minuman beralkohol yang diam-diam Sila ambil didalam kamar kakanya, Ilen. Setelah memutar vidio yang dikirmkan Tara digrup chat mendadak ngantuk dan lelah Sila hilang, entah kenapa vidio itu berputar-putar terus didalam kepala Sila. Marah, sakit hati dan kecewa. Sila merasa semuanya baik-baik saja selama ini. Tidak ada pertengkaran dan perdebatan besar yang bisa membuat mereka bertengkar hebat. Sila bahkan tidak pernah mengekang Roland, cukup memberi Sila kabar agar tidak khawatir. Kata sayang dan cinta juga sering Sila ucapkan saat berdua. Sila tidak pernah menuntut macam-macam, karena Sila selalu menahan egonya agar tetap tenang saat situasinya panas. . . "Minuman gue hilang satu dikamar." ucap Ilen yang tiba-tiba duduk dikursi kosong sebelah Sila. "Kakak baru pulang?" tanya Sila mengingat ini sudah lewat tengah malam dan kakaknya masih menggunakan pakaian kantor meskipun sudah tidak lengkap. "Tadi nongkrong sama temen sebentar. Ada apa??" tanya Ilen yang sudah hafal dengan kebiasaan Sila bila sedang merokok. Sila hanya menghela nafasnya kasar. Kakaknya memang tidak bisa dibohongi. Ilen memang seperhatian itu dengan adik satu-satunya. Ilen dengan sabar menanti penjelasan dari mulut Sila dengan menikmati rokok yang tergeletak dimeja dan mengambilnya satu batang. "Roland selingkuh. Ceweknya satu kelas sama dia dan sekarang dia lagi hamil." jelas Sila. "Setelah mengetahui rencana papa tentang perjodohan gue, besoknya gue ngajak bicara Roland agar mau dateng kesini. Berkali-kali gue bahas tentang hal itu, tapi Roland selalu nolak dengan alasan masih kuliah, belum punya pekerjaan tetap dan alasan-alasan klasik lainnya." Sila menjeda ucapannya. Sejenak Sila menghirup nafas panjang dan melepaskannya, mencoba menghilangkan sesak didadanya. Beruntung dia tidak mengeluarkan air matanya, bila itu terjadi Sila benar-benar akan terlihat menyedihkan. "Beberapa waktu lalu, gue ngikutin mobilnya Roland. Dia keluar dengan seorang cewek yang katanya temen sekelasnya untuk makan dikedai bakso. Gue sudah sedikit curiga karena mereka gandengan tangan dan terlihat deket. Tapi, gue mencoba berfikir positif karena tidak ada bukti lain yang gue punya. Dan malam ini kecurigaan gue terbukti dengan dikirimnya sebuah vidio dari Tara." "Roland masuk kepoli kandungan bersama cewek itu." jelas Sila. Ilen mendengarkan cerita Sila dengan menikmati rokok yang masih terselip dijarinya. Sejenak dia melihat wajah sang adik. Adik satu-satunya yang selalu dia jaga agar tidak terluka sekarang terlihat pasrah. Tidak ada emosi yang terlihat dimata indahnya hanya ada tatapan kosong yang terus melihat kearah depan. Ilen jelas saja marah, karena ada yang menyakiti kesayangannya. Tapi, disaat Sila mengatakan dia jatuh cinta dan sudah memiliki kekasih, Ilen sudah mewanti-wanti bila berakhir seperti ini, karena hubungan tidak selalu bahagia dan ini resiko yang harus Sila dapatkan. Ilen tidak bisa menyalahkan Roland karena berselingkuh, tapi Ilen juga tidak bisa menyalahkan Sila kerena jatuh cinta pada Roland. "Kalau memang seperti itu jangan diteruskan. Mungkin sekarang lo sakit hati dan kecewa. Tapi, itu lebih baik dari pada meneruskan hubungan yang toxic. Tidak apa-apa, waktu akan menyembuhkannya meskipun tidak bisa melupakannya." saran Ilen. Ya, untuk sekarang Ilen hanya bisa menghiburnya seperti ini. "Sekarang tidurlah, jangan terlalu sering merokok dan minum alkohol apa lagi begadang. Sebentar lagi lo juga akan nikah jaga kesehatan baik-baik." lanjut Ilen dengan mencium kening Sila lalu pergi keluar dari kamar Sila. . . . . Pagi ini Sila memaksa tubuhnya untuk bangun dari tidur singkatnya. Mengingat kemarin dia tidak bisa tidur dan mengetahui kenyataan yang mampu membuatnya sakit hati dan kecewa cukup malas untuk datang kekampus. Tapi, hari ini dia ada kuliah pagi dan dia tidak ingin membuat keluarga dan para sahabatnya khawatir bila tidak melihat batang hidungnya. "Selamat pagi pa, ma, kak Ilen?!" sapa Sila saat bergabung dimeja untuk sarapan. "Pagi sayang." jawab Pak Daffinto. "Hm.." Ilen hanya melihat Sila dan berdehem singkat. "Selamat pagi juga sayang. Kenapa matamu merah Sila? Kamu sakit?" tanya mamanya Sila. "Sila tidak apa-apa ma. Kemarin Sila begadang ada tugas." jelas Sila berbohong. Ilen yang mengetahui alasan dari Sila hanya diam tidak ingin membuat mamanya khawatir. Setelah menyelesaikan sarapan, keluarga Sila mulai pergi melakukan jadwalnya masing-masing. Hari ini Sila memutuskan untuk berangkat bersama kakaknya, jujur saja hari ini Sila benar-benar malas untuk berkendara sendiri dan untuk pulangnya nanti bisa bareng dengan salah satu sahabatnya. "Belajar yang benar." pesan dari Ilen sebelum Sila turun dari mobil. Sila mengikuti kelas sesuai jadwalnya, meskipun pikirannya bercabang kemana-mana tapi, ini cukup baik dari pada absen tidak masuk. "Dimana Sila?" tanya Ana yang baru saja ikut bergabung dengan Tara, Lola dan Rena dikantin. "Belum keluar." jawab Tara. "Itu dia." timpal Lola dengan mengarahkan pandangannya pada sosol Sila yang sudah terlihat. "Mau makan apa biar sekalian mumpung gue belum pesen." tawar Ana pada Sila. "Minum aja, es kopi tanpa gula." jawab Sila. "Oke." jawab Ana dengan meninggalkan tempat duduk mereka. . . Setelah mereka selesai dengan makan siangnya dikantin. Rena memberanikan diri untuk bertanya pada Sila tentang hubungannya dengan Roland. Tentu dengan melihat situasi dan kondisi yang sudah aman tanpa ada telinga dan mulut nakal yang mencuri dengar untuk bahan gosip. "Jadi hubungan lo sama Roland bagaimana?" tanya Rena. "Mau putus?" timpal Lola. Sila mulai mengambil satu batang rokok dan menyalakannya. "Sebenarnya pengin gue putusin. Tapi, belum dapat waktu yang pas. Untuk saat ini biar berjalan seperti biasa, pura-pura beg*." jawab Sila. "Terserah lo aja." timpal Ana. Dan para sahabatnya yang lain tidak ada yang mengomentari keputusan Sila. "Hari jumat depan ada jadwal gak, Sil?" tanya Tara pada Sila. "Jadwal apa dulu?? pemotretan apa kuliah?" tanya Sila balik. "Dua-duanya." "Kayaknya free deh. Emang kenapa?" tanya Sila. "Gue lagi cari model buat bawain baju gue. Penilaiannya nanti saat fashion show, jadi gue pilih lo aja. Lumayan gue gak perlu ngajarin jalan ataupun pose." jelas Tara dengan menampilkan cengirannya. "Sialan lo. Boleh deh. Kalau baju lo udah jadi kita coba. Sekalian, hari minggu besok jangan lupa dateng kerumah gue." ucap Sila. "Emang dirumah lo ada apa?" tanya Ana. "Gue nikah." jawab Sila singkat. "Serius?" tanya Rena memastikan. Dan Sila hanya menganggukkan kepalanya. "Jadi, sama pak Alex dosen lo?" tanya Lola juga memastikan. Dan Sila juga hanya menganggukkan kepalanya. "Secepat itu?" tanya Tara juga tak kalah terkejut. Dan lagi-lagi Sila hanya menganggukkan kepalanya. "Jangan bilang siapa-siapa karena belum ada resepsi jadi, yang datang hanya keluarga inti. Dan bersifat pribadi." pesan Sila pada para sahabatnya. "Dan juga berhenti mengajukan pertanyaan dan menampilakan ekspresi wajah kayak gitu. Kalian bener-bener terlihat beg*." lanjut Sila. Dan para sahabatnya hanya saling pandang. "Kan kalian juga sudah pada tahu tentang perjodohan gue." "Kita memang udah tahu, tapi gak nyangka saja kalau lo bakalan nikah secepat ini." timpal Ana dan dibenarkan ketiga sahabatnya. "Gue aja yang dijodohin lebih dulu belum ada omongan bakal nikahnya kapan." ucap Lola. "Lalu hubungan lo sama Dewa gimana?" tanya Ana pada Lola. "Masih sama gitu-gitu saja." jawab Lola santai. "Lah... kenapa malah tanya soal gue? kan topiknya Sila." tanya Lola balik. "Lo juga bisa-bisanya langsung jawab." timpal Rena dengan menyonyor pelan kepalanya Lola. Lola hanya menampilkan cengirannya. "Lalu hubungan lo sama Roland gimana?" tanya Tara. "Roland tahu tentang hal ini?" tanya Rena. "Kalian sudah bicara tentang hubungannya dengan cewek itu dan kenapa kepoli kandungan?" tanya Rena. Sila hanya mengangkat bahunya. Sepertinya Sila mulai ikhlas menerima kalau nyatanya Roland punya wanita lain dan saat ini sedang hamil. Hanya saja dia mulai merasa kalau dirinya bodoh. Padahal satu jurusan hanya beda kelas, tapi Sila sudah kecolongan sampai sejauh ini. Entah sudah berapa lama mereka bermain dibelakang Sila. "Dan ini, simpen baik-baik siapa tahu nanti butuh. Gue dapetinnya susah payah tahu." ucap Tara dengan menyodorkan hasil usg selingkuhannga Roland. . . . . TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD