Harinya

1241 Words
. . . . Setelah beberapa hari semua dibuat sibuk siang dan malam dan minim istirahat, akhirnya hari yang ditunggu kedua keluarga sudah didepan mata. Acara yang cukup mendadak itu diadakan dirumah besar keluarga Daffinto. Tatapan mata Alex sedari tadi enggan berpaling dari sosok wanita yang saat ini menuruni tangga. Cantik sudah pasti, bahkan tanpa make up pun wajahnya sudah menarik apalagi saat acara hari ini. Yang menjadi fokusnya selain wajah dan penampilan Sila adalah gaun yang dipakai Sila. Gaun yang dipilhkan oleh Alex. Alex tidak memiliki selera dan pengalaman mengenai baju perempuan, kemarin dia memilihnya hanya karena terlihat indah dan sepertinya terlihat cocok ditubuh Sila tapi, Alex tidak memiliki harapan kalau pilihan gaunnya yang akan dipilih oleh Sila mengingat Sila model dan lebih mengetahui gaun impiannya. "Kedipkan mata lo bodoh!?" ucap Sandy salah satu sahabat Alex yang melihat ekspresi Alex. "Iler lo hampir jatuh beg*." disusul dengan ucapan Raga yang tidak kalah menohok. Dan Alex cepat-cepat mengatupkan bibirnya rapat. Sepertinya ekspresi Alex benar-benar membuat ketampanan Alex berkurang. . . *Prosesi pernikahan* . . Setelah acara dirumah keluarga Daffinto selesai, malam hari setelah makan malam Alex membawa Sila untuk menempati apartemennya. Sesuai kesepakatan awal, setelah mereka sudah menikah akan tinggal bersama diapartemen Alex. "Kamar saya mana pak?" tanya Sila. Setelah mengamati apartemen Alex. Tidak terlalu besar dan tidak bisa disebut kecil. Untuk 1-2 penghuni cukup luas, selain itu pemandangan yang disuguhkan sangat memuaskan mata. "Kita akan sekamar. Disini hanya ada 2 kamar dan yang satu sudah saya jadikan ruang kerja." jelas Alex. Sila hanya menganggukkan kepala dan mengikuti Alex yang sudah berjalan didepannya. Bagi Sila itu tidak masalah, toh mereka juga sudah menikah. "Kamu bisa menggunakan lemari yang kosong untuk pakaianmu, saya mau mandi dulu." ucap Alex sebelum berlalu masuk kedalam kamar mandi yang ada didalam kamar. Kaki Sila melangkah kesebuah pintu yang diyakini ruang wardrobe. "Gak nyangka untuk seorang laki-laki koleksinya lumayan lengkap dan cukup mewah. Ahhh.... gue lupa kalau pak Alex tidak cuma jadi dosen." monolog Sila. Setelah menata pakaiannya, Sila keluar dari ruang wardrobe dan sudah mendapati kamar mandi kosong, berarti pak Alex sudah selesai dan sekarang giliran Sila yang akan menggunakan kamar mandinya, tidak lupa membawa baju tidur sekalian. Setengah jam Sila menghabiskan waktunya didalam kamar mandi, sudah berbagai macam ritual dia lakukan. Badan sudah terasa lebih ringan dan wajahpun juga sudah bersih dari berbagai make up, rambutnya yang indah sudah wangi dan Sila hanya menggulungnya asal setelah dirasa kering karena keramas. "Terbiasa tidur malam, sekarang jadi bingung mau ngapain diapartemen orang." ucap Sila dengan mengedarkan pandangannya keseluruh kamar. Sesaat perhatiannya dialihkan dengan suara hp yang berbunyi, tanda ada sebuah pesan masuk disalah satu apkikasi chatnya. "Gue masukin sesuatu ditas lo. Itu khusus gue minta dari kak Bryan buat malam pertama lo. Selamat menikmati." chat dari Tara. Kalau sudah menyebut nama Bryan, sudah pasti sebuah minuman. Ahhhh.... Sila jadi bersemangat. Sila kembali mengedarkan pandangannya mencari tas yang belum dibongkar. . . Setelah mengambil satu gelas dari dapur apartemennya Alex, Sila kembali kedalam kamar dan duduk dibalkon. Pemandangan luas yang langsung mengarah kelangit yang diterangi cahaya bulan dan didampingi bintang-bintang. Benar-benar suasana yang indah untuk malam pertama andai pernikahan ini dilangsungkan karena cinta dan semestinya. Nyatanya pernikahan ini hanya karena sebuah perjodohan dan sepertinya malam pertamanyapun tidak akan sama seperti pernikahan pada umumnya. Bahkan sekarang Sila tidak tahu Alex ada dimana. Saat kedapur semuanya juga terlihat sepi, tentram dan hening. . . Sila sudah duduk dibalkon kamar dengan menikmati rokoknya, tidak lupa minuman yang diberi oleh Tara. Sesekali matanya menikmati langit malam yang tidak terlalu gelap. "Ahhhhhh.... rokok dan minuman memang satu kesatuan yang ditakdirkan untuk saling melengkapi." ucap Sila. "Breng**k... bahkan dia tidak chat gue sama sekali." umpat Sila saat melihat hpnya tidak ada kabar dari Roland. "Seharusnya dia ngabarin gue, telpon kek, chat kek, vidio call kek biar gue gak curiga. Lah ini malah ngilang gak ada kabar." "Gini-ginikan lo masih pacar gue. Dasar sia**n." . . . . Terlalu asyik mengumpati pacarnya, Sila tidak sadar kalau Alex sudah masuk kedalam kamar. "Kamu kenapa?" tanya Alex tiba-tiba membuat Sila kaget. "Ya ampun pak, jangan ngagetin juga pak?!" ucap Sila dengan mengelus-elus dadanya. "Mau minum pak?" tanya Sila. "Boleh." "Saya ambilkan gelas. Silahkan duduk dulu pak." pamit Sila. Gluk.... mendadak Alex kesulitan menelan ludahnya sendiri saat Sila berjalan didepannya. "Sia**n, baju apa yang dia pakai." umpat Alex pelan. Setelah kembali dari dapur dengan membawa gelas, Sila duduk disamping Alex. Tidak lupa menuangkan minumannya dan memberikan pada Alex. Cukup lama mereka hanya diselimuti keheningan, seolah memberi waktu untuk bergelut dengan pikiran mereka masing-masing. . . "Kenapa pak Alex nerima perjodohan ini?" tanya Sila memecah keheningan. "Hmmm... seperti yang sudah kamu ketahui, umur saya sudah kepala tiga dan itu membuat kedua orang tua saya sedikit khawatir." jawab Alex setelah memilih kata-kata yang cukup masuk akal. "Bapak punya masa lalu dengan seseorang?" tanya Sila. Tanpa ragu Alex menanggukkan kepalanya. "Apa sekarang semuanya sudah selesai? jujur, saya cukup ragu untuk memulai hubungan dengan seseorang yang masih setia dengan masa lalunya." jelas Sila. "Bagaimana dengan kamu?" tanya Alex balik. "Kenapa kamu menerima pernikahan ini? dan bagaimana dengan pacar kamu? dia salah satu mahasiswa saya." lanjut Alex. Sila hanya tersenyum tipis, benar dia memang masih berstatus pacar orang. Dan Sila akan mengakhirinya setelah mendapatkan hari baik. "Roland memang pacar saya sekarang. Tapi, itu tidak akan lama lagi." jawab Sila. Alex menatap wajah Sila dengan tatapan tidak mengerti. "Sebelum pernikahan ini terjadi, papa sudah memberikan waktu untuk saya membawa Roland kerumah. Meskipun papa ingin langsung lamaran, tapi saya hanya memberitahu untuk datang dan berkenalan dulu. Berhubungan hampir satu tahun tidak salah bukan kalau keluarga saya ingin tahu kekasih dari anak perempuan mereka satu-satunya. Tapi, setiap saja tawarkan Roland selalu menolaknya. Sampai batas waktu yang diberikan papa habis, saya masih tidak bisa membuat Roland berubah fikiran. Jadi, ya seperti ini akhirnya. Saya menikah dengan anda. Padahal kalau saja Roland mau, perjodohan ini bisa batal." jelas Sila. "Pernikahan seperti apa yang kamu inginkan?" tanya Alex. Sila menggelengkan kepalanya. "Tidak tahu, saya hanya ingin mengikuti alurnya." . . . Alex hanya menatap Sila yang sedari tadi memainkan hpnya. Disertai suara bunyi aplikasi chat, Alex yakin kalau saat ini Sila sedang bertukar pesan dengan para sahabatnya atau bisa juga bertukar pesan dengan kekasihnya. Alex sekarang tahu kalau teman yang dekat dengan Sila tidak banyak. Bahkan yang datang saat pernikahan sekitar 4 orang dan semuanya mahasiswi ditempat Alex mengajar. Terlalu asyik dengan hpnya, Sila tidak sadar kalau sudah menghabiskan hampir setengah botol, begitupun juga rokoknya. Mendadak tubuh Sila meremang, duduknya juga tidak tenang, tidak sadar kalau hal yang dilakukan sudah membuat baju tidurnya sedikit tersingkap yang mempu membuat Alex meneguk air liurnya. "Sia**n, sepertinya mereka sengaja ngirim vidio kayak gini." umpat Sila dalam hati. "Kalau gue pengen gimana, masak ngajak pak Alex. Kalau dia nolak gue gimana?? masak ditolak saat malam pertama, kan memalukan." Semakin dilihat vidionya semakin Sila dibuat meremang dan penasaran seperti apa rasanya. Meskipun sudah menikah, tapi sepertinya hal itu akan sulit dilakukan karena sikap pak Alex yang terkesan masa bodo, dingin dan cuek. Dan jelas dia bukan partner yang cocok. "Aaaaaaa....." teriak Sila dengan mengacak-ngacak rambutnya. "Kamu kenapa?" tanya Alex yang berada disampingnya. Sila hanya diam menatap Alex. Bingung harus menjawab bagaimana. "Haruskah gue bilang kalau gue lagi pengen begituan, sia**n banget. Gue jadi kayak cewek kurang belaian." batin Sila. "Tidak kenapa-kenapa pak, cuma pengen ketoilet." jawab Sila asal. Karena terburu-buru, Sila melupakan hpnya yang masih memutar vidio diatas sofa. . . . . TBC.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD